Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_71. Karma


__ADS_3

Semenjak Evelyn hamil, wanita itu sudah tidak lagi pergi ke kantor. Meskipun sebenarnya tidak akan apa-apa jika ia tetap pergi, tetapi Sean dan Maxim melarangnya untuk pergi dan bekerja. Mereka khawatir jika terjadi sesuatu pada Evelyn dan kandungannya. Urusan kantor diserahkan kepada Carlos sepenuhnya seperti sebenlumnya. Semenjak itu, Evelyn hanya menjadi ibu rumah tangga yang kerjanya menunggu anak dan suami pulang. Sesekali ia akan jalan-jalan ke mall atau pergi mengujungi Maxim dan Laura.


Pagi ini Evelyn pergi ke mall untuk membeli beberapa baju untuknya karena baju-baju yang tidak lama dibelinya sudah banyak yang tidak muat lagi. Setiap hari usia kandungannya bertambah. Begitu juga perutnya juga semakin besar. Lengan, paha, dan semua anggota tubuhnya juga semakin besar dan berisi. Bahkan semua sepatu miliknya tidak ada yang muat karena kedua kakinya bengkak. Usia kandungannya sudah delapan bulan.


Saat dia tengah duduk beristirahat karena kakinya yang terasa pegal, Sean yang kebetulan selesai meeting di mall yang sama dengan istrinya melihatnya dan segera menghampirinya.


Evelyn terkejut saat mendengar Mona, asisten sekaligus bodyguardnya menyapa Sean.


"Kenapa kamu ada di sini sayang?" Evelyn segera menggeser duduknya agar suaminya bisa duduk. Evelyn sudah terbiasa memanggil Sean dengan panggilan sayang.


"Tadi ada meeting di sini. Kamu itu sudah hamil besar. Masih saja berkeliaran."


"Aku bosan di rumah. Lagi pula baju-bajuku sudah tidak muat. Lihatlah kakiku juga tambah gendut. Aku hanya bisa pakai sendal." Keluh Evelyn menatap kakinya.


"Hahaha. Bisa gitu ya jari kaki kamu. Kayak sosis." Sean yang melihat kaki Evelyn tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak mengejek sang istri.


"Jahat kamu!" Evelyn memukul lengan Sean keras. Mengabaikan suaminya yang mengaduh meskipun asilnya tidak sakit sedikitpun.


"Mona ayo kita pulang." Evelyn mengambil tas tangannya dan memerintahkan Mona untuk membawa belanjaannya.


"Sampai jumpa di rumah sayang." Teriak Sean saat melihat Evelyn yang berjalan pelan menjauhinya sambil memegang belakang perutnya yang pegal.  Evelyn mengabaikannya. Bahkan mendengus kesal. Wanita mana yang tidak akan marah jika suaminya mengatakan jika jari kakinya seperti sosis?


"Jaga nyonyamu baik-baik. Kalau dia mau pergi lagi larang sebisamu. Kalau tidak bisa kamu kabari aku atau Soni. Jika ada kejadian seperti ini lain kali, aku akan memecatmu." Sean berkata pada Mona.


"Baik tuan. Maaf atas keteledoran saya. Saya berjanji tidak tidak akan ada lain kali." Mona membungkukkan tubuhnya.


"Jangan hanya berjanji. Tapi buktikan." Mona mengangguk cepat. "Cepat susul nyonyamu sebelum dia marah-marah. Langsung pulang." lanjut Sean.


"Baik tuan. Permisi." Mona membungkuk lagi sebelum ia berlari kecil mengejar Evelyn.


Sean menghela napas. Istrinya ini sulit sekali disuruh diam di rumah. Kandungan Evelyn sudah besar. Pasti membuat wanita itu mudah lelah. Tapi masih saja bersikeras melakukan banyak hal.


Setiap pagi, jika Sean tidak mengurung Evelyn di kamar, wanita itu pasti sudah sibuk di dapur membuat banyak sekali masakan. Tidak masalah jika ia hanya membuat untuk keluarga kecilnya saja. Tetapi Evelyn memasak sangat banyak makanan untuk semua orang di mansion miliknya yang berpenghuni setidaknya hampir tiga puluh orang.


Sejak usia kandungan Evelyn memasuki tujuh bulan, Sean tidak pernah lagi lembur kerja. Paling lambat jam tujuh malam laki-laki itu sudah berada di rumah. Ia benar-benar menunjukkan bahwa dia ingin menebus masa dimana Evelyn mengandung Bryan dan Berlian yang tanpa kehadirannya. Ia juga selalu menemani Evelyn untuk periksa dan menjalani senam hamilnya.

__ADS_1


Berlian dan juga Bryan juga selalu menemani Evelyn jika mereka berdua pulang sekolah. Mereka selalu berada di sekitar Evelyn. Tawa canda di mansion besar itu selalu menular pada semua penghuninya. Pak Burhan yang sudah mengikuti Sean sejak bertahun-tahun selalu bersyukur untuk itu.


Tapi malam ini, suasana sedikit mencekam. Evelyn sudah melipat wajahnya sejak sore tadi. Bryan dan Berlian bahkan tidak berani mengganggunya. Merkea memilih jalan aman dengan duduk diam menemani sambil mengerjakan PR mereka di depan televisi.


Sean yang akan duduk di sampingnya juga segera diusirnya. Dan bibir Evelyn semakin mengerucut setelah Sean bergabung.


Evelyn berdiri. Sean ingin membantu tapi berhenti saat mendapatkan pelototan darinya.


"Kamu kenapa sih sayang? Aneh sekali malam ini."


"Jangan dekat-dekat dengan wanita dengan jari sosis." Sungut Evelyn sebelum menghempaskan tangan Sean yang memegangnya. Lalu Evelyn segera meninggalkannya menuju kamar mereka.


Bryan dan Berlian saling menatap lalu memandang penuh selidik pada Daddy mereka.


"Kenapa kalian menatap Daddy seperti itu?" Tanya Sean yang merasa tatapan kedua anaknya ini seperti menginterogasinya.


"Apa yang daddy lakukan pada mommy?"


"Tidak ada. Kalian juga tahu kan daddy baru pulang." Sean tidak terima jika dituduh ialah yang menjadi penyebab suasana hati Evelyn yang sedang buruk.


"Lalu kenapa mommy berkata tentang jari sosis?" Berlian memicingkan matanya menatap tajam Sean.


"Dan daddy berkata seperti itu pada mommy?" Berlian bertanya dengan tidak percaya.


"Tentu saja. Itu kenyataanya." Berlian menatap Daddynya tidak percaya. Bagaimana seorang laki-laki dewasa seperti daddynya ini tidak mengetahui hal penting seperti ini?


"Kenapa menatap daddy seperti itu?" Tanya Sean semakin bingung.


"Benar saja mommy marah. Daddy menyentuh batas kesabaran mommy." Bryan berkata tanpa daya.


"Batas kesabaran apa?"


"Apa daddy tidak tahu jika menyinggung kekirangan tubuh wanita adalah batas kesabarannya?" Berlian berkata dengan serius. "Daddy sudah mengatai jari mommy seperti sosis. Itu sangat kejam dad. Apa daddy berpikir sebelum mengatakanya jika mommy jadi seperti itu karena ulah daddy?" Lanjutnya.


"Daddy benar-benar tidak tahu."

__ADS_1


"Ya sudah tunggu apa lagi dad? Cepat susul dan bujuk mommy. Jangan sampai kami juga kena imbasmya." Bryan benar. Sean harus segera menenangkan Evelyn yang tengah emosi padanya. Selama ini Sean tidak pernah berpikir jika apa yang dikatakan akan menyakiti orang lain. Jadi ia terbiasa mengatakan apa yang ada di pikirannya.


Sean segera meninggalkan Bryan dan Berlian setelah mencium kedua anaknya itu. Lalu pergi menyusul Evelyn ke kamar mereka.


Evelyn masih bangun saat Sean masuk ke dalam kamar. Namun ia segera memejamkan matanya saat Sean naik ke atas ranjang. Ia sungguh kesal pada Sean.


"Sayang maafkan aku ya." Sean melingkarkan tangannya di perut besar Evelyn. Mengelusnya perlahan hingga membuat Evelyn merasa geli. Wanita itu menghempaskan tangan Sean dengan tangannya.


"Sayang maafkan aku. Aku tahu aku salah." Sean kembali melingkarkan tangannya di perut Evely. Bibirnya juga menciumi leher belakang Evelyn.


"Hentikan Sean. Aku masih marah." Evelyn menjauhkan kepalanya. Menggerakkan tunuhnya dengan susah payah menjauhi Sean.


"Sayang jangan seperti itu. Aku mohon maafkan aku. Aku seharusnya tidak mengatai jari kakimu..." Sean segera menutup mulutnya saat ia sadar bahwa ia kembali melakukan kesalahan.


"Pergi sana. Jangan ganggu aku. Aku mau tidur." Evelyn menarik selimutnya. Menutupi tubuhnya hingga menyisakan kepalanya.


"Sayang, aku kangen. Adiknya si kembar pengen ditengokin daddynya." Sean kembali mendekat. Memeluk Evelyn dari belakang.


"Pergi atau mau aku tendang?" Evelyn berkata dengan nada rendah.


"Baiklah. Aku akan pergi. Kamu tenangkan dirimu dulu. Aku tahu aku salah. Aku benar-benar minta maaf."


"Pergiiii!"


"Iya iya." Sean dengan cepat turun dari ranjang dan keluar dari kamar. Menutup pintu dengan hati-hati. Lalu menghela napas pasrah malam ini ia harus tidur tanpa memeluk Evelyn.


"Diusir Dad?" Sean menoleh dan mendapati Berlian dan Bryan menahan tawa mereka.


"Sepertinya kalian sangat senang melihat daddy menderita seperti ini?"


"Ahahaha. Itu namanya karma dad. Semenjak daddy menikahi mommy, kami tidak pernah daddy biarkan tidur sama mommy." Berlian mengangguk mengiyakan ucapan Bryan. Memang semenjak kedua orang tuanya menikah, Sean selalu memonopoli Evelyn untuk dirinya sendiri. Bahkan saat mereka baru diculik saat itupun Sean tidak membiarkan mereka tidur bersama Evelyn.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah mampir 😊


__ADS_2