Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_49. Daniel


__ADS_3

Hari berikutnya mermerupakan hari yang dingin. Tidak ada sapaan hangat seperti biasanya. Johan bahkan memanggil Berlian dengan menggunakan sapaan nona yang canggung seperti orang lain. Dan kali ini, Berlian bahkan mengabaikannya seperti itu tidak ada hubungannya dengannya.


Selama perjalanan ke sekolah, keduanya hanya diam dan fokus pada diri mereka sendiri-sendiri. Berlian dengan  ponsel atau dengan bukunya, sedangkan Johan fokus pada jalan di depannya.


Pun saat Clara menumpang di antara mereka. Keduanya hanya bersuara jika Clara dengan spesifik menyebutkan nama mereka saat dia bertanya.


Clara memandang keduanya bergantian saat ia merasa kesal karena ia merasa bahwa dia yang sejak awal berusaha untuk membuat suasana menjadi lebih hidup.


"Kak Jojo, sebenarnya ada apa sih? Kak Jojo sakit gigi?" Clara mencondongkan tubuhnya ke depan.


"Duduklah yang baik. Bahaya." Johan hanya melirik sekilas tanpa berniat menjawab pertanyaan Clara.


Clara dengan enggan kembali duduk di tempatnya. Melihat Johan yang sepertinya tidak memiliki niat untuk menjawab pertanyaannya, dia menoleh pada Berlian di sampingnya.


"Brily sebenarnya apa yang terjadi?  Kamu dan kak Jojo sakit gigi berjamaah? Apa sariawan?" Clara mengguncang lengan Berlian.


"Tidak apa-apa Cla. Hanya saja aku sedikit lelah." Berlian mencoba tersenyum. Sebenarnya ia sudah tidak tahan dengan Johan yang marah padanya. Ini memang salahnya. Tetapi ia tidak bisa kehilangan sahabat seperti Clara.


"Baiklah. Kalau begitu kamu istirahat saja." Clara menepuk lengan Berlian pelan. Clara melirik saat ia melihat Johan telah menepikan mobilnya.


"Pindahkan ke depan Clara. Temani aku mengobrol." Johan menoleh ke belakang. Tetapi dia tidak repot melihat Berlian yang menutup matanya.


Clara dengan senang hati mengambil tas nya dan pindah ke kursi depan. Ini juga baik untuk memberi Berlian ketenangan untuk beristirahat dengan baik. Selain itu, ia juga bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk lebih dekat dengan Johan. Clara tersenyum saat ia duduk di kursi depan. Menatap Johan yang terlihat lebih tampan saat ia sedang fokus pada jalan di depannya.


Clara mulai berbicara meskipun Johan hanya menanggapinya sekedarnya. Berlian, yang meskipun ia menutup matanya, ia mendengar semua yang dibicarakan keduanya.


"Aku sudah memenuhi janjiku Cla. Aku harap kamu bisa mendapatkan hati kak Johan." Gumam Berlian dalam hati.


"Jika kamu memang ingin aku dekat dengan Clara, aku akan melakukan apa yang kamu inginkan Lian." Ucap Johan dalam hati saat ia melirik Berlian dengan hati yang sakit.

__ADS_1


Berlian sedang duduk di balkon saat ia mendengar suara motor Johan yang baru saja masuk ke halaman. Malam ini Clara meminta Johan untuk menemaninya mencari hadiah untuk sepupunya yang ulang tahun.


Johan melirik ke atas dan matanya bertemu dengan mata Berlian. Ia segera memutusnya dengan memalingkan wajahnya. Ia masih kecewa dengan keputusan yang diambil Berlian.


Clara berada di sisi yang sebaliknya. Dia semakin ceria dari  hari ke hari. Gadis itu semakin bersinar setiap harinya. Gadis Itu setiap hari menceritakan bagaimana perkembangan jalannya mendekati Johan yang ia rasa semakin dekat setiap Harinya. Berlian hanya tersenyum menanggapi dan berkata padanya bahwa ia ikut bahagia mendengarnya.


Rezvan yang menjadi penonton dari samping hanya bisa menggelengkan kepalanya. Melihat orang-orang mengabaikan kebodohannya membuatnya tidak habis pikir.


Sementara itu Daniel juga semakin inten dalam mendekati Berlian. Ini menambah semakin banyaknya gadis yang tidak menyukai Berlian dari waktu ke waktu. Membuat Berlian tiba-tiba dikategorikan sebagai gadis yang paling dibenci di sekolah. Berlian tidak berniat apa-apa selain hanya diam dan mendengarkan orang-orang mengatakan apapun yang mereka inginkan.


"Brily bagaimana kalau aku antar kamu pulang hari ini? Aku juga belum mengunjungi om Sean dan tante Evelyn." Daniel berkata saat mereka sedang makan siang di kantin. Rezvan menoleh dan mencoba mencari tahu perubahan wajah Berlian. Clara dengan semangat memberikan dukungannya. Bagaimanapun ia merasa Daniel juga adalah pemuda yang baik. Dia sudah dapat dipastikan bahwa dia mencintai Berlian dan Berlian pasti akan bahagia jika memiliki kekasih seperti Daniel. Selain itu, dengan menerima Daniel sebagai kekasihnya, itu akan menjadi tamparan keras pada para gadis-gadis yang sering mengolok nya.


"Tidak perlu. Rumah keluargaku juga tidak pindah. Kalau kamu memang ingin menemui mommy dan daddy ku,  kamu bisa datang langsung ke sana."


Namun, penolakan Berlian tidak ada artinya saat tiba-tiba saja mobil yang dikendarai Johan untuk menjemput Berlian tiba-tiba mengalami banyak bocor. Memang ada banyak serentak, tetapi itu membutuhkan waktu untuk menggantinya. Dan saat itu Daniel kebetulan lewat dan menawarkan bantuan.


Daniel dengan senang hati membuka pintu depan dan mempersilahkan Berlian untuk masuk setelah ia mendengar pepenjelasan Johan. Lagipula, Daniel tidak mengetahui betapa canggung nya hubungan antara supir dan majikan itu.


Johan menatap mobil yang melaju cepat meninggalkannya. Ia menghela napas. Butuh keberanian untuk mendorong gadis yang disukainya menghabiskan waktu bersama pemuda lain. Ini menyaksikan. Tetapi ia juga harus berkeras hati agar Berlian mengerti apa yang dirasakan nya.


Sepanjang perjalanan, Daniel terus berbicara. Berusaha untuk menghidupkan suasana antara dananiairinya dan Berlian meskipun pada akhirnya ia tetap gagal.


Daniel tidak akan menyerah. Ia tahu sifat Berlian yang sulit didekati. Jadi dia akan berusaha hingga ia berhasil.


"Sudah sampai. Apa kamu tidak mempersilahkan ku untuk mampir?" Daniel bertanya dengan harap setelah mobil yang dikemudikan Daniel berhenti di depan mobil.


"Kalau mampir silahkan saja." Berlian menjawab dengan malas. "Aku juga masih harus berterima kasih padamu." Berlian melanjutkan saat ia mengambil tasnya dan turun dari dalam mobil. Daniel segera mengikuti dan turun dari mobil sambil tersenyum lebar.


"Bagaimana kalau untuk ucapan terima kasihnya, lebih bermakna dengan menemaniku makan malam malam ini?" Daniel bertanya dengan antusias.

__ADS_1


"Jangan keterlaluan. Cari yang lain." Berlian menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Bagaimana kalau menjadi pacarku saja?" Daniel semakin melebarkan bibirnya.


"Percaya atau tidak, jika kamu masih mengucapkan hal-hal konyol seperti itu, aku akan menendangmu hingga kamu tidak akan berdiri esok hari.


Daniel segera menutup mulutnya dengan patuh. Di TK dulu, mengenai kemampuan beladiri Bryan dan Berlian adalah yang terbaik . Siapa yang tahu bagaimana kemampuan gadis ini setelah sekian lama. Yang pasti tidak akan begitu


Evelyn menyambut baik saat melihat Berlian pulang dengan diantarkan oleh seorang pemuda yang tampan.


"Saya Daniel tante." Daniel dengan sopan memperkenalkan dirinya


"Daniel? Yang itu?" Evelyn tiba-tiba tertawa terbahak-bahak saat mengingat kejadian saat di Tk dulu.


"Benar tante. Bagaimana kabar tante?"


"Baik." Keduanya pun mengobrol dengan akrab. Daniel adalah tipe pemuda yang gampang membaur dan mudah bergaul. Dia bisa menyesuaikan diri dengan mudah saat menghadapi lawan bicaranya. Membuat siapapun betah mengobrol dengannya.


Bahkan Sylvia yang juga sudah pulang dan baru saja turun langsung ikut dalam kegembiraan. Gadis kecil itu memiliki kesan yang bagus mengenai Daniel.


Setelah melihat ini, Berlian segera pamit untuk pergi ke atas untuk berganti pakaian.


*


*


Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~


Jangan lupa like, komen dan Vote ya....

__ADS_1


__ADS_2