
Sean dan Soni diarahkan oleh Bryan dan Berlian ke dalam gudang sekolah yang ada di sudut sekolah. Bangunan yang terpisah dari bangunan lain. Kedua bocah itu tidak sengaja menemukan jika gudang itu memiliki kunci yang dapat dengan mudah dibuka dengan menggunakan jepit rambut saat hari pertama mereka datang ke sekolah.
Dan sejak hari itu, gudang itu menjadi tempat favorit keduanya jika mereka menjalankan misi mereka atau sekedar ingin istirahat. Di dalam gudang itu bahkan ada matras yang bisa digunakan untuk berbaring.
Sean dan Soni memperhatikan tempat mereka berada. Bryan dan berlian mempersilahkan mereka duduk di atas kotak kayu yang sepertinya adalah peti barang bekas.
Soni memiliki kesan yang baik pada dua bocah ini pada akhirnya. Ia kini menyadari tujuan sang bos tiba-tiba memintanya untuk membeli saham TK Internasional Matahari tempat kedua bocah yang sedang ia selidiki.
Dua bocah itu cerdas seperti bosnya. Bahkan lebih cerdas. Dan ini membuatnya semakin puas. Mereka bahkan dapat menemukan markas di tempat yang baru mereka datangi.
“Apa yang paman inginkan?” tanya Bryan saat ia dan berlian sudah duduk di seberang dua pria dewasa itu.
“Kami memiliki pertanyaan untuk kalian.” Sean menatap serius dua bocah di depannya. Meskipun ini kali kedua mereka bertemu, Sean sudah mengetahui jika Berlian dan Bryan tidak seperti anak-anak pada umumnya yang masih bocah. Keduanya jelas jauh lebih dewasa dan pintar.
“Oh.. silahkan.” Bryan menanggapinya dengan santai.
“Ehm. Dengan siapa kalian tinggal selama ini? Kenapa identitas kalian sangat misterius?” Sean langsung menanyakan apa yang membuatnya penasaran sejak beberapa hari terakhir.
“Anak buah yang paman perintahkan untuk mencari tahu identitas kami jelas bukan tandingan kami. Mereka masih perlu meningkatkan kemampuan mereka. Untuk itu kami akan berbaik hati memberitahu paman sebagai apresiasi karena telah berhasil menemui kami.” Ucap Berlian serius.
“Nama kami pasti paman sudah tahu. Jadi apa yang ingin paman ketahui mengenai kami?” lanjut Berlian.
“Apakah kalian adalah anakku?”
“Hem...kenapa paman menanyakan hal itu? Apa Paman mencurigai sesuatu?” Bryan menatap Sean tajam.
“Aku rasa kalian adalah anakku dan Evelyn. Kalian bisa melihat sendiri jika ada kemiripan di antara kita. Apakah itu benar?”
“Ho ho paman ternyata tidak terlalu bodoh juga.” Bryan menatap Sean penuh ejekan.
“Ck. Jawab saja pertanyaanku.” Sean berdecak kesal. Anak-anaknya bahkan tidak sungkan untuk mengejeknya tepat di depan matanya. Namun yang membuatnya lebih kesal lagi adalah bahwa ia bahkan tidak bisa membela diri.
“Apakah itu penting?” tanya Berlian sinis.
__ADS_1
“Tentu saja. Selama ini ibu kalian selalu saja menghindariku. Dan itu membuatku frustasi. Jika kalian adalah anakku itu akan menjadi mudah.”
“Huh! Apakah paman berniat menggunakan kami untuk menaklukkan mommy?” Berlian mencibir. Sepertinya dugaannya dan saudaranya meleset. Mereka pikir dengan mereka menemukan Daddy mereka, mereka akan memiliki tameng yang akan melindungi mereka dari mommy mereka, Tidak menyangka jika Sean malah memiliki niat untuk menggunakan mereka sebagai alat.
“Tidak! Bukan begitu maksud Daddy.” Sean buru-buru mengelaknya. Ia sadar jika putrinya tidak senang dengan jawaban yang ia berikan. Ia juga sengaja memberi panggilan untuk dirinya sendiri untuk memberikan kesan baik pada putrinya yang sedang merajuk.
“Lalu?”
“Daddy tahu kesalahan Daddy selama ini yang telah mengabaikan kalian. Daddy sempat mencari kalian saat Daddy sadar jika mommy kalian sedang mengandung, tetapi mommy kalian seperti menghilang tanpa jejak. Jadi Daddy berhenti mencari karena Daddy terlalu sibuk. Sekarang kalian kembali, Daddy ingin menebus kesalahan itu dengan melindungi kalian di masa depan. Jadi, apakah kalian akan membantu Daddy?”
“Jadi apa yang paman ingin kami lakukan?” ucap Bryan setelah ia dan Berlian berdiskusi sebentar.
“Mudah. Hanya berikan paman rambut kalian.” Sean mengeluarkan plastik klip pada kedua anaknya.
“Huft jika bukan karena kami terpaksa, kami tidak akan membantu paman.” Bryan mengambil plastik yang diberikan Sean. Ia menyerahkan satu pada Berlian dan menarik beberapa helai rambutnya dan memasukkannya ke dalam plastik. Begitu juga dengan Evelyn. Setelah memasukkan sample rambut mereka ke dalam plastik mereka segera memberikan plastik tersebut pada Sean.
“Bagus! Kalian memang patut menjadi anak-anak ku!” Sean tersenyum puas. Ia menyerahkan plastik pada Soni setelah ia juga telah memasukkan rambutnya dalam plastik yang berbeda.
“Sekarang bolehkah Daddy memeluk kalian?” Sean merentangkan kedua tangannya. Bersiap menyambut kedua anaknya. Tapi keduanya menggeleng bersama-sama. Ia sangat senang mengetahui jika ia sebenarnya telah memiliki anak-anak yang begitu tampan dan cantik.
“Waktu istirahat kami sebentar lagi akan berakhir. Jika paman tidak ada urusan lain, kami akan segera pergi.”
“Baiklah. Kalian yang rajin belajar.” Sean berkata dengan tulus. Ia tersenyum yang jauh lebih hangat dari pertama kali mereka bertemu.
Bryan dan Berlian segera beranjak dan meninggalkan gudang dengan senyum di bibir mereka.
Sean dan Soni juga pergi setelah itu. Keduanya mengunci kembali pintu gudang dengan gembok besar yang tadi dibuka Berlian menggunakan jepit rambut.
“Kita ke rumah sakit sekarang. Beritahu Rian untuk menyiapkan prosedur tes DNA. Aku mau hari ini juga hasilnya sudah aku terima.” Ucap Sean sambil berjalan meninggalkan lingkungan TK dan masuk ke dalam mobilnya yang segera melaju setelah ia dan Soni masuk.
**
Rian membawa map biru di tangannya. Ia berjalan tergesa-gesa naik ke lantai atas tempat kamar Sean berada. Di belakangnya, pak Burhan juga berjalan cepat mengimbangi langkah dokter muda itu.
__ADS_1
Awalnya ia heran karena Soni memintanya untuk menyiapkan prosedur tes DNA. Tapi setelah ia menerima tiga buah sample rambut dengan nama dua anak yang akan diperiksa bersama dengan rambut milik Sean, Rian segera memeriksa apa yang diminta sahabat sekaligus atasannya itu.
Saat hasil keluar, Rian sempat tidak percaya dengan apa yang dibacanya, ia pun melakukan pengecekan ulang. Namun hasilnya tetap sama.
Akhirnya ia segera ke mansion Kingston untuk melaporkan hasil tes DNA yang diminta Sean.
“Tuan, dokter Rian ada di sini.” Ucap pak Burhan setelah mengetuk pintu kamar Sean.
“Biarkan dia masuk.” Pak Burhan membuka pintu dengan pelan dan masuk ke dalam kamar dengan dokter Rian ikut masuk di belakangnya.
Pak Burhan segera menutup pintu setelah dokter Rian masuk. Ia berdiri dengan tenang di dekat pintu kamar seperti penjaga pintu.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Sean setelah ia duduk dengan menyilangkan kaki kirinya santai.
“Sudah. Lihatlah.” Dokter Rian menyerahkan map berisi hasil DNA ketiga sample yang diperiksanya.
“Sekarang kamu tidak bisa mengelak lagi, honey.” Gumam Sean setelah membaca hasil DNA yang sudah ia duga sebelumnya.
“Siapa ibu mereka Sean?” tanya Rian penasaran.
“Apa itu urusanmu? Jika tidak ada urusan lain pergilah. Jangan mengotori mataku dengan tampan kepomu itu.” Sean melambaikan tangannya mengusir Rian.
Dokter muda itu tidak bisa melakukan apa-apa selain menurut. Ia segera pergi dengan pak Burhan yang mengantarnya sampai di depan pintu.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😘
Kasih Like sesudah membaca itu hukumnya wajib lho! Sudah tahu kan?
__ADS_1
Jadi sebelum lanjut baca tampil jempolnya dulu biar mantab 👍