
Tak terasa sudah satu minggu Sean dan Evelyn menikah. Evelyn dan si kembar juga sudah diboyong Sean ke rumahnya. Dan hari ini adalah hari pertama mereka menjalani kehidupan normal setelah benar-benar menjadi keluarga.
Pagi ini, Evelyn, Bryan dan Berlian berada dalam satu mobil. Sean akan mengantarkan kedua anaknya untuk pergi ke sekolah untuk pertama kalinya. Kedua anak itu juga baru masuk hari ini. Mereka juga ikut libur sama seperti kedua orang tua mereka.
Suasana hati kedua bocah cilik itu sangat baik hari ini. Keduanya bersenandung riang sepanjang perjalanan. Evelyn dan Sean juga bahagia. Kedua orang itu juga tersenyum dan sesekali ikut menirukan lagu yang diputar di dalam mobil mereka.
"Dad, nanti antar sampai depan kelas ya." Ucap Bryan tiba-tiba saat musik brrhenti.
"Kenapa?" Evelyn bertanya heran menoleh ke belakang.
"Tidak apa-apa." jawab Bryan sedikit ragu sambil tersenyum paksa.
"Ada apa? Bicara sama Daddy." Sean melirik sari spion tengah. Melihat raut wajah Bryan yang berubah seketika saat menjawab membuatnya menduga pasti ada sesuatu.
"Brily sayang apa yang kalian rencanakan?" Evelyn akhirnya hanya bisa bertanya pada putrinya ini setelah melihat Bryan yang trrsenyum mencurigakan.
"Bryan ingin memamerkan Daddy pada Daniel Mom." adu Berlian yang langsung membuatnya mendapatkan cubitan maut sari saudara kembarnya.
"Auch! Sakit Bry!" keluh Berlian sambil mengusap tangannya yang memerah karen cubitan itu.
"Kenapa mengadu?"
"Kamu yang kekanak-kanakan. Kenapa menyalahkan aku?" Berlian tidak terima disalahkan. Bibirnya mengerucut dan matanya menatap sinis Bryan di sampingnya.
Bryan dan dirinya sama-sama lahir di waktu yang sama. Kenapa saudaranya ini begitu kekanakan hingga memiliki niat untuk memamerkan daddy mereka pada Daniel. Semalam saat Bryan mengatakan niatnya ini padanya ia sudah melarangnya. Mengatakan bahwa itu sama sekali tidak akan ada gunanya. Tetapi Bryan keras kepala dan masih tetap berniat untuk melakukan hal yang menurutnya sangat konyol itu.
Mengetahui Bryan sampai saat ini masih memiliki niat seperti itu dia bahkan rela ikut bernyanyi bersamanya. Padahal ia tidak begitu suka bernyanyi. Berharap saudaranya itu melupakan niatnya dan hari ini berjalan lancar tanpa ia harus mendengar dan melihat perdebatan konyol dua bocah kecil menyebalkan di depan matanya.
Tapi apa yang dilakukan Bryan? Dia masih malah sudah melaksanakan seperti rencana awalnya. Berlian mendengus. Dan hanya bisa mengatakan alasan sebenarnya saat Evelyn bertanya padanya.
Jika Evelyn bertanya, yang ditanya harus menjawab. Jika tidak, wanita cantik itu akan marah. Semua orang tahu itu. Berlian juga tidak mungkin berbohong. Jadi ini bukan salahnya.
"Daniel pria kecil itu?" Sean mengerutkan alisnya.
"Iya Dad. Dia selalu berkata bahwa aku tidak punya daddy. Sedangkan dia memiliki papa yang hebat. Sebelumnya aku tidak bisa mengelak dan menerima ejekannya. Tapi sekarang sudah berbeda. Aku memiliki Daddy, Jadi aku akan mengalahkannya kali ini." ucap Bryan semangat.
"Itu tidak perlu Bry. Kamu ini kekanak-kanakan. Tidak perlu pamer seperti itu. Semua orang tua itu paling hebat. Tidak perlu membandingkan satu dengan yang lainnya. Bertemanlah dengan akur." Evelyn memberu putranya nasihat. Sifat suka pamer ini tidak bisa dibiarkan. Bryan harus diberi pengertian sejak awal.
Tapi Sean tidak sependapat dengan Evelyn dalam hal ini. Dia adalah seorang laki-laki. Sama seperti Bryan. Dan ia merasa sedikit pamer tidak masalah. Ini bukan hanya tentang masalah pamer yang sederhana. Tetapi menyangkut harga dirinya yang tidak bisa merasa kalah.
"Tidak masalah. Daddy akan mengantarmu, oke? Bukankah hanya mengantar saja. Itu tidak masalah." Sean tidak ingin menyinggung Evelyn secara terang-terangan. Jadi dia hanya bisa memilih kata-kata yang tidak menentang istrinya.
"Jangan terlalu memanjakannya Sean." Evelyn tidak senang seseorang mencampuri urusannya dalam mendidik anak-anaknya. Tapi Sean juga adalah daddy ana-anak itu. Jadi sedikit banyak ia memiliki hak untuk mendidik dua anak itu.
"Aku tidak memanjakannya sayang. Hanya saja aku juga ingin tahu du tempat seperti apa mereka bersekolah." jawab Sean setelah memikirkan alasan yang lebih masuk akal.
"Lalu apakah jika kamu mengetahui ada yang kurang nyaman kamu akan memberikan dana untuk membuatnya nyaman?" Evelyn mencibir. Ia tahu niat asli Sean.
"Eh..." Sean tidak tahu harus berkata apa. Evelyn tidak tahu bahkan dirinya sudah ikut menjadi salah satu donatur dan memiliki pengaruh besar di sekolah tersebut.
"Ah! Lihatlah kita sudah sampai. Ayo turun." Sean segera berkata setelah mematikan mesin mobilnya. Ia juga segera turun dan membuka pintu belakang. Menggandeng Bryan keluar dari dalam mobil. Evelyn dan Berlian saking berpandangan sebelum keduanya juga keluar dari dalam mobil.
"Mengapa mereka berdua begitu mirip?" gumam Evelyn yang melihat dua sosok di depannya.
Satu pria besar dan satu pria kecil. Kedua sosok itu berjalan dengan angkuh dengan gaya yang sama. Tanpa melihat wajah mereka sudah dapat menebak jika keduanya memiliki wajah arogan yang menyebalkan. Kelihatan tampan dan menawan. Seketika hatinya masam.
__ADS_1
"Kenapa mommy masih bertanya? Bukankah itu karena mereka adalah ayah dan anak? Apa mommy lupa?" Berlian yang berjalan di samping Evelyn mendongak ke samping dan mengedipkan matanya dengan lucu.
"Kamu benar. Seminggu hidup bersama daddymu mungkin aku ketularan sifat konyolnya juga." sudut bibir Evelyn berkedut.
Ternyata setelah sampai di depan kelas, bukan hanya mereka berdua yang mengantar anak mereka sampai di depan kelas. Banyak orang tua lain yang melakukan hal sama. Sekarang Evelun mengerti mengapa Bryan meminta Sean mengantarnya. Pasti karena hal ini.
Selama ini, Evelyn bahkan belum pernah sekalipun mengantarkan Bryan dan Berlian ke sekolah. Jadi dia tidak tahu apa-apa. Ia pun memandang kedua anaknya dengan perasaan bersalah.
"Maaf, selama ini Mommy tidak menjadi ibu yang baik untuk kalian. Mommy bahkan tidak pernah mengantar kalian." Evelyn memeluk kedua anaknya.
"Mommy tidak boleh berkata seperti itu. Mommy adalah ibu terhebat yang pernah ada." Berlian mengerti Evelyn pasti sangat merasa bersalah. Ini juga bukan kesalahan mommynya. Mommynya sibuk. Tidak seperti orang lain yang memiliki waktu luang. Mommynya hebat.
"Mom, kami tidak apa-apa tidak diantar mommy. Kami sudah besar." Bryan berkata dengan bangga. Membusungkan dadanya.
"Sekarang kamu mengerti? Semua orang tua tidak bisa dibandingkan." tiba-tiba Evelyn mengubah gaya bicaranya dan menatap Bryan dengan serius.
Bryan mengangguk paham. "Aku mengerti Mom." ucapnya cepat. Ia segera beralih menatap Sean yang kini mengerti maksud Evelyn sebenarnya. "Dad, aku sudah tidaj apa-apa. Daddy pergilah. Daddy sudah tidak ke kantor satu minggu ini. Pasti pekerjaan daddy menumpuk sekarang."
"Putra daddy sudah dewasa. Baiklah. Daddy dan mommy pergi dulu. Kalian belajarlah yang rajin." Sean mengelus kepala Bryan sebelum memeluk Bryan dan Berlian bergantian. Evelyn juga seperti itu sebelum ia menarik tangan Sean untuk segera pergi.
"Sayang kenapa terburu-buru menarikku seperti itu?" tanya Sean setelah sudah keluar dari koridor dan berjalan di halaman parkir.
"Kenapa? Kamu tidak terima?" Sean mengernyit saat mendengar nada bicara Evelyn yang tiba-tiba kasar dan wajahnya yang terlihat masam.
"Kenapa aku tidak terima?" Sean segera bertanya.
"Bukankah kamu sangat menikmati tatapan memuja tadi?" sindir Evelyn melirik Sean yang semakin bingung.
"Tatapan memuja apa?"
"Oh!" Sean akhirnya paham apa yang dimaksud istrinya. "Aku tidak begitu sayang." lanjutnya. Ia segera mempercepat langkahnya san mengejar Evelyn yang berjalan jauh meninggalkannya.
"Terserah!" Evelyn mengabaikan Sean yang terus memanggilnya. Ia masih kesal mengingat tatapan para wanita itu saat menatap suaminya.
"Sayang apa kamu cemburu? Tapi aku benar-benar tidak menyukainya. Aku hanya akan menyukai jika kamu yang menatapku dengan tatapan memuja."
"Aku tidak cemburu!" Evelyn mencibir. Ia segera membuka pintu mobil, masuk dan menutupnya dengan keras.
Sean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia berkata jujur. Ia selalu menjadi lusat perhatian di manapun ia berada. Jadi dia sudah terbiasa dan tidak menganggap penting pandangan orang padanya. Jadi ia benar-benar tidak menduga jika istrinya bahkan akan mempermasalahkan hal ini.
*
*
*
Terima kasih masih setia π
Maaf lama tidak up. Hpnya akoh habis maen drama.
Boleh dibaca...
Buat pelajaran dan berbagi pengalaman π
Cerita awalnya karena terburu-buru jadi hp ikut masuk ke dalam bak cucian yang sudah dikasih sabun.
__ADS_1
Terus layarnya jadi buram kan....
Sama suami akoh akhirnya diletakin di atas magic com. Udah mendingan buramnya.
Jadinya berpikir biar cepat ilang airnya akhirnya dijemur.
Eh...dua jam setelahnya malah layarnya jadi warna kuning.
Bingung kan?
Akoh udah frustasi. Hp akoh kasihkan suami buat dibawa ke konter.
Siapa yang menyangka jika pagi hari selanjutnya tepat pukul delapan waktunya alarm yg akoh pasang bunyi.
Tahu kan jadinya kalo hpnya masih ada di rumah.
Dari suaranya akoh cari di kamar. Tidak ada.
Akoh keluar kamar. Kok kayak ada di dekat situ ya...
Di depan kamar akoh ada kulkas.
Akoh curiga dan buka kulkasnya.
Ya Salaaam....
Akoh tepuk jidat!
Hp akoh chek in dalam freezer semalaman!
Hitam dah itu layar....
Gelap segelap hati akoh....
Mau nangis tapi udah gede π’
Mau teriak tapi malu sama tetangga π―
Mau beli baru tapi nggak ada dananya π
Akhirnya akoh hanya bisa
ambil napas dalam2 π€
hembuskan π₯
ambil napasπ€
hembuskan π₯
Ambil napas π€
Hampir seminggu pake hp jadul. Sama aja kayak nggak pegang hp π΅
HAMPA!!!!β¦????π§π©π£πππ«ππ΅π³
__ADS_1