Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_71. Bersedia Menunggu


__ADS_3

Berlian menatap linglung sebuah kotak merah berisi sebuah cincin sederhana namun terlihat indah berada di tangan Johan. Sedangkan Johan sendiri sedang berlutut di depannya dengn penuh harap. Berlian memandang Johan dan kotak itu bergantian.


Sebuah berlian berwarna putih berkilau di antara ulir yang saling terpaut. Jika orang menghitung ulir yang mengelilinginya, mereka akan dapat menemukan sembilan puluh sembilan ulir yang terbentuk. Bentuk ini seperti ulir-ulir itu berkeliling dan melindungi Berlian yang indah di tengahnya dengan posesif. Maknanya jelas. Ulir melambangkan Johan yang akan melindungi Berlian sebagai hartanya yang berharga.


Sembilan puluh sembilan sendiri adalah bilangan yang melambangkan cinta sejati. Ini seperti saat seseorang memberikan bukti merah besar berisi sembilan puluh sembilan mawar merah di dalamnya. Jika melihat ulir itu dengan teliti, mereka juga akan menemukan setiap ujung ulir memiliki satu titik yang jika diperbesar akan membentuk sebuah bunga mawar.


Di permukaan cincin bagian dalam, terukir dengan indah Johan Love Berlian melingkar di sekitarnya. Jelas cincin ini hanya bisa dipesan secara khusus.


"Apa maksudmu dengan ini kak?"


"Aku melamarmu. Bukankah ini jelas?" Johan memberi isyarat agar Berlian segera memberi jawaban dan dia bisa berdiri.


Tidak dapat dipungkiri Jika tampilan ini memberinya kesan romantis. Namun selain menciptakan romantisme diantara dirinya dan Berlian, mereka juga secara otomatis memberikan tontonan gratis pada orang di sekeliling.


Berlian mengerti semuanya. Ia membantu Johan berdiri namun ia tidak menerima cincin di tangan Johan tersebut. Ini memberi kesan bahwa Johan pada akhirnya akan ditolak. Membuat pria itu merengut dengan suram.


"Aku memang belum bisa memberikan status yang pasti untukmu saat ini. Bahkan status sebagai kekasih saja aku merasa takut untuk itu. Aku tidak ingin bertaruh atas keselamatanmu. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan status kekasih ini bersamamu. Tapi aku bisa memberimu janji bahwa kamu adalah satu-satunya gadis yang akan menjadi istriku. Jika kamu juga bersedia menungguku untuk menjadi calon suamimu, tolong terima cincin ini. Namun jika kamu tidak bersedia..." Johan tidak melanjutkan kata-katanya karena dirinya sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan jika Berlian akan menolaknya saat ini.


Cincin ini sudah dipersiapkan Johan sejak mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Dia berharap bisa memberikannya pada Berlian jika sudah waktunya ia pergi. Namun ia menyangka jika Alisya mulai bertindak terburu-buru dan dengan sengaja memprovokasi Norman hingga mendapatkan serangan jantung.


Jatuhnya Norman menjadikan keadaan perusahaan menjadi tidak stabil. Nilai saham mulai turun dibawah kepemimpinan Raymond yang merupakan putra kebanggaan Alisya tidak bisa mengatasi dan malah memperburuk keadaan karena ia lebih suka bermain-main daripada menjalankan tugasnya dengan baik.


Alisya pada dasarnya sangat menyukai kemuliaan. Ia tidak pernah hidup menderita sebelumnya. Jadi saat ia melihat kondisi perusahaan yang semakin memburuk ia khawatir jika perusahaan itu akan merosot ke level bawah. Hal ini tentu saja hal yang sangat tidak dia inginkan karena akan menghancurkan harga dirinya yang selama ini ia bangga-banggakan.


Oleh karena itu, Alisya pun menggertakkan giginya dan memanggil Johan untuk mengambil alih perusahaan selama Norman tidak sadarkan diri. Untuk sementara! Alisya selalu menekankan kata ini di dalam hatinya saat ia dwngan berat hati meminta Johan untuk mengambil alih tugas.


Johan adalah juniornya. Jadi dia berpikir bahwa ia akan menguasai Johan pada akhirnya. Ia bisa memikirkan cara untuk mencapai tujuannya. Karena anaknya yang tidak berguna, ia mulai memutar kemudi untuk mengendarai Johan mencapai tujuannya.


Tetapi siapa Johan? Johan tumbuh dibawah tekanan yang diberikan Alisya padanya sejak ia masih kecil. Seperti kata pepatah, orang yang paling mengerti dirimu selaon dirimu sendiri adalah musuhmu. Johan tentu saja mengerti niat dibalik Alisya yang tiba-tiba merendahkan dirinya dan memberikan kursi kepemimpinan padanya bahwa itu hanya agar dia bisa dijadikan alat oleh Alisya.


Dan salah satu jalan yang mungkin akan digunakan Alisya untuk mengendalikannya adalah dengan menikahinya Johan dengan salah satu orangnya yang bisa dikendalikan olehnya. Jadi itulah sebabnya Johan tidak ingin melibatkan Berlian dalam suatu hubungan dengannya karena apabila Alisya tahu jika Johan telah memiliki pilihan lain, Alisya akan menjadikan Berlian sebagai target untuk ia lenyaplah karena dianggap sebagai penghalang baginya.

__ADS_1


"Aku menerimanya."


"Apa?" Johan yang masih tersesat dalam pikirannya sendiri tidak percaya dengan apa yang dia dengar keluar dari bibir Berlian. Dia hampir tidak mempercayai pendengarannya.


"Aku bersedia kak. Aku bersedia menunggu kak Johan kembali untukku. Aku bersedia menjadikan kak Johan suami masa depanku. Apa kamu sudah mendengarnya sekarang?" Berlian memperjelas semuanya. Johan tidak bisa berkata-kata. Ia segera memeluk Berlian dengan erat. Diciuminya puncak kepala Berlian dengan sayang.


Tiba-tiba tepukan yang meriah terdengar riuh di sekitar mereka yang menyadarkan mereka bahwa mereka saat ini berada di tengah kerumunan. Keduanya memisahkan diri dengan canggung.


"Untuk sementara, kamu belum bisa memakai cincin ini karena aku belum bisa memberikan pesta pertunangan yang layak. Sebagai gantinya, aku sudah menyiapkan kalung untuk mengikatnya dan meletakkannya dengan hatimu." Berlian mengeluarkan kalung dari saku jasnya. Dengan hati-hati mengeluarkan cincin dari dalam kotaknya dan menjadikan cincin itu sebagai sebuah liontin.


"Biarkan aku pasangkan."


Johan memutar tubuh Berlian dan bersiap memasang kalung itu di leher Berlian. Berlian menyisihkan rambutnya dari leher agar memudahkan Johan untuk memasang kalung itu. Setelah kalung terpasang, Johan kembali ke depan Berlian yang sedang mengelus cincin di kalungnya dengan senyum manis di bibirnya. Setelah itu mereka berpelukan sekali lagi.


"Tunggu aku oke." Bisik Johan pada gadis di dalam pelukannya.


"Ehem." Berlian berdehem dan menganggukkan kepalanya. Ia sedang menghirup aroma Johan yang menenangkan yang pasti akan sangat ia rindukan.


"Itu pesawatku." Johan dengan enggan melepaskan pelukan Berlian.


"Sudah waktunya ya?" Berlian menatap Johan dengan sendu.


"Ya. Tunggu aku kembali. Aku akan kembali secepat yang aku mampu."


"Aku akan menunggumu kak."


"Aku tahu." Johan mengangguk. "Lian mulai sekarang kita mungkin tidak akan bisa saling menghubungi dengan bebas. Ibu tiriku licik dan penuh tipu muslihat. Dia pasti akan mengawasi setiap tindakanku. Tapi bagaimanapun, aku akan menemukan cara untuk menghubungimu."


"Ya. Aku akan mendukungmu."


"Daniel." Daniel yang sejak awal berdiri menonton pertunjukan jalan dari samping yang tiba-tiba dipanggil namanya sedikit terkejut. Sebab sejak awal kedua orang yang memamerkan kemesraan mereka di depannya benar-benar tidak memiliki hati padanya!

__ADS_1


Bukan hanya Daniel, Berlian juga terkejut. Pada tahap ini dia benar-benar melupakan bahwa Daniel lah yang mengantarkannya sampai di sini. Ia menoleh dengan wajah memerah karena malu.


Jadi, selama ini Daniel ada di sekitar dan menonton? Betapa maunya!


"Terima kasih sudah mengantar Berlian sampai di sini." Ucap Johan tulus.


"Tidak masalah. Sebagai temannya sudah seharusnya aku membantunya." Johan mengangguk mendengarnya. Lagipula ia tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan berangkat." Johan maju dan mencium kening Berlian lama sebagai salam perpisahan sebelum akhirnya ia melambaikan tangan dan berbalik untuk menuju tempat pemeriksaan.


Berlian menatap Johan sampai pria itu menghilang setelah melewati pintu kaca. Sekali lagi, ia menyentuh cincin di kalungnya seraya berdoa agar Johan selalu dilindungi dan segera kebalik bersamanya.


"Selamat ya." Berlian berbalik dan melihat Daniel tersenyum kepadanya.


"Aku tidak menyangka akan menjadi saksi kisah indah cinta kalian." Lanjut Daniel.


"Daniel maafkan aku. Aku..." Berlian benar-benar tidak tahu apa yang harus ia katakan selain permintaan maaf.


"Tidak apa. Meskipun ini sakit, tapi aku ikut bahagia melihatmu bahagia."


"Terima kasih."


*


*


*


Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~


Jangan lupa like, komen dan  Vote ya....

__ADS_1


__ADS_2