
Dengan tubuh yang gemetar, Nadira berusaha untuk bangkit, dia mencoba menguatkan dirinya untuk berjalan membuang helai demi helai rambutnya ke dalam tong sampah.
Hatinya sangat teriris setiap kali suaminya membandingkan kecantikannya dengan Elsa, bagaimana bisa Nadira mengalahkan kecantikan seorang gadis, sedangkan tubuhnya kini sudah tak menarik, dia sudah tak semolek dulu sewaktu dia belum memiliki Ilham dan Sifa.
"Ya Allah sabarkanlah hatiku" batin Nadira
Nadira berjalan masuk ke dalam rumahnya untuk membangunkan kedua anaknya yang sedang tertidur pulas.
"Anak anak bundaaaaaa, ayo bangun sayang! Coba kalian lihat Siapa yang datang!" Ujar Nadira membangunkan kedua anaknya sembari tersenyum manis.
Dia selalu berusaha menyembunyikan rasa sakit dihadapan kedua jagoan kecilnya.
"Ayah sudah datang ya bunda?" Tanya Sifa tersenyum.
wajahnya tampak ceria ketika mendengarkan ayahnya sudah pulang ke rumah.
"Iya nak, ayo kalian samperin ayah, ayah pasti udah kangen banget sama kalian" jawab Nadira sembari tersenyum manis.
"Iya bunda, ayo ka!" Sipa menarik tangan kakak nya berlari menghampiri ayahnya yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Ya Allah, mereka begitu sangat bahagia melihat ayahnya datang, mereka terlihat begitu sangat menyayangi ayahnya, melihat kedekatan mereka, sekarang aku jadi tidak khawatir lagi kalau suatu saat nanti aku harus meninggalkan mereka" batin Nadira
Nadira tersenyum sembari menjatuhkan air matanya, sedih dan bahagia bercampur aduk menjadi satu, kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, dan kesedihan luar biasa yang membendung hati dan jiwanya, Nadira merasakan kebahagiaan ketika melihat canda tawa kedua anaknya, tapi disisi lain Nadira juga merasakan kesedihan yang sangat luar biasa, kesakitan sebuah penghianatan hingga kematian yang akan memisahkan dirinya dan kedua anaknya yang begitu sangat dia cintai.
"Bundaaaaa, sini deh! Ayah bawakan oleh oleh buat kita" teriak Ilham dari ruang keluarga memanggil bundanya yang masih duduk di kamar.
"Iya nak, sebentar" teriak Nadira
Nadira langsung menghapus air matanya lalu bangkit dari duduknya berjalan menghampiri mereka.
"Bundaaa, liat baju aku, bagus kan?" Tanya Sifa sembari berlenggak lenggok mengukurkan baju itu di badannya
"Bagus sayang, kalau kamu pakai baju itu, pasti kamu terlihat lebih cantik" jawab Nadira tersenyum
__ADS_1
"Waaaahhh! Beneran bunda?" Tanya Sifa
"Beneran sayang, coba Sifa bilang apa sama ayah?" Jawab Sifa meminta anaknya untuk berterima kasih kepada ayahnya.
"Terimakasih ayah" ujar Sifa memeluk ayahnya sembari tersenyum manis
"Kalian sama ayah dulu ya! Bunda mau ke kamar dulu" ujar Nadira meminta izin untuk pergi ke kamarnya
"Iya bunda" kedua anak pintar itu mengiyakan.
Nadirapun pergi meninggalkan kedua anaknya berjalan menuju ruang atas karena dia sadar dia sudah tidak diharapkan, dia memilih untuk sendiri menenangkan dirinya sebentar sebelum Bayu masuk ke dalam kamarnya.
Nadira duduk di kursi meja rias sembari menatap pantulan wajahnya di cermin.
"Aku memang terlihat sudah tidak menarik, pantas saja mas Bayu menghinaku hingga membandingkan aku dengan Elsa, tapi aku janji mas, aku akan berusaha mengubah penampilanku, aku akan berusaha merebut hatimu kembali" batin Nadira
Nadira melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 18.11, ini saatnya dia untuk melaksanakan shalat Maghrib, Nadirapun bangkit dari duduknya berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu lalu melaksanakan shalat Maghrib.
...🌺Di ruang bawah 🌺...
Ilham mengajak ayahnya untuk sholat Maghrib berjamaah bersama dirinya dan Sifa.
"Mereka mengajakku solat? Mereka memang anak baik, beruntung aku memiliki anak seperti mereka" batin Bayu
"Ayo sayang" ujar Bayu.
Merekapun berjalan menuju musholla yang terletak di belakang rumahnya, musholla yang terlihat sederhana tapi tersimpan berjuta kenangan di dalamnya.
Kedua anak pintar itu membantu ayahnya menggelarkan sajadah menuju kiblat.
"Sudah lama aku tidak solat, tapi musholla ini masih terlihat bagus dan rapih, Nadira pasti selalu merawatnya hingga terlihat bersih dan nyaman seperti ini" batin Bayu
"Ayo ayah" ujar Ilham
__ADS_1
Merekapun melaksanakan shalat berjamaah Untuk yang pertama kalinya.
Dulu Bayu dan Nadira sengaja membuat musholla itu khusus untuk keluarganya agar mereka bisa selalu melaksanakan shalat berjamaah, tapi setelah orang tua Nadira tiada, Bayu jadi tidak pernah ada waktu karena dia terlalu sibuk mengurus perusahaan peninggalan orang tua Nadira hingga musholla itu tampak sepi, hanya nadiralah yang tak pernah berhenti memasukinya, untuk sekedar bersih bersih dia juga selalu melaksanakan shalat seorang diri.
...🍂🍂🍂🍂🍂...
Malam semakin larut, Nadira melihat jam sudah menunjukkan pukul 21.00, Nadira melihat ke arah pintu ternyata Bayu belum juga masuk ke dalam kamarnya, mungkin saja Bayu memilih tidur bersama anak anaknya malam ini karena memang Bayu sudah tidak menginginkannya lagi.
Nadira menangis terisak, dia benar benar sedih meratapi nasibnya yang sangat menyedihkan, dimana dia sudah tak dianggap lagi oleh suaminya dalam kondisinya seperti sekarang ini.
Nadira merebahkan tubuhnya di ranjang mengistirahatkan badannya yang terasa lemas akibat dari kemoterapi yang dia jalani tadi pagi.
Nadira merasa sepi sendiri, tak ada bahu untuk dia bersandar, tak ada tangan yang menguatkan dirinya dikala dirinya sedang terpuruk seperti sekarang ini, hanya doa dan harapan serta uluran tangan kecil Sifa dan Ilhamlah yang menguatkan dirinya saat ini.
Nadira mencoba memejamkan matanya sembari beristighfar, dia berharap ada keajaiban datang kepadanya malam ini.
"ya Allah, tak banyak yang aku pinta saat ini, aku hanya ingin engkau memberikan aku kekuatan di sisa waktu hidupku, aku ingin engkau mengembalikan kasih sayang mas Bayu, engkau maha membolak balikkan hati manusia ya Allah, buatlah mas Bayu mencintaiku lagi" batin Nadira merintih
dia menangis terisak, Dadanya terasa semakin sesak karena tak bisa menahan kesedihannya saat ini.
...🌺Di kamar Sifa dan Ilham 🌺...
"Ayah!?, bunda ko ga nyamperin kita malam ini? biasanya juga bunda bacain cerita buat kita, iya kan ka?" tanya Sifa menoleh ke arah Ilham sembari cemberut
"Mungkin bunda cape sayang, ini kan ada ayah, ko kalian masih nanyain bunda aja sih, ayah cemburu tau" ujar Bayu berpura pura cemberut dihadapan mereka.
"Ko ayah cemburu sih? ayah gak boleh cemburu sama bunda, kita juga gak cemburu kalau ayah gendong bunda, malah kita senang ya de? sebagai keluarga, kita harus saling menyayangi, gak boleh ada rasa cemburu" ujar Ilham menoleh ke arah ayahnya.
"Ilham itu masih kecil, tapi kenapa dia punya pikiran seperti orang dewasa, ini pasti Nadira yang sudah mengajarkan mereka sehingga mereka menjadi anak yang pintar seperti ini, dia memang istri yang baik" batin Bayu
......bersambung......
...jangan lupa like n comenya ya...
__ADS_1
...votenya juga 🙏...