30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
menginap di rumah Ilham


__ADS_3

Bi Minah terus berbincang bersama Ilham di kamar itu, bi Minah bercerita banyak tentang anak bungsunya yang benar benar memiliki hobi seperti Ilham, dia sengaja mendongeng agar anak itu tidak merasa bosan.



Hari semakin larut, waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB, adzan Maghrib sudah berkumandang dari berbagai penjuru kota, para tamu undangan juga sudah meninggalkan tempat resepsi itu, sekarang tempat itu terlihat sepi sekali, yang tersisa hanya beberapa orang dari keluarga Nadira.


Mereka sudah terlihat mengenakan baju biasa, bersiap pergi ke mesjid untuk melaksanakan sholat Maghrib.


"Mas, dari tadi kok aku gak liat Ilham ya? Kemana anak itu?" Tanya Nadira. Seharian ini Nadira merasa tidak melihat anak cikalnya itu, tadi dia sempat melihat tapi hanya sebentar, entah mungkin karena dia yang sibuk dengan acara pernikahan itu atau justru Ilham yang malas menghadiri acara pernikahannya. Nadira benar benar tidak mengerti.


"Tadi Ilham ada kok sayang, tau sendiri kan anak zaman sekarang, paling dia ada dikamarnya" jawab dokter Reza tersenyum. Dokter Reza sudah sedikit paham dengan sipat anak itu, dia mengerti sekali dengan perasaannya, jadi dia lebih baik untuk diam, karena suatu saat nanti juga Ilham pasti akan membutuhkan ayah dan bundanya.


"Mas ke musholanya duluan saja ya! Aku mau ke kamar Ilham dulu" ujar Nadira. Nadira menyuruh dokter Reza untuk jalan lebih dulu, sedangkan Nadira, dia berjalan menghampiri kamar Ilham untuk mengajaknya sholat Maghrib berjamaah.


"Ilham, Ilham, ada ada aja kamu nak! Ya Allah, ternyata Ilham sudah tumbuh jadi anak yang dewasa, dia sudah punya pilihan sendiri, keinginan sendiri, ahhh! pasti sebentar lagi juga aku bakal punya mantu" batin dokter Reza. Dokter reza pun jalan lebih dulu ke mushola yang masih berada di rumah itu, mushola yang dulu tempat Nadira dan Bayu shalat berjamaah, disitu mereka selalu bercengkrama, selalu mencurahkan isi hatinya masing masing, tapi sekarang tidak lagi, sekarang mushola itu akan menjadi tempat Nadira dan dokter Reza mencurahkan isi hatinya.


Di kamar Ilham.


"Ilham, ini bunda nak! Sholat bareng sama bunda yuk!" Teriak Nadira dari luar kamar. Nadira sangat khawatir kepada anaknya itu, karena sudah beberapa hari ini Nadira merasa Ilham mulai menjauh darinya.


"Ilham.. ini bunda nak! Buka pintunya!" teriak Nadira lagi. 


Tak ada jawaban.

__ADS_1


Nadira mencoba memutar engsel pintu kamar itu, dan ternyata pintu kamar Ilham tidak dikunci.


"Sayang! Kamu lagi apa? Sholat Maghrib berjamaah sama bunda sama ayah yuk!" Sembari membuka pintu Nadira terus mengajak Ilham untuk sholat berjamaah. Tapi tetap tak ada sahutan dari Ilham, 


Setelah pintu kamar itu terbuka lebar, Nadira melihat pemandangan yang sangat menakjubkan baginya, bagaimana tidak. Nadira melihat Ilham dan Sifa sedang melakukan sholat berjamaah, mereka ditemani bi Minah disana, Nadira juga melihat di sekeliling kamar Ilham ternyata sudah banyak sekali lukisan bagus, hasil dari tangannya sendiri. Membuat Nadira berurai air mata.


"Ya Allah, anak itu! Pantas saja tadi Syifa bilang kalau kakaknya lagi bekerja, ternyata ini? Aku gak nyangka Ilham bisa melukis sebagus ini" batin Nadira.


Melihat mereka yang sedang sholat berjamaah, nadira pun menutup kembali pintu kamar itu dengan perlahan, Nadira tidak mau mengganggu waktu ibadah mereka, jadi dia kembali ke mushola untuk melaksanakan sholat berjamaah bersama suami barunya.


Nadira melihat dokter Reza sudah berdiri dalam sholatnya, dia menyusul (masbuk) agar bisa tetap melaksanakan sholat berjamaah bersama suaminya itu.


5 menit kemudian.


"Assalamualaikum warahmatullah" ucap Nadira.


Nadira meraih tangan dokter Reza lalu menciumnya dengan penuh hormat.


"Katanya mau manggil Ilham, kok Ilhamnya gak ada?" Tanya dokter Reza ingin tahu. 


"Ilham udah sholat duluan di kamarnya mas, jujur aku malu sama anak itu, setiap hari aku selalu berfikir negatif tentang dia, aku merasa dia mulai menjauhi aku mas, tapi ternyata aku salah" jawab Nadira dengan mata yang berkaca-kaca. Nadira merasa benar benar bersalah karena sudah berpikir buruk tentang Ilham.


"Trus?" Tanya dokter Reza. Dokter Reza penasaran sekali karena sebenarnya dia juga ada pikiran seperti itu kepada anak itu.

__ADS_1


"Dia jarang nemuin aku karena dia sibuk bikin karya lukis, tadi Syifa bilang ke kita kan mas? aku kira Syifa bohong, padahal ternyata iya, barusan aku liat di kamarnya banyak sekali lukisan bagus" jawab Nadira. 


"Sayang, kamu yakin lukisan itu hasil karya Ilham?" Tanya dokter Reza. Dokter Reza merasa tidak yakin kalau lukisan bagus itu buatan anak kecil seperti ilham, dia mengira Ilham hanya bisa menggambar saja, karena menurutnya sebuah lukisan bagus hanya bisa dikerjakan oleh orang orang yang sudah profesional saja.


"Aku yakin itu buatan dia mas" ujar Nadira keukeuh, dia tetap yakin kalau itu hasil tangan anaknya.


"Udahlah sayang, mending sekarang kita ke kamar yuk! Mumpung anak anak lagi sama bi Minah" ujar dokter Reza tersenyum. Dokter Reza malah mengajak Nadira bersenang senang di kamar, maklum saja, Dokter Reza sudah lama sekali menduda, jadi dia sudah tidak sabar ingin bertarung dengan istrinya yang cantik itu. 


"Nanti aja mas, kita kan baru selesai sholat Maghrib, mending sekarang kita makan dulu yu! Kamu kan dari tadi belum makan, nanti loyo" Nadira menggoda suaminya itu, dia mencubit lipatan pinggang suaminya sembari tersenyum. Begitu Pula dokter Reza, dokter ganteng itu memeluk Nadira dengan erat sembari terus mengecup keningnya. Rupanya kedua sejoli itu sedang dimabuk asmara, mereka sudah tidak sabar ingin segera menikmati malam pengantinnya. "Jangan gitu mas, nanti ada yang lihat" teriak manja Nadira kepada suaminya itu.


"Gak papa sayang, kita kan sudah halal, jadi kita bebas ngelakuin apapun yang kita mau, mas udah gak sabar pengen itu" ujar dokter Reza. Dia berbisik di telinga Nadira dengan lembut penuh gairah membuat Nadira tersenyum geli mendengarnya.


 


"Ayo mas!" Nadira menarik tangan dokter Reza untuk bangkit, dokter Reza terlihat manja sekali dengan istrinya itu, dia memeluk Nadira dengan hangat sembari berjalan menuju dapur.


"Cieeee, cieeee" ujar Lisa yang baru saja datang, karena rumah Lisa yang cukup jauh,  Lisa jadi telat datang ke acara pernikahan mereka.


"Mbak Lisa, kemana aja sih? Kok baru datang? Telat kamu, acaranya juga udah beres" ujar Nadira tersenyum.


"Maaf Bu, maklum lah rumahku kan jauh, tadi aku juga kejebak macet, jadi telat" ujar Lisa nyengir.


"Iya mbak, aku ngerti kok! Kebetulan banget mbak lisa datang, kita makan dulu yu! Nanti kita lanjut ngobrol ngobrolnya!" Ujar Nadira. Nadira menarik tangan Lisa menuju dapur, dia ingin malam ini mereka makan bersama di rumahnya itu agar dia bisa merasakan kembali nikmatnya rasa kebersamaan bersama orang orang yang sangat dicintainya.

__ADS_1


__ADS_2