Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_15. Johan dan Rezvan


__ADS_3

Clara memandang Rezvan dan Johan yang tampak aneh. Johan memang memandang Rezvan dengan tenang, tetapi matanya itu tampak dingin. Sedangkan Rezvan memandang Johan dengan tatapan yang penuh selidik.


"Ehm. Bagaimana kalau kita pergi menonton lebih dulu?" Clara berdehem.


"Baiklah. Kita akan menonton film genre apa?" Tanya Berlian setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku jamper yang dia kenakan.


"Romantis! Ada film bagus yang baru saja rilis." Seru Clara semangat.


"Tidak tidak. Lebih baik kita menonton film action saja." Rezvan seketika menolak.


"Apa kamu tidak tahu kalau menonton bioskop dengan para gadis itu harus menonton film romantis?" Clara menatap Rezvan tidak suka.


"Apa hubungannya? Namanya saja film romantis. Tapi pasti ada adegan yang membuat orang menangis. Padahal semua orang tahu bahwa itu hanya cerita fiksi. Masih saja ikut terbawa perasaan dan menangis."


"Dasar pria tidak peka!" Sungai Clara. Ia mendengus dan memalingkan wajahnya dari Rezvan. Tetapi Rezvan tidak ingin ambil pusing dan menjulurkan lidahnya mengecek Clara.


"Bagaimana kalau Kita menonton film horor saja?" Usul Johan. Cara menatapnya dengan heran. Lalu berpikir bahwa ide itu tidak terlalu buruk.


Bagi para gadis, menonton film romantis bersama dengan pria yang disukai adalah hal yang menyenangkan. Mereka akan berharap mendapatkan kesan romantis dan mendapatkan  cinta mereka. Tidak beda dengan Clara yang mudah berencana untuk duduk di samping Johan. Dan saat ada adegan romantis, ia berharap Johan mungkin akan terbawa suasana dan menyatakan cinta padanya.


Tetapi karena Johan mengusulkan untuk menonton film horor, Clara berpikir kalau mungkin iuran adalah genre film kesukaan Johan. Jadi Clara setuju. Apalagi dia mungkin akan memiliki banyak kesempatan untuk memegang tangan Johan atau bahkan memeluk pria itu dengan alasan karena ia takut. Pada umumnya, kebanyakan pria akan menyukai seorang gadis yang lemah dan membutuhkan perlindungan darinya. Yah. Film horor adalah pilihan yang paling tepat.


Memikirkan apa yang akan terjadi nanti membuat Clara semangat dan menarik Berlian untuk masuk ke dalam lift dan naik ke lantai dua tempat bioskop berada. Rezvan tidak memiliki pilihan lain dan mengikuti kedua gadis itu bersama dengan Johan.


"Kalian tunggu disini dulu. Aku akan membeli tiketnya." Ucap Johan dan langsung meninggalkan tiga anak SMA itu.


Clara menatap Rezvan dengan kesal dan memintanya untuk membelikan popcorn dan minuman soda untuk mereka berempat. Tentu saja Rezvan menolak.


"Menonton film mana lengkap tanpa makanan dan minuman?" Clara mengerucut bibirnya.


"Kalau kamu begitu banyak keinginan,  kenapa tidak menonton televisi saja di rumah? Kenapa harus repot-repot pergi ke bioskop?"

__ADS_1


"Biarkan aku saja yang beli." Berlian berdiri dari duduknya. Rezvan menarik tangannya dan menghentikannya.


"Aku saja. Kalian tunggu di sini saja. Kalau aku membiarkan gadis cantik kesusahan aku tidak akan bisa disebut laki-laki." Rezvan menyegarkan rambutnya dan pergi ke arah outlet penjualan makan ringan. Kembali duduk di tempatnya. Sedangkan cagar masih bergumam kesal.


Tak lama kemudian Johan kembali dengan empat buah tiket di tangannya. Clara sangat senang melihatnya. Ia sudah tidak sabar untuk duduk di samping Johan.


"Kita terlambat. Hanya ada beberapa kursi yang tersisa. Jadi aku tidak bisa mendapatkan empat kursi sekaligus." Ucap Johan sambil memandang Clara dan Berlian. Clara segera mengambil tiket di tangan Johan dan melihatnya. Ia tersenyum di dalam hatinya. Ini sesuai.


"Nomor kursinya agak berjauhan. Tapi ini berpasangan. Jadi bolehkah aku duduk bersama kak Jojo? Aku sedikit penakut. Dan kalian tahu aku dan Rezvan itu tidak akan cocok duduk bersama kan?" Ujar Clara memelas. Berlian langsung setuju mendengarnya. Lagipula ia tahu niat Clara.  Ia juga sudah berjanji untuk membantu sahabatnya itu. Karena berlainan sudah setuju, Johan tidak mengatakan apa-apa tentang itu.


Mereka masuk setelah Rezvan kembali dengan makanan dan minuman mereka. Ada dua buah popcorn ukuran besar dan empat buah gelas minuman soda.


Johan dan Clara duduk di baris ketiga dari depan. Sedangkan Rezvan dan Berlian agak jauh dari sana. Mereka sedikit lebih ke kiri dan dua baris dari kursi Johan. Mereka duduk sambil menunggu film yang sudah hampir dimulai. Bioskop hampir penuh karena ini adalah malam minggu. Jadi banyak pasangan yang menghabiskan waktu bersama. Mungkin mereka sama seperti Clara yang ingin mencari kesempatan.


Film baru dimulai. Tetapi Clara sudah memegang lengan Johan dengan erat. Wajahnya juga beberapa kali ia sembunyikan di lengan kekar itu.


"Kalau kamu takut, bagaimana kalau kita keluar saja?" Johan melihat Clara. Ia merasa kasihan melihat teman Berlian yang ketakutan itu sekaligus ia juga merasa risih. Sejak awal tangannya sudah dipeluk dengan erat oleh gadis-gadis itu.


Sementara Clara terus mencari kesempatan, Berlian menatap layar besar itu tanpa ekspresi. Bahkan ketika wajah tokoh yang memesankan hantu muncul memenuhi layar, ekspresi Berlian juga tidak berubah.


"Apa Clara menyukai sopirmu?" Tanya Rezvan setelah melihat apa yang dilakukan Clara di depannya. Ia melirik Berlian yang duduk di sampingnya sambil memangku popcorn.


"Sopirku? Kak Johan?" Berlian tadi begitu fokus pada ponselnya sehingga tidak begitu mendengar jawaban yang diberikan Johan untuk menjawab pertanyaan Rezvan.


"Ya. Bukankah dia sopirmu? Memangnya siapa dia?" Rezvan curiga identitas Johan tidak sesederhana yang ia sebutkan. 'Sopir'. Johan memiliki aura yang mendominasi. Sangat tidak cocok dengan statusnya sebagai seorang sopir.


"Ya. Apa begitu terlihat?" Berlian menatap Rezvan.


"Heem." Rezvan menganggukkan kepalanya sambil menatap cakar dan Johan. "Itu sangat terlihat. Jika ada orang yang tidak melihatnya berarti orang itu bodoh." Lanjut Rezvan. Ia langsung bisa melihat begitu ia melihat Clara menatap Johan dengan cara yang berbeda sejak ia melihatnya tadi.


"Apa itu artinya aku orang termasuk orang bodoh?" Tanya Berlian. Ia juga tidak akan tahu kalau Clara menyukai Johan kalau temannya itu tidak memberitahunya satu tahun yang lalu.

__ADS_1


Rezvan melongo mendengar pertanyaan Berlian. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebelum ia memalingkan wajah dan menutup matanya. Berlian meendesah melihat teman di sebelahnya malah tidur. Kemudian ia memperhatikan Clara yang terus saja memeluk lengan Johan.


Johan mengantar Clara ke kamar mandi setelah gadis itu ingin muntah saat melihat pemain hantu membedah perut seekor sapi untuk diambil anaknya. Clara muntah parah di sana. Meskipun sebenarnya gambar itu disensor sehingga tidak terlihat dengan jelas, tetapi Clara sudah bisa membayangkan di dalam pikirannya.


Berlian yang mengetahui bahwa Clara dan Johan keluar ruangan bioskop segera membangunkan Rezvan dan mengajaknya keluar untuk menyusul Clara.


"Clara kenapa kak?" Johan menoleh dan melihat Berlian berjalan ke arahnya bersama dengan Rezvan.


"Mual."


"Oh." Berlian paham. Ia segera melewati Johan dan masuk ke dalam kamar mandi untuk melihat keadaan Clara.


"Sepertinya Clara sangat menyukaimu." Rezvan menyadarkan tu upaya di sisi dinding. Memandang Rezvan yang juga bersandar di depannya.


"Itu tidak ada hubungannya  denganmu." Johan melirik Rezvan sekilas.


"Tentu saja ada. Clara dan Berlian adalah temanku. Aku tidak mau persahabatan mereka rumah gara-gara cinta segitiga." Johan menaikkan alisnya.


"Cinta? Apa maksudmu?" Tanya Johan tidak  mengerti.


"Tidak perlu menutupi kalau sebenarnya kamu menyukai Berlian.  Mereka adalah sahabat. Jangan sampai karena hubungan cinta segitiga ini merusak persahabatan mereka." Ucap Rezvan serius.


"Aku tahu apa yang aku lakukan." Jawab Johan tak kalah serius.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~

__ADS_1


__ADS_2