30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
kebingungan nadira


__ADS_3

Bayu akhirnya mengingat semua kejadian semalam bersama Clara, kejadian yang menurutnya begitu sangat menjijikkan, kalau saja semalam dia tidak terpengaruh oleh minuman mungkin semua tidak akan seperti ini, sekarang Bayu menyadari semua kesalahannya dia begitu sangat kesal kepada dirinya sendiri.


"Pantes aja Elsa marah sama gue, semalam dia liat gue tidur sama Clara, arrrrggh" Bayu memukul meja kerjanya dengan kedua tangan, dia sangat kesal kepada dirinya sendiri. karena sudah melakukan perbuatan yang tidak sewajarnya.


Bayu menyandarkan tubuhnya di sofa sembari menatap langit langit dengan mata kosong, dia bingung dengan apa yang harus dia lakukan besok, dia memikirkan bagaimana jika Clara hamil? dia pasti harus mempertanggung jawabkan perbuatannya semalam, dia harus menikahi Clara.

__ADS_1


Ketika Bayu sedang kebingungan dengan perbuatannya, di rumah Bram, dokter Raisa dan Nadira baru saja sampai dari pengadilan, Nadira terlihat membawa satu buah kantong kecil ditangaannya, Nadira membawa oleh oleh untuk Ilham dan Sifa yang dia beli dari restoran barusan.


"Dokter kira kira surat gugatan itu sampai ke tangan Bayu itu kapan ya?" tanya Nadira ingin tahu, Nadira ingin segera menyelesaikan urusan perceraiannya lalu setelah itu dia akan merebut semua aset miliknya dari tangan Bayu baru dia bisa duduk dengan lega.


"Paling besok Bu, besok surat gugatan itu sudah di tangan mantan suami ibu, jadi ibu diam saja, nanti juga pihak kantor telepon kita untuk panggilan sidang yang pertama'' jawab dokter Raisa tersenyum.

__ADS_1


"yang sabar ya Bu, insyaallah semua bisa berjalan dengan lancar, saya juga sangat menginginkan itu, Semoga mantan suami ibu bisa langsung menandatangani surat gugatan itu" ujar dokter Raisa. dia sangat berharap kelancaran untuk urusan ini karena dia begitu sangat perduli kepada Nadira apalagi Ilham dan Sifa.


"Amiiiinnn dok, terimakasih" ujar Nadira tersenyum.


"Ya sudah ayo kita masuk Bu, jangan terlalu difikirkan, pasrahkan saja semua kepada Allah, insyaallah Allah akan memberikan yang terbaik untuk usaha kita, Allah pasti akan memberikan kelancaran" ujar dokter Raisa tersenyum. dokter Raisa menggandeng tangan Nadira untuk masuk ke dalam rumahnya. dia mengerti perasaan Nadira saat ini, dia tau Nadira merasa tidak enak karena menurutnya dia selalu merepotkan Dokter Raisa, padahal dokter Raisa sendiri tidak merasa direpotkan, dokter Raisa justru senang Nadira dan kedua anaknya bisa tinggal dirumahnya, dia jadi Aya teman, rumahnya juga terasa rame kalau ada Ilham dan Sifa.

__ADS_1


Melihat dokter Raisa yang mulai beranjak, Nadira pun mengikuti dokter Raisa dari belakang, meskipun dia merasa tidak enak tapi untuk sementara dia tidak bisa apa apa, dia terpaksa harus tinggal di rumah dokter Raisa dulu agar kedua anaknya bisa tinggal dengan aman dan nyaman, Nadira bisa saja menyewa kontrakan untuk sementara, tapi dia bingung dengan kedua anaknya, Sifa dan Ilham sudah terlanjur betah di rumah itu dan kelihatannya mereka sudah menganggap dokter Raisa seperti ibu kandungnya sendiri maka dari itu Nadira memutuskan untuk tinggal di rumah dokter Raisa untuk sementara waktu ini.


__ADS_2