30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
kado untuk Ilham


__ADS_3

Cleeeekk 


Ilham memutar pintu kamar itu dengan perlahan, dan pintu kamar itupun terbuka lebar untuknya. Ilham mendapati ayah dan adiknya masih tertidur pulas di atas tempat tidur itu.


"Ya Allah dik, ayah, kalian belum bangun" Ilham menjatuhkan air matanya setelah melihat pemandangan itu. Dia merasa sangat sedih melihat ayah dan adiknya seperti ini, Ilham ingat sekali dulu dia selalu membangunkan ayahnya setiap pagi, mereka selalu sarapan bersama menikmati nasi goreng enak yang dibuatkan sang bunda, kenangan itu sangat indah sekali baginya, namun sekarang tidak lagi, keluarganya sekarang tidak seperti dulu sewaktu mereka masih tinggal bersama.


Karena tidak mau mengganggu mereka yang masih tertidur lelap Ilham kembali turun ke ruang bawah, di berjalan dengan perlahan menyusuri setiap tangga rumah itu dengan air mata yang terus jatuh membasahi pipinya.


Masih terlihat di pelupuk matanya ketika sang ayah menggendong ibundanya hingga ke dapur, mereka selalu tertawa setiap pagi, bercanda merayu ibu dan ayahnya. Bersenda gurau di meja makan. Semuanya tampak indah sekali.


bunda dan ayahnya bagaikan pelita dalam kegelapan yang selalu menyinari hari harinya, mereka selalu hadir sebagai pengobat rasa lelahnya setiap pulang dari sekolah, mereka selalu menjadi penyemangat dikala rasa suntuk melanda, tapi sekarang tidak lagi, kehidupannya sekarang seperti daun yang berguguran tertiup angin, beterbangan jauh tak kembali.


Ilham duduk di sofa ruang keluarga sembari menatap Dinding, disitu terlihat ada pas foto dirinya dan sang bunda sewaktu dulu mereka rekreasi, tapi semua itu tak indah lagi di matanya, melihatnya pun sekarang Ilham malas sekali, ingin rasanya Ilham hidup sendiri tanpa mereka agar dia bisa merasakan hidup dengan damai tanpa ada seorangpun yang mengusik.


Ilham melihat ke arah jam ternyata sudah menunjukkan pukul 09.00, Pantas saja perutnya sudah terasa keroncongan, tadi pagi dia hanya memakan pisang goreng saja, dia lupa kalau pagi ini dia belum sempat sarapan.

__ADS_1


"Pantes aja perutku sudah lapar, ternyata sudah jam 9, kira kira di dapur ada apa ya?" Batin Ilham. Karena perutnya sudah sangat lapar ilham pun berjalan ke dapur untuk mencari makanan tapi setelah dia sampai di dapur dia tidak mendapati makanan apapun disana. Ilham hanya melihat 2 mangkok kotor di meja makan, mungkin mangkok itu bekas adik dan ayahnya semalam.


"Ya Allah gak ada makanan apapun disini, mana aku gak punya uang lagi, gimana ini? " Ujar Ilham yang terlihat kebingungan.


Ilham berfikir sejenak, dia mulai mencari cara agar dia bisa memakan sesuatu disini, dia juga teringat adik dan ayahnya yang masih tertidur pulas, pasti mereka belum makan apa apa pagi ini. Ilham Pun memutuskan untuk memasak, untung saja setiap pagi dia suka membantu bi Minah memasak jadi sedikit sedikit dia tau caranya memasak.


Dengan tangan kecilnya Ilham membuka lemari es untuk mencari bahan bahan yang harus dimasak, untung saja disitu Ilham melihat masih ada sosis, roti, dan 4 butir telur. Ilham juga melihat sayur sayuran hijau yang sudah mulai layu tapi masih bisa dimasak. 


"Ilham, kamu lagi apa disini nak?" Tanya Bayu yang baru saja turun dari ruang atas. Tadinya Bayu hanya ingin mengambil minum untuk Sifa tapi dia melihat Ilham di dapurnya jadi dia mengobrol sedikit dengan anaknya itu mencurahkan isi hatinya yang sudah lama dia pendam.


"Ya Allah nak, kenapa tadi Ilham gak bangunin ayah sih? Ayah kan bisa beliin Ilham makanan, Ilham gak perlu masak ya nak! Sekarang Ilham tunggu, ilham jagain adik Sifa di kamar biar ayah keluar beliin makanan buat kalian" ujar Bayu. 


"Iya ayah" ujar Ilham sembari menganggukkan kepalanya.


Bayu pun langsung bergegas pergi meninggalkan Ilham yang masih berdiri di depan kulkas, sedangkan Ilham dia juga mulai beranjak pergi ke kamar ayahnya untuk melihat adik Sifa yang baru saja bangun, Ilham menggantikan ayahnya  membawa satu gelas air putih di tangannya untuk Sifa karena memang biasanya juga seperti itu, Ilham sudah biasa melakukan ini setiap pagi bahkan mungkin ini sudah menjadi rutinitasnya sehari hari, dulu sewaktu ayah dan bundanya tidak ada setiap pagi Ilham selalu menyiapkan satu gelas air putih untuk adiknya itu. Jadi tanpa ibu dan ayah pun Ilham rasanya sudah terbiasa dengan itu.

__ADS_1


"Sifa…" teriak Ilham memanggil adiknya yang sedang bermain gadget ayahnya.


"Ka Ilham, kapan kakak kesini? Bunda mana ka?" Tanya Sifa. Sifa terlihat senang sekali melihat Ilham di rumah itu, tapi dia juga bertanya bundanya, rupanya anak itu berharap bunda dan ayahnya bisa berkumpul seperti dulu, Sifa merasa semuanya baik baik saja padahal sebenarnya tidak.


"Bunda lagi keluar sebentar, kamu kok baru bangun dik, memangnya semalam kamu tidur jam berapa, berarti kamu gak sholat subuh ya dik?" Tanya Ilham ingin tahu. 


"Semalam aku habis jalan jalan sama ayah ka, ayah bawa aku ke tempat yang indah sekali, ayah juga belikan aku hadiah loh ka! Ini hadiahnya"  jawab Sifa. Sifa memperlihatkan sebuah kalung yang sangat cantik sekali dengan 1 boneka beruang kesukaannya. "Ayah baik banget ka ka, ayah sayang banget sama kita" ujar Sifa lagi.


Mendengar perkataan adiknya Ilham hanya diam sembari tersenyum, dia merasa bahagia sekali melihat Sifa seperti ini, dia percaya sekali dengan perkataan adiknya bahwa ayahnya sangat menyayangi mereka Berdua, sekarang Ilham bisa melihatnya. Bahkan sekarang kasih sayang Bayu terhadap mereka tak terkalahkan oleh siapapun termasuk Nadira.


"Alhamdulillah ya dik" ujar Ilham. Ilham menyesal sekali kenapa kemarin dia tidak mau bermain bersama Sifa dan ayahnya, kalau saja dia ikut menginap bersama adiknya mungkin semalam dia juga akan diajak jalan jalan, dia juga pasti akan dibelikan kado yang bagus seperti yang dimiliki adiknya.


"Nanti aku juga mau cerita sama bunda ka, oh iya! Sifa lupa ka, ayah juga belikan kado buat kakak, ini!!" Sifa menyodorkan satu buah kado yang dibungkus rapi. 


"Ini buat kakak?" Tanya Ilham tersenyum. Ilham terlihat senang sekali menerima kado itu, dia langsung memeluknya dengan erat. Dia tidak membayangkan kalau ayahnya akan memberikannya kado seperti ini.

__ADS_1


"Ayo buka ka! aku mau liat" ujar Sifa. Sifa penasaran sekali dengan isi kado itu. dia ingin kakaknya membukanya sekarang juga tapi Ilham menggelengkan kepalanya. Ilham belum berani membuka hadiah itu sebelum dia mengucapkan terimakasih kepada ayahnya jadi dia lebih baik menyimpannya terlebih dahulu sembari menunggu ayahnya pulang.


__ADS_2