30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
khawatir


__ADS_3

...🌾Barang siapa memegang tangan istri sambil merayunya, maka Allah SWT akan menulis baginya 1 kebaikan dan melebur 1 kejelekan serta mengangkat 1 derajat, apabila merangkulnya, akan ditulis baginya 10 kebaikan dan melebur 10 kejelekan serta mengangkat 1 derajat, apabila menciumnya akan ditulis baginya 20 kebaikan dan melebur 20 kejelekan setra mengangkat 20 derajat, dan apabila segenggama dengannya, maka lebih baik dari pada dunia dan isinya 🌾...


...Happy reading...


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


Karena sangat khawatir kepada istri dan anak anaknya, bayu pun bergegas meninggalkan kantin itu menuju ruangan Nadira, dia berjalan dengan tergesa gesa  karena ingin segera sampai di ruangan itu.


"Ya Allah, apa yang telah aku lakukan? Kedua anakku pasti kelaparan gara gara aku tinggal seharian" batin Bayu


Bayu berjalan melewati kamar demi kamar di lantai atas itu, dia melihat banyak sekali jenazah orang yang mengidap penyakit itu keluar dari ruangannya dengan ditungkup kain putih, para kerabat dan pasangannya menangis mengikuti jenazah itu dari belakang, membuat dia kembali teringat dengan istrinya yang sejak pagi dia tinggalkan dalam kondisi yang sangat kritis.


"Ya Allah, semoga engkau memberikan kesembuhan untuk istriku" batin Bayu 


Bayu terus melangkah kakinya dengan perasaan bersalah, dia merasa tidak enak, dia baru menyadari kalau dia sudah meninggalkan istrinya yang begitu sangat membutuhkan perhatian dan support darinya, dia benar benar sangat menyesal, perasaannya benar benar tidak enak, tubuhnya juga tiba tiba keluar keringat dingin, membuat dia tidak kuat menahan rasa khawatirnya hingga dia pun berlari agar dia bisa cepat sampai di ruangan Nadira.


"Aku gak perduli Nadira mau berkata apa, aku gak peduli dia mau memaafkan aku atau tidak, pokoknya saat ini aku akan selalu berada disampingnya, aku tidak akan meninggalkan dia dalam kondisi apapun" batin Bayu


Bayu pun sampai di depan ruangan itu lalu membuka pintu ruangan itu dengan nafas yang masih merahuh kecapean.


"As……..!!!"' perkataannya terhenti ketika dia melihat Nadira tidak berada di atas tempat tidur itu.


Deg.


Dadanya terasa sesak ketika dia melihat ruangan itu sepi, dia masuk untuk memastikan sembari terus memanggil Ilham dan Sifa.


"Ilham, Sifa, kalian dimana nak? Apa kalian disitu?" Ujar Bayu mencari Ilham dan Sifa ke sofa yang tadi mereka duduki.

__ADS_1


Tapi ternyata mereka tidak ada disana, ruangan itu kosong, bahkan barang barang nadira pun sudah tidak ada di ruangan itu membuat Bayu terlihat ketakutan.


"Masa iya sih aku salah kamar? Memang ini kamarnya kok, kemana mereka, apa mungkin terjadi sesuatu dengan Nadira sehingga dia pindahkan dari kamar ini?" Bayu terus bertanya tanya


Bayu keluar dari ruangan itu mencari suster dan orang orang yang berada di samping ruangan itu untuk menanyakan Nadira.


"Mas maaf mas, apa mas lihat dokter membawa pasien dari ruangan ini?" Tanya Bayu kepada bapak bapak yang sedang menunggu istrinya yang sedang dirawat di ruangan samping tempat Nadira dirawat.


"Saya gak liat pak" jawab bapak bapak itu


Bapak bapak itu memang tidak melihat Nadira di bawa oleh dokter, karena pas Nadira dibawa oleh dokter Raisa, tak ada satupun orang yang berada di luar ruangan itu.


Mendengar jawaban bapak itu Bayu berlari ke ruangan administrasi, dia menemui suster untuk menanyakan Nadira dan kedua anaknya.


"Suster, pasien bernama Nadira yang dirawat di ruangan melati di pindahkan kemana ya?"


 Bayu terlihat begitu sangat khawatir, dia berdiri di depan tempat administrasi itu dengan wajah yang terlihat sangat ketakutan, dia tidak bisa tenang sebelum mendengar kabar istri dan kedua anaknya.


"Gimana sus?" Tanya Bayu yang sudah tidak sabar dengan jawaban dari suster cantik itu.


"Maaf pak, saya sudah coba cari, tapi gak ada pasien yang bernama Nadira" jawab suster cantik itu.


"Suster pasti salah, gimana bisa istri saya tidak ada di daftar, jelas jelas kemarin saya bawa istri saya ke rumah sakit ini kok, coba cari lagi sus" ujar Bayu yang masih tidak percaya kalau Nadira tidak ada dari daftar pasien di rumah sakit itu.


"Maaf pak, dirumah sakit ini memang tidak ada pasien yang bernama Nadira" ujar suster 


Terlihat jelas rona wajah Bayu yang berubah semakin ketakutan, tubuhnya bergetar dengan detak jantung yang berdetak semakin cepat.

__ADS_1


"Ya Allah dimana istri dan kedua anakku,  aku bingung mau mencari mereka kemana , aku tidak mungkin mencari mereka ke setiap kamar di rumah sakit ini, aku harus menemui dokter Raisa, dokter Raisa pasti mengetahui keberadaan Nadira karena dokter Raisa lah yang merawat Nadira di rumah sakit ini, iya! Dokter Raisa pasti tau keberadaan Nadira" batin bayu


Suster bisa saja memberitahu Bayu kalau Nadira sudah dirujuk ke Singapura tapi dia tidak bisa mengatakan itu, dia sudah berjanji kepada dokter Raisa kalau dia tidak akan mengatakan apapun tentang Nadira kepada siapapun termasuk suaminya.


Melihat suster yang tidak merespon apapun, Bayu langsung pergi dari tempat administrasi itu menuju ruangan dokter Raisa, dia berlari secepat mungkin agar dia bisa cepat sampai di ruangan itu.


...🌹Di rumah dokter Raisa 🌹...


Karena menempuh perjalanan yang lumayan jauh, Sifa dan Ilham sampai ketiduran di dalam mobil mewah itu hingga mereka tak tau kalau mereka sudah sampai di rumah dokter Raisa.


"Kita sudah sampai" ujar bi Minah menoleh ke kursi belakang


Ternyata Ilham dan Sifa tertidur pulas di kursi belakang.


"Kasihan mereka, mereka pasti capek karena nungguin ibunya seharian" ujar bi Minah dengan matanya yang berkaca-kaca


"Memangnya bapaknya kemana Bi, kok mereka dititip di rumah Bu Raisa?" Tanya pak Karyo supir pribadi dokter Raisa


"Bapaknya gak mau ngurusin, tadi aja mereka di tinggal sama bapaknya padahal ibunya lagi kritis" jawab bi Minah yang ikut kesal kepada ayah mereka.


"kasian mereka bi, tega banget bapaknya nelantarin anak selucu mereka" ujar pak Karyo menggelengkan kepalanya


"Ayo bang kita angkat mereka ke dalam, kasian kalau di bangunin, mereka pasti kecapean, alah alah ndok, semoga ibu kalian cepat sembuh" ujar bi inem sembari mengangkat tubuh Sifa masuk ke dalam rumah


ketika bi Minah mengangkat tubuh Sifa, pak Karyo membantu bi minah membukakan pintu rumah dan pintu kamar, bi Minah merebahkan tubuh Sifa di kamar yang sudah dia siapkan, begitu juga dengan pak Karyo, pak Karyo mengangkat tubuh Ilham lalu merebahkan nya di sebelah Sifa, bi Minah menyelimuti tubuh kedua anak pintar itu dengan selimut, dia benar benar tidak tega melihat Ilham dan Sifa seperti ini, dia berjanji kepada dirinya sendiri akan merawat kedua anak pintar itu sampai ibu mereka menjemput.


...bersambung...

__ADS_1


__ADS_2