Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_68. Putus


__ADS_3

Latihan intens selama beberapa bulan yang diberikan Johan pada Berlian membuahkan hasil yang memuaskan. Sebagai hasilnya, Berlian bisa mengimbangi Johan dalam tiga atau empat gerakan dalam pertarungan. Hasil ini sudah cukup baik. Keterampilan Johan sangat baik. Apalagi ketahanan  fisik dan kekuatan ototnya sangat baik. Terry saja hanya akan bertahan dalam dua gerakan dan dikalahkan dengan mudah oleh Johan.


"Hiss..." Berlian meringis saat Johan mengoleskan salep pada lebam di lengan kanannya setelah mereka selesai latihan.


"Maaf aku terlalu keras tadi." Johan segera meminta maaf setelah meniup luka Berlian yang tidak sengaja dibuat olehnya. Saat latihan beladiri kecelakaan semacam ini tidak dapat dihindarkan.


Keterampilan Berlian cukup baik dan membuat Johan tanpa sadar tidak membatasi kekuatannya untuk menyerang Berlian hingga menyebabkan tangan Berlian lebam karena gerakannya.


"Tidak apa-apa. Aku sudah cukup terbiasa."


"Meskipun aku tahu kalimat itu adalah sindiran halus untukku, tapi aku baik-baik saja dengan menganggapnya sebagai pujian tertinggi untukku." Johan meletakkan kembali salep yang baru saja ia gunakan di dalam kotak obat.


"Kenapa kamu sangat sensitif hari ini? Aku benar-benar tidak menyindir. Aku memang sudah terbiasa dengan sakit seperti ini. Dan aku rasa ini baik untukku. Apa kamu ingat bagaimana aku menangis saat terluka seperti ini dulu?"


Yah Johan mengingatnya. Itu ada di awal masa latihan mereka. Berlian hanya terluka kecil, sangat kecil. Tetapi gadis itu menangis saat ia mengoleskan disinfektan untuk membersihkan lukanya.  Dibandingkan dengan saat itu, toleransi Berlian terhadap rasa sakit memang jauh lebih baik. Tubuh Berlian juga secara bertahap bugar dan sehat. Menjadi jauh lebih kuat dari gadis sebayanya.


"Itu membuatku lebih tenang jika aku tidak lagi berada di sisimu nanti." Johan mengangguk. Ia teringat percakapannya dengan Norman beberapa hari yang lalu. Sepertinya ia sudah tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi mengingat keadaan di perusahaan saat ini. Belum lagi Reina yang masih enggan untuk pulang bahkan untuk memberitahu keberadaannya pada Norman. Reina hanya mengizinkannya untuk memberitahu Norman bahwa dia baik-baik saja.


"Apa maksud kamu kak?" Berlian menyadari ada yang salah. Apalagi ekspresi Johan yang terlihat cemas beberapa hari terakhir.


Johan menghela napas. Kekasihnya ini cerdas. Jadi dia tidak bisa selamanya menyembunyikan hal ini darinya. Apalagi dia dan Berlian sekarang sudah memiliki hubungan. Jadi jika dia benar-benar pergi, Berlian berhak mengetahui alasannya. Johan memegang tangan Berlian di tangannya dan memandang Berlian dengan serius.


Berlian jarang melihat Johan yang seperti ini. Tiba-tiba ia merasa khawatir dan berbagai macam pikiran negatif muncul di otaknya. Ini adalah pertama kalinya Berlian merasa jatuh cinta. Juga pertama kalinya ia memberikan kepercayaan yang penuh kepada orang lain. Ia tidak ingin dikecewakan. Dia memandang Johan dengan cemas.


"Lian...aku pikir kamu harus tahu sekarang." Berlian hanya diam. Ia takut memprediksi apa yang akan dikatakan Johan padanya.


"Latar belakangku tidak mudah. Aku hanyalah seorang anak yang tidak diakui di keluarga karena suatu alasan." Berlian memandang Johan terkejut. Ia tidak menyangka Johan akan menyebutkan jika dirinya adalah anak haram.


"Papa ku melarikan diri dari rumah dan telah menikah dengan mamaku dalam pelariannya. Namun mereka ditemukan dan papa dipaksa menikah dengan tunangan yang sudah dipilih oleh kakek untuk pernikahan bisnis." Lanjut Johan menghindarkan Berlian berpikir bahwa dia adalah anak haram. Sebagai seorang pria, terlebih kekasih Berlian, tentu saja dia tidak ingin disalahpahami dan dipandang rendah.

__ADS_1


"Istri baru papa tidak begitu saja melepaskan mama yang sedang hamil. Dia mengancamnya dan membuat mama melahirkan dalam kesusahan sehingga mengalami pendarahan yang parah dan akhirnya meninggal. Sejak itu aku dibawa pulang oleh papa dan juga diberi namanya." Berlian memandang Johan yang sendu. Ia dapat merasakan genggaman tangan Johan yang menegang.


Berlian tidak pernah melihat sisi rapuh Johan selama ini. Saat dia melihatnya, dia tidak bisa tidak merasa ia ingin menghilangkan segala beban yang dirasakan Johan. Berlian tidak bisa menahan diri untuk memeluk Johan. Dan berbisik padanya dengan yakin.


"Aku tidak pernah peduli latar belakang kak Johan. Yang aku tahu adalah aku mencintaimu kak Johan. Dan yang aku pedulikan adalah bahwa kak Johan juga mencintaiku. Itu sudah cukup." Johan tersenyum mendengar pengakuan Berlian. Mereka jarang mengumbar kata cinta sebelumnya, mereka lebih suka mewujudkannya dari memperlakukan satu dengan yang lainnya dengan baik dan penuh cinta. Hanya Johan yang sesekali akan memberinya ucapan cinta disertai kecupan lembut di kening. Dan ini adalah pertama kalinya Berlian yang berinisiatif.


"Lian...apa kamu yakin pada cinta kita?" Tanya Johan tiba-tiba yang membuat Berlian membeku. Ia mendorong Johan menjauh dan memandang JOHAN dengan bingung.


"Apa kamu mau menungguku?" Ucap Johan lagi.


"Maksud kamu apa kak?"


Johan menghela napas berat. "Kondisi papa tidak baik saat ini dan memintaku untuk kembali. Papa memintaku untuk menjadi penerus perusahaan."


"Bukankah ini akan membahayakan?" Berlian mengerti baik mengenai hal ini. Dalam masyarakat kalangan tertentu, persaingan diantara penerus bisa sangat sengit. Bukan hanya antara saudara dari ibu yang berbeda, saudara kandung bahkan terkadang bisa menjadi yang lebih kejam.


"Apa kamu percaya padaku?" Johan mengangkat tangan Berlian dan meletakkannya di dadanya. Berlian menatap mata Johan dan mengangguk tanpa ragu. Tetapi.... Berlian tidak bisa begitu saja melepaskan simpul di hatinya.


"Bisakah membawaku juga?" Johan memandang gadis di depannya yang memiliki tekad di matanya.


"Tidak untuk saat ini." Johan menggelengkan kepalanya tanpa ragu.


"Kenapa? Apa aku tidak pantas?" Berlian sedikit kecewa.


"Bukan. Tentu saja bukan. Kamu tahu jika bukan begitu."


"Lalu apa?"


"Masalah tidak sederhana seperti yang kamu duga. Saat ini aku tidak memiliki kekuatan untuk melindungimu. Akan lebih baik jika tidak ada yang mengetahui hubungan kita untuk saat ini."

__ADS_1


"Kamu mau kita putus?" Johan mengangguk. Berlian tidak menyangka Johan akan mengiyakan pertanyaannya ini. Tanpa bisa ia tahan, air matanya mengalir saat ia mulai terisak.


"Betapa jahatnya kamu kak!" Ucap Berlian.


"Lian, dengarkan dulu penjelasanku." Johan dengan panik memegang bahu Berlian dan bermaksud menarik Berlian ke dalam pelukannya. Tetapi Berlian menepis tangannya dengan kecewa.


"Jika kamu tahu ini akan terjadi, kenapa kamu membuatku jatuh cinta padamu? Aku punya salah apa padamu kak? Apa kamu mau membalasku karena memaksamu untuk bersama Clara?" Ucap Berlian marah.


"Bukan. Bukan seperti itu. Aku benar-benar mencintaimu. Aku juga tidak menyangka masalah akan menjadi seperti ini. Ini semua demi kebaikanmu. Lian...aku sangat mencintaimu. Kamu harus percaya itu."


"Kalau kakak memang mencintaiku dan percaya pada cinta kita, kak Johan tidak akan pernah memiliki pemikiran untuk memutuskan hubungan ini." Ucap Berlian dengan suara rendah. Ia berdiri sambil mengusap air matanya. "Aku kecewa kak Johan. Jika memang ingin putus ya putus saja." Ucap Berlian sebelum ia berbalik dan berlari ke luar ruang GYM dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya.


Johan memandang Berlian yang menghilang di balik pintu tanpa tahu apa yang harus ia lakukan untuk menjelaskan semuanya. Saat ini ia benar-benar tidak memiliki solusi lain untuk menjaga Berlian dari bahaya di masa depan. Alisya tidak mudah diatasi. Wanita itu picik dan memiliki banyak rencana licik. Selain itu, Alisya memiliki kekuatan dan kemampuan untuk melakukan apa saja demi keinginannya tercapai. Ia tidak ingin bertaruh pada keselamatan Berlian.


"Apa kamu yakin menurutmu ini yang terbaik?" Sean perlahan  masuk. Pandangannya menyapu pemuda yang duduk dengan kepala tertunduk di lantai. Ia tidak sengaja mendengar pembicaraan Johan dan Berlian sebelumnya.  Ia juga terkejut mendengar keputusan Johan untuk memutuskan Berlian.


"Iya tuan. Saat ini keadaan tidak terlalu baik. Apalagi jika nanti saya benar-benar menjadi penerus perusahaan, itu akan membuat wanita itu menggila dan akan melakukan hal yang membahayakan Berlian. Wanita itu tidak memiliki rasa takut dan saya yakin dia tidak akan ragu menargetkan Berlian meskipun dia tahu bahwa Berlian adalah putri tuan." Johan menjawab setelah beberapa waktu.


Sean mengangguk. Ia mengerti apa yang ditakutkan Johan saat ini. Jika ia berada pada posisi Johan, mungkin ia juga akan memilih hal yang sama.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~


Jangan lupa like, komen dan  Vote ya....

__ADS_1


__ADS_2