Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_44. Dua Manusia Bodoh


__ADS_3

Berlian berkedip dua kali melihat Johan di depan pintu. Dia memiringkan matanya dan melihat beberapa gadis yang terlihat mengintip di balik pintu. Diam-diam melihat mereka.


Johan tidak menyadari hal itu. Di matanya hanya ada kekhawatiran. Ia segera maju dan memeriksa Berlian degan hati-hati.  Dia bukan dokter, jadi dia hanya menyentuh kening Berlian dengan punggung tangannya. Setelah memastikan suhu tubuhnya baik-baik saja dan bahkan sedikit lebih dingin, Johan memindai tubuh Berlian. Ia bahkan membalik tangan dan kakinya untuk melihat adakah luka di area itu.


Setelah memastikan semuanya terlihat baik-baik saja, Johan akhirnya menghela napas lega.


"Mana yang sakit?  Bagian mana yang tidak nyaman?" Berlian terkikik melihat ekspresi khawatir Johan. "Kenapa malah tertawa? Katakan padaku!" Johan memegang bahu Berlian dan menatapnya lekat.


"Aku tidak apa-apa. Hanya saja...hanya saja..." Berlian benar-benar tidak bisa memberitahu Johan kebenarannya. Dia sedang nyeri karena menstruasi. Dia selalu mengalaminya selama masa satu dua hari di awal. Tetapi itu akan segera baik-baik saja setelah ia meminum obat peredaran nyeri. Tetapi entah mengapa hari ini tidak seperti biasanya. Jadi, meskipun Johan sudah berada di sampingnya cukup lama, pemuda itu tidak pernah mengetahui hal seperti ini terjadi pada Johan. Lagipula Johan adalah seorang Laki-laki dan tidak akan nyaman memberitahu nya mengenai masalah ini.


"Hanya apa?" Johan tidak sabar. Ia melihat wajah menunduk Berlian yang sedikit memerah.


Tiba-tiba Johan mengingat bahwa hal seperti ini pernah terjadi pada adik perempuannya. Akhirnya Johan mengerti dan wajahnya ikut memerah karena malu.


"Sudahlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit dulu. Lihat apa yang dokter bisa lakukan untukmu." Berlian semakin memerah. Johan mengatakan untuk melihat apa yang bisa dilakukan Dokter untuknya. Ini mengisyaratkan bahwa sebenarnya Johan sudah tahu masalahnya. Untuk alasan inilah wajahnya semakin memerah.


Berlian bersiap turun dan tanpa sadar melihat ke arah rok belakangnya. Ekspresinya jelek. Ada sedikit noda merah di sana. Ini benar-benar memalukan. Pandangannya perlahan memeriksa seprai ranjang yang baru saja ia tempati. Seprai putih itu bersih. Dia sedikit aman. Tetapi roknya....


Memikirkan hal ini, dia mengasihani dirinya sendiri. Bagaimanapun dia bisa keluar edengan rok bernoda darah seperti ini.


Ketika ia sedang bingung, ia melihat Clara ada di ambang pintu. Melihat mereka berdua. Dia tidak memikirkan hal lain selain mengganti roknya. Biasanya di dalam UKS ada rok ganti yang memang disediakan bagi para siswi yang mengalami kebocoran. Tetapi saat ini ada Johan di sekitarnya, jadi tidak nyaman baginya untuk berbalik dan menunjukkan noda merah itu padanya  jadi dia memanggil Clara untuk membantunya menemukan rok ganti untuknya.


Namun sial bagi Berlian, rok itu tidak ada di dalam lemari penyimpanan. Mungkin itu digunakan oleh siswi lain dan masih belum mereka kembalikan.

__ADS_1


"Tidak ada?" Clara menggelengkan kepalanya. Berlian terkulai seketika hingga ia tiba-tiba merasa dirinya melayang. Tidak lama untuk membuatnya sadar bahwa ia berada di daam dekapan Johan sekarang. Dan melihat wajahnya dan wajah Johan hanya berjarak beberapa senti saja. Itu karena saat Johan tiba-tiba mengangkatnya, Ia dengan reflek melingkarkan tangannya di leher Johan untuk menjaga dirinya agar tidak jatuh.


Itu hanya sebentar sebelum Berlian melepaskan tangannya dan mencoba mendorong dada Johan.


"Berhenti bergerak atau kamu akan aku jatuhkan." Bibir Berlian yang hendak terbuka untuk memintanya menurunnya segera tertutup. Ini bukan perintah. Tetapi peringatan. Jika Johan benar-benar menjatuhkannya,  itu pasti akan terasa sakit. Dia juga berhenti melakukan perlawanan dan dengan patuh tinggal di dekapannya. Berlian juga menyadari bahwa cara inilah yang paling memungkinkan agar dia bisa keluar dari sekolah.


Bibir Johan melengkung saat melihat Berlian yang patuh. Ia lalu menoleh dan meminta tolong pada Clara untuk memintakan izin pada walikelas untuk Berlian. Tidak lupa juga meminta Clara untuk membawakan tas sekolah Berlian nanti saat dia pulang.


Clara mengangguk mengkonfirmasi. Kemudian, ia hanya berdiri di tempatnya saat melihat punggung Johan yang semakin menjauh dengan pucuk kepala Berlian dan kedua kakinya yang terlihat telulur di sana. Pada saat Johan membalik tubuhnya, Berlian segera mengubur kepalanya ke dalam dada Johan. Menutupi wajahnya yang merah di depan semua orang. Terutama di depan Johan.


Rezvan yang sejak tadi melihat dari jauh segera menghampiri Clara. Ia menepuk bahunya untuk menyadarkan temannya itu.


"Bukankah kamu juga melihat?" Clara menoleh dan tanpa sadar matanya memerah dan setetes air mata jatuh dari kedua ujung matanya.


"Ini memang sakit pada awalnya. Tetapi, rasa sakit ini akan segera sembuh. Tetapi, jika kamu terus menutup matamu, kamu akan menyakiti dirimu sendiri selamanya." Rezvan melanjutkan. Ia menatap Clara dengan sendu.


"Hati manusia tidak bisa dipaksakan Cla. Tidakkah kamu melihat bahwa di mata Johan hanya ada Berlian?" Clara langsung memalingkan wajahnya. Siapa yang tidak bisa melihat hal yang begitu jelas?


Dia melihatnya sejak lama. Tetapi ia selalu menolak percaya ataupun menyerah. Baginya, selama mereka belum bersama, dia masih memiliki kesempatan itu. Apalagi Berlian juga telah berjanji padanya.


"Kamu sudah mengerti. Kenapa kamu masih memilih untuk menyakiti dirimu sendiri? Kamu tidak harus menghabiskan waktu untuk mengejar laki-laki yang bahkan tidak melihatmu. Kamu cantik dan menarik. Ada banyak laki-laki yang mengantri untuk menjadi pacarmu. Kamu masih muda Cla." Rezvan melihat Clara tanpa daya.


"Mereka semua tidak sama." Clara menghentakkan kakinya sebelum ia akhirnya berjalan cepat dan meninggalkan Rezvan yang menggelengkan kepalanya tidak berdaya.

__ADS_1


Hah! Memang sulit memahami perasaan wanita.


Baru saja Rezvan akan melangkah meninggalkan ruang UKS, Daniel datang dengan tergesa-gesa. Pemuda itu berhenti detail depan pintu dan menengok ke dalam.


"Kalau kau datang kesini untuk mencari Berlian, kamu sudah terlambat. Dia sudah pulang beberapa saat yang lalu." Daniel menatap Rezvan tidak percaya.


"Bukankah Brily sakit? Bagaimana dia bisa pulang sendiri?"


"Dia tidak sendirian. Sopir milik Berlian yang datang menjemputnya." Rezvan dengan sengaja menekankan kata 'sopir milik Berlian' seperti bagaimana Johan memperkenalkan dirinya untuk pertama kali saat mereka bertemu.


Daniel tidak pernah bertemu dengan Johan. Dan yang paling penting, dia tidak pernah melihat bagaimana dua orang itu berkomunikasi satu sama lain. Jadi pantas saja dia tidak merasa ada yang salah dengan Berlian yang pulang dengan dijemput sopir nya. Dan terbukti dengan dia yang menghela napas lega.


Setelah tidak melihat Berlian di sana, Daniel juga keluar dari ruangan tanpa mengatakan apapun lagi.


Lagi-lagi, Rezvan melihat satu manusia bodoh!  Dia tidak bisa membantu dan hanya bisa menggelengkan kepalanya pada keduanya. Inilah caranya bersimpati.


Twrlepas dari itu, Johan mendudukkan Berlian dengan hati-hati di dalam mobil. Keduanya jelas tidak tahu apa yang terjadi pada Clara, Rezvan dan Daniel setelah mereka pergi. Keduanya memiliki suasana canggung mereka. Tidak ada yang berinisiatif memulai pembicaraan hingga mereka tiba di depan rumah sakit.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~


Jangan lupa like, komen dan Vote ya....


__ADS_2