Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_67. Perubahan Karakter Dalam Satu detik


__ADS_3

Berlian duduk di tepi lapangan. Sebenarnya ia duduk tidak berada tepat di tepi lapangan tempat teman-teman satu kelasnya serang melakukan olahraga dengan pak Yono sebagai guru pembimbingnya. Sebaliknya Berlian duduk dit koridor kelas yang menghadap langsung ke lapangan di lantai satu. Itu adalah ruang kelas Sepuluh IPA Unggulan 1.


Karena kondisi kakinya yang masih belum stabil ia dibebaskan untuk mengikuti olahraga sementara waktu. Padahal di rumah, ia dan Johan sudah berlatih setiap harinya. Dan pada dasarnya kaki Berlian sudah mudah dan terbiasa lagi untuk digerakkan. Tetapi panas matahari pagi ini cukup menyengat sehingga Berlian kembali mengeluarkan seragam olahraga yang awalnya ia bawa dan ia tinggal di mobil sebelum ia turun pagi ini.


Berlian baru berdiri saat tiba-tiba seseorang menabrak nya dan membuatnya kembali jatuh duduk di bangku yang tadi ia duduki.


"Maaf maaf. Aku tidak sengaja." Gadis yang menabrak Berlian juga terjatuh di lantai. Dia bahkan mungkin  merasakan sakit yang lebih dari yang dirasakan Berlian. Gadis itu menepuk rok belakangnya yang menyentuh lantai sebelum ia berdiri seimbang dan menatap Berlian dengan terkejut.


"Eh kamu?" Berlian juga terkejut. Ia tidak menyangka bertemu kembali gadis manis yang sempat ia temui beberapa bulan yang lalu.


"Hai kak. Masih ingat denganku?"


Berlian mengangguk saat ia sudah berhasil menemukan kenangan dimana dia pernah bertemu dengan gadis ini. "Ya. Kamu Reina kan?"


"Yeah! Bagus sekali. Kak Berlian masih mengingatku." Pekik Reina girang. Pada dasarnya reina adalah gadis yang ceria. Hanya saja ia jarang memiliki teman untuk mengekspresikan dirinya.


"Ya. Kamu sekolah di sini?"


"Iya. Aku baru kelas sepuluh."


"Oh begitu..."


"Emmm... kak. Maaf sekali lagi. Tadi aku terburu-buru harus pergi ke kantor untuk mengambilkan buku guru yang ketinggalan. Aku pergi dulu kak Lian. Dadah...." Reina melambaikan tangannya dan berjalan dengan cepat ke arah kantor. Berlian melihatnya berjalan dan menghela napas. Andai ia bisa segera menemukan bahan yang dimaksud oleh dokter Hantu yang terkenal itu.


Berlian yang sebelumnya akan kembali ke kelasnya menunda niatnya dan kembali duduk. Ia membuka ponselnya dan membuka akun Weibo yang tersambung dengan Deep Line yang sudah cukup lama tidak ia buka. Mencari tahu perkembangan informasi yang ia tanyakan terakhir kali.


"Bukankah kamu seharusnya sudah sehat dan bisa ikut olahraga. Kenapa tidak ikut lagi?" Clara datang dengan  terengah-engah. Tubuhnya dipenuhi keringat bercucuran. Kulit putihnya juga terlihat kusam karena terkena debu di lapangan. Ia datang sendiri. Rezvan sudah bergabung bersama teman laki-lakinya yang menuju ruang ganti untuk perempuan.


"Panas." Jawab Berlian singkat sambil berdiri dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.

__ADS_1


"..." Seharusnya Clara sudah bisa menebak alasan dibalik mangkirnya Berlian untuk kesekian kali dari pelajaran olahraga.


"Sebenarnya cukup baik mendapat sinar matahari yang cukup. Apalagi sinar matahari pagi sangat baik untuk kesehatan." Clara mengejar Berlian yang sudah berjalan mendahuluinya.


"Itu beberapa tahun yang lalu. Sebelum akhirnya rumah kaca terbentuk dan sinar ultraviolet masuk secara bebas. Saat ini lebih dari jam delapan pagi sudah tidak bisa dikatakan sinar matahari pagi." Berlian menganggukan kepalanya. Clara meliriknya tanpa daya. Seharusnya ia tahu jika ia tidak akan bisa berdebat dengan teman cantik yang tidak suka panas matahari ini.


"Terserah kamu. Aku mau ganti baju dulu." Clara dengan cepat berarti dan melambaikan tangannya. Berbelok di tikungan menuju toilet dan ruang ganti untuk siswa perempuan.


Malam harinya Berlian berakhir di ruang GYM bersama dengan Johan. Awalnya Johan hanya melatihnya gerakan-gerakan yang ringan. Paling banyak untuk melatih ketentuan otot kakinya. Saat ini setelah kakinya benar-benar pulih, Johan mulai memperketat latihannya.


"Aku sudah tidak kuat lagi kak." Rengek Berlian saat ia gagal untuk bangun saat melakukan push up ke delapannya.


Johan yang berjongkok di sampingnya mengulurkan tangan untuk membantunya bangun. "Tubuhmu ini masih terlalu lemah. Perlu latihan intens lagi." Ucap Johan memperhatikan Berlian yang bernapas dengan tidak teratur.


"Aku mulai curiga deh." Berlian melirik Johan yang langsung menautkan alisnya.


"Aku curiga jika kak Johan bukan pacarku. Melainkan guru olahragaku." Lanjut Berlian dengan kesal.


Push up yang dilakukan Berlian hanya sebuah pemanasan. Dua hari sekali Johan akan mengajak Berlian berlatih di ruangan GYM untuk memperkuat diri. Berlian diajari cara bertarung dan melindungi diri.


Hampir dua jam mereka baru selesai. Johan mengambil handuk kecil dan membantu Berlian yang terbaring di lantai untuk membersihkan keringat di wajahnya. Berlian terkejut saat merasakan sentuhan halus di pipinya. Ia membuka mata dan bertemu dengan mata Johan yang dalam. Mata yang mampu menyembunyikan rahasia dengan begitu dalam di dalamnya.


"Kak biarkan aku melakukannya sendiri." Berlian meraih tangan Johan dan meminta handuk di tangannya.


"Tidak. Biarkan aku yang melakukannya. Lagipula semua ini aku yang membuatnya." Ucap Johan sambil terus menyeka keringat di wajah Berlian. Ia juga mulai membersihkan keringat di leher dan juga kedua lengan Berlian.


Berlian akhirnya duduk dan mengambil handuk lain yang diletakkan di sisi Johan dan menggunakannya untuk menyeka keringat di wajah Johan. "Kalau begitu aku harus melakukan hal yang sama." Ucap Berlian sambil mulai menyeka wajah Johan.


"Kamu tidak perlu melakukannya." Johan meletakkan handuk di tangannya dan meraih tangan Berlian.

__ADS_1


"Tidak. Kak Johan juga seperti ini karena aku kan? Jadi biarkan aku melakukan hal yang sama untukmu." Johan menurunkan tangannya. Membiarkan Berlian melakukan apa yang dia inginkan. Matanya menatap Berlian tanpa berpaling.


"Ini semua seharusnya tidak perlu dilakukan." Andai saja aku tidak harus pergi meninggalkanmu di sini. Andaikan ia bisa membawa Berlian bersamanya, tapi keadaan internal keluarganya sangat tidak cocok untuk Berlian saat ini.akan lebih berbahaya jika Berlian ikut bersamanya. Johan menghela napas. Andai ia tidak harus pergi, ia tidak akan membiarkan Berlian melakukan kerja keras seperti sekarang ini.


"Ehem ehem! Kalian berdua ngapain? Lihat kalian seperti itu rasanya aku ikut meleleh." Johan dan Berlian menoleh dan mendapati Sylvia berdiri di tengah pintu. Melipat kedua tangannya dan menatap mereka dengan pandangan licik nya.


"Ada apa kemari?" Sifat Berlian yang manja seperti ditarik dalam satu detik. Ia bertanya dengan datar pada adiknya.


"Ah kak! Bisakah memakai nada yang lembut padaku seperti yang kamu lakukan untuk kak Johan tadi." Rengek Sylvia menghentakkan kakinya.


Berlian berdiri. Begitu juga Johan yang melihat interaksi kedua kakak beradik ini.


"Ada apa kemari?" Berlian bertanya sekali lagi. Nada bicaranya bahkan terdengar lebih dingin dari sebelumnya. Sylvia hanya bisa mencebikkan bibirnya. Menyerah menggoda kakak dinginnya itu.


"Aku disuruh mommy untuk melihat kalian sudah selesai atau belum. Eh tak tahunya aku malah melihat kalian sedang...."


"Tidak perlu banyak bicara. Katakan!" Potong Berlian cepat. Senyum di bibir Sylvia membeku. Tidak bisakah memberinya kesempatan untuk menggoda kakaknya dan memberinya rekor dunia baru?


"Ih Kak Brily nggak asik. Mommy bilang kalau kalian sudah selesai kak Johan di tunggu daddy di ruang kerja. Tapi sepertinya kalian masih belum selesai..."


"Kami sudah selesai. Sudah cukup bicaranya."


Sylvia hendak bicara saat handuk basah bau asam mendarat tepat di wajahnya.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~


Jangan lupa like, komen dan  Vote ya....


__ADS_2