30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
ingin bertemu


__ADS_3

Setelah Elsa pergi meninggalkan rumah mewah itu, Bayu langsung bersiap untuk pergi, kali ini dia benar benar akan pergi ke rumah dokter Raisa, dia ingin bertemu dengan Sifa dan Ilham untuk melepas rasa rindunya yang sudah lama dia pendam.


Bayu mengambil jaket yang dulu selalu dia kenakan ketika dia bersama kedua anak baik itu, dia memakainya karena dia ingin mereka ingat kepadanya, dia Percaya, sebenci apapun mereka terhadap dirinya, Ilham dan Sifa pasti masih menyayanginya dan masih menganggap dia sebagai ayah kandungnya.


"Semoga Ilham dan Sifa mau bertemu denganku, ya tuhan, berikanlah aku kesempatan untuk bisa menjadi ayah yang baik untuk mereka, aku ingin sekali membahagiakan mereka" ujar Bayu dengan matanya yang berkaca-kaca


Bayu masih menyimpan keraguan untuk bertemu dengan kedua anaknya, banyak sekali ketakutan dalam dirinya, dia seakan tidak ada nyali bertatap muka dengan Ilham dan Sifa apalagi Nadira, tapi dia tetap harus pergi, dia tetap harus bertemu dengan kedua anaknya untuk meminta maaf, dia ingin memperbaiki semuanya dan berharap bisa kembali lagi bersama mereka sampai hari tua, dia ingin menebus kesalahannya dengan membuat kedua anak dan istrinya bahagia.


Karena tak ingin membuang waktu lagi, bayupun mengambil kunci mobilnya yang teronggok di meja, dia mulai berjalan meninggalkan kamar tidurnya menuju garasi.


Perjalanan dari rumah Bayu ke rumah dokter Raisa tidaklah jauh, dia hanya memerlukan waktu 2 jam saja untuk sampai ke tujuan jika perjalanannya lancar, tapi jika mobilnya terhalang oleh kemacetan, dia terpaksa menunggu lama untuk sekedar bertemu anak anaknya itu, tapi itu tidak jadi suatu masalah baginya, saat ini dia rela melakukan apapun asalkan dia bisa bertemu dengan Sifa dan Ilham.


Ketika perasaan Bayu tersiksa dengan kerinduannya terhadap Sifa dan Ilham, di rumah dokter Raisa, Sifa dan Ilham justru sedang merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa, mereka terlihat ceria bermain bersama bi Minah dan pak Karyo di taman belakang, tawa candanya begitu lepas karena mungkin semua beban yang mereka rasakan sudah hilang ketika mendengar kabar bahwa sang bunda akan segera pulang.


"Non Sifa….!?" teriak bi Minah memanggil Sifa yang sedang sibuk bermain puzzle


"Apa" jawab sifa menoleh ke arah Bi minah sembari tersenyum


"Kita makan yu! Sifa kan belum makan dari tadi" ujar bi Minah


"Nanti aja bi, aku masih pengen main ini sama kakak" ujar Sifa

__ADS_1


"Nanti kan non Sifa harus belajar sayang,  setelah selesai belajar kita bungkus hadiah yang tadi non beli,  Besok non kan mau kasih kadonya buat bunda enon, nanti kelupaan loh! bunda non Sifa kan sampainya pagi pagi, kalo sekarang non sifanya main terus nanti kita gak keburu bungkus kadonya!" Ujar bi Minah tersenyum


"Iya dek, kita kan harus bungkus kado buat bunda, kakak sampai lupa" ujar Ilham menepuk jidatnya


Karena sudah masuk waktu makan malam, bi Minah segera menyuruh mereka untuk makan, bi Minah mengajarkan mereka untuk disiplin agar mereka terbiasa, bi Minah percaya jika Ilham dan Sifa terbiasa dengan kedisiplinan mereka pasti akan menjadi orang yang sukses yang akan mengangkat derajat keluarganya apalagi mereka adalah anak yang baik.


Dari kesakitan yang terlihat dari kedua anak baik itu, bi Minah merasa sangat kasihan sekali, dia bangga kepada mereka karena mereka begitu sangat kuat dan tabah


"Iya bi, terimakasih sudah mengingatkan, kalau bibi tidak mengingatkan aku sama Sifa pasti kita lupa Bungkus hadiahnya" dengan sopannya Ilham berterimakasih kepada bi Minah, dia sangat bersyukur bisa berkumpul dengan orang orang yang peduli dengan dirinya dan adiknya.


"Sama sama sayang" ujar bi Minah mengusap kepala mereka dengan lembut.


"Beruntung sekali orang tuanya ya bang, saya juga pengen banget punya anak seperti mereka, sudah baik, pintar lagi, huuh" ujar bi Minah sembari terus menatap Ilham dan Sifa


"Iya lah Bi, orang tua mana yang gak pengen punya anak seperti mereka, kelihatan banget bi, saya yakin ibunya pasti orang baik" ujar pak Karyo


"Iya dong bang, Bu Nadira mah udah pasti orang baik, liat aja anaknya! Anak itu kan gimana didikan ibunya, kalo ibunya baik anaknya juga pasti baik, belegug aja tuh suaminya, bisa bisanya nyakitin istri yang baik kaya Bu Nadira" 


BI Minah mengepalkan kedua tangannya, dia terlihat sangat kesal kepada Bayu yang sudah tega menyakiti Nadira, meskipun dia belum tau wajah Bayu, tapi dia terlihat sangat kesal sekali, kalau saja Bayu ada di hadapannya, bi Minah benar benar ingin menjambak rambutnya, menghajarnya sampai babak belur.


"Bener banget bi, laki laki to**l bego, liatin aja, nanti juga dia nyesel udah ninggalin mereka, pasti bakal mohon mohon minta balikan" ujar pak Karyo

__ADS_1


"Pasti bang, saya mah gak bakalan Rido anak anak kumpul lagi sama ayahnya, enak aja, mudah mudahan aja Bu Nadira bisa dapet laki laki yang lebih baik dari mantan suaminya" 


"Amiiinn" ujar pak Karyo


Mereka terus berbincang sembari menatap Ilham dan Sifa yang masih sibuk membereskan mainan, bagi bi Minah anak anak seperti mereka sangat sulit untuk dicari di zaman modern ini, itu sebabnya bi Minah dan pak Karyo begitu sangat menyayangi mereka, kalau bisa, bi Minah ingin sekali mengurus mereka, mengangkat mereka menjadi anaknya, tapi apalah daya, dia sadar diri kalau dia hanyalah seorang pembantu yang tak mungkin bisa menjaga mereka.


Ting tong


Ting tong


Bell berbunyi begitu nyaring


"Siapa itu bang? Abang aja yang temuin ya!, saya mau ajak anak anak makan dulu, kalau ada orang yang mau ketemu ibu sama bapak, bilang aja ibu sama bapak belum pulang" ujar bi Minah, BI Minah menyuruh pak Karyo untuk membuka pintu karena memang dia harus segera mengurus Ilham dan Sifa.


Kira kira siapa yang datang ya?


Bayu atau tamu?


Baca kelanjutannya ya


Jangan lupa like, comen n votenya 😘🙏

__ADS_1


__ADS_2