Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_51. Permainan Voli


__ADS_3

Ratih mengepalkan tangannya. Ia sudah membenci Berlian sejak pertama kali bertemu. Dia mengambil semua perhatian yang seharusnya menjadi miliknya. Dia juga mengambil juara satu yang seharusnya ia dapatkan. Dia sudah bekerja dengan keras untuk mendapatkan itu semua. Atas dasar apa Berlian yang mendapatkannya?


Satu bulan yang lalu, ia diperkenalkan kepada seorang hacker profesional oleh seorang temannya. Sejak itulah ia mulai mencari celah yang bisa ia gunakan untuk menghancurkan citra Berlian. Ia mulai mengikuti Berlian pergi di sekolah. Ia juga mengikutinya saat pulang sekolah meskipun ia selalu kehilangan jejak.


Johan mengetahuinya. Jadi dia memang sengaja mengacau Ratih sehingga gadis itu selalu kehilangan jejak. Hanya saja Johan tidak pernah memberitahu Berlian. Sebaliknya, ia menyuruh anak buahnya untuk memata-matai Ratih sebagai gantinya.


Demi menghancurkan citra Berlian, dia sudah berkorban banyak. Ia juga menghabiskan banyak uang untuk menyewa jasa hacker tersebut. Jadi jika dia harus kalah saat ini, dia sungguh tidak rela. Selama ia tidak mengakuinya, tuduhan Rezvan yang tidak berdasar tidak akan berhasil mengarah padanya.


Ratih menguatkan hati saat ia menenangkan dirinya dan berbicara dengan tenang. "Aku tahu kamu adalah sahabat Berlian, tapi kamu tidak bisa seenaknya saja memfitnah orang untuk menjadi kambing hitam."  Ratih berbicara dengan percaya diri. Ia yakin Rezvan tidak akan memiliki bukti yang mengarah padanya.


"Benar apa salah kamu tahu benar apa yang terjadi. " Rezvan mencibir.


"Kalian ini kenapa?  Sekarang pelajaran olahraga bukan pelajaran debat. Kalau kalian mau berdebat, kalian pergi saja ke pengadilan sana!" Pak Yono selaku guru olahraga berdiri di tengah dan memarahi keduanya.


"Tidak perlu bicara lagi. Sekarang ambil posisi dan mulai bermain!" Pak Yono mengakhiri pidatonya dengan suara peluit yang keras dan panjang. Membuat para siswa dengan enggan bubar dan mulai fokus pada pelajaran.


Sebagai seorang guru, pak Yono tidak boleh memihak pada seorang siswa. Apalagi mempercayai sesuatu hanya dari perkataan. Karena masalah ini muncul, dia harus menyelidiki dengan jelas sebelum menentukan sikapnya. Jadi yang bisa ia lakukan untuk saat ini adalah memecah keributan dengan paksa. Ia menatap Ratih, Rezvan dan Berlian sekilas sebelum melewati mereka semua.


"Ingat apa yang aku katakan sebelumnya." Kata Rezvan saat Ratih melewatinya untuk menuju tempatnya. Ratih mengepalkan tangannya tidak senang. Ia lirik Rezvan dengan penuh rasa permusuhan.

__ADS_1


Setelah semua berada di posisi mereka permainan pun dimulai. Satu orang dari tim Clara melakukan servis dengan keras. Bola melambung ke arah kiri belakang. Di sana ada Ratih yang siap menerima bola. Dia tidak boleh melakukan kesalahan dengan secara sengaja tidak mengembalikan atau menghindari bola. Karena bola yang datang kencang, bola itu segera dikembalikan dengan keras pula. Namun ia memukul bola ke arah yang memudahkan tinggi lawan untuk melakukan smah yang akurat di bagian depan pojok. Skor dengan cepat di cetakan tim lawan.


Berlian melirik Ratih dan menemukan sekilas matanya yang licik tersenyum menang. Ini memang disengaja. Tetapi tidak cukup terlihat. Bagaimanapun kebanyakan dari mereka hanya bermain tanpa memperdulikan skema yang terjadi. Rezvan yang melihat di sisi lapangan menggertakkan giginya.


Dia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Berlian saat ini. Kemarin malam ketika ia sedang makan di sebuah kafe, dia tanpa sengaja mendengar Ratih berbicara dengan seseorang. Awalnya Rezvan tidak mengetahui bahwa orang yang duduk tepat di belakangnya adalah Ratih, teman sekelasnya. Dia sendiri tidak begitu hafal nama-nama teman sekelasnya.


Rezvan terus menguping karena dari yang ia dengar, itu ada hubungannya dengan Berlian. Terutama dengan foto dan berita yang masuk ke dalam forum sekolah dengan tanpa nama itu yang ternyata dikerjakan oleh orang yang sedang berbicara dengan Ratih saat itu. Sayangnya, Rezvan tidak sempat untuk merekam pembicaraan mereka karena pembicaraan mereka memang sudah hampir selesai saat Rezvan mendengarnya. Apalagi mereka kebanyakan menggunakan bahasa isyarat yang disamakan selama pembicaraan. Menyulitkan Rezvan untuk merekamnya.


Sebenarnya Rezvan sudah ingin memberitahukan Berlian dan Clara sejak semalam, tetapi ia tiba-tiba mendapat masalah di rumah tadi malam sehingga ia sendiri sibuk dengan urusannya. Dan dia juga tidak memiliki kesempatan di pagi harinya.


Seberapa banyak pun Rezvan menggertakkan giginya karena memikirkan hal itu, permainan terus berlanjut. Kedua tim memiliki poin yang tipis dengan tim Berlian berada di pipihak yang lemah dengan tiga poin lebih sedikit. Berlian berhasil mencetak lima poin sejauh ini. Dia sementara menjadi pencetak poin terbanyak. Sedangkan Ratih juga menyumbangkan dua poin untuk tim mereka. Tetapi, selain Berlian,  Rezvan, Clara dan Pak Yono, hampir tidak ada yang memperhatikan bahwa Ratih sebenarnya melewatkan beberapa kali kesempatan untuk membuat Smash tajam untuk mencetak poin dan beberapa kali dia dengan sengaja memberikan umpan pada pihak lawan sehingga mereka bisa melakukan smah mematikan.


Clara memandang Pak Yono sebagai bentuk protes. Pak Yono juga tidak tidak menyadari tatapan Clara. Tetapi ia tidak bisa langsung menegur Ratih dengan keras di depan semua siswa atau itu akan berdampak lebih buruk bagi semuanya. Clara dengan kecewa melihat pak Yono mengabaikan ya dan menghela napas.


Babak kedua dimulai lagi. Kali ini servis dimulai dari tim Berlian. Itu melambung tinggi ke arah belakang. Menyerang Clara yang memiliki tubuh lebih pendek sehingga membuatnya kesulitan mengembalikan bola. Dengan sudah payah bola itu dikembalikan namun itu memberi kesempatan Berlian untuk melakukan Smash tajam dan mencetak poin pertama di babak kedua.


Semua arang di tim Clara melirik Clara dengan tidak suka karena menganggapnya sengaja memberikan  umpan pada Berlian. Clara tidak menganggap mereka serius dan mengabaikan mereka untuk terus bermain. Selama permainan, dia sportif dan tidak memihak. Dia memang beberapa kali gagal menangkap bola dan memberikan umpan pada lawan. Tetapi itu murni karena kelemahannya dalam tinggi badan dan kekuatannya. Bukan karena ia sengaja!


Di permainan babak kedua, Ratih tidak memiliki banyak kesempatan untuk memberi lawan peluang karena Berlian membloknya memanfaatkan dirinya yang berada di depan Ratih dan menggunaka tinggi tubuhnya untuk terlebih dulu menerima bola sebelum bola itu sampai pada Ratih.

__ADS_1


Dengan cara itu, dengan cepat permainan babak kedua berakhir dengan tim Berlian yang menang.


Awalnya pak Yono hendak menghentikan permainan karena ini hanya latihan. Juga, waktu untuk pelajaran olahraga raga hampir usai. Tetapi karena permainan yang cukup menegangkan, semua siswa nya memaksanya untuk memberi mereka tambahan permainan. Jadi setelah berpikir sebentar pak Yono pun mengabulkannya. Pak Yono juga berpikir ini baik untuk perkembangan anak didiknya. Apalagi jam pelajaran setelah ini kosong karena guru yang mengajar tidak hadir dan hanya memberikan tugas.


Setelah isturahat lima menit, Permainan terus berlanjut. Bola beberapa kali berpindah pada beberapa pemain. Permainan dibabak ketiga ternyata lebih menarik dari babak pertama dan kedua. Kedua tim sudah lebih menguasai bola dan permainan. Mereka mulai menikmatinya. Meskipun permainan menjadi terlihat lebih santai, mereka yang bermain tahu bahwa permainan bahkan menjadi semakin menarik dan menantang.


Saat di tengah permainan, bel istirahat berbunyi. Ini menyebabkan suasana lapangan semakin ramai saat banyak siswa yang ikut menonton di samping lapangan. Sorak sorai juga terdengar saat ada tim yang mencetak poin maupun saat genting yang mendebarkan.


Dengan banyaknya orang yang menonton, Ratih tidak bisa bertindak.  Ia juga tidak bisa menjatuhkan reputasinya dengan terlihat bodoh dengan memberikan umpan dan sengaja menghindari bola. Ratih dengan terpaksa ikut bekerja sama. Melihat ini, Berlian mencibir penuh ejekan.


Sejauh ini permainan masih seri. Setiap unggul satu dua poin, mereka akan saling mengejar nilai. Hal ini menjadikan pecinan semakin seru untuk diikuti.


Namun setelah lama bermain, Berlian mulai tidak nyaman dengan tubuhnya yang berkeringat. Jadi ia memutuskan untuk cepat-cepat menyelesaikan permainan. Dia memasukkan bola dan mencetak poin dengan cepat. Semua orang yang melihat tercengang hampir tidak percaya. Berlian hampir mengembalikan semua bola yang datang dengan mencetak poin untuk timnya.


"Apakah itu benar-benar Berlian?  Gadis yang lemah itu bisa?" Gumam setiap orang yang menonton.


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~


Jangan lupa like, komen dan Vote ya....


__ADS_2