
Mendengar suara mobil Bryan, Berlian masuk ke dalam rumah untuk menemui Bryan. Saudara kembarnya tampak lelah dengan kemeja putih dengan dasi yang sudah longgar. Lengan kemeja itu juga dilipat sampai ke siku. Jas hitamnya dibawakan pembaru di belakangnya bersama dengan tas kerjanya. Tangan kanan Bryan memijat pelipisnya pelan.
Berlian yang melihatnya berbalik dan masuk ke dapur untuk membawakan minum untuknya. Saat ia kembali Bryan sudah duduk di sofa ruang tamu dengan kepala yang disandarkan di sana.
"Minumlah dulu. Ini teh jahe. Di luar angina pasti kencang." Berlian meletakkan cangkir berisi teh jahe di atas meja. Uap panas menari di udara. Bryan membuka matanya perlahan sebelum menegakkan badannya untuk mengambil minuman yang diberikan Berlian. Menyesapnya pelan. Setelah meminumnya tubuhnya memang terasa lebih segar.
Berlian duduk di sofa lain menunggu Bryan dengan tenang. "Bagaimana hari ini?"
"Huh. Masih sama seperti kemarin. Tapi ada petunjuk baru." Bryan mengambil berkas dalam tasnya dan memberikannya pada Berlian.
Berlian membaca berkas itu dengan teliti. "Sudah kudukurungan dialah pelaku utamanya." Ucap Berlian setelah ia selesai membaca laporan itu. Bryan mengangguk pelan.
Satu hari sebelum Bryan resmi diangkat menjadi pimpinan mereka sudah menemukan pelaku yang menyebabkan kecelakaan itu. Tetapi mereka curiga bahwa dia bukanlah pelaku utamanya. Jadi mereka belum bertindak agar pelaku utama tidak meningkatkan kewaspadaannya. Selain itu mereka juga belum memiliki cukup bukti.
Berlian selalu mengikuti perkembangan penyelidikan, jadi dia mengetahui mengenai hal itu dan dia langsung memberitahu nya pelaku yang sudah ia curigai. Namun ia juga tidak tahu pasti.
"Sekarang kita tidak bisa menyentuhnya. Latar belakangnya tidak bisa diremehkan. Jadi masih harus menemukan bukti yang kuat. Jika tidak dia pasti akan keluar dengan mudah." Bryan tidak menyembunyikan dari Berlian.
"Oke. Aku tahu bagaimana mendapatkan buktinya." Bryan melirik Berlian yang sudah berjalan ke lantai atas ke kamarnya. Ia kembali menyesap tehnya menunggu Berlian datang kembali.
Berlian turun dengan laptop di tangannya. Ia duduk kembali di tempatnya dan dengan serius memainkan jarinya di atas keyboard saat simbol-simbol hijau dan itu berkedip-kedip di tampilkan di layar. Sesaat kemudian layar berganti dan menampilkan gambar yang berbeda.
Bryan duduk tenang menunggu Berlian selesai mengerjakan bagiannya. Lagipula kembarannya bisa diandalkan. Saat ia berkata akan mendapatkan buktinya, maka ia akanendpaatkan bukti yang dia sebutkan.
"Aku sudah mengirimnya ke emailmu." Ucap Berlian setelah ia menutup laptopnya.
Bryan mengeluarkan ponselnya dan membakar email yang dikirim Berlian padanya. Membacanya sebentar sebelum mengangguk puas. "Kamu memang hebat." Bryan mengacungkan jempolnya. Raut lelahnya sudah berganti dengan semangat.
__ADS_1
"Sudah malam. Tidurlah dulu. Itu bisa dilakukan besok." Berlian mengingatkan.
"Aku mengerti. Aku juga sudah mengantuk. Huahem..." Bryan menguap lebar sebelum ia menyambar jas dan tas kerjanya. Naik ke atas dan tidur.
Bryan dan Berlian sudah bersiap untuk tidur. Tetapi tidak dengan Ferry yang sedang mengadakan pesta bersama dengan teman-temannya di sebuah club malam. Denting gelas terdengar bersama dengan gelak tawa. Semua wajah cerah meskipun hari sudah larut malam. Pria dan wanita berkumpul dan duduk bersama dengan bahagia. Bagaimanapun ini adalah pesta.
"Ferry kamu luar biasa." Puji salah seorang dari mereka. Mereka adalah sekumpulan pemuda generasi kedua keluarga kaya. Beberapa dari mereka merupakan pengusaha muda.
"Hahahaha ini biasa saja. Apa yang bisa dibanggakan. Bukankah generasi tua memang sudah seharusnya pensiun." Kelakar Ferry dengan sombong.
Sebelumnya Ferry tidak ada sangkut pautnya dengan Sean. Dia hanyalah generasi kedua yang sedang terlibat dalam perdebatan pewaris tahta. Ayahnya memiliki dua orang putra yang berasal dari dua ibu yang berbeda. Tetapi posisinya berada di tempat yang tidak menguntungkan dimana dia hanyalah anak dari seorang simpanan yang dibawa pulang.
Namun Ferry selalu yakin pada kemampuannya. Dia bermimpi untuk menjadi yang diatas setelah ia merasakan sakitnya diinjak-injak. Apalagi ia mengetahui bahwa saudara beda ibunya itu tidak memiliki kemampuan yang menyebabkan ayah mereka lebih condong padanya.
Hari itu perusahaannya mengajukan tender yang besar. Ferry memiliki kepercayaan diri yang kuat untuk menang. Seperti tender-tender sebelumnya yang telah ia menangkan. Sampai saat ini ia belum pernah kalah dalam tender. Keyakinannya semakin besar saat ia melihat bahwa perusahaan yang ikut tender hanya ada lima perusahaan. Itu karena Beberapa perusahaan langsung mundur begitu mereka mengetahui bahwa Sean ikut serta.
Melalui koneksinya, akhirnya ia menemukan tender besar yang akan bisa membuatnya menang dan mengukuhkan posisinya. Persaingan untuk mendapatkan tender cukup sengit. Proposal yang diajukan setiap perusahaan semuanya adalah yang terbaik. Khususnya perusahaan Sean dan Ferry. Keduanya hampir seimbang. Namun dengan pertimbangan senioritas dan banyaknya pengalaman, pada akhirnya tender dimenangkan oleh Sean.
"Anak muda kamu sangat baik. Saya pribadi sangat tertarik dan sangat mengagumi kemampuanmu. Semoga di masa depan kita dapat bekerja sama. Saya sangat menantikan saat itu." Sean memandang Ferry dengan tulus. Namun Ferry saat itu salah paham dan menganggap Sean merendahkannya. Akhirnya Ferry memiliki dendam pada Sean tanpa Sean sadari.
Tetapi meskipun ia telahbkalah tender dengan Sean, ia tetap diangkat menjadi pewaris setelah ia dengan susah payah menemukan tender lain yang dapat membuktikan keunggulannya. Tetapi itu membutuhkan waktu beberapa bulan setelah itu. Dan saat Ferry mengingat beberapa bulan yang terbuang itu, ia semakin membenci Sean.
Tanpa diduga, Ferry bertemu dengan Sean kedua kalinya saat mereka menghadiri perjamuan. Saat itu Sean datang neraka dengan Evelyn dan Berlian. Ferry langsung tertarik pada Berlian pada pandangan pertama. Melihat kecantikan dingin Berlian yang membuatnya penasaran.
Mengabaikan kebenciannya pada Sean, Ferry mendekatinya dan menyapa Sean. Pada saat itulah ia mengenal Berlian. Saat memperhatikan Berlian dari dekat, Ferry semakin menyukainya.
"Tuan Sean saya benar-benar salut pada anda." Ucap Ferry tiba-tiba membuat Sean menaikkan alisnya. Melihat wajah Ferry, Sean dapat melihat bahwa pemuda di depannya ini memiliki ambisi dan sifat yang arogan. Tidak mudah baginya untuk memuji seseorang. Tapi sekarang, dia memuliakan tanpa rima.
__ADS_1
"Anda memiliki istri dan putri yang sangat cantik." Lanjut Ferry seraya memandang Berlian lama. Tentu saja Sean dan Evelyn langsung melihat niatnya melalui pandangan matanya. Tapi mereka berdua tidak mungkin langsung mengeksposnya begitu saja.
"Anda bisa saja. Anda adalah pria yang tampan dan berbakat. Gadis yang akan mendampingi anda pasti sangat beruntung." Ucap Sean. Ferry sangat senang mendengar pujiannya.
"Karena anda berkata demikian, bagaimana jika gadis yang beruntung itu adalah putri anda?" Berlian yang ditarik paksa untuk mengikuti perjamuan ini melirik tidak suka. Setiap kali ia mengikuti acara seperti ini pasti ia mengalami bentuk kesialan. Ia menatap Evelyn yang mendorongnya dengan kesal.
"Ehem....itu sepertinya sulit. Putri saya ini sudah ada yang memiliki." Sean memegang pundak Berlian yang tersenyum dengan paksa.
"Oh sayang sekali. Padahal saya sangat menyukainya. Apa saya tidak lebih baik dari pria itu?" Ferry memang tampan. Dengan posisinya saat ini dia dapat mendapatkan gadis manapun yang ia sukai. Jadi bagaimana jika gadis itu sudah memiliki tunangan? Dia masih lebih baik dan percaya diri bahwa gadis itu akan dengan senang hati melepaskan tunangan ya dan berlari padanya. Dia tersenyum manis pada Berlian.
"Maaf. Saya tidak bisa." Berlian mendengus sebelum ia pergi setelah menunjukkan kilauan jijik di matanya. Melihat Ferry yang tak tahu malu, Berlian merasa tidak perlu menahan diri.
"Ehem.. anak muda, Berlian masih muda dan bertindak tidak sopan. Tolong jangan diambil hati. Gadis itu sudah bertunangan dengan orang lain da mereka saling mencintai. Kamu masih muda dan tampan. Pasti akan segera menemukan gadis yang cocok." Ferry tersenyum pahit sebelum ia pamit undur diri.
Sejak itu Ferry bertekad untuk membuat Berlian bertekuk lutut di hadapannya. Ia ingin menghancurkan keluarganya dan membuat Berlian memohon padanya. Ia pun mencari informasi mengenai Sean. Saat ia mengetahui informasi mengenai Sean, Ferry menyadari bahwa menurut levelnya saat ini, ia tidak bisa menangani Sean secara pribadi. Ia tidak akan bisa menanggung konsekuensinya. Jadi dia hanya bisa mencari kambing hitam untuk menyalurkan dendamnya. Pada saat itulah ia mengenal Bastian yang juga membenci Sean. Sedikit demi sedikit ia mendekati Bastian. Menghasut Bastian untuk lebih membenci Sean.
Mengingat dendamnya yang terbalas, Ferry tersenyum dengan bangga. Ia mencengkeram gelas di tangannya dengan erat. Merasakan indahnya sebuah kemenangan.
"Lihatlah apa yang bisa aku lakukan." Gumam Ferry menggoyangkan gelasnya. "Di saat perusahaan kebanggaan orang tuamu hancur, aku akan datang mengulurkan tangan. Aku ingin lihat bagaimana wajah sombongmu itu sekarang." Lanjutnya dengan senyum mengerikan.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan Vote ya....