30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
bukan harta yang aku butuhkan


__ADS_3

''Kamu tidak perlu khawatir, setelah Kita berpisah, aku pasti akan memberikan harta Gono gini untuk kamu, kamu pasti perlu uang kan?'' tanya Bayu tersenyum memandang Nadira dengan sebelah matanya.


Nadira sakit mendengar perkataan Bayu barusan, Nadira tidak habis pikir bayu bisa berkata seperti itu kepadanya.


"Aku tidak membutuhkan uang kamu mas, aku hanya butuh perhatian kamu disisa waktu hidupku, aku hanya ingin hal yang paling berkesan dihari hari terakhirku" batin Nadira merintih


Seakan tuli Nadira tidak mau mendengar perkataan suaminya, bibir yang biasanya berucap, kini seakan terkunci.


Malam ini Nadira tidak mau mencari masalah, dia tidak mau mengotori hati dan fikirannya hanya karena sesuatu hal yang tidak penting, sebisa mungkin, dia berusaha menghindari suatu hal yang bisa membuat tubuhnya semakin drop.


Tanpa menghiraukan perkataan suaminya, Nadira berjalan menuju kamar anak anaknya untuk membantu mereka mengerjakan tugas.


...tok...


...tok...


...tok...


...Nadira mengetuk pintu kamar Sifa dan Ilham. kebetulan Nadira menempatkan mereka tidur satu kamar....


''Ilham, Sifa..!! ini bunda nak'' teriak Nadira memanggil mereka dari luar kamar


Tak ada jawaban


''Kemana mereka?, apa mereka sudah tidur?''


Nadira merasa cemas, dia melihat waktu baru menunjukkan pukul 19.30 tidak biasanya Ilham dan Sifa tidur sesore ini, biasanya mereka selalu meminta bundanya untuk membantunya mengerjakan tugas.


Karena penasaran, Nadira membuka pintu kamar kedua anaknya dengan perlahan.


...Cleeeeeekkk...


...Pintu kamar terbuka...


Kamar dengan paduan wallpaper putih biru itu tampak rapi dan wangi, Nadira tidak nampak kedua anaknya disana. dia hanya melihat buku buku tugas yang sudah siap di atas ranjang Sifa.


''Loh, ko anak anak tidak ada di kamar?'' ujar nadira merasa sedikit cemas

__ADS_1


Nadira berbalik arah menutup kamar itu, berjalan mencari kedua anaknya di ruang keluarga


''Selamat malam bunda'' kedua anak anak pintar itu menyapa bundanya dengan membawa piring berisi roti dan susu di tangan mereka masing masing.


''Ya allah nak, kalian lapar? kenapa gak panggil bunda sih? jantung bunda hampir copot loh ngeliat kamar yang kosong kaya gini, bunda kira kemana, bunda khawatir banget sama kalian'' ujar nadira cemas


''Maaf bunda, tadi aku sama Ade bikin makanan buat bunda di dapur'' ujar Ilham meminta maaf kepada bundanya


Ilham dan Sifa menaruh roti dan susu itu dimeja, mereka memeluk bundanya dengan erat, mereka merasa tidak enak kepada bundanya karena sudah membuat bundanya khawatir.


''Ya allah sayang, kenapa harus repot repot buat makanan?'' tanya Nadira dengan mata yang berkaca-kaca


''Maaf bunda, tadi bunda gak makan bareng kita, bunda bilang mau makan bareng sama ayah, tapi ko sampai sekarang belum, ayah gak mau makan bareng sama bunda ya?'' tanya Sifa


Kedua anaknya sangat mengkhawatirkan Nadira, mereka membuatkan roti dan segelas susu itu karena mereka tau kalau bundanya belum makan sejak pagi, mereka tidak mau bundanya sakit, entah kenapa kedua anak pintar itu seakan mengerti apa yang Nadira rasakan saat ini.


''Engga sayang, ayah bukannya gak mau makan bareng bunda, ayah kan baru pulang kerja, badan ayah masih cape, jadi sekarang ayah istirahat dulu di kamar, nanti malam ayah sama bunda makan ko, jadi anak bunda yang pintar pintar ini gak usah khawatir lagi ya'' ujar Nadira tersenyum memeluk kedua anaknya.


''Iya bunda'' ujar kedua anak pintar itu dengan serentak


Nadira sangat bersyukur memiliki anak yang baik seperti mereka, disaat Nadira membutuhkan kasih sayang dan perhatian, merekalah yang memberinya untuk Nadira. Ilham dan Sifa adalah satu satunya harapan untuk Nadira saat ini.


''Iya bunda'' ujar Sifa dan Ilham


Mereka mulai mengambil pensil dan bukunya masing masing, sedangkan Nadira, dia menyicipi roti dan susu yang Ilham buatkan untuknya, sembari menunggu hasil jawaban soal dari mereka.


''Selamat malam sayang ayah'' ujar Bayu yang tiba tiba muncul menyapa kedua anaknya yang sedang belajar


''Malam juga ayah'' teriak Ilham dan Sifa.


Ilham dan Sifa tersenyum gembira melihat kedatangan ayahnya.


''Anak anak ayah lagi belajar ya?, coba mana ayah liat?'' tanya bayu.


Dia berjalan mendekati Ilham, mengawasi Ilham yang sedang mengerjakan soal.


Nadira merasa sangat bahagia melihat bayu yang sekarang, akhirnya Nadira bisa melihat lagi kedekatan suami dan anak anaknya karena sudah lama Bayu tidak memperhatikan anak anaknya seperti sekarang ini.

__ADS_1


Wajah murung Nadira kini berubah menjadi tampak berseri, dia turun dari kursi mendekati Sifa dengan senyuman manisnya, kini Nadira merasa bersemangat membantu Bayu mengawasi Sifa.


''Ini ayah, coba ayah periksa dulu'' Ilham menyodorkan jawaban miliknya ke hadapan Bayu.


Setelah di periksa


''Ini benar semua sayang, pintar sekali sih anak ayah ini'' ujar Bayu mengelus ngelus kepala Ilhaam


Bayu tersenyum, dia begitu bangga memiliki anak yang pintar seperti Ilhaam.


''Coba, bunda periksa punya aku'' ujar Sifa menyodorkan jawabannya ke hadapan Nadira


Dan setelah di periksa


''Waaaahhh, ini benar juga semua nak, kamu memang anak yang pintar'' ujar Nadira mengedipkan matanya tersenyum menatap Sifa


mereka tersenyum gembira dengan hasil Jawaban yang mereka kerjakan, Sifa dan Ilham begitu bersemangat untuk merebut peringkat nomor satu di kelasnya.


"benar kata Nadira, kedua anakku sangat pintar, mereka bersemangat untuk merebut juara pertama, aku jadi gak tega liat mereka, mereka adalah anak anak yang baik" batin Bayu terketuk


"Ayah, nanti kalau Ilham sudah besar, Ilham mau jadi orang yang sukses seperti ayah" ujar Ilham tersenyum menoleh ke arah Bayu.


"iya nak, kamu pasti akan menjadi orang yang sukses, bahkan mengalahkan kesuksesan ayah" ujar Bayu merangkul pundak kecil itu


"beneran ayah?" Ilham yang masih sangat polos itu bertanya kepada ayahnya, dia sendiri belum begitu paham apa itu sukses, setau dia, Bayu adalah sosok ayah yang selalu dekat dengannya dan selalu memberikan kebahagiaan untuk dia, adik, serta bundanya.


"bener dong, masa iya ayah bohong, tapi ada tapinya" ujar Bayu tersenyum bercanda


"tapi apa ayah?'' tanya Ilham penasaran


"Tapi Ilham harus rajin belajar, Ilham juga harus nurut sama bunda, kalau Ilham nurut sama bunda, Ilham sudah pasti akan jadi orang yang sukses" jawab Bayu tersenyum menepuk pundak kecil itu


"Iya kan sayang?'' tanya Bayu tersenyum menoleh ke arah Nadira


"iya" jawab Nadira singkat


"ya Allah, andai saja panggilan sayang itu tulus dia ucapkan untukku, pasti aku sangat bahagia" batin Nadira

__ADS_1


...bersambung...


...jangan lupa like n comenya ya 🤗...


__ADS_2