
Dua orang duduk di depan sebuah ruang dokter spesialis. Mereka adalah Johan dan Berlian. Mereka tidak hanya sendiri. Kursi tunggu didepan depan ruangan hampir semua terisi. Mereka berdua mendapatkan tatapan aneh dari semua orang yang sedang menunggu giliran. Bagaimana tidak, Berlian yang berseragam sekolah dilihat dari kemeja putih dengan rok abu-abu yang masih terlihat jelas meskipun sudah ditutupi dengan sarung pantai. Dia datang bersama dengan pria muda yang mengenakan jas. Dan poin penting yang paling berperan membuat mereka menjadi pusat perhatian adalah mereka sedang menunggu di depan ruang dokter spesialis kandungan.
Berlainan danJohan bukan sekali ini menjadi pusat perhatian. Tetapi, di masa lalu mereka menjadi pusat perhatian karena wajah dan karakter mereka. Baru kali ini mereka menjadi pusat perhatian dengan tatapan mengejek pada mereka.
Semua orang di sana berpikir bahwa Berlian tengah mengandung saat ini. Dan itu tentu saja hanya terjadi karena hubungan bebas di luar nikah!
"Lihatlah, mereka bahkan tidak tahu malu." Ucap salah seorang diantara mereka saat melihat Johan yang duduk dengan khawatir lalu melihat Berlian yang berwajah pucat. Melihat mereka, Tentu saja mereka tidak bisa mengaitkan mereka dengan nilai moral yang semakin anjlok. Mereka juga tidak bisa disalahkan. Memang banyak kejadian seperti itu terjadi di masyarakat.
"Kak, pulang saja yuk." Berlian sudah tidak tahan. Perutnya sudah terasa sakit ditambah ia harus mendengar ucapan orang-orang itu.
"Tunggu sebentar lagi. Setelah ini giliran kita." Johan menahan tangan Berlian. Melihat hal ini, semua orang semakin mengutuk dengan keras.
Johan sudah berusaha menenangkan diri agar tidak terbawa emosi. Bagaimana pun, ia harus memastikan Berlian untuk mendapat perawatan. Tetapi mendengar semua perkataan mereka yang semakin tidak enak didengar membuatnya tidak bisa lagi menahan amarah. Tidak apa-apa jika hanya dia yang diejek, Berlian juga ada di dalam diskusi dan lebih parah.
"Kalau bicara mohon dipikir dulu. Jangan bicara seenaknya saja." Johan menatap semua orang dengan tajam. Suaranya yang dalam mengintimidasi.
Sebelumnya, Johan dalam keadaan khawatir, jadi tidak ada yang menganggapnya di sana. Tapi setelah ia akhirnya marah, auranya jelas berbeda. Ini membuat beberapa orang langsung ketakutan.
Tapi, masih ada yang masih belum mengerti dan mencoba untuk memprovokasi. Seorang wanita yang satu-satunya datang sendiri menatap Berlian dan Johan dengan penuh kebencian.
"Kalian sudah berbuat yang buruk masih bisa memarahi orang? Jika generasi muda seperti kalian sudah seperti ini, bagaimana nasib bangsa ini?"
Johan tertawa mendengarnya. Bukankah ini pemikiran yang terlalu berlebihan? Bukan karena moral yang seperti itu memang merusak suatu bangsa, tetapi pada pemikiran bahwa orang itu memikirkan masalah nasib bangsa.
Wanita itu mendengus saat Johan tertawa dan memandangnya jijik.
__ADS_1
"Memangnya apa yang kami lakukan hingga merusak moral bangsa?" Johan menyipitkan matanya.
"Dan dilihat dari pakaian yang anda gunakan tidak seperti pekerja biasa. Pasti anda memiliki posisi penting di tempat anda bekerja. Bisa-bisa nya anda malah menghamili gadis yang masih sangat muda. Gadis itu masih berada di tingkat SMA." Johan melirik Berlian yang terlihat semakin tidak nyaman. Ia merasa bersalah memaksa Berlian datang ke tempat ini dan akhirnya malah dihina orang. Seharusnya, sebelum ia datang tadi ia menyiapkan perlakuan istimewa dengan meminta dokter khusus sehingga mereka tidak perlu mengantri dan bertemu dengan orang-orang ini.
"Inilah sebenarnya yang merusak bangsa ini, masyarakatnya berbicara tanpa berpikir. Memfitnah orang dengan kejam meskipun tidak tahu kebenarannya." Johan menatap tajam wanita itu.
"Huh!" Wanita itu mendengus kesal.
"Kami datang kesini untuk periksa. Tapi bukan periksa kehamilan. Melainkan untuk mengobati nyeri haid. Jadi bisa dipastikan saya tidak hamil sama sekali." Berlian sudah pusing mendengar semua orang berdebat.
"Masih saja berkelit." Wanita itu melipat tangannya. Dia sudah datang ke tempat ini beberapa kali. Itu karena kandungannya bermasalah sehingga membutuhkan perawatan. Ia sudah menikah selama tujuh tahun dan belum dikaruniai anak. Sejak menikah, ia sudah pernah keguguran sebanyak lima kali karena kondisi kandungannya yang lemah. Jadi ketika ia melihat seseorang yang hamil di luar nikah bahkan masih di usia sekolah, ia sangat membencinya, ia selalu berpikir kenapa itu bukan dia yang hamil.
"Itu urusan anda jika tidak percaya." Johan dan Berlian juga tidak bisa melakukan apa-apa jika wanita itu tidak percaya. Lagipula tidak perlu menjelaskan pada semua orang tentang hal ini. Jadi jika ada yang percaya itu bagus, jika tidak ya...tidak masalah.
Sama terkejutnya dengan perawat itu, Dokter perempuan yang duduk di balik meja juga mengalami hal yang sama. Tetapi ia dengan segera menormalkan dirinya dan tersenyum menyambut Berlian.
Berlian duduk di kursi di bantu oleh Johan. Melihat keduanya, dokter dan perawat itu memiliki ekspresi yang rumit. Mereka juga mengira bahwa Berlian tengah hamil melihat ejaan pucatnya. Tidak masalah jika mereka adalah pasangan normal pada umumnya, tetapi pasangan ini tidak normal dimana gadisnya masih sekolah.
"Ini baru pertama kali datang kemari ya?" Tanya dokter itu ramah.
"Ya." Johan yang menjawab.
"Ooh...Ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong periksa Berlian dokter."
__ADS_1
Dokter itu melirik perawat di sampingnya dan mengisyaratkan untuk mengambilkan buku kesehatan ibu dan anak. Meskipun pasangan muda ini tidak normal, dengan mereka datang untuk periksa ke dokter itu artinya mereka tidak berniat untuk melakukan aborsi. Jadi dia akan menjadi dokter yang baik.
Berlian terkejut setelah melihat dan membaca judul buku yang dipegang dokter itu. Dokter itu mengambil bolpoin dan bersiap untuk menuliskan namanya.
"Namanya?" Tanya dokter sambil memandang Berlian.
"Dokter, sepertinya anda salah paham." Ucap Berlian. Ia harus segera meluruskan masalah ini.
"Salah paham? "Dokter itu mengernyit tidak mengerti.
"Saya tidak hamil dok. Jadi Saya datang bukan untuk memeriksakan kandungan." Berlian menjelaskan. Dia tidak mungkin membiarkan Johan yang melakukannya.
"Tidak hamil?" Dokter itu memandang lekat Berlian yang mengangguk yakin. "Lalu?"
"Saya Nyeri haid dok. Biasanya setelah meminum obat penghilang rasa nyeri akan hilang, tetapi ini masih tidak berkurang rasa sakitnya bahkan rasanya semakin parah." Berlian menjelaskan dengan malas. Ia Hanya ingin semua kesalahpahaman ini cepat selesai.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~
Jangan lupa like, komen dan Vote ya....
__ADS_1