30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
niat untuk menemui bayu


__ADS_3

"Mas kenapa surat talak ini belum kamu tanda tangani juga, apa susahnya sih tinggal tanda tangan, ini pulpennya!" Elsa menyodorkan kertas itu kehadapan Bayu yang sedang sibuk mengurus burung peliharaannya. Bayu yang sedari tadi memendam kekesalannya pun langsung bangkit menatap Elsa dengan tatapan tajam sembari mengepalkan tangannya. Bayu tidak berkata apa apa karena dia sedang tidak ingin ribut dengan Elsa, dia hanya mengambil kertas itu dari tangan Elsa lalu merobek robeknya di hadapan mata Elsa.


"Loh! Kok malah dirobek sih mas? Hari ini surat talak ini kan harus sudah sampai di pengadilan, kenapa kamu malah merobeknya?" Mata Elsa terbelalak ketika melihat Bayu merobek kertas itu, dia tidak menyangka Bayu akan melakukan hal bodoh seperti ini, dia menatap Bayu dengan wajah kesal tapi Bayu malah pergi dari hadapannya setelah menghamburkan kertas itu di hadapan wajah Elsa.


"Mas Bayu benar benar keterlaluan, apa sih yang dia inginkan?" Elsa terus menggerutu sembari memunguti kertas itu. Dia berharap bisa menyatukannya karena memang Bayu merobek kertas itu dengan potongan besar, jadi setidaknya masih bisa di lem atau di lakban.


Ketika Elsa sibuk menyatukan lembaran kertas penting itu, di rumah dokter Raisa Nadira dan Minah sedang bergelut di dapur, hari ini Nadira terlihat bersemangat memasak makanan kesukaan kedua anaknya, tak lupa Nadira juga memasak makanan kesukaan dokter Raisa.


"Sudah Bu, biar saya saja yang masak!" Ujar bi Minah merasa tidak enak.


"Gak papa bi, biar saya saja" ujar Nadira tersenyum.


"Tapi Bu, nanti tangan ibu rusak, sini biar saya saja! Saya gak enak Bu, Ibu duduk saja ya!" Bi Minah merebut sayuran yang sedang Nadira potong dari tangannya. Dia tidak mau Nadira mengerjakan pekerjaan seperti ini karena dokter Raisa juga tidak pernah membantunya memasak. Biasanya orang kaya kan seperti itu menyerahkan semua pekerjaan rumah kepada pembantunya.


''Gak papa bi, saya sudah biasa bikin sarapan untuk anak dan suami saya, justru kalau saya duduk liatin bibi saya yang gak enak Bi" ujar Nadira tersenyum. Nadira kembali memotong sayuran yang ada di hadapannya. Dia terlihat buru buru karena mungkin takut pihak pengadilan keburu menelponnya.


"Jadi Bu Nadira sudah biasa siapin sarapan kaya gini?" Tanya bi Minah penasaran


"Iya bi, saya biasa ngerjain semua pekerjaan rumah sendiri" jawab Nadira tersenyum.

__ADS_1


"Ah yang bener Bu? Memangnya ibu gak sewa asisten rumah tangga?" Tanya bi Minah lagi.


Mendengar pertanyaan bi Minah yang satu ini Nadira hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, dia tidak berkata apa apa karena memang dia tidak biasa menyewa asisten rumah tangga seperti itu, bukan tidak mampu bayar, hanya saja Nadira tidak enak jika harus menyuruh nyuruh orang lain.


"Masyaallah" ujar Bi Minah menggelengkan kepalanya. Bi Minah tidak menyangka orang secantik dan sekaya Nadira mau mengerjakan pekerjaan rumah, di zaman sekarang sangat jarang sekali ada wanita yang baik dan Sholeha seperti ibu dua orang anak itu.


"Bundaaaa…!" Teriak Sifa yang baru saja keluar dari kamarnya. Sifa berlari menghampiri Nadira lalu memeluknya dengan erat.


"Eehhhh anak bunda sudah bangun, coba tebak pagi ini bunda masak apa buat Sifa sama kakak?" Tanya Nadira tersenyum.


"Bunda pasti buatin nasi goreng kesukaan aku sama kakak" jawab Sifa


"Pagi bunda cantik, bunda cantik mau kemana? Kok udah rapi?" Tanya Sifa kepada dokter Raisa.


"Hari ini bunda cantik mau pergi sama bunda sifa, Sifa tunggu di rumah ya nak, doakan bunda agar urusan bunda bisa cepat beres, biar Sifa sama kakak bisa cepat cepat pulang ke rumah yang dulu" jawab dokter Raisa tersenyum. Dokter Raisa meminta didoakan oleh anak yang tak berdosa itu, hari ini dia berniat mengajak Nadira untuk menemui Bayu ke rumahnya karena jika tidak, sidang perceraian ini pasti akan tertunda lama karena dokter Raisa sudah yakin Bayu tidak akan pernah mau menandatangani surat talak itu.


"Iya bunda cantik, Sifa doakan bunda terus kok" jawab anak baik itu menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih sayang"

__ADS_1


Nadira yang mendengar Jawaban Sifa dia hanya tersenyum sembari mengelus rambut anaknya itu, dia sebenarnya tidak tau hari ini dokter Raisa akan mengajak dia kemana, tapi dia ikut saja apa rencana dokter cantik itu karena dia tau apa yang dokter Raisa lakukan pasti itu yang terbaik untuk dia dan kedua anaknya.


"Yaudah' sekarang kita sarapan dulu yu!" Ajak Nadira. Nadira mempersilahkan dokter Raisa untuk duduk disebelah Sifa lalu dia mengambilkan nasi goreng yang dia buat ke atas piring mereka masing masing.


"Terimakasih bunda Dira, wahhh kayaknya enak ini" 


Merekapun menyantap nasi goreng itu secara berjamaah, ada Sifa, bi Minah, dokter Raisa, dan Nadira sedangkan Ilham dan pak Karyo mereka menyusul setelah yang lain makan lebih dulu.


...Bersambung...


...untuk para pembaca, terimakasih atas dukungan kalian semuanya....


... jangan bosen bosen baca ya!...


... jangan lupa like, comen, n votenya juga. dukung terus karya ini karena diakhir bab akan ada give away buat pembaca setia....


...dan jangan lupa mampir di karyaku yang baru yang berjudul cinta terhalang kasta....


...terimakasih sekali lagi. 🤗...

__ADS_1


__ADS_2