
Seorang laki-laki paruh baya berjalan mondar-mandir di dalam ruang kerjanya. Wajahnya diliputi rasa kekhawatiran dan juga ketakutan. Mengingat kenyataannya bahwa dia telah menyentuh orang yang tidak boleh disentuh, dirinya benar-benar frustasi. Dia hanyalah seorang pemilik dari sebuah perusahaan yang sedang berkembang. Tetapi dia sudah harus bersaing dengan perusahaan Sean.
Mempertimbangkan bahwa proyek akan menaikkan level perusahaannya, dia akhirnya memupuk keberaniannya dan menyewa seseorang untuk menghalangi Sean untuk datang ke perjamuan sehingga dia bisa mendekati investor dan mendapat dukungannya. Tetapi mereka tidak hanya menghalangi Sean, mereka malah membunuhnya! Ini sama saja dengan bunuh diri untuknya.
Yang tidak diketahui olehnya adalah, dia hanya dijadikan alat. Orang itu memang dibayar olehnya. Tetapi mereka juga menerima perintah tah dari orang lain yang lebih kuat darinya yang telah lama memiliki dendam pada Sean.
"Habis sudah! Habis!" Erang pria itu frustasi.
"Kenapa kamu begitu takut? Tidak akan ada yang bisa melacak keterlibatanmu." Pria muda yang hampir belasan tahun lebih muda darinya duduk di sofa di ruangan itu.
"Kamu mudah bicara seperti itu karena kamu bukan aku." Pria itu melirik kesal pria muda itu.
"Tuan Bastian tidak perlu secemas itu. Truk yang digunakan untuk menabrak adalah truk yang dicuri. Jadi tidak akan ada jejak setelah itu." Bastian berhenti dan berjalan mendekati pemuda yang duduk santai sambil menyesap kopinya.
"Apakah kamu yakin Ferry?"
"Ya. Aku menemukan mereka. Mereka profesional." Bastian akhirnya lega. Ia tersenyum dan duduk menghela napas di kursinya.
Charlos memeriksa data yang diberikan oleh anak buahnya. Justin dan Bryan duduk di sampingnya dan ikut memeriksa. Semuanya bersih. Tidak ada yang mencurigakan. Ketiga orang ini memeriksa berkas-berkas itu dengan teliti. Namun mereka tidak mendapatkan apapun setelah itu.
"Mereka bersih. Apa kita akan memperluas penyelidikan lagi?" Charlos menatap putus asa berkas-berkas di atas meja.
"Tunggu sebentar, kamu selidiki orang ini sekali lagi." Justin mengambil satu berkas dan melemparkannya di depan Charlos.
Charlos membacanya sekali lagi dan merasa ragu. "Ini..."
Di Kingston Grup terjadi kekacauan. Berita meninggalnya pimpinan perusahaan itu menyebabkan gelombang yang besar menerpa. Beberapa proyek tertunda dan beberapa dibatalkan. Meskipun banyak orang yang cakap di perusahaan, tetapi tidak ada yang memegang perusahaan saat ini. Pihak-pihak tertentu memanfaatkan kekosongan jabatan untuk membuat ulah.
__ADS_1
Sony yang ditinggalkan untuk mengurus perusahaan sementara memang bekerja dengan cukup baik. Tetapi tindakannya terbatas dan tidak bisa mengambil beberapa keputusan. Jadi dia akhirnya menghubungi Maxim untuk meminta bantuan.
"Panggil Bryan. Sudah saatnya dia mengambil alih." Ucap Maxim setelah mendengar perusahaan situasi dari Sony.
Berlian memandang malam berbintang di balkon kamarnya bersama dengan Sylvia yang mengunjungi kamarnya setelah makan malam. Ini sudah seminggu berlalu. Namun nuansa kesedihan dan duka masih belum menghilang dari kediaman.
Kakak beradik yang selama ini sering terlibat dalam perselisihan malam ini terlihat akur dengan saling menopang satu dengan yang lainnya. Nampak harmonis dan membuat orang yang melihatnya merasa iri.
Tetapi saat mereka melihat wajah keduanya, pandangan mereka akan segera berubah. Keduanya dalam kesedihan yang berkepanjangan.
"Kak apa yang akan kita lakukan setelah ini?" Sylvia yang pertama membuka suaranya.
Selama ini hanya mereka yang tinggal di rumah ini selain kedua orang tua mereka. Semua orang tinggal berpisah dengan mereka. Jadi Sylvia mulai memikirkan apa yang akan terjadi saat semua orang kembali pergi dan meninggalkan mereka di sini.
"Apa lagi? Tentu saja menjalani hidup." Ucap Berlian acuh. Dia juga masih ragu. Johan sudah mengatakan niatnya padanya. Tetapi Berlian masih merasa bahwa ini terlalu cepat. Jadi dia meminta waktu pada Johan untuk memikirkannya sebelum dia bisa memutuskan.
"Jalani hidup yang seperti apa?" Sylvia cemberut. Selama ini dia tidak pernah memikirkan hidupnya. Ia akan menjalani apa yang ada di hadapannya. Selama ini semuanya berjalan baik-baik saja karena ada kedua orang tua yang akan memastinan semuanya baik untuknya. Tetapi secara tiba-tiba kedua orang tua yang telah menyiapkan masa depannya meninggalkannya. Sylvia merasa kehilangan pijakan.
"Aku bingung kak."
"Lebih baik mulai besok kembali ke sekolah. Dengan begitu kamu akan terhibur." Berlian sudah kembali ke kampus tiga hari yang lalu, tetapi Sylvia masih enggan.
"Aku ingin pergi dari sini." Ucapan Sylvia membuat Berlian terkejut.
"Kenapa?" Berlian menarik tubuhnya. Kepala Sylvia yang bersandar di bahunya juga menjauh.
"Di sini terlalu banyak kenangan daddy dan mommy. Jika aku terus berada di sini aku bisa gila." Sylvia menundukkan kepalanya. Wajahnya terlihat sedih. Tapi tidak ada airmata di pipinya tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Lalu apa rencanamu?" Berlian menatap adiknya tanpa daya. Adiknya yang kekanak-kanakan sepertinya bertambah dewasa dalam beberapa hari ini.
"Aku ingin sekolah di luar negeri."
"Itu jauh. Kamu akan sendirian di sana."
"Lalu apa bedanya dengan di sini kak? Semua orang memiliki dunianya sendiri. Pada akhirnya aku tetap akan sendirian. Dari pada aku sendirian di sini lebih baik aku sendirian di tempat asing. Dengan begitu aku akan merasa lebih baik." Sylvia berdiri dan berlari keluar dari kamar Berlian dengan cepat. Tangannya Berlian yang terulur untuk menghentikan Sylvia menggantung di udara yang kosong.
Berlian mengerti Sylvia lah yang paling merasakan dampak dari kejadian ini. Bryan dan dirinya sudah dewasa yang bisa menjaga diri mereka sendiri. Tetapi Sylvia masih kecil untuk bisa mengerti. Ia yakin Sylvia pasti merasa kecewa. Dari ketiga bersaudara, Sylvia lah yang paling dekat dengan Sean dan Evelyn akhir-akhir ini. Jadi Berlian mengerti bahwa Sylvia lah yang paling merasa kehilangan.
Beberapa hari ini Sylvia memperhatikan semua orang di kediaman. Mereka semua bergerak sesuai dengan kehidupan mereka. Laura memang menyayanginya, tetapi pada saat-saat tertentu ia tidak akan bisa selamanya memperhatikannya. Neneknya masih memiliki kakeknya yang harus diperhatikan. Justin dan Bryan jarang ada di rumah. Mereka sibuk keluar setiap harinya tanpa ia mengerti. Sisanya Berlian.
Beberapa hari di awal Berlian yang paling dekat dengannya. Tapi beberapa hari terakhir ia menyadari bahwa Berlian juga memiliki kehidupannya sendiri dan dia tidak mungkin terus bergantung pada kakaknya ini. Dan saat itulah Sylvia merasa bahwa ia sendirian di dunia. Dia di kelilingi orang-orang yang menyayanginya, dia merasa akrab tetapi sekaligus merasa asing di saat yang bersamaan. Semua ini menyiksanya.
Setelah meninggalkan kamar Berlian, Sylvia kembali ke kamarnya dan memandang layar laptop di atas ranjangnya yang menampilkan brosur sebuah sekolah di luar negeri.
Berlian keluar beberapa saat kemudian setelah ia berpikir dan memutuskan untuk berbicara pada Sylvia. Tetapi saat ia sampai di dewan pintu dan bersiap untuk mengetuk pintu, ia berhenti dan menarik tangannya yang sudah ada beberapa centi di depan pintu kayu. Menghela napas. Ia menatap dalam-dalam pintu itu sebelum ia akhirnya berjalan melewatinya dan turun ke lantai satu untuk menenangkan diri di pinggir kolam.
Tak lama berselang, Bryan yang secara resmi menggantikan posisi Sean tiga hari yang lalu batu pulang dari kantor setelah menyelesaikan ebebrpaa rapat penting. Bryan sudah dipersiapkan menjadi penerus sejak ia masih kecil. Jadi pendidikannya memang berbeda dari yang diterima anak-anak lain seusianya.
Apalagi setelah ia pergi ke luar negeri. Ia selalu berkata pada Berlian bahwa ia ingin mencari pengalaman lainnya, tetapi pada kenyataannya, ia menerima pendidikan lain untuk calon penerus. Bryan dan Berlian sama-sama tilang mengungkap posisi penerus ini, tetapi Bryan akhirnya menyerah dan menerima tanggung jawab.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~
Jangan lupa like, komen dan Vote ya....