
Nadira tidak mengerti dengan keinginan anaknya itu, tapi dia mencoba bersikap biasa-biasa saja, Nadira mengerti sekarang Ilham sudah tumbuh menjadi anak yang dewasa, jadi dia rasa Ilham sudah memiliki keinginannya sendiri. Nadira tidak bisa memaksakan kehendak Ilham, karena jika dipaksakan anak itu pasti akan membangkang.
"Ayo masuk nak! nanti keburu siang" ujar Nadira dari dalam mobil, Nadira ingin kedua anaknya cepat cepat masuk ke dalam mobil, karena dia ingin segera sampai di rumah dokter Raisa. Nadira ingin segera berbicara serius dengan dokter Raisa tentang liburannya ini. Dia tidak mau membuang buang waktu karena memang dokter Reza tinggal di Indonesia sudah tidak lama lagi. 2 minggu lagi dokter Reza harus segera terbang ke Singapura untuk mengurus surat surat pindahnya.
"Iya bunda" mendengar bundanya yang sudah mulai cerewet Ilham dan Syifa pun masuk ke dalam mobil mewah itu disusul Bi Minah dari belakang.
"Sudah masuk semua?" Tanya dokter Reza.
"Sudah mas" jawab Nadira tersenyum.
Karena semua penumpangnya sudah lengkap dokter Reza pun menghidupkan mobilnya, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah dokter Raisa.
Karena kebetulan hari ini dokter Raisa sedang libur kerja, jadi dia dan keluarganya akan bermain ke rumah dokter Raisa sembari berbicara sesuatu tentang liburan itu. Nadira juga ingin berbicara kepada dokter Raisa tentang Ilham yang dia rasa sekarang sudah mulai berubah. Nadira ingin dokter Raisa memberi pencerahan kepada anak itu agar dia tidak memperlakukan bundanya seperti ini lagi.
"Kak Ilham kok malah mau ikut Minah sih? aku jadi bingung deh" tanya Syifa. Syifa sangat menyayangkan sekali kakaknya tidak bisa ikut liburan bersamanya, jadi dari tadi dia cerewet bertanya seperti itu kepada Ilham, dia ingin penjelasan dari kakaknya itu apa alasannya dia ingin ikut bersama bi Minah ke kampung halamannya.
"Kakak mau ikut ke kampung bi Minah karena suasana kampung kan beda, sekalian kakak mau ketemu sama anak Bibi yang katanya jago melukis kayak kakak, di kampung kan pemandangannya juga bagus dek, jadi kakak bisa melukis di sana" jawab Ilham tersenyum. Ilham sudah mengandai andai jika dia sudah berada di kampung itu, dia sudah tidak sabar ingin pergi ke sana dan bertemu dengan anak bi Minah, dia ingin bertanya sesuatu tentang melukis, dia ingin berbagi ilmu Dengan anak bi Minah.
"Beneran kak? di sana pemandangannya bagus? Sifa juga mau ikut kakak ah" Tanya Syifa. Syifa sepertinya tertarik sekali dengan apa yang dikatakan kakaknya, dia juga ingin ikut bersama kakaknya ke kampung itu.
"Beneran kamu mau ikut dek?" Tanya Ilham.
__ADS_1
"Benar ka, Syifa mau ikut sama kakak sama bi Minah" jawab Shiva dengan jelas. Anak itu benar-benar ingin ikut bersama kakaknya, tapi semua keputusan ada di tangan bundanya, boleh atau tidaknya itu terserah Nadira.
"Kira kira Syifa boleh ikut sama Ilham nggak bunda? Boleh ya?" Bujuk Ilham. Ilham menginginkan adiknya itu ikut bersamanya ke kampung, tapi Ilham tidak yakin bundanya akan mengizinkan Syifa untuk ikut bersamanya.
"Gimana nanti aja ya nak! Nanti bunda yang akan kasih tahu sama Ilham" jawab Nadira sembari menoleh ke arah Ilham.
25 menit berlalu, mereka pun sampai di depan rumah dokter Raisa, Syifa terlihat senang sekali ketika mobilnya terparkir di depan rumah dokter cantik itu.
"Hore.. akhirnya kita sampai, ayo kak, kita turun!" Teriak Syifa. Syifa langsung keluar dari mobil itu lalu berlari menghampiri dokter Raisa yang sudah menyambutnya di depan pintu.
"Selamat pagi bunda cantik" Syifa memeluk dokter Raisa dengan erat. Dia terlihat sangat menyayangi dokter cantik itu.
"Pagi juga anak cantik, wah! kelihatannya Syifa senang sekali ya hari ini, senang kenapa sih nak kok nggak bilang-bilang sama bu dokter" Tanya dokter Raisa tersenyum. Dokter dokter Raisa senang sekali melihat Syifa seperti ini, iya bahagia sekali melihat Syifa dan keluarganya bisa kumpul kembali. Sekarang dia merasa tugasnya mengurus Sifa dan Ilham sudah selesai dia sudah memindahkan tanggung jawabnya kepada ibu kandungnya.
"Kok ngomongnya gitu sih Bu, biasa aja lah! anggap aja rumah sendiri" ujar dokter Raisa. Dokter Raisa mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam rumah dia juga sudah menyiapkan jamuan, makanan kesukaan Ilham dan Syifa.
"Pak Bram ke mana dok?" Tanya nadira sembari duduk di sofa ruang tamu. Nadira sudah masuk ke dalam rumah mewah itu tapi dokter Reza, dia masih menunggu di luar memperhatikan sifat dan Ilham yang sedang bermain bersama pak Karyo.
"Mas Bram nggak ada Bu, tadi pagi dia udah berangkat ke kantor" jawab dokter Raisa tersenyum. Dokter Raisa merasa ada yang berubah dengan Nadira, sekarang dia melihat wajah Nadira terlihat berseri, dia terlihat bersemangat, tidak seperti biasanya.
"Memangnya pak Bram belum libur dok?" Tanya Nadira lagi.
__ADS_1
"Belum Bu, mungkin 1-2 hari lagi, mungkin masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan di kantor" jawab dokter Raisa.
"Jadi rencana kita gimana dok? Jadi atau enggak?" Nadira terus bertanya kepada dokter cantik itu, dia ingin kepastian dari sang dokter, jadi atau tidaknya. karena jika dokter Raisa membatalkan rencana itu dia akan berlibur ke tempat lain bernama dokter Reza dan kedua anaknya.
"Jadi dong Bu, saya kan sudah menginginkan ini dari dulu, saya berharap sesudah kepulangan saya dari sana saya bisa memiliki keturunan" jawab dokter Raisa dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Amiiin dok, saya doakan dokter terus kok" ujar Nadira. Sebenarnya Nadira juga menginginkan seperti itu, tapi dia tidak tau dia masih bisa memiliki keturunan atau tidak karena dulu dia pernah mengalami penyakit yang cukup parah di bagian rahimnya. Dia merasa tidak mungkin bisa memiliki keturunan lagi.
"Terimakasih bu Nadira" ujar dokter Raisa.
Mereka Pun terus berbincang, sedangkan di luar rame sekali karena pak Karyo, dokter Reza dan Ilham sedang asik bermain bola.
"Ayo tendang kesini bolanya ayah!" Teriak Ilham. Ilham menginginkan bola itu, dia ingin menembak gawang lalu mengalahkan lawannya.
"Ini" dokter Reza menendang bola itu ke arah Ilham.
"Terima Kasih ayah" ujar Ilham tersenyum. Karena dia rasa arah bola itu lurus dengan nya ilham pun menendang bola hingga bola itu memukul kepala pak Karyo dengan keras.
Blugg
Kepala pak Karyo terkena tendangan bola itu. Hingga dia nyengir tak karuan.
__ADS_1
"Maaf ya pak, aku gak sengaja" ujar ilham merasa tidak enak.