30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
Ilham ke rumah ayahnya


__ADS_3

Karena hari sudah mulai siang, Nadira dan dokter Reza pun berangkat untuk fitting baju pengantin, mereka bergegas pergi karena ingin memilih baju bajunya dengan santai agar bisa mendapatkan baju yang wahh untuk acara mereka nanti, Nadira ingin tampil mempesona di acara pernikahannya kali ini, bahkan saking terburu burunya pagi itu mereka tidak sempat untuk sarapan. Nadira bahkan tidak sempat berpamitan kepada anaknya Ilham.


"Bu Dira gak sarapan dulu? Bibi udah buatin sarapan buat ibu sama pak dokter!?" Tanya bi Minah yang melihat Nadira bergegas pergi dari rumah itu. Pagi itu bi Minah sedang menyapu di halaman depan jadi dia bisa bertanya dulu kepada ibu dua anak itu, tapi dia terlihat sangat buru buru bahkan menjawab pertanyaan bi minah pun dia sambil berjalan tanpa menghiraukannya.


"Saya sarapan di sana bi" jawab Nadira sembari berjalan dihadapannya. "Saya titip Ilham ya bi!" Teriak dia lagi sambil masuk ke dalam mobil. 


"Iya Bu" teriak bi Minah sembari terus menyapu halaman rumah itu. 


Tak lama setelah Nadira dan dokter Reza pergi, pak Bram dan dokter raisa juga keluar dari rumah mewah itu dengan dandanan yang sudah rapi juga, bi Minah merasa sudah tidak heran jika dokter raisa keluar pagi pagi seperti ini karena dia tau Bu dokter cantik itu pasti akan pergi ke rumah sakit.


"Bi, saya berangkat kerja dulu ya! Saya titip Ilham di dalam, jangan lupa ajakin dia jalan jalan ya bi soalnya hari ini saya pulangnya pasti agak malaman, Bu Nadira juga pasti seperti itu, kasian Ilham pasti kesepian di rumah" ujar dokter Raisa tersenyum. Dokter Raisa pergi dengan menyodorkan uang kepadanya, mungkin uang itu untuk biaya jalan jalan nanti, Taoi bi Minah tidak merasa senang dengan semua ini, dia justru kecewa dengan mereka yang terlalu sibuk mengurusi urusannya sendiri.


"Pantes aja den Ilham melamun terus, bundanya sibuk kaya gini, pie pie, kasian den Ilham dia pasti kesepian" ujar bi Minah sembari berjalan masuk ke dalam rumah. 


Bi Minah menyimpan semua peralatan kerjanya ke belakang lalu berjalan menuju kamar Ilham untuk memastikan Anak itu berada di kamar, bi Minah ingin mengajak Ilham untuk sarapan.


"Anak itu pasti belum sarapan, Bu Dira, Bu Dira, bibi kira Bu Dira pulang dari Singapura anak anak akan terurus, tapi nyatanya enggak, untung saja mereka sudah biasa hidup tanpa perhatian bundanya" ujar bi Minah yang terlihat sangat kesal.


Bi Minah pun sampai di depan kamar Ilham lalu dia mengetuk pintu kamar itu.


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


"Den Ilham, kita sarapan yu!" Teriak bi Minah. 


Tak ada jawaban.


"Den sarapan dulu yu! Nanti bibi ajakin jalan jalan sama pak Karyo" teriak bi Minah lagi. Tapi tetap saja tak ada jawaban. 


"Anak itu kemana ya? Masa iya sih jam segini dia masih tidur" bi Minah bertanya tanya.


Karena penasaran bi minah pun membuka pintu kamar itu, dia takut Ilham ketiduran pagi ini jadi dia berniat untuk membangunkannya.


"Den, bangun yu! Kita sarapan dulu!" Ujar bi Minah lagi. Kali ini dia masuk ke dalam kamar itu, pandangnya langsung tertuju ke atas kasur yang sudah terlihat rapi. Ternyata Ilham sudah tidak ada di kamar itu, kamar itu sudah terlihat rapi dan bersih, bi Minah tidak mendapati Ilham disana.


"Loh! Kok den Ilhamnya gak ada, kemana dia ya? Apa mungkin dia lagi main sama pak Karyo di depan? Tapi masa iya sih!? Barusan kan bibi udah dari depan, kok bibi gak liat mereka ya! Pak Karyo juga kayaknya gak ada di posnya" bi Minah bertanya tanya.


Bi Minah kembali menutup pintu kamar itu lalu dia bergegas pergi ke depan, dia mencari Ilham ke posnya pak Karyo tapi dia juga tidak menemukan mereka disana.


"Ya Allah, kemana mereka, apa mungkin mereka jalan jalan pagi? Tapi kok gak kasih tau Bu dokter dulu, barusan Bu dokter bilang Ilham ada di rumah, berarti Bu dokter gak tau Ilham sma pak Karyo pergi" ujar bi Minah. "Apa Bibi telepon pak Karyo aja ya, biar jelas!?" Ujar bi Minah lagi.


Karena rasa khawatirnya kepada ilham bi minah pun berlari masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil ponselnya, bi Minah ingin menelpon pak Karyo untuk menanyakan Ilham, dia berharap Ilham pergi bersamanya.


Tuuuut


Tuuuut


Tuuuut

__ADS_1


Suara panggilan yang belum diangkat.


"Hallo bi, ada apa? Bu dokter nanyain mamang ya?" Pak Karyo mengangkat teleponnya.


"Nggak, Abang dimana? Abang liat Ilham gak? Ilham gak ada di rumah" bi Minah balik bertanya kepada pak Karyo, dia terlihat sangat khawatir sekali.


"Abang lagi di jalan mau pulang ini, tadi den Ilham minta dianterin ke rumah ayahnya jadi Abang anterin, kasian dia melamun sendirian di rumah gak ada temennya" Jawa pak Karyo


"Alhamdulillah, bibi kira kemana, bibi jadi lega kalau dia bersama ayahnya, semoga aja anak itu tidak kesepian lagi kalau ada ayah dan adiknya" ujar bi Minah lagi. Bi Minah berharap Ilham bisa menemukan perhatian setelah dia bersama ayahnya, tidak seperti disini, di Rumah ini Ilham dibiarkan begitu saja, dia tidak mendapatkan perhatian dari ibu dan orang-orang disekelilingnya membuat anak itu selalu melamun sendirian.


"Amiiin, ya sudah, Abang matiin telponnya ya bi! Sebentar lagi Abang sampai kok, nanti kita ngobrolnya di rumah" ujar pak Karyo.


Bi minah pun mematikan panggilan itu lebih dulu, sekarang perasaannya terasa lega ketika mendengar Ilham baik baik saja, dia bersyukur Ilham sudah mau kembali ke rumah ayahnya, itu tandanya rasa benci Ilham sedikit demi sedikit sudah mulai memudar, berarti tidak cuma cuma dia berbicara semalaman bersama anak itu.


Di rumah Bayu.


"Assalamualaikum ayah, Sifa…" teriak Ilham memanggil adik dan ayahnya. 


Tak ada jawaban.


Ilham masuk ke dalam rumah itu, lalu melihat sekelilingnya, tapi Ilham tidak melihat siapapun di sana, rumah itu terlihat sepi sekali seperti tak berpenghuni.


"Sifa…" teriak Ilham lagi.


Masih tak ada jawaban.

__ADS_1


"Apa Sifa belum bangun ya? Tapi masa iya sih? Ini kan sudah siang" ujar Ilham. Karena penasaran ilham pun berjalan menuju ruang atas menuju kamar ayahnya, Ilham mencari mereka ke kamar itu.


"Semoga saja ayah sama Sifa ada di kamar" ujar Ilham dengan mata yang berkaca-kaca. Ilham sebenarnya malu sekali datang ke rumah itu karena kemarin dia sudah bersikap jutek kepada ayahnya tapi dia tidak punya pilihan lain, dia ingin bertemu ayahnya untuk meminta maaf, dia berharap ayahnya mau memaafkan sikap juteknya kemarin.


__ADS_2