30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
Keyla yang malang


__ADS_3

"Terimakasih dok!" Nadira tersenyum. Tangannya merangkul pundak sang dokter begitu juga sebaliknya, tangan dokter Raisa meraih lipatan pinggang Nadira dengan kepala yang didekatkan satu sama lain.


"Eiiiitttss, lagi pada ngomongin apa sih? Serius amat?" Tanya Bram yang baru saja masuk ke dalam kamar itu. 


Bram berjalan mendekat ke arah kasur yang sedang Nadira dan Raisa duduki, Nadira pun melepaskan pelukannya, dia menoleh ke arah Bram menatapnya sembari tersenyum tak enak.


"Ini mas, aku sama Nadira lagi bicarakan acara pernikahan mereka. tadinya aku mau jodohin mereka eh tahu-tahunya mereka sudah menjalin hubungan" jawab dokter Raisa tersenyum, dokter Raisa terlihat semangat sekali membicarakan kabar bahagia ini.


"Oh ya bagus dong berarti sebentar lagi sahabat ku akan segera memiliki istri, dan itu artinya Syifa dan Ilham akan segera memiliki ayah baru" ujar Bram. Dia duduk disebelah istrinya sembari memegangi ponselnya yang sedari tadi berbunyi. 


"Oh iya, anak-anak ke mana? Dari tadi aku nggak lihat mereka?" Tanya Bram yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, dia menoleh ke arah kiri dan kanannya mencari keberadaan Ilham dan Sifa, tapi mereka tidak ada di kamar itu.


"Kamu dari tadi kemana aja sih mas sampai nggak lihat Ilham dan Syifa?" Dokter Raisa malah balik bertanya kepada suaminya itu, dia menatap suaminya dengan tatapan serius seakan curiga terhadapnya.


"Kenapa kamu lihatin mas kayak gitu?" Bram menoleh ke arah Raisa, dia merasa gugup karena istrinya menatapnya dengan tajam seperti itu.


"Dari tadi handphone mas berbunyi terus siapa yang nelpon? Hari ini mas libur kan? nggak ada kerjaan di kantor kan?" Dokter Raisa terus bertanya-tanya. Dia terus menatap Bram dengan tatapan sinis seakan curiga dengan suaminya itu.


Mendengar percakapan mereka, Nadira tersenyum, dia mengerti dengan kecurigaan dokter Raisa kepada suaminya. Nadira merasa tidak enak jadi dia meminta izin untuk keluar meninggalkan kamar itu.


"Saya izin keluar dulu ya Dok" Karena merasa tidak enak Nadira meminta izin kepada dokter Raisa untuk keluar menemui anaknya.

__ADS_1


"Bu Nadira mau ke mana? Ibu kan harus banyak istirahat!"  Tanya dokter Raisa, dia menoleh ke arah Nadira.


Bram mengerti sekali kenapa Nadira ingin keluar dari kamar itu, jadi dia bangkit dari duduknya dengan ponsel yang masih dia pegang di tangannya.


"Kamu mau ke mana lagi mas?" Tanya Raisa yang melihat suaminya berdiri di hadapannya.


"Tadi ada klien mas nelpon, dia mau kirim bukti pengiriman barang, tapi dari tadi mas tunggu-tunggu laporannya belum ada, jadi mas mau coba telpon dia lagi, kalian lanjutkan saja ngobrolnya ya! mas izin keluar dulu" jawab Bram. Bram pun berjalan meninggalkan kamar itu sembari terus menatap ponselnya. Bram terlihat serius karena memang dia sedang menunggu laporan dari kliennya.


Raisa dan Nadira pun melanjutkan obrolan mereka yang tadi, Raisa akan membantu Nadira mengurus-ngurus surat perceraiannya dengan Bayu, dia akan mengantar Nadira ke pengadilan hingga semua urusannya selesai, dia akan melakukan apapun agar hak asuh Ilham dan sifat jatuh ke tangan Nadira.


****


Sungguh indah bukan? 


Beda halnya dengan suasana kediaman Elsa yang lebih tepatnya lagi kediaman Nadira. ketika Nadira menghuni rumah itu suasana rumah memang terlihat sejuk dan damai, tapi sekarang jauh berubah. Rumah mewah itu bak seperti neraka setelah Elsa datang menghuninya, suara teriakan, tangisan kadang sudah menjadi hal yang tidak aneh bagi orang yang biasa berlalu lalang di depan rumahnya. 


Sangat parah bukan?


Tiiiiit


Tiiiiiit

__ADS_1


Tiiiiiit


Lagi lagi suara klakson mobil Elsa dibunyikan dengan keras hingga Keyla yang sedang tidur nyenyak di pangkuan sang nenek pun terbangun.


"Elsa... bisa nggak sih sekali aja dia nggak bunyiin klakson kayak gitu" ujar Bu Lidya menggerutu. "Cup cup cup sayang, tidur yang nyenyak lagi ya nak! nanti biar nenek kasih pelajaran mama kamu yang rese itu" sembari mengayun-ayun Kayla Bu Lidya berjalan menuju dapur, dengan repotnya dia membuatkan susu untuk cucu tersayangnya itu.


"Aduh! kenapa lagi sih tu anak, coba dong mah kasih dia susu!" Elsa yang baru saja masuk ke dalam rumahnya tampak kesal katika mendengar tangisan Keyla.


"Ini juga mama lagi bikinin susu buat Keyla, lagian kamu sih bunyiin klakson gak kira kira" Bu Lidya menyalahkan anak semata wayangnya itu, dia kesal kepada Elsa karena susah payah Bu Lidya nidurin Keyla, dengan mudahnya Elsa membangunkan Keyla tanpa rasa kasihan sedikitpun.


"Mama tau gak kenapa aku bunyiin klakson mobil dengan keras?" Elsa bertanya kepada mamanya. dia menyandarkan tubuhnya di sofa dengan kaki yang dia naikan ke atas meja.


"Kenapa?" Bu Lidia balik bertanya kepada Elsa, dia sebenarnya tidak mau tau dengan urusan Elsa saat ini, yang dia pikirkan hanya keyla, sejak pagi Keyla belum tidur sama sekali karena dia sedikit demam, tapi Elsa tidak memperdulikan anaknya sama sekali dia hanya mengurusi urusannya tanpa memikirkan buah hatinya.


"Hari ini aku ketemu sama Nadira Bu, dia akan segera menikah dengan seorang dokter" jawab Elsa. dia menoleh ke arah mamanya sembari tersenyum gembira.


"Terus apa hubungannya sama kamu Elsa? ngapain kamu ngurusin perempuan itu? yang harus kamu urusin tuh anak kamu Keyla, dari tadi pagi kamu terus saja ninggalin dia, coba dong kamu luangin waktu kamu buat anak kamu sebentar saja, Keyla juga butuh perhatian kamu" ujar Bu Lidya dengan kesal, sembari memberikan susu kepada Keyla, Bu Lidia menatap Elsa dengan tajam, dia sangat kesal kepada anaknya itu karena Lidya merasa Elsa lebih mementingkan orang lain dari pada keluarganya sendiri.


"Ya jelas penting dong mah, kalau si penyakitan itu jadi nikah sama si dokter berarti dia gak akan ganggu mas Bayu lagi, mas Bayu juga pasti gak akan cari dia lagi" Elsa tersenyum sembari menatap langit langit rumahnya, dia masih saja berbaring dengan santai sedangkan Bu Lidia, dia harus repot mengayun ayun Keyla sembari memberikan Keyla susu.


"Trus? kamu pikir di dunia ini perempuan cuma kamu sama si Nadira? memangnya kamu gak takut Bayu jatuh cinta sama teman kamu clara?"

__ADS_1


__ADS_2