
Benar saja apa yang dikatakan Frans. Sean datang ke pesta hanya karena ingin menghormati Tuan Darren yang sudah lama menjadi klieannya.
Setelah pertemuan mereka dengan Sean, baik Joe maupun Frans yang menunggunya di luar tidak ada yang bertemu dengan Sean. bahkan Soni yang selalu mengikuti Sean lagi. Keduanya pun menyimpulkan bahwa Sean sudah pulang terlebih dahulu.
Namun mereka tidak tahu jika Sean pulang dengan keadaan hati yang sangat buruk. Penampilannya yang datang dengan wajah datar sudah beralih menjadi wajah yang gelap penuh dengan emosi. Orang-orang yang dilewatinya saat keluar dari ruangan pesta pun tidak ada yang berani bertanya bahkan menyapanya. Mereka semua takut pada wajah Sean yang menakutkan.
Bukan hanya Sean yang memasang wajah menakutkan, Soni yang berjalan di belakangnya juga tak kalah menakutkan. Wajah Soni yang lebih sering terlihat datar cenderung mendekati dingin, malam ini terlihat semakin dingin. Soni adalah bawahan yang setia. Apa yang membuat suasana hati Bosnya menjadi buruk baginya adalah musuh. Melihat Soni, ia sepertinya bisa menghancurkan apa saja yang dipandangnya.
Begitu sampai di rumah, ketiga anaknya sudah ada di kamarnya. Ada Laura yang menemani mereka sampai Sean pulang. Ada juga suster Citra yang rutin memeriksa kondisi Evelyn.
"Daddy sudah pulang?" Tanya Bryan heran.
Daddynya tadi pamit bahwa ia akan menghadiri acara pesta. Dan ini masih belum terlalu larut. Mereka bahkan belum bersiap untuk pergi tidur. Seharusnya pesta itu belum berakhir kan? Lalu kenapa Daddynya sudah pulang?
"Sudah pulang Sean?" Laura yang juga merasa ada hal aneh mendekati menantunya itu.
"Iya mi." Sean mengangguk pelan. Lalu beralih memandang Evelyn dan ketiga anaknya bergantian.
"Mi, malam ini tolong jaga anak-anak dulu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan pada Evelyn." Ucap Sean setelah menghela napas.
"Baiklah Sean. Bicaralah dengannya. Mami akan membawa anak-anak keluar." Laura mengerti. Ia segera menggendong Sylvia dan mengajak si kembar untuk keluar. Bryan ingin protes, tetapi Berlian segera menariknya keluar. Saudara kembarnya itu perlu diberi pengertian.
Suster Citra juga mengerti akan situasai. Jadi dia serra keluar setelah memeriksa keadaan Evelyn.
Setelah semua orang keluar, Sean masih berdiri di tempatnya dan memandang Evelyn dengan sendu. Menatap tubuh yang tertidur dengan nyaman itu dengan tatapan penuh dengan keluhan. Sean memang memiliki banyak keluhan yang ingin ia sampaikan pada Evelyn.
Sean lagi-lagi menghela napas panjang sebelum berjalan maju dan naik ke atas ranjang. Memeluk tubuh Evelyn dan menciumi wajah istrinya yang masih setia menutup matanya itu.
"Sayangku, mau berapa lama lagi kamu akan tidur terus? Apa kamu tidak takut suamimu ini akhirnya bosan menunggumu dan menyerah?" Sean berkata dengan pelan sambil terkekeh. Meskipun ia tidak akan pernah mungkin melalukannya. Tapi semua orang yang mengetahui keadaan yang dialaminya akan selalu berkata jika mereka jadi Sean, mereka akan mencari wanita lain sebagai pelampiasan. Mereka tidak akan bisa tanpa wanita di sisi mereka.
__ADS_1
"Apakah kamu tahu sayang? Tadi aku menghadiri sebuah pesta untuk yang pertama kali semenjak kamu terus tidur. Dan aku berjanji bahwa aku tidak akan pergi ke pesta lagi jika tanpa dirimu di sisiku. Aku tidak akan membiarkan ada orang yang berkata hal buruk tentangmu" Sean kembali menarik kepala Evelyn dan mencium kening Evelyn lama.
Flash Back On...
Sean dan Soni menghampiri tuan Darren untuk mengucapkan selamat dan juga hadiah. Pria tua itu tersenyum saat melihat kedatangan keduanya.
"Akhirnya tamu yang sudah saya tunggu-tunggu datang juga." Tuan Darren tertawa dengan senangnya.
"Tuan Darren mengundang saya secara langsung, akan sangat tidak sopan jika saya tidak datang." Jawab Sean jujur.
"Ahahaha. Tuan Sean memang selalu berterus terang." Tudan Darren tersenyum canggung. Jawaban yang Sean berikan seperti menunjukkan jika Sean datang karena paksaan. Tapi ia juga tidak bisa berkata-apa untuk menyangkalnya karena ia memang datang menemui Sean hanya untuk mengundangnya datang.
"Tuan Darren, selamat ulang tahun. Saya membawakan hadiah yang sederhana untuk Tuan." Sean menoleh dan memberi tanda pada Soni untuk memberikan hadiah yang sudah dibungkus dalam kotak pada Tuan Darren.
"Terima kasih tuan Sean. Sebenarnya tidak perlu repot-repot membeli hadiah. Karena kedatangan anda sebenarnya adalah hadiah yang paling istimewa. Tapi karena tuan Sean sudah membawanya saya juga tidak akan menolaknya." Hadiah di tangan Soni langsung diambil tuan Darren dan menyerahkannya pada anak buahnya untuk disimpan.
Mulut Soni berkedut saat mendengar ucapan tuan Darren. Sedangkan Sean tidak mau ambil pusing.
"Istri saya di rumah menemani anak-anak."
"Sayang sekali tidak datang dan membiarkan pria hebat seperti anda datang sendirian menghadiri pesta."
"Apakah anda buta? Bukankah saya datang bersmaa Soni?"
"Hehehe. Bukan seperti tuan. Maksud saya adalah sudah seharusnya pria hebat ditemani oleh seorang gadis cantik." Ucap Tuan Darren. Matanya melirik pada putrinya yang berdiri tak jauh darinya yang sedang berkumpul bersama teman-temannya. Putrinya itu juga memandang ke arahnya dan datang menghampirinya saat mendapatkan kode dari papanya.
"Tuan Sean, perkenalkan ini adalah putri bungsu saya, Angelica. Angel sapa tuan Sean." Ucap Tuan Darren saat putrinya sudah ada di sampingnya. Gadis cantik bermana Angel itu mengulurkan tangannya dan Sean menyambutnya dengan singkat.
"Putri saya ini baru lulus dari luar negeri dengan nilai yang memuaskan. Wajahnya juga sangat cantik. Jika tidak keberatan, biarkan putri saya menemani anda malam ini." Tuan Darren tersenyum begitu juga dengan Angel.
__ADS_1
"Tidak perlu. Permisi." Sean segera berbalik diikuti Soni. Namun sebuah tangan putih yang terlihat halus menahan lengannya.
"Saya akan menemani anda berkeliling tuan Sean." Sean melirik tajam tangan yang melingkar di lengannya.
"Lepas atau aku akan memotong tanganmu itu." Ucap Sean tegas membuat Angel melepaskan tangannya dengan enggan.
Sean segera melapas jas yang dipakaianya dan ia lemparkan kepada Soni. "Buang saja sampah ini." Sean melirik jijik pasangan anak dan ayah yang sedang ketakutan.
"Tuan Sean maafkan saya jika saya tidak sengaja menyinggung anda. Saya berniat baik. Saya tahu istri anda bermasalah karena tidak.."
Plaak...
Segera cap lima jari bertengger di pipi putih Angel akibat tamparan Sean yang keras. Angel memegangi pipinya yany ngilu. Air matanya mengalir dari matanya yang merah merasakan sakit. Sean menamparnya sekuat tenaga hingga membuatnya mundur tidak bisa menjaga keseimbangan dan akhirnya terjatuh. Mereka langsung menjadi pusat perhatian tamu di sekitar mereka. Untung saja pesta di lakukan di dua tempat sehingga hanya yang ada di dalam saja yang mengetahui keributan itu, sedangkan yang di luar tidak mengetahui.
Sean mengambil sapu tangan yang diberikan oleh Soni dan membersihkan tangannya. Ia juga melempatkan sapu tangan itu ke arah Soni yang segera menyatukannya dengan jas Sean tadi.
"Malam ini aku ingin semua bentuk kerjasama dengan perusahaan DG Jatarma dihentikan." Ucap Sean membuat Tuan Darren dan Angel membeku. Mereka tidak menyangka apa yang mereka lakukan berakibat fatal. Keduanya langsung luruh. Mereka hanya bisa menatap kepergian Sean dan Soni karena mereka juga tidak berani mengeluarkan suara mereka lagi.
Flash Back Off...
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ☺
Maaf ya dua hari tidak up, putri akoh ikut ayahnya Ziarah makam hari jumat, baru pulang minggu pagi jam setengah 3. Minggu jam 11 siang berangkat lagi ke Rembang untuk pengajian. Putri akoh Kecapekan dan akhirnya sakit. Jadi akohnya sibuk ngurusin anaknya dulu deh. Tapi sekarang alhamdulillah sudah sembuh.
__ADS_1
Terima kasih semuanya masih setia menunggu 😇