Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_39. Kamu!


__ADS_3

Johan tersenyum saat melihat gadis yang berjalan ke arahnya sambil memutar ponsel di tangannya. Wajahnya yang semalam tampak lelah kini sudah kembali berseri. Saya sudah kembali segar setelah tidur beberapa jam semalam. Tidur paling berkualitas dalam seminggu terakhir.


"Apa kabar?" Johan bertanya saat membukakan pintu belakang mobil untuk Berlian.


"Baik." Berlian menjawab singkat ketika ia masuk dan duduk dengan tenang.


"Itu bagus." Johan mengangguk dan menutup pintunya dengan hati-hati.


Setelah itu Johan berjalan cepat dan masuk ke dalam mobil di bagian kemudi. Melihat Berlian yang masih mengabaikannya, Johan berdehem beberapa kali.


"Kak Johan sakit?" Berlian mendongak dan mengangkat alisnya.


"Tidak." Johan menggeleng.


"Ooh. ." Berlian kembali menundukkan kepalanya dan fokus pada ponselnya kembali.


Melihat Berlian yang tampak sibuk, Johan memutar tubuhnya dan mulai menyalakan mesin. Lalu dengan tenang melajukan mobil itu untuk mengantar Berlian berangkat ke sekolah.


Sepanjang perjalanan, Berlian masih fokus pada ponselnya. Hingga mereka sampai, Berlian baru memasukkan ponsel itu ke dalam tasnya.


"Terima kasih kak."


"Maaf, aku tidak ada di saat kamu dalam masalah." Berlian yang baru akan membuka pintu berhenti dengan tangan yang menggantung. Dia menoleh dan mendapati Johan dengan wajah yang jelas menunjukkan penyesalan.


"Tidak masalah kak. Ini bukan salah kak Johan." Berlian menarik tangannya. Menunda keluar dari mobil.


"Bagaimanapun, tuan Sean mempercayakan keselamatanmu padaku. Dan kamu diserang saat itu. Jadi akulah yang salah."


"Kita tidak bisa memastikan sesuatu yang belum terjadi. Lagipula semua ini diluar kehendak." Berlian kembali mengulurkan tangannya untuk membuka pintu.

__ADS_1


"Mulai sekarang, aku akan berusaha lebih keras." Berlian berhenti lagi. Menatap Johan dengan serius.


"Kalau begitu, mulailah dengan kak Terry. Dia yang menyelamatkanku. Bagaimana dengan itu?" Setelah berbicara, Berlian membuka pintu dan keluar. Johan menatap punggung Berlian yang semakin menjauh saat ia memutuskan untuk mengunjungi Terry di rumah sakit.


Waktu terus berlalu. Vivi tidak pernah datang ke esekolah lagi setelah polisi datang untuk mengambil mobilnya hari itu. Tidak ada yang tahu kabar dan keberadaannya juga. Gosip mulai menyebar yang mengatakan bahwa Vivi dan keluarganya pindah ke desa terpencil untuk menyembunyikan diri. Bagaimanapun, kasus yang menjerat Dodi akan mengakibatkan keluarganya akan dibully dimanapun ia berada.


Namun tidak ada yang bisa menjamin kebenaran kabar itu. Itu hanya Simpang siur yang dibicarakan dari mulut ke mulut.


Setelah pemimpin mereka pergi, Candra dan yang lainnya tidak membubarkan grup mereka. Mereka juga tidak menambah anggota. Mereka tetap berjalan dengan angkuh meskipun kekuatan utama mereka akhirnya berkurang. Tapi mereka mulai menjauh dan menghindari berurusan dengan Berlian tidak tahu mengapa. Jadi, mereka memutuskan untuk berjalan dengan tenang dan melompat tepat waktu saat ada rintangan.


Raka yang terus mengganggunya di awal juga tengah sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian akhirnya. Tentu saja ia juga mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam urutan universitas. Di sekolah, prestasi Raka juga bisa dibilang unggul. Jadi dia memperoleh banyak tawaran dari berbagai universitas terkenal di dalam dan di luar negeri.


Dengan itu, hari demi hari berjalan dengan tenang hingga tanpa terasa, akhir semester pertama sudah dekat. Melewati serangkaian ujian yang membosankan, masa liburan panjang akhir tahun tiba di depan mata.


Setelah ujian, para siswa masih harus masuk sekolah meskipun itu hanya untuk bermain-main di lingkungan sekolah. Itu bagus, mendapati para siswa berkumpul dan melakukan kegiatan bersama dengan santai jarang terlihat. Kecuali untuk siswa yang memilih jurusan IPS yang menjalani hari-hari di sekolah sebagai tempat bermain kapanpun merawat melihatnya.


"Benar-benar hari yang membosankan. Rasanya aku ingin mati saja." Clara mendengus saat ia dengan malas meletakkan kepalanya di atas meja kantin. Rezvan dan Berlian melihatnya tanpa daya.


Clara yang selalu ceria akhirnya merasa bosan sekarang. Akhir-akhir ini semua berjalan mulus tanpa ada halangan.


Memang, suasana sekolah memang sedikit damai akhir-akhir ini. Jadi cukup membosankan untuk dijalani. Kegiatan di sekolah sangat monoton. Dimulai dari berangkat sekolah sampai pulang sekolah. Yang ada di depannya selalu buku Dan guru.


Tak berapa lama keadaan sunyi Kantin berubah menjadi ramai. Para gadis berteriak histeris di luar kantin. Mereka berkerumun seperti melihat idola mereka.  


Clara tidak bisa untuk tidak berseru. "Bukankah ini kondisi yang agak familiar." Clara memandang Rezvan dan Berlian bergantian. "Apa kak Johan akhirnya menunjukkan dirinya?" Clara mengetuk dagu nya.


"Benar. Situasi seperti ini biasanya terjadi saat ada perasaan tampan." Rezvan mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.


"Tidak mungkin." Ucap Berlian sebelum ia menundukkan kepalanya dan kembali meminum minuman dinginnya dengan  santai.

__ADS_1


Kerumunan itu semakin mendekat. Dengan para gadis di sekitar yang membingkai, seseorang yang ada di tengah tidak terlihat batang hidungnya. Tetapi, melihat para pria mendengus kesal di sekitar, orang di dalam kerumunan itu pasti seorang pria. Lebih tepatnya pria tampan!


Berlian mengabaikan ini. Clara di sisi lain. Ia menjadi bersemangat terakhir kali. Ia membuka ponselnya dan memeriksa berita terbaru. Benar saja.  Berita itu sudah ada yang mempostingnya.


"Woow! Tampan sekali! tidak menyangka di akhir semester akan ada siswa pindahan. Untuk dapat pindah di saat seperti ini, sepertinya keluarganya punya kekuasaan." Pekik Clara saat ia melihat wajah siswa pindahan yang ada di dalam lingkaran. Itu benar-benar tampan!


"Apa ada pria yang lebih tampan dariku?" Rezvan membusungkan dadanya dengan sombong.


"Penampilanmu standar. Apa nya yang kamu banggakan?" Clara mencibir saat ia memindai penampilan Rezvan. Rezvan memang tampil apa adanya. Baju seragam yang seringkali kusut dan tidak rapi. Rambutnya yang agak panjang berantakan.


Di mata gadis pada umumnya,  penampilan Rezvan memuaskan. Wajah yang di atas rata-rata. Tubuhnya yang terawat dengan baik dan begitu tegap.


Tetapi Clara dan Berlian sudah melihatnya beberapa bulan yang lalu. Mereka juga sudah menemukan kejelekan Rezvan. Jadi, saat mereka melihat Rezvan, mereka seperti melihat penampilan para Pria pada umumnya.


Saat Clara dan Rezvan masih berdebat mengenai kadar ketampanan seseorang, suara yang asing dan menyendiri terdengar.


"Akhirnya Kita bertemu lagi." Berlian tertegun sesaat saat ia melihat seseorang yang berdiri di depannya. Berlian tidak dapat mengenalnya dalam sekilas pandang. Tetapi saat ia lebih memperhatikan,  ia mulai mengenalnya.


"Kamu!" Berlian menunjuk pria yang menyeringai ke arahnya dengan tidak percaya.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~


Jangan lupa like, komen dan Vote ya....

__ADS_1


__ADS_2