Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_31. Taruhan


__ADS_3

Berlian duduk di depan kanvas dengan lukisan sebuah kursi kosong. Kursi itu di lukisan Berlian tidak memiliki kelebihan apapun dari kursi lainnya. Kursi itu sederhana. Terbuat dari kayu yang dipotong dengan klasik. Bahkan tidak ada sedikitpun ukiran yang terlihat. Hanya kursi polos yang sepertinya hanya dibuat agar bisa digunakan untuk duduk.


Saat ini, Berlian sedang mengikuti ekstra kurikuler seni lukis di sekolahnya. Sejak kecil, Evelyn sering menyuruhnya untuk melukis untuk menemani Bryan yang dihukum. Membuatnya sedikit demi sedikit menyukai seni lukis.


Sekolah mengundang seorang pelukis terkenal untuk mengisi pelajaran. Memberikan guru yang terbaik bagi siswa mereka. Meskipun ekstrakurikuler seni lukis jarang diminati, tetapi yang mengikuti kelasnya memang memiliki minat dan bakat mereka pada bidang ini.


Kecuali tahun ini, mereka menerima satu murid yang sepertinya tersesat di kelas lukis.


Dia adalah Rezvan. Dia berada di kelas lukis dan bukan di kelas basket seperti keahliannya. Di SMP nya dulu, ia adalah idola para gadis karena keahliannya. Dan dia merasa masalah yang mungkin cukup sudah cukup membuatnya kesal. Jadi, sekarang ia menghindari kelas yang sama.


Tetapi, apa yang dilakukan Rezvan di kelas lukis?


Dia tidur!


Ya. Dari awal sampai akhir, pemuda tampan itu akan tidur sepanjang waktu. Semua orang sudah hafal dengan kelakuannya. Gurunya, tuan Gilang sudah tidak lagi heran dan kesal. Ia sudah lama menganggap Rezvan adalah salah satu pajangan yang merupakan salah satu karya seni.


Gilang berdiri di belakang Berlin dan memperhatikan tangannya Berlian yang menari dengan hati-hati di atas kanvas. Memberikan detail-detail pada lukisannya. Mencampurkan warna-warna untuk menghasilkan gradiasi yang ia inginkan. Kursi di drama lukisan tampak hidup.


Ketukan kari di dagu Gilang belum berhenti. Gilang saat itu tengah mencoba mencari tahu apa maksud Berlian menggambar kursi itu.


Hari ini adalah hari pertama ia meminta siswa-siswanya melukis. Pertemuan selama beberapa kali, ia masih menjelaskan tentang materi. Dan hari ini, ia ingin siswa-siswanya melukis sesuatu yang ada di pikirannya.


Gilang percaya, apa yang ada di pikiran seorang siswa itu akan menjelaskan bagaimana Anak itu.


"Kenapa kamu melukis sebuah kursi?" Gilang akhirnya bertanya setelah ia berusaha dan tetap tidak mengetahui apa maksud Berlian dengan lukisannya.


Berlian menghentikan gerakan tangannya dan menoleh pada gurunya. "Tidak ada yang khusus." Jawab Berlian sambil menatap lukisannya dalam.


"Ooh..." Gilang sedikit merasa kecewa. Ia pikir bahwa Berlian memiliki maksud dari dia melukis sebuah kursi. "Lukusannya bagus." Puji Gilang kemudian.

__ADS_1


Bel tidak selesai berbunyi. Berlian dan semua siswa di dalam ruangan membereskan peralatan mereka dan bersiap untuk pulang.  Lukisan hasil kegiatan mereka masih dalam di simpan terlebih dahulu di dalam kelas. Gilang akan memberikan nilainya.


Clara, yang baru saja selesai berlatih cheersleader masih memakai seragaman yang berwarna warni masuk dalam. Ia segera menghampiri Berlian dan melihatnya merapikan mejanya dari peralatan lukis darinya.  


Saat melihat satu sosok tak asing baginya yang tertidur dengan malas di salah satu kursi. Clara menoleh dan berkata Pada Berlian.


"Awalnya aku sudah ragu-ragu. Saat Rezvan berkata bahwa dia akan masuk kelas lukis.  Tidak menyangka jika dia akan menjadikan kelas lukis sebagai kamarnya yang lain.


Berlian mengangguk setuju. "Yah. Begitulah siapa yang akan  menyangka jika dia memang seperti itu."


"Dia tidak menganggap setiap hal di dunia ini. Bahkan dia!


"Sudahlah, tidak ada gunanya."


"Benar." Clara hanya bisa setuju.


"Kenapa aku harus menontonnya? Bukankah kamu tahu bahwa aku tidak menyukainya?"


"Bukankah aku sudah bilang akan mengatur agar kamu bisa membalas dendam pada Vivi?" Clara memicingkan matanya. Ia sudah berpikir keras mengenai bagaimana ia bisa mencapai tujuan dari rencananya. Tapi sekarang Berlian bahkan sudah menolaknya.  


"Aku tahu kamu tidak menyukainya. Tetapi pikirkan saat kamu akan membuat Vivi marah padamu dan menunjukan pada semua orang wajahnya yang sesungguhnya." Ucap Clara menjadi lebih bersemangat.


"Clara, sebenarnya aku sudah melupakan hal itu."


"Tidak bisa! Dia sudah menindas satu minggu ini.  Sebagai sahabatmu, bagaimana aku akan diam saja?" Itu memang benar. Dalam satu minggu belakangan, Vivi dan teman-temannya selalu berusaha untuk memprovokasinya. Banyak cara yang dilakukan Vivi untuk mengganggu Berlian. Usai dengan cara ia merencanakan jebakan untuk temannya itu.  Tapi semuanya gagal.


"Kita yang membalas, belum tentu akan bisa merubahnya. Vivi adalah seorang gadis manja yang akan mendapatkan Keinginannya. Jadi dia tidak akan menyerah dan meminta maaf." Berlian mencoba memberitahu Clara bahwa akan ada orang yang lebih kuat yang akan mmengalahkannya. Yang akan memberinya hukuman yang setimpal dan bisa disadarkan bahwa dia dalam sisi yang salah.  Tetapi, Berlian menelan kembali kata-katanya dan tidak akan membahas masalah ini lagi.


Tetapi dugaan Berlian salah. Vivi yang gemar membuat masalah justru menghadangnya saat kedua gadis itu akan masuk  ke dalam lapangan untuk menonton pertandingan.

__ADS_1


"Kenapa kalian di sini?" Tanya Vivi sengit dengan kedua tangannya melipat di dada. Pakaian yang dikenakan juga berwarna-warni. Seperti milik Clara tetapi berbeda.


Dari seragam yang dikenakan, mereka dapat dibedakan dengan mudah.


Seragam yang dikenakan Clara merupakan seragam yang dikenakan pada siswa yang batu saja bergabung.


"Kami ingin masuk." Clara berusaha melewati dinding dari teman-teman Vivi. Mereka semua tersenyum sinis.


"Sudah peringatkan untuk tidak menampakkan dirimu lagi di depan kak Raka. Dia milikku. "


"Ternyata masalahnya masih sama. Bukankah sudah berkata jika aku tidak berniat untuk berutan denganmu." Berlian menatap Gadis di depannya tidak berdaya. Pikiran para gadis itu indah sudah berkembang terlalu cepat.


"Lalu, kenapa kamu pergi ke sini saat ini. Bukankah itu karena kamu ingin melantik perhatian kak Raka?"


"Tidak. Bagaimana dengan ini, karena kamu selalu berpikir bahwa aku akan berebut denganmu, bagaimana kalau kita wujudkan itu. Kita akan mendekatinya, kita lihat, siapa yang akan berhasil?"


"Oke. Aku setuju. Namun, jika aku yang menang. Aku ingin kamu menyembunyikan dirimu begitu kamu melihatku." Ucap Vivi dengan percaya diri.


"Sebaliknya, jika aku yang menang, jangan lagi menggangguku.  Aku muak!" Berlian berkata sambil berjalan melewati Vivi dan teman-temannya dengan angkuh. Ia bahkan dengan sengaja menyenggol bahu dia diantara yang dia lewati hingga keduanya hampir terjatuh. Clara yang berjalan di belakangnya mengikuti sambil terkekeh mengejek mereka.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~


Maaf tidak bisa membalas satu persatu komentar. Tapi akoh baca kok meskipun sekarang juga jarnag kasih like juga. Sekarang akoh nya sibuk pake banget. Jadi harap maklum kalau tidak bisa up tiap hari. Tapi Akoh tetap usahain yang terbaik untuk kalian para Reader Tercinta. Emmmuaaach

__ADS_1


__ADS_2