
...STOPPPP!!!...
...ADEGAN 21 +...
...YANG TIDAK SUKA SEILAHKAN SCROLL KE BAWAH!...
Sean merebahkan Evelyn di atas ranjang begitu mereka sampai di kamar. Tangannya juga dengan cekatan melepaskan satu persatu kancing kemeja yang ia gunakan sambil menciumi bibir Evelyn dari samping. Perut Evelyn sudah besar. Jadi tidak mungkin baginya untuk menekan perut besar berisi bayi itu.
Setelah semua kancingnya terlepas, dengan gerakan yang sudah sangat ahli kemeja itupun lolos dari tubuh kekarnya. Begitu juga dengan pakaian Evelyn yang sudah ia lempar hingga menyisakan bra dan cellana dalamnya saja.
"Sayang ada yang ingin aku tunjukkan padamu." Evelyn menghentikan bibir Sean yang sedang mencecap leher jenjangnya dengan tangannya. Tiba-tiba ia ingat sesuatu dan ia tidak bisa menunda untuk meberitahu Sean.
"Kita bicarakan nanti saja." Sean tidak menyerah. Ia kembali menggerakkan lidah dan bibirnya. Tangannya juga sudah tidak bisa dikondisikan memutar dan meremas bukit strawberry milik Evelyn.
"Sebentar aah." Evelyn mencoba mempertahankan kesadarannya meskipun nyatanya ia sudah terbuai dalam kenikmatan yang Sean berikan.
"Nanti saja ya." Sean kembali berkata dan menenggelamkan kepalanya diantara dua bukut kembar yang kini kian berisi.
"Ahh Sean nanti dulu." Evelyn benar-benar bekerja keras untuk menghentikan Sean. Mendorong tubuh kekar suaminya untuk menjauh. Dan akhirnya berhasil. Sean pun menjauh dan membantu Evelyn yang kesusahan untuk duduk.
"Ada apa?" Tanya Sean setelah Evelyn duduk. Ia kembali mencuri ciuman di bibir dan pipi Evelyn. Tangannya juga mengelus perut buncit yang terlihat menggemaskan.
"Kamu tunggu di sini." Sean memandangi tubuh setengah telanjang yang terlihat seksi meskipun dengan perut yang besar itu. Evelyn meraih selimut dan melilitkannya pada tubuhnya sebelum berjalan menjauhi Sean.
Evelyn masuk ke dalam kamar ganti dan sebentar kemudian keluar dengan membawa beberapa paper bag di tangannya. Sean mengernyit bingung melihat paper bag yang kini memenuhi ranjang.
"Apa ini?" Tanya Sean heran.
"Lihatlah pakaian ini. Bukankah pakaian ini lucu?" Evelyn mengeluarkan satu pakaian bayi dari dalam paper bag. Merentangkannya di depan Sean. Evelyn juga mengeluarkan pakaian lain dari sana. "Ini juga lucu. Yang ini juga." Mata Evelyn berbinar bahagia saat menunjukkan semua pakaian bayi yang dibelinya pada Sean.
"Ini memang lucu. Tapi sayang, bukankah bayi kita adalah bayi laki-laki. Bagaimana mungkin akan memakai pakaian ini?"
"Siapa yang menjamin hal itu?"
"Tapi dokter sudah berkata seperti itu."
"Bisa saja dokter salah mendiagnosis."
"Tapi kemungkinan besar apa yang dikatakan dokter itu benar."
__ADS_1
"Tapi ini benar-benar lucu. Aku ingin nanti anak kita akan memakainya barang sekali. Mencobanya saja juga tidak apa." Evelyn benar-benar jatuh cinta pada baju-baju bayi itu.
"Baiklah. Kalau begitu juga tidak apa-apa." Sean memasukkan lagi baju-baju kecil itu dengan asal.
"Jangan sembarangan memasukkannya."
"Tidak apa. Nanti aku akan meminta pelayan untuk mencucinya sebelum menyimpannya." Ucap Sena sambil melemparkan semua paper bag ke aras meja.
"Sudah sekarang kita lanjutkan yang tadi. Aku akan memeriksa sendiri apakah ini bayi laki-laki atau perempuan." Sean kembali merebahkan tubuh Evelyn. Menciuminya dan men-cum-bu-nya.
"Apakah kamu bisa?" tanya Evelyn tidak percaya.
"Tentu saja tidak." Sean mengakhiri kalimatnya dengan tertawa. Tentu saja ia tidak akan tahu bagaimanapun ia memeriksanya. Evelyn merengut saat ia sadar bahwa itu hanya akal-akalan Sean.
Tak butuh waktu lama untuk Sean kembali membuat Evelyn tidak bisa menolak sentuhanya. Keduanya pun memghabiskan waktu sore denvmgan olah raga yang menguras tenaga namun mengasikkan.
**
Evelyn berjalan kembali masuk ke dalam mobilnya. Ia baru saja mengantarkan Bryan dan Berlian ke sekolah. Pagi ini Evelyn memiliki jadwal untuk memeriksakan kandungannya. Mona selalu mengikutinya di belakang. Asisten sekaligus bodyguard itu dengan segera membukakan pintu untuk Evelyn begitu mereka sampai di depan mobil. Mona menutup pintu dengan perlahan. Lalu ia memutari mobil dan masuk dari pintu kemudi.
"Kita langsung ke rumah sakit nyonya?" Tanya Mona.
"Baik." Mona mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke vila.
Evelyn memandang ke luar. Pemandangan yang mulai akrab untuknya. Jalanan yang ramai. Berbagai aktifitas warga selalu menjadi pemandangan yang biasa disaksikan. Pemandangan mulai berubah menjadi sedikit hijau di sekitar. Bukan lagi pemandangan gedung pencakar langit dimanapun mata memandang. Itu menandakan jika mereka akan segera tiba di vila.
"Mona hentikan mobilnya sekarang." Perintah Evelyn tiba-tiba.
Mona dengan perlahan menepikan mobilnya. "Ada apa nyonya?" Mona menoleh ke belakang dan bertanya.
"Aku ingin membeli jajanan yang dijual di sana." Evelyn menunjuk penjual kaki lima di depan sebuah Sekolah Dasar yang sedang dikerumuni anak-anak.
"Apa nyonya yakin?"
"Apa itu?" Tanya Evelyn. Ia tidak tahu apa yang dinual di sana. Tapi melihat banyak anak kecil yang mengantri itu membuatnya juga ingin merasakannya.
"Itu telur gulung nyonya."
"Apa makanan terbuat dari telur?"
__ADS_1
"Iya. Telur dikocok dan dimasak di minyak yang panas lalu diberi bihun. Kalau sudah matang digulung menggunakan tusuk bambu lalu ditaburi bumbu di atasnya." Jelas Mona.
"Bumbu apa?"
"Ada dua macam bumbu. Ada yang pedas dan tidak pedas. Yang tidak pedas juga ada bermacam-macam rasa."
"Aku ingin beli." Evelyn hendak membuka pintu mobil tapi dicegah oleh Mona.
"Biarkan saya yang membelikannya nyonya. Di sana banyak anak kecil. takutnya nyonya didorong dan jatuh nanti." Dan jika nyonya yang jatuh yang berada dalam bahaya adalah aku. Namun kalimat itu hanya bisa ia lanjutkan di dalam hatinya.
"Baiklah kalau begitu. Kamu belikan macam-macam rasa ya." Evelyn mengulurkan uang seratus ribuan. Mona menerimanya dan segera keluar. Sebelum keluar, ia memperingatkan Evelyn untuk tidak keluar dan menunggu dengan tenang di dalam mobil. Mona juga mengingatkan jika ia mungkin akan keluar agak lama melihat antrian anak-anak yang cukup panjang.
"Iya. Kamu tenang saja. Aku akan menunggu dengan tenang di sini." Jawab Evelyn sambil menganggukkan kepalanya. Namun baru sepuluh menit berlalu, Evelyn sudah merasa tidak sabar.
"Apakah masih lama?" Tanya Evelyn dari dalam mobil. Kepalanya keluar dari jendela.
"Sebentar nyonya. Masih dibumbui." Jawab Mona sambil tersenyum. Mona kembali fokus pada pesanannya. Ia mengintruksikan penjual agar tidak salah dalam membuatkan pesanan nyonyanya. Mona memberikan uangnya.
"Uangnya besar. Saya tidak ada kembaliannya." Ucap penjual itu.
"Oh. Kalau begitu buat bapak saja ya."
"Tapi ini terlalu banyak."
"Tidak perlu menolak. Ini rezeki bapak. Ini pemberian nyonya saya."
"Baiklah. Saya akan mendoakan supaya nyonya mbak selalu bahagia.
"Aamiin." Tepat ketika Mona selesai berkata, suara yang keras beserta suara teriakan yang sangat ia kenal terdengar.
Mona menoleh. Telur gulung yang dibawanya ia jatuhkan dan segera berlari menghampiri Evelyn yang terjatuh di tanah dengan darah yang keluar dari hidung dan mulutnya. Dan Mona semakin panik saat melihat dari bagian bawah Evelyn mengeluarkan banyak darah.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ☺
__ADS_1