
Bryan berjalan dengan angkuh diantara banyak gadis cilik seusianya. Berlian berjalan tak jauh dari gerombolan itu. Ia menatap jengah para gadis yang menurutnya tidak masuk akal. Gadis-gafis cilik itu adalah sebagian dari penggemar Bryan. Sebenarnya Berlian juga memiliki penggemar. Banyak pria kecil yang mencoba mendekatinya. Namun dengan tegas ditolak olehnya.
Saat ini jam sekolah sudah selesai. Mereka sudah bersiap untuk pulang. Siswa siswi berjalan keluar dari bangunan sekolah ke area depan sekolah untuk menemui jemputan mereka.
Namun keadaan yang tidak kondusif terjadi. Dari arah gerbang seorang laki-laki dengan penutup kepala menodongkan sebuah pistol pada semua orang yang dilaluinya. Di belakangnya dua orang polisi sedang mengejarnya.
Suasana seketika menjadi ramai. Semua orang panik menyelamatkan diri. Para orang tua menyembunyikan anak mereka. Menghalangi mereka dari seorang yang jelas-jelas adalah bahaya yang mengancam.
Saat seorang anak perempuan menangis seorang diri di tengah kekacauan, laki-laki dengan pistol itu memanfaatkan keadaan dengan cepat menghampirinya. Menodongkan mata pistolnya di pelipis kanan anak itu. Sedangkan tangab kirinya melingkar di depan dada anak itu.
"Jangan mendekat!" Teriak orang itu.
Sebelumnya, di sebuah bank tak jauh dari sekolah terjadi kasus perampokan. Lima orang laki-laki berpakaian serba hitam mengenakan penutup kepala dengan dua orang yang membawa pistol masuk untuk merampok bank itu. Sedangkan satu lainnya menunggu di mobil yang diparkir di depan bank.
Pada saat mereka sudah hampir berhasil keluar dari bank dan masuk ke dalam mobil, polisi sudah datang dan segera beraksi untuk menangkap. Karena panik, tiga orang yang sudah berhasil masuk ke dalam mobil menutup pintu dan segera melarikan diri. Meninggalkan dua orang lainnya.
Dua orang yang tertinggal segera berlari berlawanan arah dengan kencang menghindari polisi. Sedangkan polisi segera membagi diri menjadi tiga kelompok. Dua orang polisi kembali ke mobil dan mengejar mobil perampok. Dua lagi mengejar satu perampok yang melarikan diri ke arah yang berlawanan dengan rekannya. Dan satu perampok yang terakhir melarikan diri ke arah sekolah Bryan dan Berlian.
Semua orang semakin panik melihat perampok itu mendapatkan sanderanya. Apalagi sanderanya adalah seorang bocah perempuan yang masih kecil.
Polisi segera menurunkan pistolnya. Perampok itu mengancam akan menembak anak itu jika polisi bertindak.
"Lepaskan sandera. Hukumanmu akan diringankan." Kata seorang polisi.
"Tidak! Aku tidak bodoh. Siapa yang akan menjamin kalian akan melepaskanku jika aku melepaskan anak ini. Aku juga tidak bodoh hingga ingin dihukum. Kalian siapkan mobil untukku melarikan diri!" Teriaknya pada orang-orang di sekitar. Salah satu dari mereka pasti orang tua anak yang ada dalam kendalinya.
"Tolong lepaskan anak saya. Kasian dia masih kecil. Saya akan memberikan berapapun uang yang kamu minta." Seorang wanita muda yang dari tadi menangis berbicara. Ia adalah ibu dari anak bernama Tina yang menjadi sandera.
"Mama! Mama! Tina takut!" Ucap Tina sambil menangis.
"Diam kamu!" Perampok itu berteriak pada Tina. Tangannya menekan leher Tina membuat gadis kecil itu menangis.
"Jangan sakiti sandera."
__ADS_1
"Aku tidak akan menyakitinya jika kalian menyiapkan mobil seperti yang aku minta."
"Tenang saja. Aku akan meminta sopirku untuk menyiapkan mobil untukmu." Ibu Tina segera menelepon sopirnya yang menunggu di mobil. Sebenarnya para polisi melarangnya dan meyakinkan bahwa mereka bisa menyelamatkam sandera. Namun ibu Tina tidak mengindahkan karena khawatir pada putrinya.
Tak lama kemudian sebuah mobil mewah mendekat ke arah perampok dan Tina.
"Terlalu bertele-tele. Seperti ini saja tidak bisa diatasi." Gumam Bryan melihat kejadian di depannya. Berlian melirik saudaranya itu acuh.
"Jika kamu bisa kenapa tidak kamu saja? Jangan cuma ngomong. Buktikan." Cibirnya.
"Jika bukan karena mommy melarangku untuk bertindak, dari tadi semua ini sudah berakhir. Dan pertunjukan ini tidak akan dapat dinikmati kan?" Bryan melirik Berlian sambil tersenyum.
"Cih." Berlian berdecih melihat wajah sombong Bryan.
Diam-diam Bryan mengeluarkan pistol mini miliknya yang memang selalu ia bawa. Kali ini pistol berukuran super mini yang ia ambil dari markas Big Lion itu ia selipkan di balik kerah bajunya. Bryan mengangkat tangan kanannya dengan gerakan merapikan rambut belakangnya. Tetapi selain Berlian, tidak ada yang menyadari jika sebenarnya pria kecil itu sedang mengambil senjata mematikannya. Berlian tersenyum miring melihat aksi saudaranya yang sangat elegan.
Di kejauhan sana, perampok yang hendak masuk ke dalam mobil tiba-tiba berteriak. Tangan kirinya memegangi tangan kanannya yang mengeluarkan banyak darah. Sedangkan senjata yang dari tadi ia gunakan untuk mengancam sudah terlempar jauh.
Sedangkan sang pahlawan yang tidak ingin diketahui tersenyum bangga sambil menatap saudarinya membanggakan dirinya. Bibirnya tersenyum miring sambil mengangkat dagunya. Sedangkan senjata yang baru saja ia gunakan untuk melumpuhkan targer polisi sudah ia simpan kembali. Kali ini ia masukkan begitu saja ke dalam saku seregam sekolahnya.
Setelah pelaku berhasil di amankan, Tina segera dikeluarkan dari dalam mobil. Ibunya segera berlari dan memeluknya. Ia menciumi wajah putrinya dengan haru. Baru saja ia merasa bahwa separuh jiwanya telah hilang saat melihat putri satu-satunya berada dalam bahaya.
Polisi segera melihat apa yang terjadi pada pelaku. Di tangan kananya terdapat lubang kecil. Setelah diperhatikan ini pasti ditembakkan seseorang. Maka polisi itu segera memperhatikan sekitar. Melihat apakah ada orang yang mencurigakan di sekitar. Bagaimanapun para polisi tentu khawatir jika orang yang baru saja menjadi pahlawan tiba-tiba menjadi penjahatnya. Tidak mustahil terjadi hal seperti itu. Mereka juga tidak tahu siapa yang membantu tugas mereka.
Tapi seperti apapun mereka memperhatikan, mereka tidak menemukan ada yang salah. Jadi daripada membuat suasana semakin kacau, polisi pun membubarkan semua orang.
Jerry, sopir Bryan dan Berlian dari tadi mencuri pandang pada Bryan yang duduk di kursi belakang dengan santai. Bocah cilik itu sedang bermain game di ponselnya.
"Aku harap paman Jerry bisa menjaga mulutnya." Ujar Bryan tiba-tiba membuat Jerry yang sedang mengintip menjadi panik.
Sejak awal kedatangan Bryan ke villa tempatnya bekerja, ia sudah mendengar desas desus bahwa majikan kecilnya itu mahir dalam menggunakan senjata api. Kali ini setelah melihat sendiri bagaimana kemampuan Bryan secara langsung benar-benar membuatnya kagum.
Sebenarnya jika ia mau ia bisa saja melumpuhkan perampok itu sejak awal. Tapi Maxim selalu mengingatkan untuk tidak membuat mereka menjadi pusat perhatian. Jadi ia hanya diam memperhatikan. Selama keselamatan dua majikan kecilnya tidak terancam, ia juga tidak akan bertindak.
__ADS_1
Awalnya ia tidak menduga jika Bryan akan melakukan sesuatu. Bahkan Jerry tidak menyadari jika Bryan sedang mengambil senjatanya. Baru ketika Bryan mengangkat tangannya dan mengarahkannya pada pelaku ia mengetahui apa yang dilakukan Bryan.
Gerakan Bryan juga sangat halus. Bahkan setelah menembak, Bryan menarik tangannya dengan santai dan memasukkan pistolnya ke dalam saku seperti sedang memasukkan permen.
"Maaf tuan muda. Saya tidak berani." Jerry berkata dengan gugup.
"Kalau kamu tidak melaporkan semua ini, mommy dan kakek juga tidak akan tahu. Jadi rahasia ini biarkan tetap menjadi rahasia kita saja."
"Tapi..."
"Ayolah paman. Kita kan sudah bisa disebut sebagai teman." Bryan mencoba merayu Jerry yang setia untuk berkhianat.
Berlian yang dari tadi memperhatikan interaksi Bryan dan sopir mereka mendengus kesal. Ia sedang mencoba berkonsentrasi untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Justin padanya beberapa waktu yang lalu. Dan dua orang itu sangat berisik.
"Ini semua juga salah paman. Jika paman membantu sejak awal, Bryan juga tidak akan bertindak." Berlian membuka suaranya.
"Tapi tuan Maxim melarang saya bertindak yang bisa menarik perhatian."
"Sebenarnya paman bisa bertindak tanpa menjadi perhatian kan? Paman juga lihat sendiri tadi pelaku membahayakan sandera. Apa paman bisa menjamin orang itu tidak membahayakan kami juga? Coba pikirkan apa yang akan dilakukan kakek pada paman?" Berlian menatap tajam Jerry dari spion.
"Baikalah tuam muda. Nona muda. Saya akan menutup mulut saya." Jerry akhirnya berkata setelah berpikir beberapa saat. Bryan memandang Berlian penuh terima kasih. Jika bukan karena bantuan Berlian untuk meyakinkan Jerry, kemungkinan besar semua koleksi kesayangannya akan kembali disita oleh mommynya.
*
*
*
Terima Kasih Sudah Mampir...π
Jangan jadi gost reader ya yang abis baca langsung kabur aja π‘
Hargailah setiap karya yang kalian baca meskipun hanya dengan sebuah jempol yang kalian berikan. Bagi kami para Author jempol kalian itu sangatlah berarti π
__ADS_1