
Johan membawa Berlian berjalan-jalan di taman setelah mengetahui jika Berlian tidak ada jam pelajaran di pagi hari hingga siang hari. Mereka duduk di bangku taman menghadap ke kolam ikan di sisi lain taman. Berlian menyadarkan kepalanya di bahu Johan yang sedang membuka laptop dan sedang memeriksa pekerjaannya.
"Aku akan segera pindah ke ibu kota." Ucap Johan dan membuat Berlian mengangkat kepalanya dan menghadap Johan.
Pondasi keluarga Johan ada di tempatnya saat ini. Tidak mudah untuk membawanya pindah begitu saja. Para tetua pasti tidak akan menyetujuinya begitu saja. Berlian memandang Johan dengan sakit.
"Bukankah itu sulit?"
"Tidak juga. Kamu tenang saja. Itu mudah bagiku."
"Eheum. Maaf."
"Untuk apa meminta maaf?"
"Jika bukan karena aku belum siap kamu pasti tidak harus bersusah payah melawan mereka semua."
"Gadis konyol. Justru aku mampu melakukan semua itu karena kamu. Berhentilah berpikiran macam-macam." Johan menarik kepala Berlian dan menyadarkan nya kembali di bahunya. Kemudian meletakkan tangannya di bahu Berlian dan menepuk nya pelan.
"Beri aku waktu sebentar lagi dan aku akan siap." Merasakan kehangatan Johan membuat Berlian terharu.
"Jangan terlalu keras pada dirimu."Johan semakin mengeratkan tangannya di pundak Berlian.
"Tidak. Jika aku tidak berjuang, aku tidak akan merasa pantas untuk kak Johan sampai kapanpun."
"Heh. Kamu tidak perlu melakukan apapun. Kamu sudah sempurna."
"Aku tidak mau menjadi bebanmu. Biarkan aku melakukannya ya?" Berlian mendongak dengan tatapan memohon. Ia tahu Johan tidak akan mempermasalahkan apa yang ada tentangnya, tapi dia tidak boleh menjadi beban bagi Johan dan membuat orang lain merendahkannya.
"Baiklah baiklah. Berhenti menunjukkan tatapan tidak berdaya itu. Aku sudah menyerah. Aku tidak tahan." Johan segera memeluk Berlian yang terkekeh di dadanya. Gadis ini jika sudah memiliki kemauan akan sulit untuk menghentikannya.
"Terima kasih."
Setelah itu mereka hanya duduk diam sambil menikmati kebersamaan hingga Dika yang sejak awal dengan sadar diri menjau dari mereka datang dengan tenang dan berhenti di belakang Johan.
"Ada apa?" Tanya Johan tanpa menoleh.
"Ini mengenai tuan Hardi." Ucap Dika hati-hati.
"Hm."
__ADS_1
"Tuan Hardi pagi ini mengalami serangan jantung dan di bawa ke rumah sakit. Saat ini kondisinya sedang kritis."
"Baik. Aku mengerti. Apa Bryan sudah tahu?"
"Sudah. Tuan Bryan akan pergi ke sana." Johan mengangguk paham. Dika masih diam di tempatnya karena Johan belum menyuruhnya pergi.
"Apa kamu akan pergi mengunjunginya?" Berlian menarik kepalanya dan menatap Johan.
"Ya. Aku akan mengirimmu kembali dulu." Johan mengelus kepala Berlian.
"Tidak. Aku akan ikut."
"Baiklah. Kita pergi ke sana." Dengan itu Johan berdiri dan Berlian mengikutinya. Dika mengikuti di belakang keduanya .
Di Rumah sakit tempat Hardi di rawat, Frengki yang merupakan sekretaris sekaligus orang kepercayaan Hardi menunggu dengan cemas di depan ruang rawat ICU dimana Hardi dirawat di sana.
Keributan datang dari pintu masuk.
"Dimana papa?" Ferry pulang ke rumah setelah ia diusir di perusahaan. Semalam ia tidak pulang dan menginap di hotel setelah menjamu kliennya. Ia hendak menanyakan perihal pengusiran nya pada Hardi tapi papanya tidak berada di rumah.
Pagi-pagi sekali polisi datang untuk menangkap Dian. Putra kedua Hardi dan membuat pria tua itu syok dan pingsan sehingga perasaan pelayan segera mengirim majikan mereka ke rumah sakit. Mereka juga sudah berusaha menghubungi Ferry beberapa kali tetapi Ferry tidak mengangkat telepon mereka. Lalu mereka pun menemukan Frengki untuk mengurus keperluan Hardi.
"Frengki dimana papa?" Ferry menghampiri Frengki yang duduk di kursi tunggu.
"Aku tidak bisa tenang. Aku ingin tahu siapa yang telah mengambil alih perusahaan. Beritahu aku." Ferry memberondong Frengki dengan banyak pertanyaan.
"Itu adalah kuasa tuan Hardi. Saya tidak tahu."
"Kamu bohong. Kamu adalah tangan kanan papa. Papa pasti tidak menyembunyikannya darimu."
"Maaf saya benar-benar tidak tahu." Meskipun ia tahu, ia juga tidak akan memberitahu Ferry. Sebagai orang kepercayaan Hardi yang tinggal lama bersama Hardi, Frengki tahu betul betapa Kecewa nya Hardi pada putranya ini.
Di luar ribut. Hardi yang baru saja sadar mendengar suara anaknya yang familiar dan membuatnya marah. Dokter yang baru saja menanganinya memintanya untuk tenang karena kondisinya masih belum stabil.
Di saat yang bersamaan, Bryan baru saja sampai dan langsung menuju ke ruang ICU dengan Sony yang mengikutinya. Ferry melihat Bryan datang dan menjadi semakin marah. Ia hanya mengetahui jika perusahan diambil alih oleh perusahaan lain tetapi ia tidak tahu perusahaan siapa. Dan sekarang melihat Bryan ia menduga bahwa Bryan lah yang mengambil alih perusahaan yang sudah lama ia inginkan.
"Apakah kamu pelakunya? Kembalikan perusahaanku!" Ferry menerjang seperti orang gila. Pengawal yang dibawa Sony di belakangnya segera menghadang nya. Ferry selain menggila dan berteriak dengan marah.
Pada saat Johan dan Berlian sampai di depan ruang ICU. Pemandangan inilah yang mereka temui. Johan mengangkat alisnya tidak suka. Bagaimana pun ini adalah rumah sakit. Tempat orang sakit butuh ketenangan untuk pemulihan. Sebagai anak dari pasien Ferry bahkan tidak memikirkan kenyamanan orang tuanya. Pantas saja Hardi mengatakan bahwa ia tidak memiliki keturunan.
__ADS_1
Berlian melirik sekilas pria yang pernah bertemu dengannya beberapa kali itu. Saat ini penampilannya berantakan sangat jauh dengan penampilannya beberapa hari Yang lalu.
"Dimana tuan Hardi?" Johan mengabaikan Ferry dan berjalan ke depan.
"Tuan ada di dalam." Frengki menghormati ketiganya. Hardi memintanya untuk menyelesaikan masalah penglihatan kekuasaan itu dan mengenal tiganyaJohan dan Bryan dengan baik. Sekali bertemu ia bahkan bisa menyimpulkan bahwa keduanya lebih baik dari kedua putra Hardi dalam menghormati pria tua itu.
"Bolehkah kami bertemu?"
"Tidak bisa. Dia adalah papaku. Kalian tidak boleh menemuinya. Kalian sudah menghasut papa untuk menyerahkan perusahaanku kan?" Ferry semakin tidak terkendali.
Pintu ruangan terbuka dan seorang perawat keluar dari ruangan. Ferry berbinar saat ia melihatnya berharap bahwa papanya sudah sadar dan memanggilnya masuk.
"Apa di sini ada tuan Johan dan tuan Bryan?" Ferry tampak terkejut.
"Ya kami di sini." Bryan segera maju. Johan da Berlian mengikuti.
"Tuan Hardi ingin bertemu dengan kalian berdua."
"Tidak. Akulah putranya. Kenapa papa malah ingin bertemu dengan mereka?" Ferry tidak terima.
"Maaf tuan. Ini permintaan pasien. Mohon tidak membuat gaduh."
Bryan segera masuk. Johan melangkah dan menggandeng Berlian namun gadis itu menolaknya.
"Aku akan menunggu di sini." Johan memandang Berlian sebentar dan melihat kehangatan dari tatapan mata Berlian dananya segera menyetujuinya.
"Baiklah kamu tunggu di sini." Johan mengelus kepala Berlian sebelum ia berbalik. Tapi Johan berhenti saat uang mengingat sesuatu.
"Kalian bawa dia pergi." Ucap Johan pada para Pengawal.
"Baik."
"Tidak-tidak! Kalian tidak bisa memperlakukan ku seperti ini!" Ferry melawan. Tetapi dibandingkan dengan puluhan Pengawal yang dibawa Bryan dan Johan perlawanannya tidak sepadan. Ferry langsung dibawa ke kantor polisi untuk membantu polisi melakukan pekerjaannya.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~
Jangan lupa like, komen dan Vote ya....