
Tiiiit
Tiiiiiittt
Tiiiiiittt
Elsa memencet klakson mobilnya berkali kali lalu memukul stir dengan keras hingga tangganya terluka.
"Sial, rupanya si Lidia sekarang berani sama gue, nyesel gue mempekerjakan dia di kantor, dasar teman gak becus" ujar Elsa dengan wajah yang penuh amarah, dia lagi lagi memukul stir mobilnyaa hingga Clarkson berbunyi beberapa kali.
"Ya ampun sa, ngapain sih kamu pencet pencet klakson mobil kaya gitu? Berisik! gara gara kamu kayla jadi bangun nih" ujar ibu Lidia, dia sedikit kesal dengan anaknya itu karena baru saja dia menidurkan Kayla, Kayla jadi bangun gara gara mendengar Clarkson mobil Elsa.
Bu Lidia menghampiri mobil elsa sembari mengayun ayun cucunya yang terus menangis.
Setelah Elsa berbicara dengan Clara tadi di kantor, Elsa langsung bergegas pergi meninggalkan kantor lalu pulang ke rumahnya, dia sangat kesal sekali kepada suami dan temannya, jadi dia langsung pulang ke rumah, setiap Elsa marah, dia pasti menemui ibunya karena hanya ibunyalah yang selalu bisa memberikan ketenangan, Bu Lidia paling pintar memberikan solusi kepadanya.
"Aduuuuhhh, berisik!" Ujar Elsa, Elsa keluar dari mobil itu sembari menutup kupingnya seperti tidak mau mendengar tangisan kayla, dia bergegas masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan ibu dan anaknya.
"Kenapa sih tu anak? pulang pulang ko marah gak jelas, anaknya nangis bukan disusuin malah ditinggal gitu aja, Elsa~ Elsa~" ujar ibu Lidia menggerutu. ''sabar ya nak! nenek buatin susu buat kamu ya, cup cup cup" ibu Lidia terus mengayun ayun cucunya itu dengan penuh kasih sayang, dia tidak terlalu menghiraukan Elsa karena dia sudah terbiasa dengan sikap Elsa yang seperti ini.
Lidia pun masuk ke dalam rumah lalu berjalan menuju dapur, dia langsung membuatkan susu untuk kayla.
Dengan repotnya ibu Elsa menyeduh susu disebuah botol kecil sembari menggendong keyla yang tidak hentinya menangis, tapi Elsa malah duduk memperhatikan ibunya dengan mulut yang sedikit maju-cemberut.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih sa? Katanya mau ajak ibu belanja, kok pulang dari kantor malah marah marah gak jelas kaya gitu?" Tanya ibu Lidia, dia tidak mengerti dengan sikap Elsa yang kadang marah kadang baik akhir akhir ini.
"Mas Bayu mah, dia gak ada di kantor" jawab Elsa sembari menggerutu tidak jelas, entah apa yang sedang dia bicarakan.
"Kan kamu bisa telepon dia sa" ibunya mencoba memberi solusi, dia tidak terlalu banyak bicara karena dia sudah tau sifat Elsa kalau lagi marah Elsa lebih baik didiamkan seperti sekarang, imbuhnya.
"Tadi Elsa telepon mas Bayu Bu, tapi dia malah matikan telponnya, dia bilang sibuk meeting padahal hari ini kan gak ada jadwal meeting, aku tau dia bohongin aku Bu, kesel!?" Jawab Elsa, elsa menghentakkan kakinya dengan tangan yang dilipat sembari memasang wajah merah padam menyala.
Mendengar jawaban Elsa, Bu Lidia pun menghampiri anaknya sembari menggendong Kayla, dia sangat penasaran dengan mantu kesayangannya itu, sebagai ibu dia sangat mengerti perasaan anaknya, jadi dia buru buru menghampiri anaknya itu untuk mendengarkan curhatan nya, meskipun dia terlihat kerepotan karena harus membawa botol susu dan makan siang untuk cucu tersayangnya itu.
"Eh sa, ibu pernah liat temen arisan ibu yang sering melacak keberadaan suaminya lewat handphone, namanya apa gitu ibu lupa, memangnya kamu gak bisa kaya temen ibu?" Tanya Bu Lidia kepada elsa, Bu Lidia memang sering memergoki temannya melacak keberadaan suami suaminya, jadi dia berusaha memberitahu anaknya tentang kecanggihan handphone zaman sekarang.
Mendengar perkataan ibunya Elsa langsung
Elsa mencoba melacak keberadaan Bayu, dan ternyata Bayu sedang berada di sebuah villa, terlihat jelas sekali dari denah lokasinya Bayu sedang berada di villa yang masih berada disekitaran Jakarta, itu artinya Bayu dan keluarga Bram sudah sampai di villa milik dokter Raisa.
"Sebentar Bu, kok dari denah ini mas Bayu sedang berada di villa, ngapain dia? Ah ini gak bener, aku harus segera susul mas Bayu" ujar Elsa, baru saja Bu Lidia ingin melihat handphone Elsa, Elsa malah langsung bergegas pergi meninggalkan ibunya dan keyla.
"Ckckck, Elsa Elsa" Bu Lidia menggelengkan kepalanya sembari melihat punggung Elsa yang mulai tak terlihat oleh tembok "mama kamu itu memang gak pernah berubah nak, dari dulu dia itu gerasak gerusuk, nanti kalau kamu Sudah besar jangan seperti mamamu ya, kamu harus jadi anak yang cerdas dan sukses, nenek akan selalu mendoakan kamu nak, Keyla, cucu kesayangan nenek" ujar Bu Lidia sembari terus mencium Keyla dengan manjanya.
Semenjak Keyla di lahirkan ke bumi, Bu Lidia lah yang selalu mengurus Keyla Karena memang Elsa sebagai ibu tidak becus mengurusnya, Elsa terlalu sibuk mengurusi Bayu, hingga Keyla di serahkan kepada Bu Lidia, dia tidak sadar telah menjadikan ibunya sebagai baby sister.
.
__ADS_1
.
Ketika Elsa sibuk mencari keberadaan Bayu, Bayu malah bersantai ditaman depan villa dibawah pohon beringin sembari memperhatikan Nadira dan anak anaknya, dia ingin sekali bergabung bersama mereka tapi rasanya tidak mungkin, Nadira dan Raisa pasti masih sangat membencinya, jadi dia hanya memperhatikan dan mendengarkan percakapan mereka dari kejauhan.
"Oh iya bu, nanti ibu pulang ke rumah saya dulu ya! ibu bisa nginep di rumah saya untuk beberapa hari, setelah itu saya akan antarkan ibu ke rumah ibu" ujar dokter Raisa, dokter Raisa mencoba mengajak Nadira untuk tinggal bersamanya beberapa hari karena memang dia masih ingin dekat dengan Ilham dan Sifa.
"A-apa dok?" tanya Nadira, Nadira pura pura tidak mendengar, dia belum bisa menjawab ajakan dokter Raisa karena memang dia sangat bingung, dia bingung harus pulang kemana, jika dia tinggal bersama Raisa dia pasti akan merasa tidak enak, tapi jika dia menolak, dokter Reza pasti akan mengajak dia tinggal bersamanya, dan itu tidak mungkin, Nadira tidak mau tinggal bersama laki laki yang belum jadi makhromnya karena takut menimbulkan fitnah, dan pasti nanti Lisa Juga tidak akan menemaninya lagi, Lisa pasti akan pulang ke rumah keluarganya.
"Bu Nadira, ibu mau ya!?" tanya dokter Raisa lagi
"Mau ya bunda, kita tinggal di rumah bunda cantik dulu, rumahnya besar loh, Sifa juga betah tinggal di rumah bunda cantik" ujar Sifa tersenyum, Sifa menarik narik tangan Nadira membujuk dia supaya mau tinggal di rumah dokter Raisa.
sudah dulu ya man teman.
kira kira Nadira tinggal di rumah siapa ya? di rumah dokter Raisa, atau di rumah dokter Rezađ€ atau mungkin di rumah Bayuđ€ authornya bingungđ„Ž .
simak kelanjutannya aja yađ
mudah mudahan kalian suka ceritanya
terimakasih untuk yang sudah mendukung karya iniđđ
jangan lupa like comen n votenya.
__ADS_1