
Gemericik hujan masih saja turun membasahi alam bumi ini, suara jangkrik terdengar nyaring di telinga menghangatkan malam yang sangat dingin ini. Semilir angin berhembus kencang menusuk setiap relung jiwa menggetarkan hati yang sedang dirundung kegelisahan ini.
Plak
Plak
Plak
Suara keprokan tangan terdengar 3x dari bilik tembok yang menjulang tinggi itu.
"Hus! Nyamuk sialan" teriak bi Minah yang mulai bangkit dari duduknya. Malam itu bi Minah sedang duduk menunggu Ilham dan Sifa di depan rumah Bayu, dia terlihat sangat kesal sekali karena banyak sekali nyamuk yang menggigit seluruh bagian tubuhnya.
"Kenapa bi? Ditinggal sendirian aja ramenya kaya 3 orang" tanya pak Karyo tersenyum. Pak Karyo terus saja menggoda perempuan tua itu. Dia berusaha menghiburnya agar suasana tidak terlalu tegang. Maklum saja, mereka berdua sudah empat jam menunggu di depan rumah itu tapi Ilham dan Sifa tidak kunjung pulang.
"Iya nih bang, nyamuknya gede gede, mana dingin lagi, coba kalau kita di rumah, jam segini pasti Kan kita sudah istirahat" jawab bi Minah yang sudah hampir menyerah. Tubuhnya sudah terasa lelah karena bekerja seharian, lutut kakinya yang sudah mulai menua terasa sakit hingga menusuk ke tulang setiap kali dia kedinginan, Mata yang sudah mulai mengantuk tak terasa memejamkan matanya sendiri tanpa aba aba, membuat pak Karyo tersenyum di ketika melihatnya.
"Kasian bibi, waktunya istirahat malah dibiarin nunggu kaya gini, non Sifa, pulanglah non! Kami khawatir sama kalian disini, ayo pulang!" Batin pak Karyo merintih.
"Sabar Bi, sebentar lagi aja ya! Kalau 10 menit lagi mereka belum pulang, kita balik aja ke rumah dokter Raisa, mau dimarahin mau nggak kita pasrah aja lah bi, mau gimana lagi! Gak mungkin kan kita nunggu mereka sampai pagi, besok kita kan kerja, kita harus ada waktu Buat istirahat" ujar pak Karyo.
Mendengar perkataan pak Karyo, bi minah hanya diam sembari menganggukkan kepalanya. Bi Minah juga menginginkan seperti itu, dia ingin segera pulang ke rumah dokter Raisa untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah terasa lelah.
Bi Minah menyandarkan tubuhnya di tiang, tepatnya di depan rumah bayu, sedangkan pak Karyo, dia duduk sembari melamun dengan tangan yang memeluk dagunya. Sangat mengkhawatirkan sekali.
__ADS_1
7 menit kemudian.
Tiiit
tiiit
Tiiit
Suara klakson mobil berbunyi 3x di depan gerbang rumah itu, cahaya lampu mobil menyorot ke wajah mereka membuat mereka bangkit dari duduk santainya.
"Itu mereka pulang bi! Gak sia sia kita nunggu dari tadi" ujar pak Karyo tersenyum.
"Alhamdulillah, akhirnya" ujar bi Minah tersenyum, bi Minah tampak senang sekali dengan kedatangan mereka malam itu, rasa khawatirnya tiba tiba hilang begitu saja setelah mereka pulang dalam keadaan baik baik saja.
"Bibi, pak Karyo! Ngapain kalian disini? Tanya Bayu ingin tahu. Bayu merasa gak enak dengan mereka. Dia sudah tau mereka pasti orang suruhan Nadira yang ditugaskan kesini untuk menjemput Ilham dan sifa
"Maaf pak Bayu, kita lancang, saya sama pak Karyo khawatir sekali sama non Sifa dan den Ilham, tadi pak karyo kesini tapi katanya anak anak gak ada pak, jadi saya ikut, dari tadi saya sama pak Karyo nunggu disini, rasanya hati kami gak tenang pak sebelum melihat mereka" jawab bi Minah sembari menundukkan kepalanya.
"Ya Allah bi, maaf, saya gak tau, Kita ngobrol di dalam saja bi, pak! saya mau antara dulu Sifa ke kamar" Bayu mempersilahkan pak Karyo dan bi minah untuk masuk ke dalam rumahnya sementara itu Bayu berjalan menuju kamar untuk menidurkan anak bungsunya yang dari tadi sudah terlelap.
Bi Minah dan pak Karyo pun masuk ke dalam rumah mewah itu, dia melihat sekeliling ruangan itu, semua tampak megah dan mewah, bahkan lebih mewah dari rumah dokter Raisa.
"Rumahnya gede banget ya bi!" Ujar pak Karyo.
__ADS_1
Mereka duduk di sebuah sofa empuk di ruangan tamu itu, lalu bersantai merebahkan tubuhnya yang sedari tadi sudah sangat pegal.
"Bi, ini Ilham bawakan teh hangat buat bibi sama pak Karyo" Ilham menyodorkan dua gelas teh hangat untuk mereka. Dia duduk di kursi sembari tersenyum manis dengan nampan yang dia peluk di dadanya. Anak itu terlihat seperti pelayan kecil, membuat bi minah dan pak Karyo berdecak kagum melihatnya.
"Ya Allah den, terimakasih banyak, padahal gak usah bawa air minum kaya gini, bibi sama pak Karyo gak lama kok nak! Mending sekarang den Ilham istirahat gyh! Sudah malam" ujar bi Minah. Bi Minah menatap wajah anak itu dengan mata yang berkaca-kaca. Dia bersyukur sekali melihat Ilham dan ayahnya sudah akur kembali, sekarang perasaannya terasa lebih lega, dia jadi tidak terlalu khawatir dengan Sifa dan Ilham setelah melihat perlakuan ayahnya yang begitu sangat memperhatikan mereka.
"Sebentar lagi bi, ayo bi, Di minum teh nya mumpung masih hangat!" Ujar Ilham lagi.
"Iya bi, ayo diminum! Kalian pasti kedinginan nunggu Ilham sama Sifa diluar" ujar Bayu juga. Bayu berjalan menghampiri mereka sembari tersenyum manis.
"Ternyata pak Bayu tidak seperti apa yang saya pikirkan" batin bi Minah.
"Bi Minah! Tolong ya bibi sampaikan sama bundanya Ilham, bilang sama dia kalau anak anak akan tinggal sama saya untuk sementara waktu ini, lagian kan dia masih sibuk sendiri ngurusin acara pernikahannya, kasian anak anak jadi gak keurus" ujar baju kepada bi Minah. Bayu ingin bi Minah memberitahukannya kepada Nadira. Bayu berharap Nadira akan mengerti dengan keinginannya itu.
"Mending kaya gitu pak, kasian den Ilham kemarin juga melamun aja gak ada temannya" ujar pak Karyo. Pak Karyo ikut angkat Suara karena dia juga merasa kesal kepada Nadira.
"Makanya pak, kalau saya kan ada di rumah terus, mumpung saya belum kerja jadi saya ingin mengurus mereka"
"Memangnya bapak gak ngantor pak?" Tanya bi Minah ingin tahu.
"Saya sudah tidak bekerja di perusahaan itu lagi bi, perusahaan itu kan punya Nadira, insyaallah nanti saya akan buka usaha sendiri di dekat dekat sini, jadi meskipun saya bekerja saya masih bisa bertemu dengan kedua anak saya" jawab Bayu tersenyum.
"Bagus itu pak, saya dukung bapak!" Ujar pak Karyo. Pak Karyo terlihat bersemangat sekali, entah kenapa sekarang dia jadi memihak kepada Bayu padahal tadinya dia sangat kesal dengannya.
__ADS_1
"Den Ilham mau tinggal disini dulu nak? Biar nanti bibi sama pak Karyo yang anterin baju baju den Ilham kesini?" Tanya bi minah. Bi Minah ingin mendengar sendiri dari mulut anak itu, dia ingin Ilham yang memutuskan karena nyaman atau tidaknya dia sendiri yang mengetahuinya