
Tempat Berlian di sekap adalah di sebuah pabrik tua yang sudah tidak digunakan selama belasan tahun. Pabrik itu berada di lereng gunung yang sudah lama tidak terjamah. Tumbuhan liar tumbuh di sepanjang jalan. Tidak ada jalan terbuka untuk sampai di tempat itu karena jalanan yang ada juga ditumbuhi rumput dan juga semak-semak yang cukup tinggi. Namun, satu-satunya petunjuk bahwa seseorang atau sekelompok orang ada di dalam area pabrik adalah bekas ban mobil pada rumput dan semak-semak itu yang jelas terlihat.
Johan datang setelah berhasil mendapatkan informasi dari ponsel penjahat itu. Ia segera datang ke lokasi. Ia membawa tiga puluh anak buahnya. Mereka menghentikan mobil mereka agak jauh dari tempat Berlian di sekap. Tetapi baru berjalan beberapa meter, mereka menemukan tiga buah mobil yang terparkir di sana.
Johan memeriksa mobil-mobil itu. Dan mendapati semuanya kosong. Setelah melihat bahwa kunci mobil masih terpasang, Johan mengambil semuanya. Ia berjaga-jaga agar mobil tidak digunakan untuk melarikan diri. Baru setelah itu ia memimpin anak buahnya untuk maju dengan hati-hati.
Sebelumnya Johan penasaran kenapa mobil-mobil itu terparkir cukup jauh dari lokasi. Tetapi saat mereka sudah mendekati tempat itu dan mendengar keributan dari sana, sebuah gagasan muncul dalam pikirannya.
Ada pihak lain yang datang untuk menyelamatkan Berlian!
Menyadari jika gagasan itu Mungkin, Johan mengumpulkan anak buahnya dan meminta mereka untuk mengawasi dan memperhatikan kedua belah pihak yang sedang berkelahi di dalam pabrik. Ia berpesan untuk tidak bergerak sampai semua jelas ada di pihak mana keduanya. Baru setelah memberi petunjuk pada anak buahnya, Johan pergi untuk mencari tahu dimana Berlian disekap untuk menyelamatkannya.
Pabrik memiliki beberapa pintu. Johan memutuskan untuk masuk dari pintu belakang. Saat ia masuk ke dalam pabrik, ia dapat melihat perkelahian yang ada di bagian depan. Melihat mereka, sepertinya mereka tidak imbang dalam jumlah. Tetapi meskipun salah satu pihak sepertinya memiliki sedikit orang, mereka cukup unggul. Mengabaikan semuanya, Johan bergerak hati-hati agar tidak sampai dilihat oleh salah satu pihak.
Johan melihat sebuah pintu usang di ujung pabrik. Di atas pintu itu terdapat tulisan yang menunjukkan bahwa ruangan itu adalah gudang alat kebersihan. Di sebelahnya lagi ada pintu dengan tulisan bahwa itu ruang istirahat. Johan mendekati keduanya hingga ia mendengar suara-suara dari dalam ruang alat kebersihan. Johan menempelkan telinganya di pintu. Saat ia mendengar percakapan di dalam, mata Johan membelalak dan tidak bisa menahan diri untuk mendobrak pintu saat itu juga.
Anak buah Johan masih memperhatikan pertarungan itu terjadi hingga salah satu pihak dapat dikalahkan. Dan itu adalah pihak dengan jumlah orang yang lebih besar. Mereka dikumpulkan di tanah dan diikat dalam kelompok tiga hingga empat orang. Semuanya terluka. Aroma darah menguar dari mereka. Tetapi, pihak yang lain tidak banyak mengalami luka.
Setelah mengawasi cukup lama, anak buah Johan belum bisa menentukan pihak mana yang satu pihak dengan mereka. Jadi mereka hanya diam melihat pertarungan berakhir dengan kemenangan. Mereka segera memasang sikap siaga saat pihak yang menang tiba-tiba saja berjalan ke arah mereka. Anak buah Johan waspada. Mereka telah melihat betapa hebatnya mereka. Jika mereka melawan meskipun jumlah mereka lebih banyak, mereka mungkin masih berada di pihak yang kalah. Sama seperti orang-orang yang telah diikat itu.
Anak buah Johan saling memandang sebelum mereka mengangkat senjata mereka dan bersiap menyerang.
Mereka ketahuan!
"Kami teman. Kalian urus sisanya." Ucap seorang pria muda tampan yang menjadi pemimpin kelompok itu. Anak buah Johan awalnya masih ragu. Tetapi setelah mereka melihat kelompok itu meninggalkan tempat itu satu persatu, mereka menghela napas lega dan bingung saat itu juga. Siapa mereka? Kenapa membantu menyelamatkan Berlian?
Brak!
"Berani sekali kalian!" Teriak Marta kesal. Ia segera membalik tubuhnya namun ia bereaksi terlambat. Saat ia sadar, ia sudah terjatuh di tanah. Di atasnya, seorang pria tampan menindih tubuhnya dan memegang tangannya dengan erat.
Marta tersenyum melihat pria tampan itu. "Kenapa tidak ada yang bilang padaku kalau di sini ada pria tampan?"
__ADS_1
Johan mengernyitkan alisnya saat mendengar ucapan Marta. Johan merasa canggung dengan posisinya. Ia segera berdiri setelah ia mengambil pisau yang digunakan Marta untuk mengancam Berlian. Dan melemparnya jauh.
"Kak Johan jangan lepaskan dia. Dia sangat licik!" Teriak Berlian. Namun sudah terlambat, Marta sudah mengambil pistol yang juga dia sembunyikan di tubuhnya. Mengarahkan pistol itu ke arah keduanya.
"Sayang sekali jika pria tampan sepertimu harus mati di tanganku. Bagaimana kalau kamu ikut denganku? Aku jamin kamu akan senang." Marta memandang Johan dengan senyum menggoda.
Johan tidak punya waktu untuk meladeni omong kosong Marta. Ia melirik Berlian dan melihat kaki Berlian yang terluka.
Berlian tahu jika Johan khawatir padanya. Jadi dia mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Johan mengangguk meskipun ia tahu apa yang dikatakan Berlian hanya untuk menghiburnya. Yang terpenting untuk saat ini adalah membawa Berlian kembali.
"Siapa kamu? Kenapa kamu menculik Berlian?" Johan bertanya pada Marta.
"Itu bukan urusanmu. Tetapi, karena kalian sebentar lagi akan mati, aku akan memberi tahu kalian." Berlian melirik dengan waspada. Dia awalnya ingin tahu siapa orang yang berniat jahat padanya. Tetapi setelah mengetahui semua terjadi karena ia bergabung dengan Deep Line, ia tidak mau sampai Johan mendengarnya.
Marta mengetahui lirikan tajam Berlian yang berharap bahwa ia menutup mulutnya. Ia tertawa kecil melihatnya. "Ooh...bukankah tadi kamu begitu ingin tahu. Kenapa sepertinya sekarang kamu sepertinya melarangku mengatakannya? Apa itu karena kekasih tampanmu ini tidak tahu apa yang kamu lakukan di luar sana?" Marta tersenyum melihat Berlian yang tidak berdaya. Johan melirik Berlian penuh tanda tanya. Ia memiliki banyak pertanyaan untuk Berlian.
"Jangan dengarkan Dia kak! Dia bukan orang baik." Berlian melihat Johan. Ia merasa bersalah.
Melihat Johan tidak bereaksi, Marta pun membuka mulutnya. "Diamond.... Oh maksudku Berlian." Marta menekan kata Berlian dengan sengaja. Melirik Berlian dengan senyum licik di bibirnya. Johan dengan serius mendengarkannya.
"Berlian, kekasih kecilmu ini baru-baru ini telah lancang mengulurkan tangannya pada urusan bosku. Oh tunggu dulu. Apakah kamu tahu kekasihmu ini merupakan salah satu anggota organisasi bawah tanah?" Marta melirik Johan dengan serius. "Sepertinya kamu tidak tahu. Bagaimana sebagai kekasihnya kamu bahkan tidak tahu? Ck ck ck." Marta berdecak sambil menggelengkan kapalanya.
"Ah sudahlah. Aku tidak akan membuang waktu. Jadi bagaimana tampan? Kamu ikut aku saja ya?" Marta tersenyum lebar menatap Johan.
"Dalam mimpimu!" Teriak Johan sambil menendang tangan Marta sehingga pistol di tangannya lepas. Satu tembakan terlepas dan itu hampir mengenai lengan Johan. Berlian menutup matanya dan berteriak.
Marta, bagaimanapun ia sudah berada di sisi Wilson beberapa tahun lamanya. Kemampuan bertarungnya cukup hebat. Ia bisa melawan Johan dengan kosong. Beberapa kali ia berhasil menggores pipi dan tangan Johan dengan kukunya.
Johan sebenarnya tidak melawan wanita. Jadi dia tidak terlalu bersungguh-sungguh melawan wanita itu. Tetapi setelah melihat kemampuan Marta, ia akan mengecualikan wanita jahat seperti Marta. Selain itu, kemampuan Marta juga bagus. Jadi jika wanita itu terluka, itu bukan sepenuhnya salahnya.
Johan meraba pipinya yang perih karena terkena cakaran sebelum ia dengan mudah melawan dan mengalahkan Marta dengan tiga gerakan.
__ADS_1
"Argh! Lepaskan aku bodoh!" Teriak Marta. Johan tidak mendengarkan dan segera mengikat Marta dengan kuat.
Setelah memastikan Marta tidak akan bisa lepas, Johan menghampiri Berlian dan melepaskan tali di tangannya.
"Maaf aku terlambat." Johan mengelus pipi Berlian yang bengkak. Hatinya sakit melihat Berlian terluka. Mata Berlian mulai berkaca-kaca. Ia sudah ingin menangis sejak tadi, tapi ia tahan. Sekarang ada Johan, ia sakit dan juga merasa bersalah pada pria itu.
"Ini bukan salah kak Johan. Ini semua salahku. Aku akan memberi penjelasan yang sesuai." Ucap Berlian. Melihat mata Johan yang dengan tulus menyayanginya, ia merasa bersalah jika ia tidak mengatakan yang sebenarnya padanya Johan.
"Kamu memang harus memberiku penjelasan, tetapi bukan sekarang. Aku akan membawamu pergi dulu dari sini dan mengobati lukamu." Ucap Johan dengan serius. Johan menangkup pipi Berlian. Membuat Berlian tidak jadi menangis.
"Mm. Kak Johan, terima kasih." Berlian mengangguk. Ia tersenyum tulus.
"Itu sudah menjadi tugasku sebagai kekasihmu." Johan mengerlingkan matanya. Berlian Membuka mulutnya tidak percaya.
"Kekasih apa?" Berlian berteriak tidak menyangka klaim sepihak Johan.
"Bukankah kamu tidak mengelak saat wanita ini mengatakan bahwa aku kekasihmu?" Johan menaikkan alisnya. Tersenyum licik memandang Berlian.
"Tapi itu tidak begitu." Berlian mencebikkan bibirnya.
"Kalau aku bilang aku kekasihmu, jadi kekasihmu. Sudah. Aku tidak mau berdebat denganmu lagi. Aku akan melihat keadaan di luar." Johan tidak memberi kesempatan Berlian mengelak. Ia segera berjalan keluar untuk memeriksa keadaan meninggalkan Berlian yang masih bingung. Kenapa masalah ini berkembang menjadi masalah kekasih?
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~
Jangan lupa like, komen dan Vote ya....
__ADS_1