
Di sebuah ruangan di lantai teratas sebuah gedung perkantoran, seorang pria muda duduk dengan tumpukan dokumen di mejanya yang menunggu untuk dia periksa. Sudah dua hari ia terjebak di kantor ini. Ia bahkan sering lembur dan masih harus membawa pulang banyak dokumen untuk dia kerjakan di apartemennya.
Jas yang sejak tadi ia pakai sudah tersampir di sandaran kursi yang ia duduki. Lengan kemeja putihnya ia gulung hingga ke siku. Kancing teratas sudah ia lepas. Dasi abu-abu yang melingkar di lehernya juga sudah longgar.
Meskipun begitu, Wajah tampannya yang terlihat berwibawa tidak dapat diabaikan saat ia tengah serius dalam pekerjaannya.
Pintu diketuk pelan sebelum suara seorang pria terdengar meminta izin untuk masuk. Pria di balik meja membuka suaranya yang dalam dan rendah untuk mempersilahkan masuk.
Setelah mendengar izin dari pria di dalam ruangan, seorang pria masuk dengan beberapa dokumen di tangannya. Ia membungkuk hormat sebelum ia berdiri di depan meja.
"Orang yang menyerang nona kemarin adalah orang bayaran salah satu teman nona yang bernama Vivi." Pria itu dengan ragu membuka suaranya.
Johan, yang sejak Pria itu datang tidak mengalihkan perhatiannya pada dokumen itu mengangkat sedikit kepalanya. Mengetuk meja dengan bolpoin yang dipegangnya.
"Gadis ini cukup berani."
"Ada berita yang mengejutkan mengenai Vivi tuan." Johan mengernyitkan alisnya.
"Apa itu?"
"Pagi ini, polisi menangkap papanya karena kasus obat-obatan terlarang. Pria itu memproduksi obat-obatan ini secara ilegal. Selain itu, dia juga terlibat kasus korupsi."
"Ini hal biasa." Benar. Pengusaha yang tersandung kasus hukum tidak hanya satu dua. Dan juga, politikus yang terjerat tindakan korupsi. Itu bahkan lebih banyak. Jadi, ini bukan hal yang menarik untuk didengar.
"Benar tuan. Tetapi, Dodi Wijaya ini memiliki sifat licik dan menyimpan banyak rencana di lengan bajunya. Sebenarnya, polisi sudah beberapa kali mencoba mencampuri urusannya, tetapi mereka selalu gagal. Dari informasi yang dapat dipercaya, penangkapan kali ini berhasil karena polisi telah bekerja sama dengan salah satu organisasi bawah tanah internasional." Mendengar hal ini, Johan menghentikan gerakan tangannya yang sedang membubuhkan tanda tangannya di atas dokumen di depannya.
"Apa nama organisasi itu?" Tanya Johan penasaran. Beberapa waktu yang lalu, ia tanpa sengaja menemukan bahwa Berlian berinteraksi dengan organisasi bawah tanah. Tetapi saat ia telusuri lebih jauh, dia tidak menemukan apapun.
"Kami belum dapat mengetahuinya tuan. Pihak yang berhubungan dengan organisasi ini adalah seorang jendral berpengaruh. Jadi kami tidak bisa mendapatkan informasi darinya."
"Baiklah. Aku mengerti." Johan mengangguk. Ia melambaikan tangannya untuk menyuruh pria itu keluar dari ruangannya.
Sebenarnya, sejak ia menerima kabar tentang penyerangan yang dialami Berlian, ia sangat ingin kembali dan menjaga Berlian dengan tangannya sendiri. Tetapi, kondisi perusahaan cabang begitu memprihatinkan. Terlebih lagi, tugas ini diberikan oleh Sean kepadanya, jadi dia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
"Kenapa ada rahasia yang begitu besar. Dilihat dari usianya, tidak mungkin ia mengenal begitu banyak orang. Apalagi organisasi bawah tanah. Tetapi, melihat semuanya terjadi, ini sebuah kenyataan bagaimanapun aku menyangkalnya. Bagaimanapun, aku harus mencari tahu kebenarannya. Jika dia benar-benar bergabung dengan organisasi bawah tanah itu, aku tidak mungkin membiarkan dia sendirian." Gumam Johan mengetuk mejanya.
Memikirkan semua kemungkinan, Johan segera kembali larut dalam pekerjaannya. Semua menunggu untuk diselesaikan. Jika ia ingin segera kembali dan bertemu dengan Berlian, ia harus bergegas.
Empat hari berlalu dengan begitu lambat bagi Johan. Dia hanya tidur tiga ja setiap hari.
__ADS_1
Lelah?
Tentu saja. Tetapi ia harus segera kembali ke tempat dimana Berlian berada.
Motor yang dikendarai nya masuk ke dalam halaman. Lalu berhenti di parkiran yang berada di halaman samping. Suaranya yang khas memudahkannya untuk dikenali. Berlian yang sedang belajar di kamarnya berdiri dan keluar dari kamar dan berdiri di balkon.
Gadis itu memandang Johan yang baru saja turun dari atas motornya. Sekilas di lihat saja, ia sudah mengetahui jika Johan dalam keadaan yang lelah.
Berlian tidak pernah tahu apa yang dilakukan Johan selama ini. Dia juga tidak berniat untuk mencari tahu. Tapi satu hak yang dia tahu, dia adalah anak buah Sean yang dipercaya. Dan dia pasti memiliki banyak pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Tetapi Berlian tidak tahu, sebenarnya, tanggung jawab terbesar yang diberikan Sean pada pria muda itu adalah untuk mendapatkan hatinya.
Johan merasa ada yang Mengawasinya. Ia mendongak dan bertemu dengan mata Berlian yang sedang memandangnya.
"Selamat malam, Nona." Johan menyeringai. Gadis itulah yang sangat ia rindukan. Demi bertemu gadis itulah ia menyelesaikan tugasnya dengan begitu cepat. Jika itu orang biasa, menyelesaikan semua masalah di sana, waktu satu bulan belum tentu selesai. Tapi, Johan mampu menyelesaikannya kurang dari satu minggu. Sean memang tidak salah memandang orang.
"Menyebalkan!" Berlian berdecak. Menghentakkan kakinya sebelum ia berbalik dan pergi.
Bukankah dia sudah memberi tahu Johan untuk tidak memanggilnya nona?
Panggilan itu sangat aneh saat ia mendengarnya keluar dari bibir Johan.
Melihat wajah Berlian yang kesal membuat Johan puas. Biasanya, sangat jarang baginya untuk melihat wajah Berlian yang memiliki ekspresi. Paling banyak, hanya dingin dan acuh tak acuh. Jadi saat melihat Berlian mengerucutkan bibirnya dan pergi dengan kesal, ia sangat menikmatinya.
"Apakah itu sangat menyenangkan menggoda putriku?" Johan menoleh dan terkejut saat melihat Sean menyilagkan tangannya di depan dada. Memandangnya dengan mencibir nya.
"Selamat malam tuan." Johan segera berjalan menghampiri Sean.
"Hebat juga kamu." Sean memuji Johan. Tetapi ekspresinya mengejek. Ia ingin jelas sedang menyindirnya.
"Terima kasih pujiannya tuan." Johan mengabaikannya dan tersenyum ramah sebagai gantinya.
"Papamu baru saja menghubungiku dan berkata bahwa dia sudah tidak memiliki banyak kesabaran." Ucap Sean mengubah nada bicaranya menjadi serius.
"Saya mengerti." Johan mengangguk paham.
"Melihat sifat Papamu, sepertinya ia akan datang dan menyeretmu kembali jika tahun ini kamu belum bersedia mengambil alih perusahaan itu."
"Saya masih berusaha untuk mendapatkan kendali. Kekuatan tante Erika sangat besar. Dengan latar belakang keluarganya, saya khawatir jika saya kembali tanpa persiapan, tidak butuh banyak usaha untuk menyeret saya sampai ke bawah."
"Aku mengerti. Kamu cukup baik akhir-akhir inu. Aku yakin kamu akan dapat menjalankan perusahaan itu lebih baik dari Papamu cepat atau lambat."
__ADS_1
"Terima kasih tuan. Berkat bantuan tuan, saya mendapatkan banyak pengalaman dan kemampuan."
"Aku tidak melakukannya semata-mata untuk dirimu. Kamu harus ingat apa yang kamu janjikan waktu itu."
"Tentu saja saya mengingatnya tuan."
"Bagus. Segeralah istirahat. Mulai besok, kembalilah ke sisi Berlian. Aku sungguh tidak bisa mempercayakan nya pada orang selain kamu." Sean menatap Johan serius. Selama Johan pergi, sejak kejadian itu, Berlian tidak diizinkan pergi kemanapun. Bahkan ia harus ditemani tiga sampai lima orang bodyguard hanya untuk pergi ke sekolah.
"Baik tuan. Saya permisi. Selamat malam." Johan mengangguk dan berbalik. Kamarnya berada di paviliun terpisah dari rumah utama.
"Apa yang kamu rencanakan Sean?" Evelyn yang sejak tadi diam-diam mendengarkan pembicaraan dua pria itu keluar. Sean menoleh dan melihat Evelyn yang berjalan mendekat dengan curiga.
"Apa?" Sean pura-pura tidak tahu.
"Jangan pura-pura bodoh di depanku. Apa kamu pikir aku tidak mengerti jika kamu sebenarnya menjodohkan Brily dengan Johan?" Evelyn menatap Sean dengan penuh intimidasi.
"Apa salahnya?"
"Apa salahnya? Brily masih terlalu kecil. Apa yang kamu pikirkan Sean? Kita tidak bisa memaksa anak-anak kita seperti ini." Evelyn marah.
"Kamu salah paham sayang." Sean panik melihat wajah Evelyn yang terlihat kecewa padanya. Ia segera mendekati Evelyn dan berusaha memegang lengannya. Tetapi istrinya ini menghindar. Tentu saja Sean semakin panik.
"Dengarkan penjelasanku dulu. Aku memang menjodohkan mereka. Tapi aku tidak memaksa. Aku akan melihat bagaimana kedepannya nanti. Jika Johan berhasil mendapatkan hati Berlian, perjodohan ini baru bisa dilakukan."
"Kamu meminta Johan mendekat Berlian dan membuatnya mencintainya. Tapi apakah Johan juga begitu? Apa kamu tidak berpikir jika suatu saat nanti saat Berlian benar-benar mencintai Johan, tapi ternyata Johan tidak. Bagaimana itu? Bukankah itu tidak sama dengan kamu yang merusak Berlian pada akhirnya?"
Sean diam setelah mendengar penjelasan Evelyn. Tapi ia mempunyai kepercayaan yang tinggi pada Johan. Ia sudah melihat adanya cinta di mata Johan. Dan Sean yakin, pria seperti Johan tidak akan pernah menyakiti wanitanya.
Ini adalah sesuatu yang dapat dipahami oleh sesama pria. Tapi pola pikir wanita berbeda. Jadi Sean memilih untuk tidak memberitahukan hal ini pada Evelyn. Ia akan secara perlahan membuat Evelyn mengerti.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~
Jangan lupa like, komen dan Vote ya....
__ADS_1