Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_16. Menepati Janji?


__ADS_3

Berlian memandang temannya dengan khawatir. Wajah Clara tampak pucat. Berlian memandangnya tidak tega.


"Apa kamu baik-baik saja Cla? " Berlian menghampirinya dan memegang lengannya.


"Baik. Tapi bisakah kamu membantuku sekali lagi?" Clara tersenyum. Berlian kini menyadari bahwa sebenarnya temannya itu baik-baik saja dan hanya berpura-pura. Dan wajah pucatnya itu hasil dari make up nya. Lagipula Clara pandai dalam menggunakan berbagai alat perias diri yang selalu ada di dalam tasnya.


"Apa yang bisa aku bantu?" Clara membisikkan sesuatu pada Berlian dan tersenyum. Rencananya untuk mendekati Johan kali ini harus dapat membuatnya lebih dekat dengan pria muda tampan itu.


Berlian memandang punggung Johan dan Clara yang menjauh. Ia meminta Johan untuk mengantarkan Clara pulang lebih dulu. Tentu saja Johan menolak pada awalnya karena ia tidak ingin mengecewakan kepercayaan Sean yang telah mempercayakan Berlian padanya. Tetapi dia akhirnya setuju karena Berlian berjanji akan menjaga diri Dengan baik dan segera mmenghubunginya jika ada sesuatu.


"Apa kamu membantu Clara mendekati Johan?" Tanya Rezvan setelah Johan dan Clara masuk ke dalam lift.


"Ya. Aku sudah berjanji padanya." Berlian mengangguk tidak menyembunyikan dari Rezvan.


"Lalu bagaimana perasaanmu?" Rezvan memicingkan matanya.


"Apa maksudmu?" Tanya Berlian bingung.


"Tentu saja perasaanmu pada Johan." Rezvan menatap Berlian tidak percaya.


"Tidak ada apa-apa. Antarkan aku membeli sesuatu." Tanpa ingin membahas lebih jauh, Berlian berjalan mendahului Rezvan.


Rezvan mengikuti Berlian yang masuk ke dalam sebuah butik. Ia mengikuti gadis itu yang sedang memilih hoodie. Satu persatu membaliknya dan memperhatikan dengan seksama.


"Mbak, adakah yang seperti ini?" Tanya Berlian pada pramuniaga yang menghampirinya sambil menunjukkan hoodie yang dipakainya.


Pramuniaga itu memperhatikan hoodie yang dipakai Berlian lalu menggeleng. "Mohon maaf. Tidak ada. Tetapi ada model yang hampir serupa. Sederhana seperti itu. "  


"Tolong tunjukkan padaku."


"Mari silahkan." Pramuniaga itu tersenyum dan berjalan pelan. Membawa Berlian ke sisi sebelahnya dimana beberapa hoodie perempuan dengan motif yang sederhana ditata.


"Kamu sudah memiliki yang seperti ini. Kenapa ingin yang lain?" Tanya Rezvan bingung.


"Sebenarnya ini adalah hadiah kak Johan untuk adiknya yang sedang ulang tahun." Berlian memberha hoodie yang dia kenakan. Yang mengejutkan adalah bahwa ini pas di tubuhnya.


"Jadi kamu ingin membeli hoodie untuk menggantinya?" Berlian mengangguk.


"Ya. Aku berjanji untuk membantunya mencarikan hadiah untuk adiknya."


"Dan kamu akan menggantinya dengan hoodie yang sama?"

__ADS_1


"Hem." Berlian mengangguk. "Aku tidak mengenal adik kak Johan. Aku bahkan tidak mengetahui namanya. Jadi aku tidak bisa mencari hadiah yang tepat untuknya." Lanjutnya.


"Menurutku hadiahnya harus sesuatu yang lain."


"Inilah masalahnya. Kita tidak tahu orang seperti apa yang akan menerimanya. Bagaimana kalau tidak cocok?"


"Begini saja. Kita belikan jam tangan. Melihat model yang kamu kenakan ini sepertinya adik Johan adalah tipe gadis yang simpel."


"Benar. Itu juga bisa. Tapi Aku tetap akan membelikannya hoodie. Pasti ada alasan kak Johan memberikan hoodie ini pada adiknya. Jadi aku harus menggantinya. Dan jam tangan itu adalah ungkapan terima kasihku karena tah membantuku." Rezvan mengangguk setuju dia membantu Berlian memilih hoodie yang sesuai.


Berlian dan Rezvan sudah selesai membeli hadiah saat Johan memberitahukan bahwa ia sudah kembali dari mengantar Clara. Berlian memperhatikan jam tangannya.


"Cepat sekali sudah sampai." Gunanya pelan namun dapat didengar jelas oleh Rezvan. Keduanya sedang menikmati makanan dan minuman mereka di foodcourt.


"Aku melihat Johan tidak tertarik pada Clara. Sebaiknya jangan biarkan Clara mendekati Johan."


"Itu urusan mereka." Berlian menjawab saat ia mengirim pesan pada Johan yang memberitahukan posisinya.


"Aku hanya takut Clara akan terluka."


"Aku tahu yang kamu maksud Van. Tetapi aku tidak bisa menghalangi Clara untuk berusaha."


"Tuan Sean menyuruh kita untuk segera pulang." Ucap Johan setelah berdiri di depan Berlian.


"Hem." Berlian mengangguk. "Bagaimana dengan Clara?"


"Aku sudah mengantarkan pulang. Sepanjang jalan dia juga terlihat sudah baikan."


"Baguslah kalau begitu." Berlian mengangguk lega. Lalu mengulurkan tangannya meraih paper bag berisi hoodie yang dibelinya dan juga jam tangan.


"Aku menepati janjiku untuk mencari ganti untuk hadiahnya." Ucap Berlian.


"Menepati Janji? Tapi bukankah janjimu adalah untuk menemani memilih. Bukan menggantinya." Johan merasa tidak nyaman. Ini seperti bahwa ia adalah seorang yang pelit dan perhitungan.


"Tadi aku jalan-jalan dengan Rezvan dan menemukan ini. Sepertinya sesuai untuk adik kak Johan. Lagipula bukankah kita juga harus segera kembali sebelum daddy mengeluarkan tanduknya?"


Johan menghela napas. Mengambil paper bag dari tangan Berlian dia membawanya. "Baiklah. Terima kasih."


Berlainan berdiri dan pamit pada Rezvan. Juga berterima kasih karena telah menemaninya sementara menunggu  Johan kembali. Setelah itu mereka berpisah. Rezvan berkata bahwa ia juga ada sesuatu yang akan ia kerjakan sebelum pulang.


**

__ADS_1


Satu bulan sudah Berlian menjadi siswa SMA. Dan satu minggu yang lalu telah diadakan pemilihan anggota OSIS yang baru. Raka sudah naik ke kelas dua belas yang sudah pasti membutuhkan banyak waktu untuk belajar. Jadi jabatannya itu harus dilengeserkan dan diganti dengan siswa yang lain dari kelas sebelas.


Satu bulan terakhir jugalah para kandidat sudah berkampanye dengan menunjukkan visi dan misinya selama mereka menjabatenjadi ketua OSIS. Selain ketua dan pengurus harian, anggota staf OSIS lain juga akan dipilih. Anggota OSIS lama sudah memperhatikan semua siswa. Baik dari kelas sepuluh maupun kelas sebelas yang mampu menjabat di posisi yang tepat.


Setelah pertarungan sengit, Yuda dari kelas Sebelas IPA Unggulan 1 terpilih menjadi ketua menggantikan Raka ya gak pensiun.


Berlian adalah siswi tertutup selama ini. Jadi ia tidak akan cocok bergabung dengan organisasi yang membutuhkan kerjasama team. Jadi meskipun banyak siswa yang berharap Berlian ikut organisasi, Berlian sama sekali tidak masuk dalam penilaian. Begitu juga dengan Rezvan yang bahkan selama satu bulan bersekolah, ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur selama pelajaran. Mereka juga tidak tertarik untuk bergabung.


Jadi diantara mereka, hanya Clara saja yang mendaftar dan terpilih menjadi anggota OSIS. Clara yang ceria dan supel dipilih sebagai anggota sie kegiatan. Dan bulan depan adlaah tugas pertama mereka. Sekolah akan mengadakan study tour. Jadi Clara sibuk akhir-akhir ini untuk membantu perencanaan.


Sebagai dampaknya, Berlian lebih sering sendirian karena Rezvan akan menghabiskan waktu istirahatnya untuk bersembunyi dan tidur entah dimana.


"Boleh duduk?" Berlian mendongak saat mendengar suara asing di depannya. Sepatu hitam yang bersih terlihat berjalan di bawah meja sebelum ia bertemu dengan sepasang mata coklat yang memandangnya hangat.


Di sekolah ini, tidak ada yang tidak mengenal mantan ketua OSIS itu. Begitu juga dengan Berlian yang langsung bisa mengenalnya.


"Hem." Jawab Berlian singkat sebelum kembali fokus pada ponselnya.


Raka duduk di depan Berlian setelah meletakkan semangkuk bakso di atas meja dengan segelas teh dingin sebagai pelengkapnya.


"Kalau makan tidak boleh sambil bermain ponsel." Ucap Raka sambil memasukkan potongan pentol ke dalam mulutnya. Matanya memperhatikan Berlian yang acuh dengan keberadaannya.


"Kenapa tidak ikut bergabung menjadi anggota OSIS?" Tanya Raka lagi meskipun ia sudah diabaikan.


"Tidak ada alasan." Jawab Berlian. Ia tidak ingin berbicara lebih lama lagi dengan pemuda di depannya ini.


"Brily ada yang ingin aku tanyakan padamu. ikut aku sebentar." Rezvan tiba-tiba datang entah dari mana dan menarik tangan Berlian.


"Rezvan! Berlian masih belum selesai makan. Jangan ditarik pergi." Raka melarangnya. Tangannya memegang tangan Rezvan yang memegang tangan Berlian.


"Aku sudah selesai." Berlian yang berkata dan membuat Raka diam.


"Kamu dengar? Lepaskan tanganku!" Ucap Rezvan sengit sambil melepaskan tangan Raka dari tangannya. Lalu ia menarik Berlian tanpa melihat wajah Raka yang kesal.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~

__ADS_1


__ADS_2