
Suasana hati Vivi sedang baik hari ini. Vivi dibesarkan sebagai gadis manja yang akan selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan tidak ada yang pernah mengganggunya. Semua orang akan mengalah padanya dan memberikan apa yang dia minta. Lambat lain ia tumbuh menjadi gadis yang egois yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan meskipun itu harus menggunakan cara yang tidak baik.
Sudah cukup baginya untuk merasakan rasa diabaikan oleh Raka. Dia tidak akan mampu mentolelir Raka yang memberi perhatian pada Berlian sedangkan dia diabaikan. Sehingga dia berada di pihak yang kalah.
Penghinaan itu tidak bisa ia terima. Itulah mengapa ia mengeluh pada ayahnya dan memintanya untuk membantuya memberi pelajaran pada Berlian untuk menghibur dirinya yang sedang tidak bahagia.
Ayahnya adalah seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya. Vivi adalah putri tunggalnya. Jadi dia akan melakukan apa pun yang dia minta
Ayah Vivi bernama Dodi Wijaya. Seorang pengusaha sekaligus politisi yang handal. Dia berada di puncak karirnya. Perusahaan keluarga yang dikelolanya menjadi berkembang pesat sejak ia yang mengambil alih menunjukkan kemampuannya yang tidak diragukan lagi. Di dalam politik, dia juga tidak bisa diremehkan. Ia sudah berkecimpung di bidang ini sejak dua puluh tahun.
Menjadi pengusaha sekaligus politikus menjadikan dirinya berdiri dengan kokoh di tempatnya. Semua permainan kotor dan trik sudah pernah ia alami.
Malam itu, saat Vivi merengek padanya, ia juga sedang dalam suasana hati yang buruk. Ia mendapatkan laporan bahwa salah satu bisnisnya sedang diawasi oleh polisi.
Salah satu bisnisnya memang dijalankan secara ilegal. Dan itulah yang menghasilkan banyak uang untuknya. Sedangkan bisnisnya yang lain, itu hanyalah kamuflase nya. Memang bukan untuk pertama kalinya ini terjadi.
Jadi, Hal semacam ini sudah pernah terjadi beberapa kali. Di masa lalu ia bisa menghindar karena polisi tidak mendapatkan bukti yang membuktikan tuduhan mereka. Jangankan bukti, tempat asli mereka saja tidak dapat ditemukan.
Tapi kali ini berbeda. Sepertinya polisi telah mempekerjakan orang yang sangat hebat kali ini. Ini terbukti dengan lokasinya yang dapat ditemukan. Berhasil menemukan tempatnya adalah yang luar biasa.
Saat anak buahnya memberitahukan bahwa tempat mereka sedang diawasi, ia sangat terkejut. Itulah yang membuatnya tidak senang. Jadi, saat Vivi memintanya untuk memberi pelajaran pada orang, ia tidak berpikir dua kali untuk memberi perintah pada anak buahnya untuk memberi Vivi kontak orang yang akan melakukan apapun yang dia katakan.
Vivi sudah bahagia sejak ia mendapatkan laporan dari orang itu jika mereka telah mengikuti Berlian dan bersiap untuk melakukan tugas mereka. Hatinya berada dalam kebahagiaan sehingga dia tidak lagi memperdulikan saat ia tidak menerima laporan lagi.
Berpikir jika hari ini ia tidak akan melihat Berlian sudah membuatnya sangat senang dan bersemangat. Itu artinya ia tidak akan mengingat bahwa ia pernah mengalami kekalahan yang membuatnya malu.
Saat jam makan siang, ia membawa teman-temannya ke kantin dan mentraktir mereka. Wajahnya terlihat bersinar dan cantik dengan Bibir yang terus mengulas senyum.
Namun, senyum Vivi segera lenyap saat ia melihat seorang gadis cantik yang berjalan dengan santai bersama dua orang lainnya menuju kantin. Vivi mengecek matanya guna nemadtikan penglihatannya tidak salah. Namun ia tetap menemukan Berlian yang masih datang dan baik-baik saja. Bagaimana ini mungkin? Kenapa dia terlihat biasa saja tanpa ada satupun luka?
__ADS_1
Lupakan tentang luka. Kenapa ia masih memiliki wajah?
Vivi membeku saat ia berhenti begitu saja. Keempat temannya yang tidak tahu menahu bingung dengan apa yang terjadi. Mereka bertanya padanya tentang apa yang terjadi. Tetapi Vivi tidak menjawab seperti ia tidak berada di sana.
Berlian mengangkat alisnya saat ia menyadari apa yang terjadi pada Vivi. Ia tahu gadis itu pasti sangat terkejut mendapatkan kejutannya. Ini semakin membuatnya yakin bahwa memang benar dialah dalang di balik penyerangan yang menimpanya dan Rezvan.
Rezvan yang berjalan di sampingnya melirik nya dan kini ia juga mengetahui siapa pelaku yang dimaksud Berlian. Ia menarik sudut bibirnya saat ia menyeringai.
"Terkejut?" Ucap Rezvan menatap Vivi dengan senyum mengejek nya yang khas.
"Ka.. kamu!" Ucap Vivi dengan gagap. "Kenapa aku harus terkejut? " Vivi segera merubah ekspresinya. Memandang Rezvan merendahkan.
"Ooh...aku pikir kamu akan terkejut saat melihat kami baik-baik saja sekarang."
"Apa maksudmu? Kenapa aku harus terkejut?" Vivi mulai gugup.
"Itu bukan aku!" Teriak Vivi panik. Ia belum pernah mengalami hal ini sebelumnya. Ia selalu menjadi gadis yang impulsif yang tidak bisa menjaga ketenangannya. Jadi saat ia dituduh seperti itu apalagi itu adalah kebenaran, ia segera panik.
Suara Vivi tidak kecil. Apalagi ia berteriak dengan keras. Membuat mereka kini menjadi pusat perhatian di kantin yang sedang ramai.
Vivi melihat sekitar dengan marah.
"Kalian berani menuduhku sembarangan! Apa kalian tidak takut aku menjadi kesal dan meminta papaku untuk memberi kalian pelajaran?" Vivi mengepalkan tangannya. Matanya nyerah karena marah.
"Apa kamu selalu menekan orang-orang dengan cara seperti ini?" Berlian yang sejak tadi diam bertanya dengan suara yang rendah. Clara yang berdiri di sampingnya sudah sejak awal menahan diri. Jika bukan karena rencana Rezvan, ia akan menampar gadis itu sejak ia melihatnya.
"Kenapa? Apa kamu merasa iri?"
"Iri padamu? Jika kamu tahu jika daddy Berlian adalah..." Clara tidak melanjutkan ucapannya saat Tangan Berlian menepuk pundaknya. Ia menggertakkan giginya saat ia menelan kembali ucapan yang sudah akan ia keluarkan.
__ADS_1
"Kalian pasti sudah sudah tahu kalau papaku adalah Dodi Wijaya. Kalian pasti tahu kan siapa dia? Jika aku mengatakan satu kata tidak puas tentang kalian, kalian akan mendapati kehidupan kalian akan berputar balik di hati berikutnya." Vivi berkata dengan lantang. Wajahnya penuh kebanggaan saat ia menunjukkan bahwa ia lah yang berkuasa.
"Aku sarankan padamu untuk tidak terlalu sombong." Berlian menggelengkan kepalanya saat ia mengasihani sifat Vivi. Ini adalah hasil dari didikan yang salah.
"Aku memiliki papa yang hebat! Kenapa aku tidak boleh sombong? Apa yang akut inginkan akan selalu menjadi milikku. Apa hakmu mengaturku? "
"Sudahlah Brily, tidak ada gunanya memberitahu gadis dengan sendok perak di mulutnya mengenai tata cara bermasyarakat." Clara memandang Vivi remeh.
"Huh! Seperti kehidupan kalian lebih baik dariku saja." Vivi mendengus.
"Aku sarankan kalian untuk minta maaf pada Vivi sekarang sebelum kalian menyesal. Jika tidak, jangan menyalahkan kami karena tidak mengingatkan kalian jika besok perusahaan keluarga kalian sudah tidak ada lagi."
"Perusahaan mana yang hilang belum bisa dipastikan. Kenapa kalian berkeras?" Clara menyipitkan matanya.
Candra mencibir. "Kalian begitu sombong. Aku penasaran apa yang bisa kalian banggakan Hm?"
Clara hampir membuka mulutnya saat keributan lain terdengar dari luar kantin. Namun keributan yang ini berbeda karena yang terdengar adalah suara derap langkah yang tegas dan mantap. Dari suaranya, ada beberapa pasang kaki yang menapakkan diri menuju ke dalam kantin.
Tak lama kemudian, beberapa orang masuk ke dalam kantin dan berhasil membungkam semua mulut yang tadi saling berbisik-bisik seperti lebah yang sedang berkerumun.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ~> (*,*)<~
Siapa yang datang ya?
__ADS_1