
Hari ini perasaan Sean entah mengapa menjadi cemas. Dirinya menjadi tidak konsentrasi. Pena di tangannya hanya ia putar dan terkadang ia ketuk-ketuk di permukaan meja. Berkas-berkas yang seharusnya ia pelajari sebelum ia tandatangani hanya lewat di matanya saja. Ia bahkan tidak memahami satu kata pun di dalam berkas itu.
Soni yang berdiri di sampingnya menunggu berkas yang tadi ia serahkan pada Sean memandang atasannya bingung. Raut wajah Sean juga tidak bisa dibaca.
“Apa anda baik-baik saja tuan?” Tanya Soni.
“Ya. Kau pergilah dulu.” Soni menurut dan segera keluar dari ruangan Sean.
Sepeninggal Soni, Sean bangkit dari duduknya. Berjalan ke arah jendela. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebungkus rokok. Setelah mengeluarkan sebatang rokok dari dalam bungkusnya, Sean memasukkan kembali bungkus rokok yang masih tertinggal beberapa isinya itu ke dalam saku dan beralih mengambil pemantik untuk dia gunakan menyalakan rokok.
Tak lama setelah itu, terlihat kepulan asap yang menari-nari di udara. Menyebar ke ruangan dengan aroma gold khas pemiliknya yang dipesan khusus dari perusahaan parfum terkenal di Perancis.
Setelah sebatang rokok habis, laki-laki itu mendesah sebelum kembali duduk di kursinya. Dimana pekerjaan nya menunggu untuk diselesaikan.
...🍁🍁🍁
...
Perbedaan waktu antara Indonesia dan Texas adalah dua belas jam dimana waktu di Texas lebih cepat. Dan saat ini di Austin, Texas menunjukkan jam sepuluh malam. Satu jam dari sekarang, Evelyn akan masuk ke dalam ruangan operasi untuk menjalani operasi Caesar.
Sebenarnya Evelyn ingin melahirkan dua buah hatinya dengan normal. Ia merasa akan melahirkan pagi ini. Namun posisi keduanya sungsang sehingga akan membahayakan ketiganya. Jadi langkah operasi ini memang yang terbaik untuk dilakukan.
Saat ini Evelyn sedang berada di ruang rawat. Bersama dengannya Laura, Maxim dan Justin yang dengan setia menemani Evelyn menanti saat-saat yang paling membahagiakan nya. Mereka semua tidak sabar menunggu kelahiran dua bayi Evelyn.
“Jangan cemas sayang. Dokter di sini adalah dokter terbaik.” Kata Laura menenangkan. Padahal Evelyn sendiri tidak merasa cemas sama sekali. Sebagai seorang calon ibu, tentunya Evelyn sudah mengetahui berbagai kemungkinan yang muncul di saat proses kelahiran.
Namun Evelyn adalah ornag yang pandai menjaga perasaan. Jadi ia menghargai perasaan khawatir Laura terhadapnya. Wanita itu tersenyum lembut pada Laura sambil menahan nyeri di perutnya. Wanita paruh baya yang sudah seperti ibunya sendiri. Yang telah menemaninya selama delapan bulan belakangan.
“Iya sayang. Kamu pasti bisa mengeluarkan mereka dari dalam sana.” Maxim ikut mendekat. Memberi semangat pada calon ibu itu.
Baru saja Evelyn mau menjawab. Tapi suara Justin lebih dulu terdengar. “Evelyn akan melahirkan dengan cara operasi. Jadi dia tidak perlu berbuat banyak. Dia cukup diam menunggu anak-anaknya dikeluarkan.” Kata Justin tenang. Padahal dia lah sebenarnya yang paling cemas di sini. Sejak Evelyn masuk ke ruang rawat VIP yang mereka pesan jauh-jauh hari, sudah lima kali Justin terhitung bolak balik kamar mandi karena ingin buang air kecil.
__ADS_1
“Sudah waktunya. Kami akan membawa nyonya Evelyn ke ruang operasi.” Kata dokter setelah memeriksa kondisi Evelyn sebelum operasi dilakukan.
“Iya dokter. Silahkan.” Maxim mempersilahkan. Dokter segera memberi kode pada perawat yang mengikutinya untuk mendorong ranjang Evelyn ke ruang operasi.
Baru beberapa menit Evelyn masuk ke dalam ruang operasi. Tapi Justin sudah beberapa kali mondar-mandir tak jelas di depan ruangan. Membuat Laura kesal dan menghentak kan kakinya.
“Berhenti Justin! Kau ini sudah mirip setrikaan.” Dumel Laura yang merasa sedikit pusing akibat ulah Justin yang berjalan terus di depannya.
“Bukankah tadi kamu yang berkata jika Evelyn hanya cukup diam dan menunggu? Kenapa sekarang kamu seperti kucing yang mau melahirkan?” sindir Maxim melihat tingkah putranya. Justin hanya mendengus dan duduk. Pikirannya kacau saat ini.
Di dalam ruangan di depannya, Evelyn sendirian tanpa dirinya ataupun Laura dan Maxim. Dia khawatir dengan keadaan adiknya tanpa keluarganya di sisinya.
Ketiga orang yang cemas menunggu di depan ruang operasi bergegas ke arah pintu begitu pintu itu terbuka. Seorang dokter dan perawat keluar dari dalam.
“Ada apa dokter?” tanya Laura khawatir ketika melihat raut wajah dokter yang terlihat tegang.
“Bayi nyonya Evelyn sudah berhasil dilahirkan dengan selamat. Tapi keadaan ibunya tidak baik. Pasien mengalami pendarahan saat ini dan kehilangan cukup banyak darah. Jika satu dari keluarga ada yang memiliki golongan darah yang sama, mungkin bisa mendonorkan darahnya. Kebetulan golongan darah yang sama dengan pasien habis untuk operasi barusan.” Jelas dokter itu.
“Aku. Ambil saja darahku. Darahku dan darah Evelyn kebetulan sama.” Justin segera mengusulkan diri. Dengan cepat dokter mengiyakan dan memerintahkan perawat untuk membawa Justin melakukan prosedur donor darah.
“Sial! Sungguh tidak berguna!” umpat Justin. Dirinya kini menyesal sebelumnya dia minum terlalu banyak karena terlalu khawatir pada Evelyn dan mengakibatkan dia tidak bisa memberikan darahnya pada adiknya.
“Beri pengumuman pada semua orang disini siapa yang mendonorkan darahnya pada adikku akan mendapatkan imbalan yang besar.” Kata Justin sebelum meninggalkan ruangan.
Usaha Justin memberikan hasil. Tak berselang lama banyak orang yang bersedia mendonorkan darah mereka. Mendapat darah tepat waktu akhirnya Evelyn melalui masa kritisnya.
Melihat respon semua orang, Laura memberi perintah agar memberi uang pada setiap orang yang mendonorkan darahnya pada hari ini. Ini juga merupakan wujud syukurnya karena Evelyn telah selamat dari bahaya.
**
Evelyn mengerjapkan kedua matanya. Ia meringis begitu merasakan nyeri di bagian perutnya. Seketika ia menyentuh perutnya yang kini datar.
__ADS_1
“Bayi-bayiku.” Gumamnya pelan dan membuat Laura yang duduk tak jauh darinya segera mendekat.
“Mereka selamat sayang.” Laura mengelus lengan Evelyn. “Tapi mereka masih harus berada di ruangan khusus.”
“Aku mau melihat mereka Mi.”
“Nanti ya. Kamu baru siuman. Kamu harus diperiksa dokter.” Laura memencet tombol di samping ranjang untuk memanggil dokter datang.
“Bagaimana keadaan mereka Mi?”
“Mereka sangat lucu. Nanti kalau dokter mengizinkan, mami akan mengantar kamu melihat mereka.” Evelyn menganggukkan kepalanya.
“Sudah berapa lama aku tidak sadar Mi?” tanya Evelyn tiba-tiba.
“Dua hari kamu tidak sadarkan diri. Kamu membuat kami semua takut waktu itu. Kamu mengalami pendarahan dan sempat kritis. Untung saja kami mendapat kan donor darah tepat waktu.” Ucap Laura sendu. Ia masih ingat betapa khawatirnya ia pada Evelyn dua hari yang lalu. Bahkan jika hari ini wanita yang telah berhasil melahirkan dua bayi kembarnya itu tidak bangun, Laura dan Maxim akan memindahkan Evelyn ke rumah sakit yang lebih canggih.
"Pantas saja aku merasa lapar sekali mi." Evelyn mengusap perutnya yang kini kembali datar. Laura tersenyum mendengar penuturan Evelyn.
Di dalam dua buah inkubator, dua orang bayi yang mungil tertidur pulas di dalamnya. Satu laki-laki dan satu lagi perempuan. Mereka berdua adalah bayi yang berhasil dilahirkan oleh Evelyn dua hati lalu.
Evelyn melihat keduanya dari balik kaca yang membatasi antara dirinya dan dua bayinya. Laura berdiri di belakangnya sambil memegang kursi roda untuk membawa Evelyn kesana.
“Mereka sangat imut mi.”
“Hem. Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk mereka?”
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 🥰
Adakah yang ingin ikut memberi nama untuk dua bayi Evelyn dan Sean?