
Sebelum melanjutkan cerita yang lama nggak akoh update (hehehe) Maaf ya...
Akoh sekeluarga mengucapkan, Selamat hari raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan bathin. Setelah dua tahun dibatasi dan merayakan hari raya dengan keterbatasan, Alhamdulillah tahun ini kita bisa berkumpul dengan sanak saudara dalam penuh suka cita. Semoga hari raya di tahun ini menjadi hari raya yang indah bagi kita semua... Aamiin
Happy Reading. ..
Hari ini Johan tidak mengantar Berlian. Pagi-pagi sekali dia sudah meninggalkan mansion dan harus pergi ke luar kota untuk menjalankan tugas yang diberikan Sean padanya. Kantor cabang yang ada di luar kota mengalami masalah. Pusat data mengalami kebakaran dan perusahaan mengalami kerugian yang cukup besar.
Sean tidak mudah mempercayai sembarang orang untuk menemani. Sedangkan dia sendiri memiliki meeting penting dengan klien dari Jerman yang dengan sudah ia dapatkan. Jadi ia hanya bisa mempercayakan masalah di kantor cabang pada Johan dan membiarkan sopir lain yang mengantar Berlian sementara Johan belum kembali.
Berlian tidak tahu apa-apa hingga ia keluar dari rumah dan tidak mendapati Johan berdiri menunggunya di samping mobil seperti biasanya. Tetapi, seorang pria muda lain yang berdiri siaga di samping mobil miliknya.
"Selamat pagi nona." Sapa sopir bernama Terry itu. Ia lalu membukakan pintu untuk ukuran Berlian.
"Pagi kak Terry." Berlian tersenyum dan mengangguk sebelum ia masuk ke dalam mobil dan duduk tenang di sana.
"Hari ini saya yang akan memgantar nona. Semoga nona tidak keberatan jika saya yang menggantikan Johan untuk sementara waktu." Terry menoleh ke belakang untuk bertanya.
"Tidak kak. Tidak masalah." Meskipun Berlian penasaran kenapa Johan tidak mengantarkannya hari ini. Dia memilih untuk tetap diam karena kejadian kemarin membuatnya akan merasa canggung jika ia bertemu dengan Johan untuk saat ini.
"Bagus! Pagi ini Tuan Sean memanggil Johan. Lalu Johan berkata bahwa ia harus pergi untuk mengurus sesuatu. Jadi dia berkata bahwa aku harus menggantikan nona hari ini. Johan berpesan untuk menjaga nona dengan baik. Jadi nona tenang saja. Saya sudah berjanji dan saya akan menepati janji. Saya tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk menimpa nona."
"Kak Terry tidak perlu berlebihan. Tidak akan terjadi apa-apa." Berlian tersenyum saat ia merasa Terry sangat tidak masuk akal. Dia hanya pergi ke sekolah untuk belajar. Bukannya untuk pergi berperang.
"Tidak nona. Keselamatan nona adalah yang paling utama." Terry berkata dengan semangat.
__ADS_1
"Yah. Terserah saja." Berlian menyerah. Sepertinya berbicara dengan Terry sedikit repot. Dia tidak mau mengalah sama sekali.
Terry tersenyum menang Saat ia mulai menginjak gas dan melajukan mobil keluar dari halaman.
Setelah tiga puluh menit, mobil yang dikemudikan Terry sudah sampai di sekolah Berlian. Gadis itu langsung turun begitu mesin mobil dimatikan. Ia juga berpesan pada Terry untuk tidak menunggunya maupun menjemputnya. Ia sudah berjanji pada Rezvan bahwa ia akan menemani Rezvan mencari hadiah untuk adik perempuannya. Untuk membuat Terry setuju ternyata tidak mudah. Jadi dia menelpon Sean untuk meminta izin secara langsung.
"Tuh kak Terry dengar sendiri kan?" Berlian memang meng-load speaker percakapannya dengan Sean di telepon.
"Baiklah nona. Kalau begitu nona silahkan masuk." Terry mengulurkan tangannya dengan gerakan mempersilahkan Berlian untuk berlalu. Berlian mendesah sebelum ia akhirnya berbalik dan pergi. Ia tahu jika Terry tidak akan pergi sebelum memastikan dirinya masuk ke dalam sekolah.
Terry masuk ke dalam mobil setelah Berlian benar-benar tidak terlihat lagi. Baru saja ia hendak menyalakan mobilnya, Sean menelepon dirinya.
"Beritahu Johan tentang hal ini. Minta dia yang mengurusnya." Ucap Senang begitu Terry mengangkat teleponnya. Belum juga dirinya menjawab, Sean sudah memutuskan sambungannya secara sepihak.
"Baik. Aku mengerti." Johan menutup teleponnya begitu ia selesai berkata. Lagi-lagi, Terry hanya bisa terdiam tidak mengerti. Belum lagi ia bisa memahami maksud Sean, Johan menambah pertanyaan di kepalanya.
Memikirkan posisinya, Terry merasa jika dia tidak lebih dari seekor merpati pengirim surat. Tanya bertugas mengirim pesan tanpa tahu maknanya.
Johan di posisi yang lain. Dirinya sedang bersiap untuk meeting dengan para petinggi di kantor cabang perusahaan saat ia menerima telepon dari Terry. Begitu ia mematikan telepon dengan Terry, ia menghubungi nomor lain di ponselnya.
"Brily akan pergi siang ini. Bersiap menunggu di depan sekolahnya." Ucapnya begitu ia mendengar suara dari seberang.
Johan menghela napas setelah ia mematikan sambungan teleponnya. Mengapa harus saat ia tidak ada di sana ketika Berlian harus keluar bersama dengan orang lain?
Sean dan Johan curiga jika Berlian sebenarnya menyembunyikan hal besar dari mereka. Jadi keduanya mulai mengawasi setiap gerakan Berlian. Tetapi Berlian tidak pernah melakukan hal yang tidak biasanya. Mereka tahu Berlian ahli dalam hal teknologi komputer. Jadi mereka mulai menyewa ahli untuk mencari tahu aktivitas Berlian di dunia maya.
__ADS_1
Meskipun begitu, mereka masih belum bisa menembus sistem keamanan yang diciptakan Berlian untuk melindungi dirinya sendiri. Jadi, baik Sean maupun Johan selalu berada drama kekhawatiran setiap saat.
Berlian dan Rezvan berjalan berdampingan saat mereka keluar dari kelas. Mereka sedang menuju ke parkiran motor karena mereka akan pergi dengan menggunakan motor Rezvan.
Dari jauh, Clara menatap punggung kedua sahabatnya yang semakin menjauh. Melihat mereka, tiba-tiba Clara merasa jika keduanya sangat serasi. Cara berjalan keduanya nyaris sama. Dengan tangan Rezvan dimasukkan ke drama saku celana. Sedangkan tangan Berlian dimasukkan melalui dalam saku jamper nya. Keduanya, meskipun berjalan berdampingan tetapi terlihat sama-sama kesepian.
Postur tubuh mereka juga sesuai. Dengan Berlian yang memang tinggi dan dia hampir sama tingginya dengan Rezvan. Kemudian Clara membayangkan mereka terlihat dari depan. Yang satu cantik dan satunya lagi tampan. Benar-benar serasi.
"Sepertinya mendekatkan Brily dengan kak Raka memang tidak sesuai. Sifat kak Raka tidak cocok dengan Brily. Awalnya aku memang sudah memikirkan hal ini. Tapi karena ada kak Raka yang sepertinya menyukai Brily, aku jadi melupakannya. Sekarang aku jadi ingat ini lagi. Dan mulai sekarang, aku harus mendekatkan keduanya. Rezvan juga pasangan yang baik." Gumam Clara memikirkan nasib sahabatnya yang jomblo abadi.
Berlian dan Rezvan segera diikuti oleh dua orang laki-laki muda yang memakai pakaian santai begitu mereka keluar dari gerbang sekolah. Mereka adalah anak buah Johan yang diminta Johan untuk mengawal Berlian. Johan tidak meminta Terry untuk melakukannya karena sifat Terry yang kadang kekanak-kanakan. Terry juga sering bertindak impulsif tanpa berpikir terlebih dahulu. Hal ini sangat membahayakan.
Tetapi yang tidak diprediksi Johan adalah bahwa Terry sebenarnya sudah berinisiatif untuk mengikuti Berlian. Dia memiliki caranya sendiri. Ia juga menyamar dengan memakai Wig dan sebuah kumis lebat di bawah hidungnya. Terry bahkan rela memakai bedak dengan warna cokelat agar wajahnya tersamarkan. Ia juga memakai motor bebek untuk mengikuti Berlian dan sudah bersiap dua jam sebelum waktu pulang sekolah.
Motor yang dikendarai Rezvan berhenti karena dihadang oleh sebuah mobil yang menghalangi jalan mereka. Lalu, tiga orang pria bertubuh besar turun dan berjalan mendekati keduanya.
"Turun!" Teriak salah satu preman sambil menunjuk Berlian dan Berlian dan Rezvan dengan galak.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~
__ADS_1