Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_54. Hukuman Bryan


__ADS_3

Pagi hati, Berlian bergegas turun setelah ia selesai bersiap. Dia turun dengan semangat berharap tidak ketinggalan tontonan yang bagus ya gak sudah ia tunggu sejak semalam.


Karena Berlian turun lebih pagi dari biasanya, dapur masih sibuk dengan pekerjaannya menyiapkan sarapan. Namun yang tidak biasa lainnya adalah adanya satu orang lagi yang biasanya tidak menginjakkan kakinya ke dapur. Dia adalah Bryan. Dengan pisau di tangannya yang dengan gesit memotong sayuran. Wajahnya ditemukan dari waktu ke waktu.


Melihat tampilan ini, Berlian tertawa terbahak-bahak.


Semalam, Bryan dengan semangat menunjukan kemampuannya dalam menggunakan pisau. Bunga mawar di atas meja televisi yang baru saja Evelyn petik sore tadi dibuat menjadi sasaran oleh Bryan. Bunga-bunga yang indah itu jatuh satu persatu terpisah dari tangkainya dan menyisakan tangkai yang terlihat jelek di dalam vas.


Raut wajahnya Evelyn menjadi jelek.


Tetapi sayangnya, Bryan yang terjebak dalam perangkap Berlian sudah membayangkan bahwa ia akan dipuji oleh mommy nya mengangkat dagu nya tinggi-tinggi. Ia bahkan menyombongkan keahliannya tanpa tahu apa yang terjadi.


"Mommy tidak menyangka kamu akhirnya memiliki keahlian lain selain menembak." Evelyn menarik bibirnya tersenyum dengan manis. Bryan semakin melambung saat ia mendengar pujian Evelyn. Ia tidak menyadari nada kesal yang digunakan Evelyn penuh dengan ancaman.


"Hebat kan mom?!" Tanya Bryan tidak sabar. Ia masih ingin mendengar mommy memujinya.


"Hebat. Tapi lebih hebat lagi jika besok bisa membantu mommy." Evelyn menganggukkan kepalanya. Sean yang duduk di sampingnya mengelus kepalanya dengan santai. Istrinya sedang dalam suasana hati yang buruk sekarang. Ia yakin akan ada pertunjukan yang bagus.


"Tentu mom. Aku akan dengan senang hati menanyakan mommy." Jawab Bryan dengan semangat.


Bryan tidak menyadari jika sebenarnya bantuan yang diminta mommy nya adalah untuk membantunya memasak. Memotong sayur dengan pisau kesayangannya dan menggunakan kemampuan yang ia banggakan. Bryan baru menyadarinya saat pagi-pagi sekali Evelyn menggedor pintu kamarnya. Mommy nya itu bahkan menyerbu masuk ke dalam kamarnya saat ia tidak kunjung bangun dan membukakan pintu untuknya.


Evelyn menarik selimut yang sengaja ia gunakan untuk menutup telinganya dengan paksa. Setelah itu ia pun dipaksa bangun dan diseret ke dapur untuk membantunya memasak.


"Aku tahu kamu melakukannya dengan sengaja." Bryan melirik Berlian penuh permusuhan.


"Melakukan apa?" Berlian berpura-pura tidak tahu apa yang dimaksud saat ia menerima segelas susu putih dari seorang pembantu. "Terima kasih mbok."


"Kamu! Kamu sengaja menyuruhku untuk memberitahu mommy kan? Kamu pasti tahu kalau mommy akan menghukumku." Bryan kesal. Tetapi ia masih tidak berhenti memotong kangkung karena setiap ia berhenti, mommy nya akan menegurnya.

__ADS_1


"Aku bukan mommy. Mana aku tahu mommy akan menghukummu jika tahu." Berlian mengangkat bahunya.


"Mommy bukan menghukum kamu." Evelyn berbicara dengan ringan saat ia mengambil potongan kangkung dan menggantinya dengan wortel.


"Mom...." Bryan protes. Kenapa pekerjaan di dapur tidak ada habisnya dari tadi? Sejak Bryan datang, mommy nya akan memberikan pekerjaan untuknya.


"Apa? Ini mengasah kemampuan kamu yang hebat." Evelyn menjawab dengan logis. Bryan akhirnya menyerah begitu saja dan menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Evelyn di bawah tatapan Berlian yang mengejek ke arahnya.


Pagi ini Berlian tidak melihat Bentley atau pun Johan. Yang dia lihat hanyalah motor sport Bryan yang diparkir di depan teras. Berlian celingak mencari mobilnya atau Johan. Tetapi dia tidak menemukan mereka. Saat ia ingin memanggil seorang bodyguard untuk menanyakan keberadaan Johan, suara yang akrab namun menjengkelkan terdengar dari belakangnya.


"Tidak usah dicari. Kak Johan sibuk hari ini dan tidak bisa mengantarkanmu." Ucap Bryan memainkan kunci di tangannya. Bryan sudah melupakan kejadian di dapur pagi tadi.


"Ooh...kalau begitu aku akan meminta kak Terry untuk mengantarmu" Jawab mengangguk mengerti. Ia tidak melihat ekspresi Bryan yang terlihat licik.


"Kak Terry ikut kak Johan.  Kenapa tidak aku saja yang mengantarmu hari ini?" Bryan menawarkan bantuan dengan murah hati.


Motor sport Bryan berhenti di depan gerbang. Berlian langsung turun begitu urusannya sudah selesai. Ia mulai menjauh dari Bryan saat sebuah mobil tiba-tiba berhenti di sampingnya dan seorang pria muda yang tampan mengeluarkan kepalanya dari jendela.


"Hei singkirkan kepalamu dari adikku!" Bryan menarik kerah belakang Daniel dengan kejam.


Daniel yang bajunya ditarik paksa oleh Bryan menjadi tidak suka. Ia langsung berbalik demi mendapati Bryan yang berdiri dengan angkuh di belakangnya.


"Bryan!" Seru Daniel terkejut.


"Ya. Ini aku." Bryan melepaskan kerah Daniel dan mendorong paksa kepala nya hingga ia terpaksa masuk de dalam mobil kembali.


"Masuklah dulu. Ada yang ingin gunakan aku bicarakan dengan Daniel." Bryan mengisyaratkan Berlian untuk masuk ke sekolah. Berlian mengangguk dan melambaikan tangannya. Lagipula, sejak dulu jika kedua orang itu bertemu, mereka tidak akan pernah damai.


"Sepertinya kamu masih belum belajar dari kesalahanmu dulu." Bryan mengamati Daniel setelah ia memperhatikan Berlian sudah agak jauh dari mereka.

__ADS_1


"Bryan. Sekarang kita sudah dewasa. Apa tidak bisa melupakan hitungan dulu?" Tanya Daniel ketakutan.


"Boleh. Tapi kamu juga tidak boleh memulainya lagi." Bryan melipat tangannya.  Menatap tajam Daniel saat ia bicara.


"Bryan, aku benar-benar menyukai Brily. Izinkan aku mendekatinya. Ya?"


"Kamu?  Tidak. Lagipula kamu sebenarnya bukan menyukai Brily." Bryan  melirik Daniel tidak senang.


"Omong kosong! Aku selalu menyukai Brily. Tidak mungkin aku Tidak !" Daniel berteriak marah.


"Kamu tidak." Bryan memainkan mendengus dan mengejek.


"Tidak mungkin. Aku menyukai Brily sejak dulu. Tidak mungkin bisa salah."


"pikirkanlah lagi, itu bukan suka seperti itu. Melainkan obsesi. Kamu tidak pernah mau kalah dariku.  Itulah sebabnya kamu selalu memiliki kecenderungan untuk mengambil apa yang ada di sekitarku." Bryan menatap Daniel yang tercengang.


"Itu tidak mungkin." Daniel menggelengkan kepalanya.


"Pikirkan baik-baik. " Bryan berbalik dan pergi dengan motor yang meninggalkan Daniel yang masih belum bisa percaya.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~


Jangan lupa like, komen dan Vote ya....

__ADS_1


__ADS_2