30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
acara pernikahan


__ADS_3

Singkat cerita.


Pernikahan itu pun tiba, semua tamu undangan sudah terlihat memadati kursi depan pelaminan, Ilham dan Sifa juga sudah terlihat rapi mengenakan baju yang sama seperti yang dipakai bundanya. 


Siang itu cuaca begitu cerah, resepsi pernikahan akan segera dimulai, bapak penghulu pun sudah duduk di depan meja pelaminan bersiap untuk mengikrarkan janji suci kedua mempelai.


para tamu berbondong bondong memadati tempat yang sudah disiapkan oleh pihak panitia, mereka bersiap mendengarkan ikrar janji setia sang dokter kepada calon istrinya.


5 menit berlalu, sang mempelai pria pun datang dengan rombongannya membawa banyak sekali barang bawaan. Disana sudah terlihat Agus dan Clara, sebagai pelayan para tamu, sedangkan pak Bram dan dokter Raisa, dia keluar dari rumah mewah itu dengan menggandeng sang pengantin cantik berjalan ke pelaminan.


Dokter Raisa mempersilahkan Nadira untuk duduk di kursi putih itu, dia terlihat anggun dengan gaun mewahnya membuat para tamu terpesona dengan kecantikannya. Disusul pak Bram, dia juga mempersilahkan dokter Reza untuk duduk di kursi tepatnya di samping Nadira. Mereka terlihat begitu sangat serasi bak seorang raja dan putri kerajaan.


"Janji suci pernikahan ibu Nadira dan pak dokter Reza akan segera dimulai, baik, para saksi mohon bersiap" ujar Agus kepada para saksi yang sudah duduk menyaksikan mereka Berdua.


"Bismillahirrahmanirrahim, SAYA NIKAHKAN DAN KAWINKAN ENGKAU KEPADA ANAK SAYA NADIRA LARASATI DENGAN MASKAWIN SEPERANGKAT ALAT SHOLAT DAN UANG TUNAI SEBESAR 60 RIBU RUPIAH DIBAYAR TUNAI" tangan penghulu itu digerakkan sebagai code untuk dokter Reza mengikuti ikrar yang sudah dikatakannya. Dokter reza pun mulai mengikutinya.


"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA NADIRA LARASATI DENGAN MASKAWIN TERSEBUT TUNAI" ujar dokter Reza dengan lantangnya. 

__ADS_1


"Gimana para saksi? Sah?" Penghulu itu bertanya kepada pada saksi.


"SAH" semua orang yang berada di tempat itu berteriak SAH, mereka berdua pun sah menjadi pasangan suami istri.


"Alhamdulillah, kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri" ujar pak penghulu itu.


Nadira mencium tangan dokter Reza dengan mata yang berkaca-kaca. Dia masih tidak percaya semuanya akan berakhir seperti ini, kebahagiaan datang menghampirinya setelah sekian lama mengalami kesakitan dan penderitaan. Kini Nadira pun bahagia dengan laki laki pilihannya.


Nadira dan dokter Reza tidak menyadari kalau ada orang yang memperhatikannya dari kejauhan, orang itu tak lain adalah Bayu, dari tadi Bayu terus memperhatikannya sembari berurai air mata, tak kuat rasanya bagi dia saat ini, tapi dia tetap harus kuat menghadapi kenyataan ini, semua ini murni kesalahannya, Bayu sangat menyadari itu, sekarang dia hanya bisa menyesali semua perbuatannya.


"Kalau saja dulu aku tidak menyakitinya, mungkin sekarang aku masih bahagia bersama kamu Nadira, aku benar benar menyesal, maafkan aku" batin Bayu merintih. Bayu tak kuasa menahan kesedihannya. Dia bersembunyi di balik tembok halaman belakang sembari menangis terisak.


Bayu duduk bersandar di tembok taman belakang sembari melamun sendirian, dia terus membayangkan bagaimana dia akan hidup kedepannya, dia pasti akan sangat kesepian tanpa kehadiran mereka anak anak yang sangat dia sayangi.


"Acaranya sudah hampir selesai, aku harus segera pergi dari rumah ini" ujar Bayu. Bayu mulai menghapus air mata yang sedari tadi jatuh membasahi pipinya, dia bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kamar atas untuk mengambil semua barang barangnya. Hari ini dia akan pergi untuk sementara waktu, dia ingin menenangkan hatinya yang terasa amat sakit, dan setelah luka itu sembuh, Bayu baru akan menampakkan dirinya, menemui kedua anaknya dengan kesuksesannya yang baru.


Bayu masuk ke dalam kamar tanpa melirik kesana kemari.

__ADS_1


"Maafin ayah nak! Untuk sementara waktu ini ayah harus pergi dulu dari hidup kalian, ayah doakan semoga kalian bisa hidup bahagia bersama ayah baru kalian, ayah janji, nanti ayah akan kembali lagi jika ayah sudah sukses" ujar Bayu sembari merapikan bajunya ke dalam koper.


Bayu mulai beranjak pergi dari kamar itu, dia berjalan menuju ruang bawah dengan membawa sebuah koper di tangannya, Bayu berjalan melewati taman belakang menuju parkiran, dia sengaja tidak lewat jalan depan karena dia takut akan banyak orang yang melihatnya.


"Ayah..!" Teriak Ilham yang melihat ayahnya berjalan menuju parkiran. Ilham kaget sekali melihat ayahnya membawa koper seperti ini, dia takut ayahnya pergi jadi dari rumah, jadi dia berusaha menahannya.


Bayu menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Ilham.


"Ayah mau kemana? Kok bawa koper?" Tanya Ilham ingin tahu. Ilham berlari ke hadapan ayahnya agar dia bisa menahan ayahnya jika ayahnya akan pergi.


"Ayah ada urusan nak, ayah harus pergi dulu sebentar" jawab Bayu tersenyum. Bayu memegangi kedua pipi anak ganteng itu lalu mencium keningnya dengan penuh kasih sayang. "Jagoan ayah baik baik ya di rumah! Jagain adik, belajar yang rajin agar Ilham bisa jadi anak yang sukses" ujar Bayu. Bayu mencoba memberi pesan untuk anaknya itu sebelum dia benar benar pergi, dia ingin Ilham rajin dalam belajar agar kelak dia bisa menjadi orang yang sukses dan membanggakan dirinya.


"Ilham ikut ayah" ujar Ilham dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Ilham tunggu ya nak! Ayah gak lama kok, ayah cuma ada kerjaan sebentar, nanti juga ayah kesini lagi sama Ilham" ujar Bayu. Bayu sebenarnya berat sekali meninggalkan kedua anak itu, dia rasanya tidak mau jauh dari mereka, tapi dia harus tetap pergi karena dia tidak akan sanggup berlama lama tinggal di rumah itu.


"Gak ayah, Ilham mau ikut, Ilham gak mau tunggu disini" ujar Ilham lagi. Ilham menjatuhkan air matanya, dia mengerti sekali dengan apa yang ayahnya rasakan, Ilham tau kenapa ayahnya gak mau tinggal di rumah itu, Ilham tau kemana ayahnya akan pergi, jadi dia ingin ikut bersama ayahnya.

__ADS_1


"Ayah pergi sebentar nak, ya!?" Bayu menatap Ilham dengan tatapan serius sembari berurai air mata. Saat ini Bayu benar benar harus meninggalkannya, Bayu tidak punya waktu banyak untuk dia tinggal di rumah itu. "Ayah janji kalau ayah sudah punya tempat tinggal baru, ayah langsung jemput Ilham kesini ya! Ayah gak lama kok nak, paling cuma 2-3 harian. Ilham ngerti kan nak?" Ujar Bayu lagi. Bayu memeluk tubuh kecil itu dengan penuh kasih sayang, dia menangis di pelukan Ilham, rasa tak kuat hati dia curahkan di depan anak cikalnya itu membuat Ilham tak kuat menahan kesedihannya hingga dia juga menangis terisak.


__ADS_2