
"Ayo Bu kita masuk!" Ajak dokter Raisa kepada Nadira yang masih bengong di luar, dokter Raisa mengerti sekali dengan apa yang Nadira rasakan saat ini jadi dia terus berusaha menguatkan Nadira, dia percaya jika Nadira pasti akan mampu menghadapi ini semua.
Dokter Raisa menggandeng tangan Nadira untuk masuk ke dalam rumah lalu dia mengajak Nadira untuk duduk di sofa, dia terlihat sangat kasihan sekali kepada ibu dua anak itu apalagi dengan kejadian tadi, dia pasti sangat takut sekaligus bingung karena dia tau Nadira tidak pernah melakukan itu, dia tau sendiri sifat Nadira, dia tidak pernah berkelahi dengan orang, tapi karena kedua anaknya dia mampu melakukan ini semua, dokter Raisa benar benar kagum dengan perempuan cantik itu.
"Saya bingung dok, gimana kalau besok anak anak lihat Elsa dengan Bayu di rumah itu, pasti mereka akan bertanya tentang Elsa sama saya, saya bingung harus jawab apa dok" ujar Nadira dengan mata yang berkaca-kaca.
"Oh iya ya Bu, kasian Sifa sama Ilham kalau melihat ayahnya sama perempuan lain di rumah ibu, mereka pasti kecewa" ujar dokter Raisa. Dokter Raisa tidak terpikir itu sebelumnya, dia baru ingat kalau di rumah itu ada Elsa si perempuan licik itu, Elsa pasti tidak akan membiarkan Nadira dan keluarganya menempati rumah itu, jadi dokter Raisa takut Elsa menyakiti Ilham dan Sifa. Dokter Raisa takut mental kedua anak baik itu terganggu oleh kehadiran Elsa.
"Ilham sudah tau semuanya dok, tapi Sifa, dia belum tau kalau ayahnya sudah menikah lagi dengan perempuan lain, saya tidak bisa membayangkan kalau Sifa tau semuanya, hatinya pasti terluka" ujar Nadira. Nadira tak kuasa menjatuhkan air matanya ketika mengingat anak bungsunya Sifa, dia tidak mau Sifa terluka gara gara ini apalagi Sifa sangat percaya kepada ayahnya, dia tidak bisa membayangkan jika ayah yang selama ini Sifa kagumi menyakitinya dengan cara seperti ini.
"Kita harus singkirkan mereka sebelum anak anak ngajak ibu pulang ke rumah ibu, gimana apa Bu Nadira setuju?" Tanya dokter Raisa menoleh ke arah Nadira, dokter Raisa mencoba memberi saran kepada Nadira tapi dia tidak tau Nadira mau menerimanya atau tidak.
"Nah itu baru ide yang bagus dok, tapi gimana caranya? Apa kita bisa menang melawan Elsa? Dokter tau sendiri kan dia itu orang yang sangat licik" Nadira malah balik bertanya kepada dokter Raisa, dia tidak tau harus berbuat apa untuk menyingkirkan perempuan licik itu.
"Iya sih bu, tapi pasti ada cara, sebentar! Saya pikir dulu" ujar dokter Raisa tersenyum. Dokter Raisa termenung sebentar dia mencoba memikirkan bagaimana caranya agar mereka bisa merebut semua aset itu dari tangan Bayu, dia rasa itu memang tidak gampang apalagi jika perusahaan masih di pegang oleh Bayu apalagi jika semua aset itu sudah berpindah nama atas nama Bayu.
__ADS_1
"Maaf bu dokter, bu Nadira, bibi boleh kasih saran?" Tanya bi Minah yang baru saja datang dari dapur, dia membawa 2 gelas jus ditangannya lalu menaruh jus itu di meja, bi Minah tidak sengaja mendengar percakapan mereka jadi dia berusaha untuk memberi saran siapa tahu saja masukannya itu diterima oleh mereka.
"Tentu saja boleh bi, apa?" Tanya Nadira tersenyum.
"Semua aset perusahaan dan rumah kan pasti ada berkas berkasnya bu, dulu ibu taruh dimana? Kalau ibu dapatkan itu semua, pak Bayu sama istri barunya pasti tidak berkutik, meskipun mereka gak terima juga pasti mereka akan terusir dari rumah ibu" jawab bi Minah tersenyum.
"Nah itu bi, wah bi Minah ini memang jago, kenapa saya gak ingat kesitu ya, aduuuuhhh!?" ujar dokter Raisa sembari menepuk jidatnya. " memang benar kata bi Minah Bu, Bu Nadira ingat kan berkas berkas penting perusahaan ibu di taroh dimana? Kita harus cepat cepat dapatkan surat itu sebelum surat itu jatuh ke tangan Elsa" ujar dokter Raisa menatap Nadira dengan tatapan serius.
"Saya menyimpannya di laci lemari saya dok, tapi sepertinya semua barang barang saya sudah di buang oleh Elsa, lemari saya juga sepertinya sudah dia singkirkan" jawab Nadira dengan wajah kebingungan.
"Oh iya!? Ada dok, saya ada berangkas di kantor, ya allah kok saya hampir lupa ya kalau ada berkas penting di kantor" ujar Nadira. Dia juga menepuk jidatnya sembari tersenyum malu. Dia baru ingat kalau dulu dia pernah menyimpan berkas penting di berangkas kantornya.
"Alhamdulillah, kita harus ambil secepatnya bu, kalau perlu malam ini juga, biar besok pagi Bayu dan Elsa bisa kita usir dari rumah itu, aduuuh' saya jadi gak sabar pengen cepat cepat usir mereka, gak kebayang raut wajah Elsa ketika dia keluar dari rumah itu" ujar dokter Raisa tersenyum sembari menepuk kedua tangannya (gemes).
"Saya juga udah gak sabar dok" ujar Nadira
__ADS_1
"Kalau urusan bu nadira berjalan dengan lancar nanti bibi masak enak buat bu nadira sama bu dokter, kita rayakan ini dengan makan makan bu, gimana?" Tanya bi Minah bercanda. sebenarnya bi Minah juga gemes sekali dengan ulat bulu Elsa, dia ingin sekali Elsa dapat pelajaran setimpal atas perbuatannya kepada Nadira, bi Minah ingin Elsa jadi gembel jalanan, dan kalau sampai semua cita citanya tercapai bi Minah akan merayakannya dengan masak masak yang enak, kalau perlu dia ingin membuat syukuran kecil kecilan di rumah itu.
"Wahhh terimakasih banyak bi, bibi doakan saja semuanya berjalan dengan lancar, saya juga sudah gemes bi liat mereka berdua, pengen cepat cepat liat mereka menderita" ujar Nadira tersenyum bercanda.
"Saya doakan Bu Nadira terus kok, ibu orang baik, saya yakin ibu pasti akan mendapatkan hak ibu, ibu pasti bahagia" ujar bi Minah dengan mata yang berkaca-kaca.
"amiiiinnn bi''
"Terus rencana Bu Nadira apa sekarang? kita tidak punya banyak waktu loh Bu, anak anak juga sudah berkemas" tanya dokter Raisa. dia ingin mendengar rencana dari Nadira terlebih dahulu jika saja pikiran Nadira buntu baru dia sendiri yang akan menyusun rencana kedepannya.
"Saya akan menghubungi karyawan kantor saya terlebih dahulu dok, kalau saja dia mau membantu saya dan semua aman, baru saya sendiri yang akan mengambil berkas itu ke kantor'' jawab Nadira.
"Karyawan ibu siapa Bu? apa ibu yakin dia mau membantu ibu?" tanya dokter Raisa lagi. dia tidak percaya jika ada karyawan yang mau membantu Nadira apalagi Nadira sudah lama tidak muncul di kantor itu.
...bersambung...
__ADS_1