
...Akhirnya setelah bertapa sekian lama, akoh mendapatkan pencerahan dan berhasil mendapatkan ide untuk membuat sekuel cerita ini. Semoga tidak mengecewakan...☺...
...Selamat membaca sezenkquh...😉...
...🐾🐾🐾...
Seorang gadis berseragam abu-abu putih duduk di meja makan. Tangannya mengoles selai blue berry pada permukaan roti tawar. Hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah di sekolah menengah atas. Jadi dia tidak mau terlambat untuk itu karena pasti akan ada hukumannya. Jadi dia tidak menunggu sarapan yang sedang di siapkan oleh mommynya.
Di dapur, mommynya sibuk memasak nasi goreng untuk keluarga kecilnya. Wanita tiga puluh tujuh tahun itu memakai apron di tubuhnya. Tangannya dengan lihai mengaduk nasi yang sudah dibumbui di atas panci penggorengan.
"Sayang.. jam tangan hadiah saat universary kita yang ke lima dimana ya?" Suara seorang pria menggema di seluruh rumah. Gadis berseragam SMA itu melirik sang daddy yang berdiri di ujung tangga.
"Ada di laci lemari. Coba di cari dulu deh." Teriak sang mommy tak kalah kerasnya. Gadis berseragam itu menggelengkan kepalanya. Setiap hari ada saja barang milik daddynya yang hilang dan membutuhkan bantuan mommynya untuk menemukannya. Tapi ia tahu itu hanya alasan daddynya saja untuk membuat mommynya memperhatikannya.
Gadis berseragam itu adalah Berlian. Kedua orang tuanya tentu saja Evelyn dan Sean. Evelyn berhenti bekerja dan memilih fokus menjadi ibu rumah tangga. Pernah merasakan hampir kehilangan nyawanya membuatnya lebih menghargai waktu. Evelyn lebih banyak menghabiskan waktu di rumah untuk mengurus anak-anak dan suaminya. Sedangkan perusahaannya diserahkan pada Carlos. Apalagi Justin sudah resmi berhenti jadi mafia dan fokus pada bisnis keluarga.
Tidak seperti Berlian yang memilih sekolah di Indonesia, Bryan memilih melanjutkan studinya di Texas sambil menekuni hobynya. Awalnya Evelyn melarangnya, tetapi Sean membantu membujuk Evelyn dengan mengatakan jika setiap anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensinya. Evelyn akhirnya mengizinkan dengan syarat Bryan tidak boleh melangkah masuk ke dalam dunia mafia yang dengan susah layah ditinggalkan oleh Maxim dan Justin.
"Sayang jam tanganku belum ketemu." Teriak Sean lagi. Pria itu sudah muncul di ujung tangga. Sylvia yang baru saja melewatinya juga menggelengkan kepalanya. Gadis berseragam merah putih itu hanya mencibir daddynya karena ia lebih bisa mengurus dirinya sendiri dibandingkan dengan sang daddy.
"Makan yang kenyang. Jangan terburu-buru sayang." Evelyn mengelus kepala Berlian dan Sylvia setelah meletakkan mangkuk berisi nasi goreng di atas meja makan.
"Kenapa setiap hari barangnya selalu hilang sih?" Gerutu Evelyn saat ia melihat suaminya dengan kesal.
"Mana aku tahu. Aku juga sudah mencarinya." Jawab Sean mencebikkan bibirnya.
"Huh! Sepertinya kita harus meminta Brily memasang GPS untuk setiap barangmu deh." Sungut Evelyn.
"Jangan libatkan aku mom. Itu hanya akan jadi sia-sia. Daddy saja yang manja." Ucap Berlian yang mendengar usulan Evelyn. Evelyn semakin mengerucutkan bibirnya saat Sean menarikknya ke dalam kamar.
__ADS_1
"Hari ini apa lagi yang hilang kak?" Tanya Sylvia sambil menyendok nasi gorengnya.
"Jam tangan."
"Alasan daddy semakin tidak bermutu." Sylvia mencibir.
"Sudah biarkan mereka. Cepat makan sarapanmu." Berlian mengambil tas punggungnya dan menyambar ponselnya. Ia telah menghabiskan sarapannya. Delembar roti dan segelas susu hangat.
"Mom, Dad, Brily berangkat dulu." Ucap Berlian saat melihat Evelyn dan Sean menuruni tangga sambil bergandengan tangan. Wajah Sean yang penuh kemenangan terlihat jelas di matanya. Berlian berhenti dan menunggu keduanya mendekat.
"Kenapa pagi-pagi sekali sudah berangkat sayang?" Tanya Evelyn.
"Hari ini hari pertama Mom. Aku tidak mau dihukum dengan hukuman yang konyol hanya gara-gara telat." Jawab Berlian.
"Baiklah kalau begitu. Semoga harimu menyenangkan." Senyum Evelyn selalu membuat Berlian bersemangat. Ia kemudian mencium pipi dan memeluk mommynya erat. Evelyn menepuk pundaknya dua kali sebelum Berlian melepaskan dan berganti pada Sean dengan hal yang sama.
"Oke!" Berlian mengangguk dan berbalik dengan cepat. Berjalan ke luar dan menaiki mobil yang akan mengantarnya ke sekolah.
"Selamat pagi nona." Sapa sopir tampan berusia dua puluh tiga tahun bernama Johan itu. Bentley Continental berwarne biru metalic yang dikemudikan Johan adalah hadiah kelulusan Berlian dan akan menjadi mobil yang akan mengantar jemputnya kemanapun mulai saat ini.
"Pagi kak." Berlian melirik sekilas sebelum menundukkan kepalanya dan fokus pada ponsel miliknya. Tidak ada yang mengetahui jika Berlian bergabung dengan sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang IT dimana para Hacker kelas dunia berkumpul di sana.
Johan tidak mengulur waktu dan segera menjalankan mobilnya keluar dari mansion. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Memastikan penumpang nyaman duduk di dalam selama perjalanan.
Setelah perjalanan tiga puluh menit, mobil Berlian berhenti di gerbang sebuah SMA swasta terkenal di kota J.
"Semangat nona." Ucap Johan sebelum Berlian memasang earphone di telinganya. Gadis cantik itu hanya mengangguk sebelum keluar dan berjalan dengan santai ke dalam sekolah.
Tidak aneh bagi Berlian untuk menjadi pusat perhatian. Wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang ideal membuatnya mendapatkan tatapan memuja dari para pemuda dan tatapan iri dari para gadis.
__ADS_1
Wajahnya yang kacil dengan mata berbentuk almond dengan alis yang melengkung dengan tajam dan indah. Dagunya lancip dengan hidung kecil yang lucu. Belum lagi bibirnya yang yang tipis berwarna pink alami lembab. Kulitnya putih kemerahan. Rambut hitam panjangnya terurai ke belakang seperti air terjun yang berkilau. Menjadikan tampilannya cantik dan membuat semua orang tidak akan merasa puas hanya dengan sekali memandangnya. Hingga mereka akan enggan untuk mengalihkan pandangannya darinya.
Berlian sudah terbiasa menjadi pusat perhatian. Jadi dia hanya akan acuh tak acuh dalam menghadapi tatapan-tatapan yang mengarah padanya. Ia berjalan pasti menuju kelasnya tanpa terganggu sedikitpun. Wajahnya yang dingin dan acuh membuat orang akan menilainya menjadi gadis yang sombong.
"Brily..." suara cempreng dari ujung koridor membuat sudut bibirnya sedikit terangkat. Gadis bersuara cempreng ini seperti tercipta untuk melengkapi Berlian. Namanya Clara. Gadis manis yang cerewet ini bahkan bisa mewakilinya untuk berbicara. Dengan dia di sisinya, akan menghilangkan keheningan yang selalu tercipta saat Berlian ada di sana.
Dengan cepat, gadia manis itu sudah berjalan mensejajarkan dirinya dengan Berlian dan meletakkan lengannya di pundak sahabatnya sejak kecil itu. Clara adalah sepupu jauh Berlian dan Bryan. Jadi mereka bertiga tumbuh bersama.
"Dimana Bryan? Apakah dia tidak sekolah di sini?" Tanya Clara setelah ia mengedarkan pandangannya namun tetap tidak menemukan Bryan di sana.
"Tidak. Dia melanjutkan SMA nya di Texas." Jawab Berlian seadanya.
"Untung saja dia tidak satu sekolah lagi dengan kita. Bisa-bisa kejadian selama di SMP akan terulang lagi." Berlian tidak bisa tidak bersyukur dengan itu.
Saudara kembarnya itu memang memiliki ketampanan yang memikat. Apalagi sikapnya yany ramah dan murah senyum itu menjadi daya tarik tersendiri. Selama mereka duduk di bangku SMP, Berlian dan Clara sudah seperti kurir pengantar barang.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~
Hai hai...
Sekuelya akoh jadiin satu aja ya. Ini kisahnya Berlian dalam mengenal cinta pertamanya. Gadis pendiam dan dingin seperti Berlian cocoknya dengan karakter cowok seperti apa ya?
Tulis di kolom komentar 😊
__ADS_1