Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_69. Khawatir


__ADS_3

Evelyn memeluk kedua anaknya dengan erat. Air mata mengalir di kedua matanya. Kali ini bukan lagi air mata kesedihan, tetapi kebahagiaan dan kelegaan. Setelah puas memeluk Bryan dan Berlian, Evelyn menciumi mereka dengan bahagia. Laura tersenyum melihat kebahagiaan mereka. Lalu ia menoleh pada Sean yang kini terabaikan.


"Lenganmu terluka?" Tanya Laura saat melihat lengan Sean yang terperban. Evelyn yang mendengar pertanyaan Laura baru menyadari bahwa ia telah melupakan suaminya.


"Iya." Sean mengangguk setelah melihat pada lengannya yang tadi sempat ia lupakan.


"Apakah parah?" Evelyn berdiri dan mendekati Sean. Memegang lengan Sean yang terluka.


"Tidak sayang. Hanya tergores sedikit." Sean mengecup kening Evelyn.


"Bagaimana kabarmu hari ini?" Pagi ini Sean berangkat pagi-pagi sekali sebelum Evelyn bangun. Mereka bermalam di rumah sakit. Dan seharian mereka tidak bertukar kabar. Sean hanya memberi kabar saat Bryan dan Berlian sudah aman.


"Aku baik. Dia juga baik." Evelyn mengambil tangan Sean yang tidak terluka dan mengarahkannya untuk mengelus perut datarnya.


"Daddy curang! Kami bahkan belum sempat menyapa adik kami." Bryan dengan cemberut berlari mendekati Evelyn bersama Berlian.sean dan Evelyn tertawa melihat reaksi dua bocah yang cemburu ini.


"Mommy biarkan kami menyapa adik kami." Berlian menatap Evelyn penuh harap. Daddy mereka sangat dekat dengan mommy mereka. Tidak menyisakan untuk dua anak yang ingin menyapa adik mereka.


"Kalian ini." Evelyn sedikit mendorong Sean menjauh agar Bryan dan Berlian dapat mendekatinya. Sean yang dijauhkan memberengut. Ia merasa seperti dibuang saja.


Bryan dan Berlian menciumi perut sang mommy ya g berisi adik mereka. Keduanya berceloteh banyak hal yang membuat alis Evelyn berubah-ubah saat mendengarnya.


"Sudah cukup! Jangan buat mommy lelah berdiri terus." Sean kesal. Ia diabaikan dan dua iblis kecil itu sudah menguasai istri tercintanya. Sean tidak bisa menerima semua ini. Dia pun maju dan mengangkat tubu Evelyn ke udara dan menjuh dari dua anaknya yang entah sejak kapan berubah menjdi dua iblis kecil.


Lengan Sean yang terluka kembali diobati oleh Evelyn. Keduanya saat ini berada di dalam kamar mereka setelah mengusir anak-anak mereka untuk masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.


"Kenapa bisa ceroboh seperti ini sih?" Evelyn terkejut melihat luka Sean yang lumayan dalam. Luka itu menggores lengan setengah senti dalamnya. Dan memiliki panjang sekitar lima senti.


"Tidak apa-apa. Ini hanya tergores." Jawab Sean saat menyeka air mata Evelyn yang hampir keluar.


"Auch sakit sayang." Keluh Sean saat Evelyn menekan bagian di samping lengan yang terluka.


"Ini yang kamu bilang tidak apa-apa? Aku akan meminta dokter kemari untuk mengobatimu. Sepertinya harus dijahit." Evelyn kembali merapikan perban yang tadi ia lepas setelah memberinya obat.


"Tidak perlu. Ini akan segera sembuh." Tolak Sean.

__ADS_1


"Tidak ada bantahan." Evelyn berdiri dan mengambil ponselnya. Menghubungi dokter untuk merawat luka Sean dengan benar.


"Sekarang beritahu aku siapa yang telah menculik anak kita." Evelyn bertanya. Tapi lebih memerintah Sean untuk memberitahunya.


Sejak awal ia sudah bertanya pada Maxim dan Laura. Tetapi kedua orang itu tidak mau menjawabnya dan berkata bahwa ia tidak perlu banyak berpikir. Sean dan Justin pasti bisa menyelamatkan Bryan dan Berlian. Evelyn mengerti kedua orang tuanya itu hanya tidak ingin jika kondisi kehamilannya terpengaruh. Tapi sekarang Bryan dan Berlian sudah selamat. Jadi ia rasa jika ia bertanya lagi pasti akan ada jawabannya.


"Kelompok Rubah Merah." Jawab Sean. Ia tidak ingin menyembunyikannya dari Evelyn. Ia mengenal Evelyn, wanita itu tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban yang ia inginkan.


"Rubah Merah? Akhirnya mereka menemukan kami juga." Evelyn menghela napas pasrah. Sean sedikit heran mengetahui ternyata reaksi Evelyn saat mengetahui siapa yang menculik anak mereka terlalu biasa. Istrinya bahkan tidak terkejut sama sekali.


"Apa yang ingin mereka lakukan pada Bryan dan Brily?" Tanya Evelyn lagi.


"Mereka berniat menjadikan anak-anak kita sebagai anggota dari mereka. Mereka bahkan berniat untuk mencuci otak anak-anak kita." Sean mengepalkan tangannya mendengar cerita Sean.


"Mereka memang selalu kejam. Tidak heran jika pali dan mami menyembunyikan ini dariku. Jika aku mengetahuinya sejak awal, mungkin aku sudah drop karena memikirkannya." Evelyn menatap Sean penuh arti.


"Papi dan Mami selalu bertindak dengan bijak. Mereka akan bertindak yang terbaik untukmu." Evelyn mengangguk setuju. Lalu ia mengingat sesuatu.


"Ayo kita temui mami."


"Aku rasa belum." Evelyn menyunggingkan senyumnya. Ia tahu bagaimana maminya ini. Ia segera berdir dan mengajak Sean mencari keberadaan Laura.


Tidak sulit menemukan Laura. Wanita itu sedang membaca majalah di depan televisi yang menyala. Evelyn segera menarik tangan Sean untuk mendekati Laura. Evelyn sampai tidak memperhatikan bahwa tangan Sean yang ia tarik adalah tangan Sean yang terluka.


"Auch sakit sayang. Jangan ditarik." Rintih Sean. Evelyn segera menghentikan langkahnya dan melepaskan tangannya. Ia lalu meminta maaf pada Sean karena tidak sengaja menyakiti suaminya itu.


"Kenapa kalian keluar?" Laura bertanya.


"Luka di lengan Sean agak parah mi. Jadi kamu keluar untuk menunggu dokter." Sean mengernyit saat mendengar jawaban Evelyn yang sepertinya tidak sama dengan alasan yang digunakan Evelyn untuk lergi keluar tadi.


"Ooh. Kalian tunggu di dalam saja. Mami yang akan menunggu di sini." Laura mengusir Sean dan evelyn secara halus. Wanita itu butuh waktu sendiri saat ini.


"Mami belum mengantuk?"


"Belum. Mami ingin melihat televisi sambil membaca majalah." Laura menunjuk televisi dengan matanya dan juga menunjukkan majalah yang dipegangnya.

__ADS_1


"Kemampuan membaca Mami sangat hebat ya. Bisa membaca tulisan terbalik." Laura terjingkat. Ia segera melihat dan menyadari jika majalah yang dari tadi ia buka di depannya terbalik. Ia segera melipatnya dan meletakkannya di atas meja.


"Apa yang mami sembunyikan dari kami?" Evelyn duduk tanpa di minta. Ia memegang lengan Laura. Sean ikut duduk tidak jauh dari mereka.


"Tidak ada apa-apa sayang. Sudah. Kamu ajak suamimu masuk ke kamar. Aku akan meminta maid menunjukkan kamar kalian jika Rama datang."


"Mami jangan menyembunyikannya dari kami. Kami anak-anak mami. Jika mami tidak berbagi dengan kami, kami akan marah. Kami akan pergi dari sini dan tidak akan kemari lagi. Mami mau?" Ancam Evelyn.


"Jangan mendesak mami sayang." Laura tidak berdaya. Jika ia memberitahu apa yang membuatnya gelisah ia takut akan mempengaruhi kondisi Evelyn yang baru saja stabil.


"Apa mami tidak percaya pada kami?"


"Apa yang kamu katakan? Mami percaya. Hanya saja mami tidak bisa mengatakannya."


"Mami takut aku kenapa-kenapa? Aku tidak apa-apa mi. Malah jika mami tidak memberitahuku aku tidak akan tenang." Evelyn membujuk Laura.


Laura menghela napas pasrah. Ia melihat Evelyn dan Sean bergantian.


"Papimu dan Justin mendatangi mereka. Entah bagaimana keadaan mereka saat ini." Ucap Laura pada akhirnya. Sebagai seorang istri dan seorang ibu, Laura tidak mungkin tidak khawatir jika suami dan anaknya sedang menghadapi bahaya.


Sebagai istri Maxim selama puluhan tahun ia mengetahui dengan jelas seperti apa kekejaman rubah merah itu. Kelompok mafia itu sering membuat rusuh dan pemerintah setempat sering meminta bantuan dari Big Lion untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan.


"Untuk apa mereka ke sana mi?" Evelyn mulai khawatir.


"Mereka ingin mengumpulkan sekutu mereka untuk menyerang Rubah Merah. Selama ini bukan hanya menargetkan kita, merka juga banyak menargetkan kelompok mafia yang lain. Sebelumnya papimu dan Justin sudah banyak menerima tawaran untuk itu. Tapi selama ini baik papi maupun Justin mengabaikannya. Tapi sekarang rubah merah sudah mencapai titik kesabaran papi dan Justin. Mereka berani menargetkan Bryan dan Brily. Jadi papi memutuskan untjmuk menghentikan Rubah merah." Jelas Laura dengan hati-hati. Ia tidak mau jika salah berbicara dan membuat Evelyn khawatir secara berlebihan.


"Aku mengerti Mi. Mungkin memang sudah waktunya mereka bertindak. Sudah banyak orang yang menjadi korban mereka." Evelyn mengangguk. Meskipun ia terlihat tenang, tetapi ia juga merasa khawatir.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😊

__ADS_1


__ADS_2