
Tiiiiiittt.
Mobil Elsa parkir di depan rumah suaminya Bayu, dia terlihat modis menggunakan mobil yang Bayu berikan untuknya, sebuah mobil pazero sport yang Bayu beli dari uang perusahaan milik Nadira.
"Ayo mah! mas Bayu pasti sudah berangkat ke kantor" ujar Elsa, kebetulan Elsa mengajak ibunya ikut ke rumah karena hari ini Elsa mau mengajak ibunya untuk berbelanja kebutuhan rumahnya.
"Ayo nak" ujar ibunya sembari menggendong baby R
Mereka pun keluar dari mobil mewah itu masuk ke dalam rumah Nadira, Elsa yang kala itu memakai dres warna merah terlihat cantik bak seorang putri, meskipun dia sudah memiliki seorang anak tapi tubuhnya tetap cantik langsing seperti seorang gadis.
Elsa dan ibunya masuk ke dalam rumah itu tanpa keraguan, mereka duduk bersantai di sofa, mengobrol sembari tertawa lepas.
"Ibu bangga sekali sama kamu Elsa, ibu senang kamu bisa tinggal di rumah mewah seperti ini, perabotannya mahal mahal, gak kaya dirumah ibu, kapan ya ibu punya rumah kaya gini"
"Iya dong Bu, ini perabotan rumah aku yang beli loh, sofa ini juga baru aku beli kemarin, gimana? Bagus kan?" Tanya Elsa sembari mengangkat tubuhnya mencoba keempukan sofa tersebut
"Bagus banget Elsa, terus perabotan yang dulu kamu kemanakan?"
"Sudah Elsa buang Bu, lagian cuma perabotan jelek, pokonya sekarang semua perabotan disini sudah Elsa ganti, Elsa gak mau ada barang perempuan penyakitan itu tersisa di rumah ini, enak aja" jawab Elsa ketus
"Iya dong Elsa, ngapain kamu nyimpen barang punya dia, rumah ini sekarang kan milik kamu, pokonya apapun yang berhubungan dengan perempuan itu kamu harus buang jauh jauh, bagus bagus semua sih, ibu juga mau punya rumah + sofa kaya gini"
Ibunya tak ingin kalah dengan Elsa, dia juga ingin terlihat modis, apalagi sekarang dia punya teman teman arisan, ibu sosialita yang sering main ke rumahnya.
"Ibu mau?" Tanya Elsa
"Mau dong Elsa, sofa ibu dirumah kan udah jelek, ibu suka malu sama teman teman ibu kalau mereka main ke rumah"
"Nanti Elsa belikan!"
"Bener Elsa?"
"Iya dong Bu, duit mas Bayu kan banyak, apa sih yang enggak bisa Elsa beli, nanti Elsa belikan ya!"
__ADS_1
"Makasih ya nak! Kamu memang anak ibu paling baik, paling cantik" ujar ibu Elsa sembari memeluk anaknya itu dengan erat
Ibu Elsa bangga sekali memiliki anak seperti Elsa, dia sangat bahagia dengan pasilitas yang Elsa miliki, mereka merasa sangat beruntung sekali bisa memiliki suami + rumah yang sebesar itu, Elsa tidak tau kalau suaminya hanya mengaku ngaku kaya padahal rumah dan aset itu adalah milik Nadira yang mungkin sebentar lagi sang pemilik rumah akan mengambil semuanya dari tangan mereka.
"Sebentar! Tapi kok ibu ngerasa ada yang kurang ya!?"
"Apa Bu?"
"Elsa, ibu kok gak liat pembantu kamu ya?"
"Iya Bu, Elsa belum punya pembantu"
"Nanti ibu Carikan asisten rumah tangga yang profesional buat kerja di rumah ini, kamu mau kan?"
"Beneran? mau dong bu, dari kemarin Elsa nyari pekerja, tapi belum dapet dapet"
"Bener dong, masa ibu bohong"
"Terimakasih ibu, ibu memang ibuku yang paling baik" ujar Elsa sembari memeluk ibunya lagi.
Elsa dan ibunya terlihat tenang tenang saja menikmati pasilitas rumah Nadira, dia tidak tau kalau saat ini Bayu sedang membuntuti Ilham dan Sifa ke bandara, dan itu tandanya Bayu sebentar lagi akan bertemu Nadira + kedua anaknya.
Di bandara
"Bundaaaa....!!!" Teriak Sifa
Ilham dan Sifa baru saja tiba di Bandara, tapi mereka sudah dikejutkan dengan sosok Nadira, bunda yang selama ini mereka rindukan, posisi Nadira memang lumayan jauh, tapi Sifa melihat Nadira, jadi dia berusaha memanggil bundanya dengan sekuat tenaga.
"Kok aku kaya denger suara sifa ya, apa mungkin Sifa sudah sampai kesini!? Ah, mungkin ini cuma perasaan aku saja, nanti aku salah orang lagi, saking kangennya bunda sama kamu nak, bunda sampai kaya gini" batin Nadira
"Bunda cantik, itu bunda, Sifa gak salah liat kan?" tanya Sifa sembari menjatuhkan air matanya
"Iya sayang, itu bunda Sifa, ayo kita samperin bunda!" jawab dokter Raisa
__ADS_1
melihat Nadira dan dokter Reza yang sedang duduk kursi, dokter Raisa, Bram, Sifa dan Ilham pun berjalan menghampiri mereka, mereka tersenyum bahagia karena setelah sekian lama menunggu akhirnya mereka bisa berjumpa lagi dengan kondisi sehat wal'apiat.
"Bu Nadira, itu Ilham dan Sifa sudah datang" ujar Lisa tersenyum
"Mana Lis?" tanya Nadira
Nadira menoleh ke arah Lisa, dan ternyata benar, Nadira melihat Sifa dan Ilham sedang berjalan ke arahnya.
bluuuug
Saking senengnya Nadira tidak sengaja menjatuhkan tas yang sedari tadi dia pegang.
"bundaaaa..." teriak Sifa berlari ke arahnya
Nadira juga berlari ke arah Sifa lalu memeluknya dengan erat.
"Sayang, akhirnya bunda bisa ketemu lagi sama kamu nak, bunda kangen banget sama Sifa, gimana kabar kamu nak? bunda sayang sekali" ujar Nadira
Nadira tak kuasa menjatuhkan air matanya dengan deras, dia terus memeluk anaknya itu hingga tak ingin melepaskannya.
"Sifa juga kangen banget banget sama bunda"
"Bunda Ilham kangen juga sama bunda, bunda gimana kabarnya sekarang? bunda sudah sehat kan? bunda gak sakit lagi kan?" tanya Ilham
Ilham ingat sekali sewaktu bundanya di rawat di rumah sakit, jiwanya hancur berkeping keping, perasaannya di hantui rasa takut yang amat sangat, tapi sekarang, setelah dia lihat bundanya sehat seperti ini, semuanya terbayar sudah, sekarang dia sedikit tenang, dia berharap bundanya akan selalu bersamanya dan tidak akan pernah lagi meninggalkan dia dan adiknya.
"Saya senang Bu Nadira bisa kembali ke Indonesia, Gimana kabar ibu sekarang?" tanya dokter Raisa dengan mata yang berkaca-kaca
"Dokter Raisa.."
Nadira tidak menjawab pertanyaan dokter Raisa, dia malah memeluk dokter cantik itu sembari menangis tersedu, dokter Raisa hanya tersenyum sembari mengelus pundak Nadira, Raisa mencoba menahan air matanya meskipun sebenarnya dia tidak sanggup.
"Alhamdulillah kabar saya baik dokter, terimakasih banyak, dokter Raisa sudah membantu saya hingga saya seperti ini, dokter juga mengurus kedua anak saya, ya Allah dok, saya tidak tau lagi harus ngomong apa" ujar Nadira terisak
__ADS_1
"Sama sama Bu, ini memang sudah kewajiban saya, saya senang lihat ibu sehat seperti ini"