30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
Nadira tak sadarkan diri


__ADS_3

Elsa menyelinap ke tempat persembunyian Bayu tadi, dia mendengar suara Nadira dan yang lain mengobrol sembari tertawa terbahak-bahak, dia begitu penasaran, tapi dia tidak langsung melihat keadaan di dalam villa karena posisi badannya belum siap, dia harus memposisikan badannya dengan nyaman agar ketika orang di dalam menoleh ke arah semak itu, dia bisa langsung sigap bersembunyi dengan aman.


"Aku harus liat siapa mereka" baru saja Elsa setengah berdiri untuk melihat ke arah villa itu, tiba tiba handphonenya berbunyi begitu nyaring, membuat Elsa kaget hingga tas kecil yang dia bawa itu terjatuh ke atas kakinya.


Bluk.


"Sial! Siapa sih yang nelepon gue? Gue lupa lagi matikan nada dering, aduh! bisa bisa gue ketahuan nih" dengan kecepatan kilat Elsa jongkok lagi sembari memukul jidatnya, dia kaget setengah mati dengan ponselnya yang berbunyi sangat keras.


Dengan cepat Elsa membawa tas kecil itu, lalu mengeluarkan ponselnya, muncul nama mama di layar ponselnya.


"Ngapain sih mama telpon aku!?" tangannya yang gemetar tak karuan mencoba memencet tombol hijau, tapi panggilan itu belum terangkat meskipun dia sudah pencet beberapa kali. "Ini hp kenapa sih? Susah amat mau angkat" Elsa terus memijit layar ponselnya tapi tetap saja, panggilannya tak terangkat, entah karena dia sangat gugup atau sinyal yang tidak mendukung untuk mengakses panggilan.


Karena bunyi handphone Elsa yang sangat keras, suaranya terdengar hingga ke dalam villa, meskipun keadaan di dalam cukup ramai, tapi tetap saja suara itu terdengar oleh orang orang yang berada di villa itu.


"Mas, Itu suara handphone kamu?" Tanya dokter Raisa menoleh ke arah Bram

__ADS_1


"Bukan" jawab Bram, Bram menoleh ke arah Reza, mereka saling bertatapan "suara ponsel kamu Za?" Bram Pun bertanya kepada Reza


"Bukan juga" jawab Reza, mereka saling bertatapan satu dengan yang lain tapi semuanya menggelengkan kepalanya.


"Kalau bukan handphone kalian Terus siapa?" Dokter Raisa bertanya tanya.


"Mungkin punya si Abang yang mengurus villa kita sayang, udah! Gak usah dipikirin" Bram mengelus pundak dokter Raisa sembari menggelengkan kepalanya.


Raisa pun mengobrol kembali seakan tak memperdulikan suara handphone tersebut, dia mendengarkan kata suaminya tanpa berfikir macam macam, dia tidak mau merusak acaranya hanya karena hal yang tidak penting, karena mereka jarang sekali bertemu, dan bisa jadi setelah pertemuan inipun Raisa belum tentu bisa bertemu lagi dengan Reza, karena memang Reza terbilang orang yang sangat sibuk, setelah mengantarkan Nadira ke Indonesia Reza pasti akan kembali lagi ke Singapura dan itu artinya Raisa pasti akan sulit untuk bertemu dengan Reza.


"Bu Nadira, saya ajak ibu dan anak anak kesini sebenarnya ingin membicarakan tentang liburan kita" ujar Raisa menoleh ke arah Bram sembari tersenyum "jadi gini Bu, saya mau ajak ibu dan anak anak untuk ikut berlibur bersama kami, apa ibu bersedia?" tanya Raisa. Raisa menggenggam tangan Nadira dengan erat, dia mengungkapkan semua keinginannya berharap Nadira mau dan ikut berlibur bersama mereka.


"Iya, mau!" dokter Reza mengiyakan padahal Nadira belum menjawabnya.


Mendengar ajakan Raisa dan Bram, dokter Reza langsung mengiyakan karena dari awal dia juga ada niat untuk mengajak Nadira dan anak anaknya berlibur, dia ingin mengajak Nadira untuk bertafakur alam karena Nadira benar benar sangat membutuhkannya. dia berniat melamar Nadira di tempat yang indah dimana dengan tempat itu Nadira bisa melupakan semua masalalunya yang begitu sangat menyakitkan walaupun itu hanya sementara. begitu juga dengan Ilham dan Sifa, mereka dengan semangat mengiyakan ajakan dokter Raisa meskipun bundanya belum mengijinkan mereka untuk pergi.

__ADS_1


Ketika Raisa, Reza, Bram dan yang lain menunggu jawaban dari Nadira, Nadira malah diam memperhatikan pepohonan yang ada di depan taman villa itu dengan tatapan kosong, dia sedikitpun tidak mendengarkan semua pembicaraan orang yang ada di sekelilingnya, dia hanya fokus dengan suara handphone tadi yang menurutnya suara handphone itu berasal dari suara handphone milik mantan suaminya Bayu.


"Itu pasti suara handphone mas bayu, ngapain sih dia masih disini?" Nadira mengepalkan tangannya menahan emosi, dia mencoba menguatkan dirinya, karena setiap dia melihatnya hatinya hancur berkeping keping.


Nadira menoleh ke arah Ilham dan Sifa dengan mata yang berkaca-kaca, dia sangat takut Bayu mengambil mereka dari tangannya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau dia hidup tanpa kehadiran kedua buah hatinya.


"Ya Tuhan, baru saja engkau menghilangkan rasa takutku dengan penyakit yang aku derita, sekarang engkau menghadirkan lagi ketakutan yang begitu sangat luar biasa, tolong aku ya tuhan, jangan engkau biarkan mas Bayu mengambil mereka dariku" batin Nadira merintih.


Nadira mengepalkan kedua tangannya menahan rasa sesak di dada, tubuhnya tiba tiba gemetar dengan raut wajah yang begitu sangat pucat, penglihatannya berubah seperti remang remang, Nadira mencoba meraih tangan Reza tapi tubuhnya tidak kuat hingga dia pun tersungkur ke lantai.


"Astagfirullahaladzim, Bu Nadira!" Dokter Raisa kaget melihat Nadira tergeletak tak sadarkan diri.


"Dira, Kamu kenapa?" dokter Reza yang panik langsung mengangkat tubuh Nadira lalu membawanya ke dalam kamar.


...bersambung...

__ADS_1


^^^jangan lupa like, comen, n votenya ya😘😘^^^


__ADS_2