
"Sifa mau beli hadiah apa nak?" Tanya bi Minah tersenyum
"Aku mau beli handphone buat bunda bi" jawab sifa dengan suaranya yang cempreng itu
"Loh!!!! Kok handphone sih dek? Buat apa?" Tanya Ilham
Ilham kaget mendengar jawaban Sifa barusan.
"Selama ini bunda gak pernah hubungi kita karena bunda gak punya handphone kan ka? jadi Sifa mau beliin bunda handphone biar bunda bisa hubungi kita terus" jawab Sifa
"Iya dek, tapi kan besok bunda mau pulang, jadi mulai besok bunda gak butuh handphone lagi buat hubungi kita, mending kamu beli hadiah yang lain! gimana kalo kita beli parfum aja buat bunda!!" ujar Ilham
"Oh iya ya ka, kita beli parfum aja biar bunda bisa wangi terus, biar ayah gak bilang bunda bau lagi, biar ayah jadi makin sayang sama bunda" ujar Sifa tersenyum
Otak kecil nan bersih itu ternyata menyimpan kenangan buruk tentang Bayu terhadap Nadira, semuanya terekam jelas di ingatan Sifa, meskipun Sifa sendiri belum tau apa arti dari ucapan ayahnya itu.
"Ya Allah dek, kenapa kamu bicara seperti ini, kapan kamu dengar ayah berkata seperti itu sama bunda? " batin Ilham
Ilham bertanya tanya, dia bingung dengan perkataan Sifa barusan, perkataan yang mengingatkannya dengan kejadian di rumah sakit waktu itu, disaat dia tau kalau ayahnya memiliki perempuan lain selain bundanya, bahkan ayahnya sibuk bersama perempuan itu disaat bundanya terbaring lemah di rumah sakit.
__ADS_1
"Selama ini ayah selalu memperlakukan bunda dengan baik, tapi kenapa Sifa berbicara seperti itu, waktu di rumah sakit juga ayah bilang mau menikah lagi, Apa selama ini ayah pura pura baik sama bunda?" batin Ilham bertanya tanya
sepanjang perjalanan ke mall, Ilham terus memikirkan permasalahan ayah dan bundanya, Ilham mengerti kenapa dirinya dan Sifa mengalami penderitaan seperti ini, dia dititipkan di rumah orang lain padahal dia dan Sifa masih memiliki seorang ayah, bahkan disaat bundanya sakit keras pun ayahnya tidak pernah ada disamping bundanya.
Ilham yang sudah mulai beranjak dewasa, dia sedikit faham hingga pada akhirnya dia tau bahwa selama ini bayu bukanlah ayah dan suami yang baik untuk dia dan bundanya, dia tau kalau selama ini Bayu hanya berpura pura baik.
Ilham mengepalkan tangannya, dengan muka yang ditekuk, dia begitu sangat kesal terhadap Bayu, jika saja dia bertemu dengan ayahnya, dia ingin sekali menampar wajah ayahnya itu, dan berkata "aku benci kamu".
Dia ingin sekali mendatangi ayahnya, tapi dia tau saat ini bukanlah waktu yang tepat, dia tidak mau mengubah suasana bahagia ini, Ilham hanya bisa mengelus dadanya, mengelus kepala Sifa sembari tersenyum manis, anak baik itu berusaha menyembunyikan kekecewaannya karena dia tidak mau sampai adiknya tau bahwa ayah yang selama ini mereka banggakan ternyata dia hanyalah orang yang sangat jahat.
"Bibi senang sekali akhirnya bunda kalian bisa pulang lagi, dan berkumpul bersama kalian" ujar bi Minah dengan matanya yang berkaca-kaca.
Raut kebahagiaan yang terpancar dari wajah kedua anak baik itu membuat Bi Minah tak kuasa menjatuhkan air matanya, bi Minah Sangat bersyukur akhirnya apa yang dia inginkan selama ini terwujud, dia ingin sekali melihat Ilham dan Sifa kembali ceria seperti hari ini, meskipun mereka bukan darah dagingnya tapi bi Minah Sangat menyayangi mereka seperti dia menyayangi anaknya sendiri.
_di Singapura_
Tawa canda terdengar dari sudut pintu ruang keluarga, koper berisikan baju juga terlihat berjejer rapi di depan pintu ruangan itu.
Kira kira siapa ya, yang sedang bercanda di ruang itu?.
__ADS_1
Yapss…!!!!
Orang itu adalah Nadira dan Lisa asistennya dokter Reza, mereka begitu asyik berbincang sembari membereskan barang barangnya yang akan mereka bawa besok pagi.
Disaat Ilham dan Sifa mempersiapkan hadiah untuk nadira, di Singapura Nadira juga menyiapkan hadiah yang paling istimewa untuk kedua anak baik itu.
Hanya saja hadiah kali ini beda dari biasanya, disaat seorang ibu menyiapkan hadiah mainan, baju, atau barang barang yang bagus Nadira malah menyiapkan hadiah spesial yaitu ayah pengganti untuk mereka.
Ya!!!
Dokter Reza.
Setelah berdebat dengan lisa, dokter Reza sadar bahwa dirinya tidak akan sanggup kehilangan wanita yang sangat dia cintai, dia tidak sanggup jauh dari Nadira walau 1 jam saja.
Dia berusaha memberanikan diri, mengungkapkan cintanya kepada ibu dua anak itu, dan jawabannya sangat membahagiakan sekali, Nadira menerima cinta dokter tampan itu karena memang dari awal nadira merasakan kenyamanan ketika dekat dengan sang dokter.
...bersambung dulu ya...
...jangan lupa like comen n votenya 😘...
__ADS_1