Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_37. Ditinggalkan...


__ADS_3

Beberapa orang berseragam polisi masuk ke dalam kantin bersama dengan kepala sekolah dan seorang guru. Kedatangan mereka yang tiba-tiba membuat para siswa bertanya-tanya tentang apa yang terjadi.


"Dia di sana pak polisi." Kepala sekolah menunjuk ke satu titik dimana pusat perhatian tadi berada. Tempat Berlian dan yang lainnya berada.


Berlian melihat ini dengan santai. Ia sudah bisa menebak apa yang terjadi. Ia selalu mengikuti perkembangan kasus yang sedang ditanganinya, dan tentu saja ia tahu bahwa pagi ini, pihak kepolisian akan menjalankan semua rencananya. Menangkap Dodi dan menyita semua asetnya. Termasuk mobil yang digunakan Vivi tentu saja.


Clara yang tidak mengerti ikut panik saat melihat polisi mendekati mereka. Ia tidak bisa menebak sama sekali. Jadi, secara tidak wajar ketakutan muncul di hatinya kalau-kalau ia yang akan didatangi polisi untuk apapun. Berlian menyadari kekhawatiran Clara dan menggenggam tangannya. "Tidak apa-apa." Ucapnya pelan sambil menoleh.


Melihat tatapan Berlian yang terlihat meyakinkan, Clara akhirnya melepas kekhawatirannya.


Rezvan, meskipun ia tidak mengetahui apa yang terjadi, ia selalu bisa menjaga ketenangannya. Jadi dia hanya berdiri di sana dengan santai.


Sementara itu, Vivi dan teman-temannya juga tidak mengerti mengapa polisi itu mendekat ke arah mereka. Dan lagi, pertanyaan tentang 'dia' yang dimaksud oleh kepala sekolah juga tidak mereka ketahui sama sekali.


"Vivi, polisi ini datang untuk mencarimu." Ucap kepala sekolah. Suaranya tidak pelan dan juga tidak terlalu keras. Tetapi suasana kantin saat itu memang sudah tenang sejak awal, jadi setiap kalimat yang diucapkan kelapa sekolah itu dapat didengar jelas oleh semua orang.


Sekali lagi, semua orang berbisik-bisik untuk itu.


"Saya? Ada apa?" Vivi menunjuk dirinya sendiri tidak mengerti. Tetapi, pertanyaannya seperti mewakili semua orang yang penasaran.


"Tolong kerjasamanya." Seorang polisi mengeluarkan surat perintah dan memberikannya pada Vivi. "Kami datang untuk mengambil mobil anda untuk kami jadikan barang bukti." Ucap Polisi itu saat melihat ekspresi wajah Vivi yang berubah pucat.


"Ini tidak mungkin pak? Papa saya tidak mungkin bersalah." Vivi tidak percaya. Papanya tidak mungkin terlibat dalam sebuah kejahatan.


Ia memang tidak pernah mengetahui secara pasti bisnis apa yang dilakukan oleh papanya. Yang paling penting baginya adalah  bahwa papanya menghasilkan banyak uang yang dapat ia gunakan sesuka hatinya tanpa khawatir akan kekurangan dari mereka.


Mengingat bisnis yang dijalankan dan posisi papanya, tidak mungkin papanya terlibat dalam kejahatan seperti yang tertulis di dalam surat pemberitahuan.


Ini, pembuatan obat terlarang dan penyelundupan!


Mustahil!


"Kasus ini masih dalam proses. Mobil yang anda gunakan diduga dibeli dengan menggunakan uang hasil penjualan obat-obatan terlarang. Jadi kami akan membawanya sebagai barang bukti. Tolong serahkan kuncinya."

__ADS_1


"Tidak! Saya tidak akan menyerahkannya. Ini milik saya. Papa saya yang memberikannya." Teriak Vivi dengan marah.


Mobil miliknya baru dia dapatkan dua bulan lalu sebagai hadiah ulang tahunnya. Dan mobil itu langsung menjadi mobil kesayangannya. Bagaimana tidak,  papanya tahun ini sangat murah hati. Pada ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun, ia memberinya hadiah mobil mewah sebagai hadiah.


Selama ini, mobil ini selalu memberinya kebanggaan. Di sekolah ini, siswa yang membawa mobil mewah memang tidak sedikit. Tetapi dari mereka semua, miliknyalah yang paling berada di atas sampai tiba-tiba Berlian muncul dengan Bentley yang selalu mengantar jemputnya setiap hari.


Itulah salah satu alasannya sangat membenci Berlian. Gadis itu seperti mengambil semua perhatian darinya.


"Tolong kerjasamanya. Kami hanya melakukan tugas." Ucap polisi itu tegas. Vivi semakin keras kepala. Ia reflek memegang erat kunci mobil yang ada di dalam saku roknya.


"Vivi, jangan seperti itu. Tolong berikan kunci mobilnya pada polisi." Kepala sekolah ikut membujuk.


"Kami datang ke sini hanya untuk pemberitahuan. Jadi, dengan atau tanpa persetujuan anda, mobil itu akan tetap kami bawa." Polisi itu memandang Vivi dengan tajam. Membuat Vivi takut dan akhirnya menyerahkan kunci mobilnya padanya.


"Terima kasih banyak. Kalau begitu kamu permisi." Polisi itu memegang erat kunci itu dan berbalik. Mereka pergi bersama kepala sekolah meninggalkan Vivi yang masih diam tidak percaya.


"Apa yang terjadi Vi?" Candra bertanya dengan penasaran.


Pertanyaan Candra membuat Vivi tersadar. Ia segera bangun dari lamunan ya saat ia dengan galak menyuruh semua orang untuk pergi menjauh.


"Vi, ada apa? Kamu bisa cerita kepada kami." Dea akan memegang lengan Vivi saat ia mendapati perlakuan kasar Vivi padanya. Gadis itu menghempaskan tangannya dengan kasar sambil meneriakinya.


"Pergi kamu! Jangan pura-pura baik. Aku tahu kalian pasti sedang mencemoohku kan?" Vivi menatap temannya satu persatu.


Dari wajah mereka, memang tidak dapat ditutupi bahwa tatapan mereka sudah berubah. Jika biasanya mereka memandang Vivi dengan takut, kini yang terlihat adalah penuh dengan ejekan.


"Kami berniat baik untuk menolongmu. Tapi jika kamu tidak mau kami juga tidak memaksa. Sudah lama kami muak dengan sikapmu dan suka memaksa dan memerintah kami seenaknya. Kami sudah muak berteman dengan gadis arogan sepertimu. Gadis arogan." Candra mendengus saat ia berbalik dan memberi isyarat pada yang lainnya untuk mengikutinya.


Vivi mengepalkan tangannya saat ia melihat satu persatu temannya yang lain dan mendapati mereka juga memberinya punggung dingin.


"Apa? Kalian juga berpikir jika aku arogan?" Vivi memelototi mereka.


Dea berbalik tanpa ragu. Lita melihatnya sebentar sebelum ia akhirnya mengikuti Candra. Kesya melihatnya sebentar dan menghela napas.

__ADS_1


"Sudah sampai di titik ini ternyata kamu masih tidak berubah Vi. Maaf jika aku tidak bisa lagi berteman denganmu. Benar kata Candra. Kami sudah muak denganmu sejak lama. Tetapi karena kita sudah berteman sejak lama, kami berusaha untuk mentolelir setiap sifatmu. Tetapi bukannya mengerti kamu semakin menjadi." Ucap Kesya menatap Vivi dengan sendu.


"Pergi sana! Aku tidak membutuhkan teman seperti kalian!" Teriak Vivi dengan kerasnya. Ia tidak percaya semua temannya bisa melakukan itu padanya.


Kesya menggelengkan kepalanya sebelum ia akhirnya berbalik dan mengikuti Candra dan yang lainya.


"Aku tidak membutuhkan kalian! Aku tidak membutuhkan teman seperti kalian! Kalian tidak berhak menilaiku! Dasar kalian kurang ajar!" Teriak Vivi sampai ia kehabisan  napas dan terengah-engah saat ia selesai mengumpat.


"Kamu pantas mendapatkannya." Vivi mendongak san mendapati Clara yang memandangnya dengan ejekan. Vivi mendengus. "Jika aku yang menjadi temanmu, aku tidak hanya akan meninggalkanmu begitu saja. Tetapi, aku akan terlebih dulu memberikan tamparan sebagai kompensasi atas perilakumu selama ini." Clara berkata dengan semangat. Ia bahkan mengepalkan tangan kanannya dan ia pukulkan pada tangan kirinya.


'Jika aku jadi kamu, aku akan mengejar mereka. Sangat jarang bisa menemukan teman yang mau berteman denganmu mengingat sifatmu itu. Lebih baik cepat meminta maaf pada mereka sebelum mereka benar-benar marah." Clara melanjutkan.


"Aku tidak butuh saranmu." Sarkas Vivi menatap Clara dengan penuh permusuhan.


"Baiklah-baiklah jika kamu tidak menerima saranku." Clara tersenyum lebar.


"Kalian tunggu pelajaran dariku." Vivi mendengus sebelum ia berbalik sambil mengepalkan kedua tangannya dan pergi dari sana dengan marah.


Clara melambaikan tangannya. "Kami selalu sabar menunggumu." Ucapnya keras hingga membuat Vivi semakin kesal saat mendengarnya.


"Sepertinya kamu sangat menikmati pertunjukannya." Rezvan yang sedari tadi hanya diam melirik Clara yag tersenyum.


"Tentu saja. Aku sangat puas melihat Vivi seperti itu. Dia memang pantas mendapatkannya." Clara mengangguk tanpa ragu. "Tapi aku penasaran, apa sebenarnya yang dilakukan papa Vivi sampai dia ditangkap polisi?"


Rezvan mengangkat bahunya tidak tahu. Mereka sama-sama berada di sekolah dan kabar ini sepertinya juga beluk menyebar. Mereka sendiri juga tidak begitu tertarik pada berita seperti ini.


Sedangkan Berlian yang mengetahui memilih untuk diam. Lagipula hal ini juga tidak ada urusannya dengan mereka. Jadi ia tidak repot-repot menjelaskan.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir ~> (*,*)<~


__ADS_2