
"Bunda gak papa kan?" Tanya Ilham dengan mata yang berkaca-kaca
"Tidak nak, bunda tidak papa" jawab Nadira, dia mengelus tangan Ilham sembari tersenyum manis, sedangkan Sifa masih berada di pelukannya, rupanya si anak bungsu itu begitu rindu kepada sang bunda hingga dia tidak mau melepaskan pelukannya.
"Bunda gak bohong kan? Bunda baik baik saja kan?" Ilham terus bertanya prihal kesehatan bundanya itu, dia takut bundanya berkata yang tidak jujur, Ilham mendekap di pelukan sang bunda dengan air mata yang mulai jatuh membasahi kasur putih itu.
"Bunda baik baik saja kok, oh iya, bunda lupa belum tanya kabar kalian, kalian baik baik saja kan?" Nadira balik bertanya kepada mereka "sekolah kalian gimana? adik Sifa rajin kan belajarnya?" Sembari mengelus kepala sang anak Nadira bertanya tentang kabar kedua anaknya, dia mengalihkan pembicaraan agar kedua anaknya tidak bertanya tentang kesehatannya lagi, terutama Ilham.
"Kabar Ilham baik bunda" jawab Ilham terisak "Sifa juga baik bunda" ujar Sifa juga, mereka terus memeluk Nadira meluapkan semua kerinduannya selama ini.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau kabar kalian baik" dia tersenyum sembari menatap dokter Reza yang sedari tadi duduk di kursi sebelah ranjang itu, dokter Raisa juga melangkahkan kakinya mendekat ke arah Nadira, mereka saling bertatapan satu sama lain, dokter Raisa tersenyum haru melihat kedua anak itu memeluk Nadira dengan erat seakan dia merasakan kerinduan mereka terhadap Nadira.
Dokter Reza juga menatap Nadira dan kedua anaknya dengan mata yang berkaca-kaca, baru kali ini dia menyaksikan pemandangan langka yang bisa membuatnya terharu biru, dia tidak pernah merasakan kasih sayang seperti yang Nadira dapatkan dari kedua anaknya, jadi ketika dia dipertemukan dengan Ilham dan Sifa, dia merasa beruntung sekali, dia beruntung bisa dipertemukan dengan orang orang yang baik dan penyayang seperti keluarga Nadira.
"Bu Nadira, saya perhatikan Ilham dan Sifa serius sekali dalam belajarnya, mereka rajin sekali belajar meskipun saya jarang sekali menemani mereka, mereka juga rajin sekali mengerjakan pekerjaan rumah, mereka suka bantuin bi Minah kalau bi Minah lagi kerepotan, pasti bunda kalian yang ajarin, Iya kan sayang?" Dokter Raisa sedikit menceritakan akhlak mereka ketika di rumah, dia berusaha bertanya kepada kedua anak itu agar mereka berhenti menangis. Dokter Raisa menoleh ke arah Reza sembari tersenyum, begitupun dokter Reza, dia membalas senyuman dokter Raisa sembari mengangguk kepalanya kemudian mengusap ngusap kepada Ilham dengan penuh kasih sayang.
"Memang bener ya sayang, kalian suka bantuin bi Minah?" Tanya Nadira kepada kedua anaknya "sudah dong nak! anak bunda gak boleh nangis, nanti cantiknya ilang lagi" dia mengusap air mata Sifa sembari tersenyum. "Ilham juga gak boleh nangis lagi ya sayang, bunda janji tidak akan pernah meninggalkan kalian lagi, tapi kalian gak boleh nangis ya, kalian harus jadi anak yang kuat, jadi anak yang Sholeh, yang nurut sama bunda ya" Nadira memeluk mereka dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya, dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya saat ini, dia merasa berdosa karena sudah meninggalkan mereka dengan cara berbohong, dia mengerti sekali perasaan kedua anaknya, mereka pasti sangat hancur ketika Nadira menitipkan mereka di rumah dokter Raisa orang yang baru mereka kenal, itu sebabnya sekarang mereka memeluk Nadira dengan erat sampai mereka tidak mau melepaskan. Mungkin mereka tidak mau kehilangan bundanya untuk yang kedua kalinya.
"Bunda janji sayang, asal Sifa sama Ilham gak boleh nangis lagi" jawab Nadira tersenyum, mendengar perkataan bundanya Ilham berusaha bangkit, dia menghapus air matanya lalu duduk kembali di kursi yang terletak di sebelah kursi yang diduduki dokter Reza.
__ADS_1
"Kita gak nangis lagi bunda" ujar Ilham
"Gitu dong, anak anak bunda kan pintar, sekarang anak anak bunda sudah mulai dewasa ya, bunda sampai pangling liat kalian"
"Iya Bu, sekarang sifa sudah berani sendiri yang nak? Ilham juga sudah bisa jaga adik Sifa, malahan mereka berdua sudah bisa belikan Bu Nadira hadiah, saya juga kaget Bu pas dengar mereka beli hadiah buat ibu, saya benar benar bangga sekali sama mereka" ujar dokter Raisa tersenyum
"Bener sayang? kalian belikan bunda hadiah?"
"Iya bunda" jawab Sifa sembari menganggukkan kepalanya. tanpa diminta Sifa berlari ke luar dari kamar itu menuju ruang tengah untuk mengambil hadiah tersebut, disusul Ilham mengikuti adiknya dari belakang, kebetulan hadiah mereka terpisah jadi mereka mengambilnya masing masing.
__ADS_1
"Saya bangga sekali sama anak anak ibu, mereka berdua baik sekali bu"