Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_22. Bertemu Vivi Lagi


__ADS_3

Di saat yang sama, Berlian yang sedang menikmati udara di sekitar penginapan didatangi oleh satu geng cewek populer di sekolah. Mereka adalah orang yang sama yang mengganggu Berlian sebelumnya. Vivi dan tiga temannya.


Pada saat itu, Berlian sendirian. Clara sedang beristirahat di drama kamar. Sepanjang perjalanan, gadis itu begitu heboh dia tidak istirahat sedikitpun. Jadi begitu ia turun dari bus, tentu saja ia akan merasa lelah. Sedangkan Rezvan, dia tidak kelihatan sejak mereka turun dari bus. Lagipula antara laki-laki dan perempuan, mereka ditempatkan di penginapan yang terpisah.


"Ada apa?" Berlian mendongak dengan malas saat lima gadis itu berdiri angkuh di depannya. Menatap Berlian dengan cara mengejek. Mereka jelas adalah sekumpulan gadis-gadis sombong.


Tidak aneh, mereka semua adalah putri dari orang berpengaruh. Vivi dan Kesya, selain pebisnis, orang tua mereka berdua juga merupakan politikus yang memiliki jabatan cukup tinggi. Sedangkan tiga lainnya, merupakan putri dari pebisnis. Kelima gadis itu juga hadir di acara pesta yang sama dengan Berlian beberapa waktu yang lalu. Namun mereka tidak saling bertemu saat itu. Jadi, mereka berlima berpikir bahwa Berlian tidak memiliki latar belakang yang kuat.


"Kami ingin melihat pemandangan di sini. Sebaiknya kamu pergi." Kesya menyilangkan kedua tangannya dan menatap Berlian mengancam.


"Kenapa aku harus menuruti perintah kalian?" Berlian mengangkat alisnya. Ia bahkan tidak mengubah posisinya yang bersandar pada sebuah pohon di belakangnya.


"Bukankah kamu berpikir kamu cukup berani? Apa kamu tidak tahu siapa Vivi? Dengan satu ucapan darinya, seluruh keluargamu besok akan dipaksa keluar dari kota." Ucap Dea dengan sombong. Ia sangat yakin dengan apa yang ia katakan bahwa di sini, dengan kekuatan orang tua Vivi, mereka bisa berkuasa dimanapun.


Vivi yang telah menerima pujian sejak masih kecil telah mengembangkan kepercayaan dirinya ke tahap yang paling tinggi. Bahkan jika ada yang memuja memujinya sedikit saja, ia masih akan mengangkat tinggi kepalanya. Siapa ya gak bisa menandinginya?


"Vivi?"  Berlian memiringkan alisnya saat ia benar-benar tidak mengingat siap yang bernama Vivi diantar empat gadis di depannya ini. Namun saat matanya menangkap seorang gadis yang berdiri dengan membusungkan dadanya dengan bangga diantar mereka, ia baru mengingatnya. Itu adalah gadis yang sama yang telah mengganggunya sebelumnya.  Apa mereka masih kurang diajari?


"Ooh." Berlian membuka mulutnya sebentar sebelum ia menutup lagi dan kembali menarik perhatian dari mereka.


"Hei! Kenapa masih di sini? Cepat pergi!?" Teriak Candra.


Berlian mendengus. Ia hanya ingin bersantai. Kenapa begitu merepotkan? Tanpa menunggu teriakan lagi, Berlian berdiri dan menepuk celananya saat ia berjalan santai meninggalkan tempat itu. Lagipula, pemandangan tidak lagi indah saat mereka berempat ada di sekitar.


Vivi memandang Berlian dengan kesal. Meskipun Berlian seperti telah memberikan tempat untuknya, tetapi ia tidak melihat bahwa Berlian telah kalah darinya. Dia justru melihat bahwa Berlian dengan mudah menyerahkan tempat ini padanya. Ini mencarikan harga dirinya. Setelah dipikirkan lagi, saat ini tempat yang awalnya mereka nilai adalah tempat yang paling indah di sana sudah tidak terlihat indah lagi sejak tempat itu ditinggalkan Berlian untuknya. Bahkan ia merasa jika ia tetap berada di sana,  ia hanya aka merasakan penghinaan dengan menempati bekas Berlian.


Setelah melirik tempat itu ia mendengus kesal saat ia mengajak teman-temannya untuk pergi.


"Kenapa? Bukankah kita akan mengambil beberapa foto cantik di sini?" Kesya tidak mengerti mengapa Vivi mengajak mereka pergi dari tempat yang sudah dengan susah mereka rebut.


"Aku bilang pergi ya pergi!" Teriak Vivi dengan kesal. Mendengar perkataan Kesya bahwa tempat itu berhasil mereka rebut membuat hatinya mencelos. Apa benar tempat itu memang mereka rebut dan bukannya tempat yang telah ditinggalkan?

__ADS_1


Kesya, Candra, Dea dan Lita saling memandang tidak mengerti sebelum mereka akhirnya mengikuti Vivi ya gak pergi dengan menghentakkan kakinya.


Mohon ketua geng mereka yang sedang dalam suasana hati yang tidak baik, keempat gadis itu saling melirik sambil berbicara dengan suara yang sangat pelan. Mereka saling menunjuk untuk mencoba menghibur Vivi. Jika Vivi dalam keadaan hati yang buruk, mereka lah yang akan menerima imbasnya nanti.


"Vi, masalah gadis sialan itu jangan terlalu diambil hati. Gadis sombong seperti itu tidak akan masuk ke dalam pandangan mata kak Raka. Seluruh siswa di sekolah juga tahu perangai buruknya itu." Dea akhirnya memberanikan diri. Dia berjalan cepat dan mensejajarkan dirinya dengan Vivi dan berbicara untuk meyakinkan. Vivi hanya melirik nya sekilas sebelum mendengus.


"Dea benar Vi. Kita akan ada di sini selama dua hari. Bagaimana kalau kita bermain sedikit dengannya?" Candra menggosok tangannya saat matanya berkilat penuh kelicikan.


Vivi mendengarkan dengan seksama. Diantara mereka, Candra lah yang paling ahli dalam mengatur strategi.


Candra melanjutkan ucapannya saat Vivi hanya diam. Tetapi ia yakin Vivi masih mendengarkan.


"Malam ini, aku akan mengatur seseorang untuk mengerjainya. Kamu jangan khawatir, besok dia tidak akan berani menghadapi siapapun." Lanjut Candra percaya diri.


"Apa rencanamu?" Vivi bertanya penasaran. Candra tersenyum saat ia membisikkan rencananya di telinga Vivi. Vivi segera mengupas senyum setelah ia mendengar ide yang dikatakan Candra.


"Bagaimana?" Candra tersenyum misterius.


**


Clara mengerjapkan matanya saat ia mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Setiap kamar, ada dua ranjang untuk dua orang. Dan Clara satu kamar dengan Berlian.


"Dari mana Brily?" Tanya nya saat ia mengucek matanya dengan tangan.


"Jalan-jalan." Jawab Berlian singkat sebelum ia duduk di atas ranjang.


"Apa sudah waktunya makan siang?" Tanya Clara.


"Mungkin sebentar lagi." Berlian melirik jam tangannya.


"Apa ada yang menarik di sekitar sini?" Clara melipat kakinya di atas ranjang.

__ADS_1


"Sepertinya ada."


"Sepertinya?" Clara menarik alisnya.


"Yah. Sepertinya aku tahu ini dimana." Berlian juga baru menyadari saat ia menikmati pemandangan di luar. Sepertinya ia pernah ke tempat ini sebelumnya tapi itu sudah agak lama dan tempat ini sudah banyak mengalami perubahan.


"Apa yang menarik di sini?"


"Peternakan kuda."


"Peternakan kuda?" Tanya Clara heran. Berlian menganggukkan kepalanya.


"Apa yang menyenangkan dengan peternakan kuda? Bukankah itu bau?" Clara benar-benar tidak mengerti. Ia sudah mendengar jika study tour kali ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang akan pergi mengunjungi tempat bersejarah dan berakhir menginap di hotel pinggir pantai. Itupun tidak dilakukan di tempat yang dekat seperti saat ini. Tapi ia benar-benar tidak menyangka jika yang mereka datangi adalah peternakan kuda pada akhirnya.


"Jika bisa merawat kuda dengan baik dan membersihkan kandangnya dengan bersih, itu tidak akan bau."


"Bagaimana kamu tahu?"


"Aku punya satu."


"Benarkah? Kenapa aku tidak pernah tahu? Aku tidak percaya." Clara menaikkan alisnya. Ia tidak akan percaya jika Berlian berkata bahwa dia mempunyai kuda.


Melihat sifat Berlian yang tidak menyukai aktifitas ya gak menguras keringat, mustahil Berlian akan berurusan dengan salah satu kuda.


Mendengar jika Clara tidak percaya padanya, Berlian tidak bisa membantu dan hanya mengabgjat bahunya.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~


__ADS_2