
"Mas, kamu sama mbak Lisa dulu ya! Aku mau manggil anak anak dulu!" Ujar Nadira kepada suaminya.
"Iya sayang" ujar dokter Reza tersenyum.
Nadira Pun berjalan meninggalkan Lisa dan dokter Reza di meja makan, sedangkan Nadira dia berjalan menuju ruang atas menghampiri kamar Ilham, kali ini Nadira ingin mengajak kedua anaknya untuk makan bersama, sekalian berbicara kepada mereka tentang niatnya untuk pergi berlibur akhir pekan ini.
"Gimana kabar orang orang disana Lis? Kemarin saya juga ketemu sama Susi, ternyata dia masih bekerja di butik, saya pangling banget liat dia, gimana ya kalau saya ketemu sama orang orang disana, pasti mereka juga pangling banget sama saya Lis, secara, kita udah lama banget gak ketemu sama mereka, malah Susi menyangka kalau saya berhenti jadi dokter" ujar dokter Reza. Dokter Reza bertanya kabar keluarga mantan istri dan teman temannya, sudah lama dia tidak bertemu dengan mereka, dia juga sangat rindu kepada anaknya.
"Kabar mereka baik pak, kabar anak bapak juga baik, kemarin aku liat dia di depan rumahnya, anak bapak cantik sekali, dia udah tumbuh jadi anak dewasa pak, cantik banget, mirip kaya ibunya'' jawab Lisa tersenyum. Lisa tau sekali Dokter Reza pasti sangat merindukan anaknya. Tapi karena terhalang ibunya, dia tidak bisa bertemu dengan anak kandungnya itu.
"Oh ya? Saya senang kalau dia baik baik saja Lis, saya ingin sekali bertemu dengan dia, tapi saya bingung caranya gimana, indah pasti tidak akan mengizinkan prily untuk bertemu dengan saya" ujar dokter Reza dengan matanya yang berkaca-kaca. Dari dulu juga memang Prilly tidak pernah mengijinkan dokter Reza untuk bertemu dengan anaknya, jadi dia merasa tidak mungkin bisa bertemu dengan anaknya itu.
"Bapak pasti bisa ketemu sama prilly, prilly kan anak kandung bapak, jadi indah nggak ada hak melarang bapak untuk ketemu sama Prilly, apa bapak mau saya bantu untuk ketemu sama Prilly?" Tanya Lisa. Lisa menoleh ke arah dokter Reza, dia menatap dokter Reza dengan tatapan serius, seakan tidak ada keraguan dalam hatinya sedikitpun.
__ADS_1
"Kamu yakin Lis? kamu bisa bantu saya untuk ketemu sama Prilly?" Tanya dokter Reza, dokter Reza tidak yakin lisa bisa membantunya untuk bertemu dengan anak kandungnya itu.
"Tentu saja pak, kenapa tidak! saya kasihan banget sama anak bapak, dia gak keurus" jawab Lisa. Lisa sudah mengetahui keadaan Prilly saat ini, keadaannya sangat mengkhawatirkan, sekarang anak dari sang dokter itu tinggal di tempat yang kumuh dan kotor, Dia tidak tega melihat Prilly hidup sengsara seperti itu.
"Maksud kamu gimana Lis? Kenapa anak saya nggak keurus? Memangnya indah ke mana?" Dokter Reza terlihat kaget begitu mendengar perkataan Lisa barusan. Dia tidak percaya jika anaknya tidak terurus seperti itu.
"Benar pak, saya serius, sekarang keadaan prilly sangat mengkhawatirkan, pakai baju pun dia kucel sekali pak, kemarin saya mampir ke rumahnya dan tanya kabar mamanya, kata prilly indah jarang pulang ke rumah, jadi dia hanya tinggal sama nenek dan kakeknya, indah sudah jarang urus prilly" jawab Lisa dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tapi kenapa? Kenapa indah tiba tiba kaya gini? Dulu dia kan orang kaya Lis? Malah dia ninggalin aku demi laki laki kaya itu" tanya dokter Reza lagi. Dokter Reza tidak menyangka jika sekarang anaknya bisa menderita seperti ini, padahal dulu mereka terbilang keluarga kaya raya, dulu keluarga indah mengusir dokter Reza hanya karena dia kurang berpenghasilan, tapi kenapa sekarang berubah terbalik, sekarang Dokter Reza sudah menjadi dokter spesialis yang berpenghasilan tinggi, sedangkan keluarga indah, mereka mengalami kehancuran bahkan sekarang mereka jauh lebih buruk dari dokter Reza dulu.
"Lagi pada ngomongin apa sih, kok serius banget?" Nadira tiba-tiba datang dengan kedua anaknya, dia penasaran sekali dengan apa yang dokter Reza dan Lisa bicarakan, karena sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang serius.
"Ini nih, mas lagi nanyain kabar orang orang di kampung Lisa, mas kangen banget sama mereka, sudah lama banget mas nggak ketemu sama sahabat-sahabat mas" jawab dokter Reza tersenyum. Dokter Reza terpaksa berbohong kepada Nadira. Saat ini dia tidak mau membicarakan tentang anaknya dulu kepada Nadira. Dia takut Nadira kaget mendengar kabar tentang anaknya.
__ADS_1
"Iya bu, pak Reza katanya pengen banget main ke kampung" ujar Lisa tersenyum.
"Kamu main aja mas, mumpung masih disini juga kan? Apa perlu aku antar kesana ketemu temen temen kamu?" Ujar Nadira. Nadira sama sekali tidak keberatan jika dokter Reza bertemu dengan teman temannya, malah Nadira senang dengar kabar itu, dia juga merasakan ada diposisi Dokter Reza seperti apa karena dia juga pernah merasakannya.
"Gak usah sayang, nanti biar mas pergi sama Lisa, lagian kampungnya juga jauh banget dari sini, kamu dirumah saja, jagain Ilham sama Sifa di rumah" ujar dokter Reza. Dokter Reza kaget sekali ketika Nadira mengatakan akan ikut ke kampung itu, dia tidak mau Nadira bertemu dengan keluarga indah yang dulu pernah menyakitinya, Dokter Reza juga belum sempat bilang ke istrinya masalah anaknya prily, dia akan mencari waktu yang tepat untuk menceritakan ini semua agar Nadira bisa menerima anak kandungnya itu dengan baik seperti dia menerima Ilham dan Sifa.
"Ya sudah mas, terserah mas aja, ayo kita makan dulu! Kita lanjutkan ngobrolnya nanti aja ya!" Ujar Nadira.
Nadira mulai mengambilkan nasi ke atas piring suami dan anak anaknya, dia terlihat lihai sekali menyiapkan makanan untuk keluarga tercintanya itu, ibu dua anak itu memang paling pintar dalam mengurus semua keperluan keluarganya.
"Bu Nadira, udah cantik, pintar, baik lagi, dia juga pintar banget ngelayanin suami dan anak anaknya, Dokter Reza memang beruntung sekali bisa mendapatkan istri seperti Bu Nadira" batin Lisa. Lisa ingin sekali bisa seperti Nadira. Dia ingin sekali memiliki keluarga yang utuh seperti ini, tidak seperti dirinya yang hanya tinggal sendiri.
"Ayo Lis, dicoba makanannya!" Ujar Nadira tersenyum. Nadira juga kembali menuangkan nasi ke atas piring sahabatnya itu, dia ingin Lisa makan malam bersamanya, dan menikmati masakan buatannya yang sangat enak itu.
__ADS_1
"Terimakasih banyak Bu, pasti rasanya enak banget, Bu Nadira gitu yang masak!" Ujar Lisa tersenyum. Lisa memuji masakan Nadira, dia sangat kagum sekali dengan perempuan cantik yang ada di sampingnya ini. Kelak dia ingin seperti Nadira yang bisa mengurus suami dan anak anaknya dengan baik.